
“Mas, hari ini aku ke kantor ya?” Stella izin kepada suaminya melalui panggilan ponsel.
Seperti janjinya tempo hari, Azam benar-benar pulang ketika jam makan siang berlangsung. Tak jarang, Stella akan datang ke kantor suaminya untuk sekedar membawakan makan siang atau terkadang jika pekerjaan rumah Stella belum rampung, dia akan memesan ojek online untuk mengantarkannya ke kantor Azam.
Hal itu tentu membuat Azam merasa begitu bahagia, mendapat istri yang perhatian seperti Stella tidak akan membuatnya bosan sampai kapanpun.
“Boleh tapi, seperti biasa ya sayang. Telfon mbak Deden dulu” Jawab Azam.
Ingat mbak Deden? Itu adalah supir yang akan selalu mengantar Stella ketika bepergian tanpa Azam. Dimana mbak Deden adalah istri dari satpam yang jaga di kediaman Azam dan Stella. Keduanya memang pilihan abi Daud dari pondok jadi, tentu terpercaya dan tidak akan melenceng dari agama selama menjaga batasan-batasan yang ada.
“Iya mas, nanti aku akan menelfon mbak Deden. Mas Azam hari ini mau dibuatkan apa untuk makan siang?” Tanya Stella pada sang suami.
Azam diam sebentar, mungkin sedang memikirkan sesuatu yang ingin ia santap?
“Bagaimana jika aku menginginkanmu saja untuk jadi makan siang?” Ucap Azam di akhiri dengan kekehan pelan.
Saat itu juga raut wajah Stella menjadi masam, “Maaaas, serius ih” rengeknya.
Hal itu tentu saja mengundang tawa renyah dari seberang sana, merasa gemas dengan istrinya yang merengek manja begitu.
“Aku jadi merindukanmu jika seperti ini, rasanya ingin langsung pulang saja” Sahut Azam, masih menggoda Stella dengan rayuan mautnya.
“Tidak boleh, pokoknya hari ini aku yang kesana. Mas Azam harus menunggu seperti seorang raja di atas singgasananya. Aku akan menjadi ratu yang melayani rajanya” Jawab Stella.
Azam lagi-lagi terkekeh mendengar jawaban istrinya, “Kalau begitu, buatkan aku apa saja yang kau inginkan. Aku pasti akan menyantapnya dengan lahap” sahutnya.
Stella mengangguk, “Aku akan membuatkan sesuatu yang spesial untukmu kalau begitu” Jawab Stella dengan sumringah.
“Kau selalu membuatkanku makanan yang spesial karena itu dibuat dengan cinta dan kasih sayang darimu untukku” Sahut Azam.
Entah kenapa, Stella merasa akhir-akhir ini suaminya itu menjadi sangat pandai merauyu. Sampai Stella jadi berpikir sendiri, apakah itu adalah bakat terpendam dari suaminya? Pikirnya.
“Kalau begitu aku akan membuatkan yang super spesial”
Mereka bercanda sebentar dalam panggilan mereka. Memang jika seseorang kalau sedang dimabuk cinta, suka lupa dengan segalanya.
Setelah panggilan mereka terputus, Stella segera menghubungi mbak Deden. Pukul 10.30, masih ada sekitar satu jam setengah sebelum berangkat ke kantor Azam.
Wanita itu segera memasak sesuatu yang katanya spesial tadi, setelah itu dia bersiap dan dandan natural saja, karena posisinya akan keluar rumah.
Suaminya selalu bilang, “Andai aku bisa seperti Sayyidina Ali, pasti aku akan membuat seluruh ruang yang kau lewati menjadi gelap gulita, agar orang-orang tidak bisa melihat kecantikanmu”
Begitu kebucinan yang selalu bisa membuat Stella melayang.
Sudah siap dengan satu paperbag dan juga tas jinjingnya, tidak lupa gamis berwarna hitam dihiasi dengan cadar berwarna senada, membuat siapapun tidak akan percaya bahwa wanita itu adalah Stella. Seorang pendosa yang hari ini telah mengubah nasibnya menjadi lebih baik lagi.
Stella tiba di kantor Azam tepat pukul 11.45, 15 menit sebelum jam makan siang menyapa.
Tok
Tok
Tok
Ceklek
Seperti yang sudah diperintahkan Azam di telfon tadi, ketika Stella sampai, ia diperintahkan untuk langsung masuk saja.
“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh” Jawab Azam.
Lelaki itu menatap istrinya yang berdiri di ambang pintu sana, membawa sebuah paperbag yang isinya pasti makan siang untuk sang suami.
“Masuk, sayang” Ucap Azam lembut.
Stella pun masuk, mencium punggung tangan Azam sebagai rasa hormatnya sebagai seorang istri kepada suaminya. Selanjutnya, Azam pun mengecup kening Stella perlahan, itu seperti sudah menjadi kebiasaan untuk mereka selama ini, bukan? Hal yang sederhana tapi, begitu menjaga keharmonisan dalam keluarga.
“Sudah waktunya makan siang, mas. Biar aku siapkan dulu ya” Ucap Stella.
Wanita itu langsung membongkar bawaannya, menatanya di meja tamu Azam.
“Masak apa hari ini sayang?” Tanya Azam.
“Udang asam manis, kesukaan mas Azam” Jawab Stella.
Itulah yang ia bilang spesial, udang asam manis. Dimana itu adalah pertama kalinya Stella memasaknya.
Stella tau dari umi Fatimah jika Azam menyukai makanan seafood itu. Jadi, Stella mencari tahu resepnya di internet sampai ketemulah dengan yang sesuai dengan selera Azam.
“Wow, kau memasaknya? Untuk pertama kali? Untukku?” Tanya Azam, menatap istrinya oenuh cinta.
Stella mengangguk, mengiyakan.
“Kalau misal ada rasa yang kurang pas, mas Azam bisa katakan agar aku bisa memperbaikinya lagi suatu hari nanti” Ucap Stella sembari melanjutkan pekerjaannya.
Tapi, “Yah maaas, aku lupa tidak bawa sendok. Bagaimana ini? apa di pantry perusahaan ada? Aku akan mengambilnya dulu” Ucap Stella, hendak pergi.
Tapi, jelas Azam mencegahnya. Dia tidak mau istrinya keluar dan karyawan laki-lakinya melihat kecantikan Stella.
“Tidak usah, kita bisa makan menggunakan tangan. Apa kau bisa?” Tanya Azam.
Stella menggeleng, dia tidak pernah makan menggunakan tangan sebelumnya.
“Biar aku yang suapi, apa tidak apa-apa? Jika kau tidak mau, aku akan mengambilkan sendoknya di pantry” Sahut Azam.
Stella pun menggeleng, “Tidak apa menggunakan tangan, katanya makan menggunakan tangan itu nikmat, kalau begitu aku akan mencobanya dengan suamiku hari ini” jawabnya.
Lagi-lagi Azam tersenyum kecil, lelaki itu mengambil nasi, lauk dan pauknya sekalian lalu menyuapi Stella.
Terlihat sangat romantis, padahal itu hanya perihal makan bersama dengan Stella yang disuapi oleh Azam. Rasanya sangat bahagia bagi keduanya.
Setelah selesai makan, Azam duduk bersama dengan Stella yang membereskan meja.
“Rasulullah SAW ketika masa hidupnya selalu memberikan contoh yang baik di dalam kesehariannya. Salah satunya adab makan dan minum. Dulu, Rasulullah SAW kalau makan menggunakan tiga jari kanan, seperti yang tadi aku lakukan dan hal itu menjadi sunnah Rasulullah SAW yang bisa kita lakukan sampai sekarang.
Rasulullah SAW juga mengajarkan kepada kita untuk tidak meniup makanan atau minuman yang masih panas. Kenapa? Karena hal itu bisa membahayakan kesehatan. Serta, tidak berlebihan dan makan atau minum. Seperti yang dijelaskan dalam sebuah hadist riwayat bukhari dimana disana dijelaskan ‘jauhilah kamu mengisi perut dengan penuh terhadap makanan dan minuman. Sebab, mengisi perut yang berlebihan, berbahaya bagi tubuh dan malas sholat' . Allah SWT, tidak menyukai sesuatu yang berlebihan, sayang” Ucap Azam.
Stella menemani Azam di jam kerjanya. Sudah menjadi kebiasaan, jika Stella datang ke kantor untuk mengantar makan siang, pasti mbak Deden akan langsung kembali karena Stella akan pulang bersama dengan Azam nanti.
Jika ditanya itu aturan siapa? Ya jelas itu adalah aturan dari Azam yang memang tidak ingin jauh-jauh dari istrinya.