Pelacur Itu Istri Gus Azam

Pelacur Itu Istri Gus Azam
Azam Bucin Part 2


Kabar pernikahan Azam sudah menyebar luas, baik itu di kalangan ibu-ibu pengajian, maupun di media sosial, terlebih di dunia bisnis. Nampaknya banyak yang patah hati dengan hal tersebut.


Terbukti sekarang, bagaiamana netizen mencecar Azam untuk menunjukkan istrinya ke publik.


Mereka sedang berada di kamar, membaca komnetar netizen satu per satu, ada banyak kalimat pendukung dan juga yang mendoakan rumah tangga mereka menjadi keluarga bahagia till jannah.


“Aku sangat cemburu dengan mereka yang mengenalmu lebih dulu” Ucap Stella.


Azam terkekeh, mencolek pelan hidung mancung istrinya, “Tapi, yang bisa memiliki aku seutuhnya sekarang hanya dirimu, apa itu masih kurang?” tanyanya, membuat Stella lagi-lagi malu.


Wanita itu akhirnya memeluk suaminya erat, “Tidak, itu sudah lebih dari cukup” sahutnya.


Mereka menghabiskan waktu berdua disana, malam menyapa mereka begitu indah.


“Besok ikut aku ke lokasi ceramah ya. Temani aku disana bersama kak Maryam” ucap Azam.


Stella mengangguk, dia begitu bersemangat untuk melihat suaminya mendakwah.


“Aku sangat penasaran denganmu ketika memberikan dakwah kepada orang-orang” Ucap Stella, menyalurkan isi hatinya.


“Biasa saja menurutku. Dakwahku yang luar biasa indah adalah bersamamu, ketika aku mengajarkan padamu perihal ilmu agama yang aku punya, bisa sambil menatap kecantikanmu, bisa sambil memelukmu, bisa juga sembari mencium keningmu seperti ini” Azam mengecup pelan kening istrinya, “bukankah itu begitu indah dengan pahala yang berlipat-lipat?” sahut Azam.


Stella mengangguk setuju sebagai jawaban, “Aku benar-benar bersyukur memilikimu di dalam kehidupanku. Terimakasih” ucapnya lalu menci*m pipi Azam sekilas.


Untuk pertama kalinya setela menikah, Azam merasakan kecupan sanga istri.


“Ya Allah, ternyata begini rasanya disayangi oleh seseorang yang kita sayangi, benar-benar nikmatmu tidak pernah berdusta” Gumam Azam dengan senyumnya yang mengembang.


Keesokan harinya, Stella turun terlebih dahulu untuk memasak sambil menunggu Azam menunaikan ibadah subuh.


Biasanya Stella akan dibantu oleh kak Maryam tapi, entah kenapa pagi ini kakak iparnya itu tidak kunjung keluar dari kamarnya.


“Sayang, mencari siapa?” Sapa Azam, dia memasuki dapur. Awalnya hanya ingin mengambil minum tapi, karena suasana rumah memang sedang mendukung, lelaki itu memeluk istrinya dari belakang.


“Biasanya kak Maryam akan keluar dan kami memasak bersama. Apa terjadi sesuatu dengannya?” Ucap Stella.


“Biasanya jika kak Maryam keluar sedikit siang begini, artinya hafalan Qur’annya belum tuntas, dia tidak akan keluar sampai hafalannya tuntas” Ucap Azam, membeberkan satu kebiasaan baik kakaknya.


“Wah, aku baru mengetahuinya. Kak Maryam memang wanita yang sempurna bukan, mas?” Ucap Stella.


Azam mencium pipi istrinya perlahan, “Jika kau mau juga, aku bisa menjadi temanmu untuk melakukan hafalan Al-Qur’an. Kita mulai dari jus 30 dulu, berisi surat-surat pendek di dalamnya” ucapnya menawarkan diri.


Stella menatap suaminya, “Apa boleh?” Tanyanya.


“Tentu saja boleh, sayang. Aku malah akan sangat mendukungmu” Jawab Azam.


Pagi itu, akhirnya Azam yang membantu Stella memasak. Kelihaian Stella dalam memasak sekarang sudah mulai meningkat, bahkan bisa dikatakan begitu baik. Wanita itu benar-benar belajar melayani suaminya dengan baik.


Setelah mereka bersih diri, “Biar aku panggilkan kak Maryam dan Zaidan dulu” Ucap Azam lalu pergi ke kamar saudaranya masing-masing.


Waktunya sarapan, Stella menunggu suami dan iparnya sambil menuangkan air putih di setiap gelas.


“Tidak apa-apa, kak. Aku bisa mengerti. Tadi, mas Azam yang membantuku” Sahut Stella.


Maryam pun melihat Stella dan Azam dengan tatapan menggoda, tidak terkecuali dengan Zaidan yang ternyata sejak tadi dia tau semua kejadian di dapur.


Lelaki itu tidur di ruang tengah, tugas-tugasnya masih berserakan di meja. Sofa yang menutupi tubuhnya membuat dirinya tidak diketahui kehadirannya oleh pasangan suami istri itu.


“Sayang mencari siapa? Tentu saja boleh sayang, aku akan mendukungmu” Ucap Zaidan, menirukan dialog Azam tadi.


Stella langsung menutup wajahnya malu, sedangkan Azam hanya melirik lelaki itu santai.


Mereka sarapan bersama seperti biasa tapi, yang tidak biasa adalah ketika Azam menunjukkan sisi bucinnya kepada Stella.


“Biar aku yang ambilkan sayang, ini namanya feed back” Ucap Azam sembari mengambilkan nasi serta lauk pauknya untuk Stella.


“Pagiku benar-benar buruk hari ini” Gumam Zaidan.


“Makannya menikah, biar tidak iri melihat saudaranya bermesraan begini” Jawab Azam, sengaja malah lebih menggoda adiknya.


...***...


“Kalau kita bilang ada sebuah kisah cinta romantis di seluruh dunia, katanya adalah kisah Romeo and Juliet. Wah, memang ceritanya begitu romantis tapi, Islam juga memiliki kisah cinta romantis sepanjang sejarah, bahkan sepanjang masa yaitu, kisah cinta Rasulullah dengan Kahdijah binti Khuwailid.


Kita semua tau, ketika menikahi Khadijah, Rasulullah masih berusia 25 tahun sedangkan Khadijah berusia 40 tahun. Usia mereka terpaut 15 tahun tapi, beliau membuktikan bahwa cintanya kepada Khadijah tetap abadi, meskipun Khadijah telah meninggal.


Pada suatu hari, ketika sudah satu tahun Khadijah meninggal, ada seorang wanita syababiyah yang mendatangi Rasulullah SAW dan bertanya, ‘Ya Rasulullah, kenapa kah engkau tidak menikah lagi? Engkau memiliki sembilan keluarga dan harus menjalankan seruan besar’ begitu katanya”


Sambil menceritakan hal itu, Azam sama sekali tidak melepas pandangannya dari sang istri, sesekali memang menatap yang lain tapi, sungguh tidak ada yang lebih menarik daripada Stella yang sedang duduk di depan berbaur dengan orang-orang.


“Saat itu jawaban Rasulullah SAW adalah begini, ‘Apakah ada selain Khadijah?’ tanyanya dengan berderai air mata. Jika seandainya Allah SWT tidak memerintahkan Rasulullah SAW untuk menikah lagi, pastilah beliau tidak akan menikah untuk selamanya.


Beliau menikahi Khadijah sebagai seorang lelaki, yang memiliki cinta kepada Khadijah bahkan dari sebelum beliau menikahinya. Sedangkan, di pernikahan selanjutnya itu adalah karena tuntutannya sebagai seorang nabi. Beliau tidak pernah melupakan cintanya kepada Khadijah”


Azam masih menatap Stella, dimana kala itu Stella sedang terkagum-kagum dengan isi dari cerita yang di sampaikan suaminya.


“Begitu besar cinta Rasulullah SAW, hingga aku saja begitu ingin mencintai istriku sama seperti beliau mencintai Khadijah”


“WAAAAAHH”


Teriak orang-orang mendengar Azam yang bucin dengan istrinya.


“Untuk istriku dan istri bapak-bapak sekalian, ada empat ciri-ciri solehah. Yang pertama, istri yang bila dilihat oleh suaminya, nampak menyenangkan. Kedua, istri yang taat kepada suaminya. Lanjut yang ketiga, istri yang dapat menjaga harta suaminya saat suaminya jauh. Dan yang terakhir, istri yang selalu menjaga kehormatan suaminya.


Alhamdulillah ibu-ibu dan bapak-bapak sekalian, istri saya memenuhi kriteria. Kalau saya pulang bekerja dia menyambut saya dengan dandanan cantik dan rapi. Alhamdulillah dia nurut dan selalu menjaga kehormatan saya dimanapun berada, menjaga harta apalagi.


Kalau kata anak-anak yang suka korea itu begini ‘sayang, saranghae’, begitu bukan? Mau bilang di panggung ini, bahwa saya bersyukur memiliki istri seperti dia, tetaplah seperti ini, layaknya Rasulullah SAW dan juga Khadijah yang menjaga cinta hingga maut memisahkan”


Sorak sorai suara penonton menambah suasana ramai pagi itu. Sedangkan, Stella sudah tersenyum dan menangis haru di tempat duduknya. Terharu dengan suaminya yang begitu romantis di atas panggung sana.