
Para jamaah sudah tiba di destinasi ketiga saat matahari sudah mulai beranjak naik. Jabal Rahmah adalah destinasi wisata ketiga yang mereka kunjungi.
“Di bukit kecil itulah tempat bertemunya Adam dan Siti Hawa setelah turun dari surga karena mengonsumsi buah khuldi. Mereka di pertemukan disana setelah sekian ratus tahun lamanya dia dipisahkan oleh Allah SWT”
Kira-kira itu kesimpulan yang bisa disampaikan oleh tour guide mereka kala itu.
Selanjutnya mereka melanjutkan perjalanan menuju padang Arafah dan berakhir di Muzdalifah dan Mina, dimana itu adalah tempat mabit untuk para jama’ah haji. Disana, jamaah haji disunnahkan untuk mengambil kerikil yang akan digunakan untuk melempar jumrah.
Mereka menyelesaikan city tour hari itu dengan baik, melakukan sholat fadlu disana hingga sholat isya dan kembali ke hotel untuk beristirahat.
Hingga esok hari menyapa, seperti rutinitas di pagi hari sebelum mereka melakukan umroh sunnah pagi itu. Mereka kembali menuju Masjidil Haram untuk menunaikan ibadah sholat subuh berjamaah dan sarapan disana.
Azam terlihat sangat tampan dengan pakaian ihramnya, meskipun hanya dua lembar kain ihram untuk sebagai sarung dan penutup pundaknya. Dan Stella juga tidak kalah cantik dengan pakaian yang membungkus tubuhnya dengan sempurna lalu masuk ke masjidil haram.
Kepentingan masjidil haram ini selain menjadi kiblat, juga menjadi tempat para jamaah haji melakukan beberapa ritual wajib yaitu tawaf dan juga sai.
Masjidil haram memiliki 129 pintu 50 diantaranya adalah untuk penyandang cacat serta tidak bisa berjalan dan yang paling utama adalah pintu yang diberi nama Babus Salam, dimana biasanya para jamaah akan menginginkan untuk masuk melalui pintu tersebut.
Begitu yang diingat Stella dari apa yang disampaikan suaminya tadi.
“Kenapa begitu mas?” Tanya Stella tadi.
“Karena jika kita melalui pintu itu maka, kita akan bisa langsung melihat ka’bah, hajar aswad, maqam Ibrahim dan Hijir Ismail”
Pintu-pintu disana sudah dilengkapi dengan lampu-lampu berwarna hijau dan merah. Dimana jika lampu tersebut menyala berwarna hijau, itu artinya di dalam sana masih ada tempat yang kosong. Sedangkan jika lampunya menjala merah, tandanya tidak ada tempat tersisa di dalam Masjidil Haram.
Stella juga melihat menara-menara yang menjulang di bagian atas dari pintu-pintu tersebut.
“Menara-menara itu dikelompokkan menjadi dua, Stella. Ada menara terdahulu, ada pula yang baru. Menara yang terdahulu ada di atas pintu Raja Abdul Aziz, Raja Fahd, Umrah, Al-fath dan Ash-shofa. Sedangkan menara yang baru ada di atas pintu Raja Abdullah, ada yang di bagian Tenggara dan ada pula yang di bagian Barat Laut” Azam mendeskripsikan dengan baik bagaimana arsitektur disana.
“Labaik Allahumma labbaik. Labbaik laa syarika laka labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk laa syarika lak”
Dengan segera Stella menangis dan sujud syukur disana. tidak bisa dipungkiri, rasa bahagianya sangat membucah hingga tidak bisa lagi berkata-kata.
“Masyaallah tabarakallah” Gumamnya saat kembali berdiri.
Stella mengharu, ka’bah benar-benar dapat dilihatnya sekarang. Ada di depan matanya, benar-benar nyata. Wanita itu menepuk pipinya beberapa kali, menyadarkan diri bahwa ini bukanlah mimpi.
Bangunan ka’bah itu berbentuk kubus yang terletak di tengah-tengah Masjidil Haram, bangunan yang menjadi patokan arah kiblat bagi umat muslim.
Stella juga dapat melihat hajar aswad yang diyakini sebagai batu yang datang dari surga. Katanya, dahulu batu itu memiliki sinar yang begitu terang namun, semakin lama sinarnya meredup hingga saat ini sudah berwarna hitam.
Hajar Aswad ini memiliki aroma yang wangi, dia diletakkan di luar ka’bah agar mudah bagi seseorang yang ingin menciumnya. Mencium hajar aswad adalah sunnah Rasulullah SAW.
Ada pula maqam Ibrahim yang merupakan struktur bangunan lebar kecil. Itu bukanlah makan nabi Ibrahim, melainkan dalam bangunan kecil tersebut terdapat sebuah batu besar yang diturunkan dari surga bersamaan dengan batu-batu yang berada di hajar aswad.
Di atas batu tersebut, Ibrahim pernah berdiri disana ketika sedang membangun ka’bah disamping putranya Ismail yang memberikan bongkahan-bongkahan batu di atasnya.
Disana juga disediakan eskalator bagi jamaah yang ingin sholat di lantai atap.
Ada pula pusat pendingin udara, dimana pusatnya berada di gedung 6 dan disalurkan melalui terowongan-terowongan yang menguhubungkan antara pusat dengan pendingin udara di bangunan perluasan dan disalurkan juga melalui satuan pendingin yang ada pada tiang-tiang masjid.
“Ini namanya Hijir Ismail” Azam menunjukkan bangunan setengah lingkaran yang berada di sebelah utara ka’bah, “bangunan ini dibuat oleh Nabi Ibrahim Alaihi Salam. Dahulu bangunan ka’bah ini sudah dibuat dengan sempurna oleh Nabi Ibrahim dan putranya, Nabi Ismail. Namun, sayang dindingnya sempat roboh bekas kebakaran dan banjir.
Kaum Quraisy sempat merenovasi bangunan tersebut tapi, karena kekurangan dana halal untuk membangun sesuai dengan fondasi milik Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, akhirnya mereka hanya mengeluarkan bagian bangunan Hijir dan membangun dinding pendek ini sebagai gantinya, itu adalah tanda bahwa bangunan ini termasuk bangunan dalam ka’bah” Ucap Azam, menjelaskan pada istrinya perihal bangunan setengah lingkaran dengan dinding yang pendek itu.
Sebenarnya Stella masih merasa penasaran perihal yang dimaksud Azam dengan ‘uang halal’? tapi, wanita itu memilih mengurungkan niatnya untuk bertanya. Pikirnya, nanti saja jika tidak lupa.
Dia fokus melanjutkan tawaf sebanyak 7x putaran, dimulai dari Hajar Aswad. Disana Stella terus berdzikir, memohon ampun atas segala dosa yan telah ia perbuat selama ini. Sesak sekali dadanya, mengingat bagaimana dosanya dia dahulu. Pun berterimakasih kepada Allah SWT karena telah dipertemukan dengan lelaki sebaik Azam.
Setelah selesai tawaf 7x putaran, mereka melakukan sholat sunnah tawaf 2 rakaat di belakang maqam Ibrahim sebelum akhirnya kembali ke hajar aswad.
Selanjutnya mereka melanjutkan perjalanan menuju bukit safa untuk melaksanakan sai umroh. Saat mendekati bukit Safa, Stella membaca surat Al-Baqarah ayat 158.
Dan saat menaiki bukit Safa dan menghadap kiblat Stella bergumam tiga kali, “Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar”
Lalu turun dan menuju bukit Marwah. Itu dilakukan naik turun bukit Safa dan Marwah sebanyak 7x dan berakhir di Marwah, sebelum akhirnya mereka melakukan tahallul dengan memendekkan rambut.
Sensasinya luar biasa untuk Stella yang baru pertama kali kesana, sama sekali tidak ada rasa lelah. Malah itu sepertinya aka menjadi memori yang menyenangkan untuknya.
Tidak lupa, Stella membawa air zam zam yang telah ia ambil tadi. Segar dan melegakan menurut Stella.
Mereka akhirnya keluar dari tempat tersebut saat malam menyapa. Melakukan sholat fardlu di Masjidil Haram juga akan menjadi salah satu yang menjadi candu untuk Stella.
“Apa kau bahagia?” Tanya Azam.
Mereka sudah berada di kamar hotel sekarang, saling memeluk di tengah udara malam yang mulai menggigit kulit mereka.
Stella mengangguk, “Aku senang. Tapi, ada satu pertanyaan yang sempat mengganjal untukku tadi” Ucap Stella.
“Apa itu?” Tanya Azam.
“Saat mas Azam menjelaskan perihal Hijir Ismail tadi, aku sempat bingung dengan kalimat ‘uang halal’. Bagaimana itu maksudnya?” Tanya Stella.
“Maksudnya uang yang mereka gunakan untuk membangun ka’bah adalah uang yang halal. Bukan dari pelac*ran, tidak pula jual beli riba atau dana dari mendzalimi orang lain” Jawab Azam santai.
“Oh, begitu ya” Sahut Stella sembari menganggukkan kepalanya.
“Sudah mengerti sekarang? Ada yang mau ditanyakan lagi?” Tanya Azam.
Stella menggeleng, sudah cukup untuk hari itu, “Tidak ada. Kalau begitu, ayo tidur. Selamat malam, mas” Ucapnya lalu mencium pipi kiri Azam.
Azampun tersenyum manis, dia selalu suka jika Stella bertingkah manis seperti malam ini, “selamat malam, sayang” jawabnya sambil mencium kening sang istri.