Pelacur Itu Istri Gus Azam

Pelacur Itu Istri Gus Azam
Proses Stella Melahirkan


“Eeeung” Stella sesekali meraung, merasakan sakitnya kontraksi.


Azam yang selalu bersama menemani Stella langsung mengelus pinggang Stella, “Sakit ya, sayang? Sabar ya. Bernapas pelan-pelan ya” Ucap Azam, mengecupi kening Stella dengan tulus, juga sedikit memijat bagian punggung sampai pinggang istrinya.


Di tengah rasa sakitnya itu, Stella tiba-tiba teringat dengan almarhum mamanya. Diam-diam Stella membayangkan bagaimana mamanya dulu berjuang melahirkan dirinya. Apakah sama sakit seperti yang ia rasakan kini? Apakah papanya sama romantisnya dengan Azam hari ini? Bagaimana mamanya berjuang melawan sakit yang luar biasa ini?


Stella meneteskan air matanya, berulang kali merapalkan maaf kepada sang mama yang sudah tiada.


Azam langsung mengelap air mata Stella tanpa bertanya, juga mengecup kening, pipi kanan pun pipi kiri istrinya.


Kadang Azam juga mengalihkan diri ke depan perut sang istri, “Nak, tidak boleh nakal ya. Bunda kesakitan, sayang” ucapnya lalu mengecup perut Stella.


“Mas, maaf ya jika aku begitu merepotkan” Ucap Stella di tengah tangisnya.


“Tidak sayang, kau wanita terhebat, kau tidak pernah merepotkan. Jika merasa begitu sakit, kau boleh mencengkramku, boleh juga menggigitku, atau mau menjambak rambutku pun tidak masalah” Ucap Azam.


Stella tersenyum dengan apa yang disampaikan suaminya, “Aku yakin masih ada yang lebih sakit dari ini nanti” sahutnya sambil menggenggam erat tangan Azam.


Azam sejak tadi terus mengaji agar istrinya diberikan kelancaran dalam bersalin nanti. Sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW ketika Sayyidatina Fatimah menjelang melahirkan. Meskipun sesekali Azam harus menjawab ucapan yang dilontarkan oleh Stella.


“Inna rabbakumulladzi kholaqassamawati wal ardla fi sittati ayyamin tsummastawa ‘alal ‘arsyi yughsyil lailan nahara yathlubuhu hatsitsan wasy syamsa wal qamara wan nujuma muskahkharamatin bi amrihi ala lahul khalqu wal amru tabarakallahi rabbil ‘alamiin.


Sesungguhnya Tuhanmu adalah Allah SWT yang telah menciptakan langit dan bumi. Lalu dia bersemayam di arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikuti dirinya dengan cepat, serta bintang, bulan, matahari tunduk kepada perintah-Nya. Menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah SWT. Maha suci Allah SWT, Tuhan semesta alam” – QS Al-A’Raf : 54.


Sengaja Azam mengucapkan beserta artinya ketika pertama kali membisikkan surat itu di telinga Stella. Tentu agar wanita itu selalu ingat dengan sang pencipta, Allah SWT ta’ala.


Pertama, Azam membaca ayat kursi, Al-A’raf ayat 54, Al Falaq juga An-Nas masing-masing satu kali. Tidak henti-hentinya Azam mengumandangkan ayat-ayat suci itu membisiki Stella, agar istrinya merasa tenang.


Beberapa jam sudah berlalu, umi Fatimah berada di depan ruangan melihat anak dan menantunya dari luar ditemani oleh mbak Deden.


“Lihat mbak, banyak orang yang dulu menghina mereka karena merasa mereka bukanlah pasangan yang cocok tapi, kita bahkan melihat ketulusan diantara keduanya begitu besar” Gumam umi Fatimah pada mbak Deden.


“Mbak Stella dan mas Azam sejak awal memang sudah ditakdirkan bersama, umi. Mbak Stella adalah wanita yang cerdas sejak dulu, hanya saja mungkin pergaulannya yang membuat dirinya menjadi memilih jalan yang salah. Tapi, gus Azam adalah lelaki yang penuh dengan tanggung jawab, semua orang tau bahwa gus pasti bisa mendidik anak dan istrinya menuju jalan yang diridhoi Allah SWT” Jawab mbak Deden dengan tersenyum.


Umi Fatimah mengangguk perlahan, lalu mengajak mbak Deden pergi ke mushollah untuk melaksanakan sholat isya’ bersama, sembari berdoa akan kelancaran Stella selama masa persalinan nanti.


Ceklek


Suara pintu itu terbuka, menampakkan bidan dan beberapa perawat yang datang untuk mempersiapkan persalinan.


“Sudah pembukaan lengkap ya, ayo kita mulai persalinannya” Ucap bu bidan.


Rasanya saat itu jantung Azam berdetak sangat kencang, takut dengan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi selama proses kelahiran anak pertamanya nanti.


“Bismillahirrahmanirrahim, laailaha illallahul ‘adhimul halim. Laa ilahaillahu rabbul ‘arsyil ‘addzim. Laailaha illallahu rabbussamawati wal ardhi wa rabbul ‘arsyil ‘adzim”


Itu adalah doa agar proses melahirkan berjalan dengan mudah dan lancar.


“Ikuti instruksi saya ya, bu. Bernapas pelan-pelan, tariiiiik”


Uuuuuuhhhhh, Stella menarik napasnya dalam. Rasanya seperti tulang-tulang pinggangnya remuk.


“Buang pelan-pelan” Ucap bu bidan.


Huuuuuuuu.


Stella lalu membuang napasnya sedikit terburu-buru.


“Sayang, tekniknya salah” Bisik Azam sembari terus menggenggam tangan istrinya.


Bisa-bisanya disaat seperti itu Azam masih memikirkan teknik?


Rupanya meskipun tidak ikut masuk ke dalam ruangan saat Stella melakukan kursus parenting, lelaki itu juga diam-diam memperhatikan apa yang diucapkan dan juga membaca dari buku panduan melahirkan bahkan sampai buku parenting yang disediakan untuk Stella.


“Sakit mas. Janji ya, nanti kalau adek udah keluar aku boleh makan bakso sama mie ayam lagi” Gumam Stella, menanggapi ucapan suaminya.


Azam mengangguk cepat, “Boleh, kau boleh makan apapun tapi, kau dan anak kita harus keluar dengan sehat saat keluar dari rumah sakit ini” ucapnya lalu mengecup kening Stella.


Kerandoman itu berakhir, disusul suara Stella yang terus mengejan sesuai instruksi dari dokter. Wanita itu juga mencakar punggung Azam, bahkan menggigit, atau juga menjambak rambut lelaki itu. Persis seperti apa yang dikatakan Azam saat Stella masih masa pembukaan tadi.


“Terus, dorong lagi buu, kepalanya sudah mulai kelihatan” Ucap sang dokter.


Mendengar hal itu, seperti sebuah setruman semangat bagi Stella sendiri. Wanita itu terus mencoba mengejan. Air matanya sudah jatuh bercucuran, merasakan segala sakit juga remuk redam pada dirinya.


“Huh huh huh” Nafas Stella mulai tersengal-sengal, badannya mulai lelah, matanya pun terlihat sayu sekali.


“Sayang, jangan terpejam ya. Ayo, sedikit lagi anak kita lahir, kau pasti bisa, aku menyayangimu” Ucap Azam, lelaki itu sedikit panik ketika melihat istrinya seperti seorang yang hampir putus asa.


Dengan senyum yang sedikit dipaksa di tengah rasa sakitnya, Stella mengangguk, menggenggam tangan Azam kuat-kuat lalu kembali mengejan lebih kuat dari sebelumnya.


Hingga akhirnya,


Oek


Oek


Oek


Suara tangis bayi terdengar di ruangan itu, “Alhamdulillah” gumam semua orang, termasuk umi Fatimah dan mbak Deden yang mendengar suara tangis bayi itu dari luar ruangan.


Azam meneteskan air mata lagi dan lagi, bahagia, terharu, sedih bercampur menjadi satu. Lelaki itu bahkan melakukan suju syukur, lalu menghampiri Stella lagi “Terimakasih sayang, terimakasih” ucapnya sambil mengecup kening Stella berkali-kali. Lelaki itu mengungkapkan rasa bahagianya disana.


“Bayinya laki-laki, tampan sekali” Ucap sang dokter sebelum akhirnya diberikan kepada perawat untuk dibersihkan.


Setelah dibersihkan, Azam membawa lelaki mungil itu di dalam gendongannya, meng-adzankannya di telinga kanan, dan melakukan iqamah di telinga kiri, disusul dengan, "Allahummaj'alhu barran taqiyyan rasyidan wa-anbit-hu fil Islam nabatan hasanah" di telinga kanan si bayi.


Ya Allah, jadikanlah dia anak yang baik, bertaqwa dan cerdas. Tumbuhkan lah ia dalam Islam yang baik.


Masih dilanjutkan dengan Al-Ikhlas, Al-Qadr, lalu surat Ali Imran ayat 36, "Wa inni u'udzu bika wadzurriyyataha minasysyaithanirajim"


Aku memohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada Engkau dari setan yang terkutuk - QS Ali Imran : 36.


Stella Yan melihat suaminya dengan suara merdunya membacakan setiap Sunnah Rasulullah kepada bayinya hanya mampu meneteskan air mata, begitu bahagia rasanya diberikan suami yang luar biasa kuat imannya.


Lalu setelah didoakan oleh Azam, bayi tersebut diberikan kepada Stella untuk melakukan IMD (Inisiasi Menyusui Dini).


"Mau diberi nama siapa anaknya, pak?" Tanya Bu Dokter.


Azam menatap Stella terlebih dahulu, karena sebelumnya mereka memang tidak menyiapkan nama untuk sang bayi. Stella hanya mengangguk, memberikan sepenuhnya hak itu kepada sang suami.


Dengan tersenyum, Azam akhirnya mengucapkan sebuah nama yang luar biasa indah untuk putranya.


“Indah sekali. Jangan tidur dulu ya, bu Stella. Kita akan masuk ke tahap mengeluarkan plasenta sebentar lagi” Ucap sang dokter.


Deg


Azam terdiam sesaat, terkejut bahwa ternyata masih ada lagi yang harus dilakukan setelah melakukan persalinan yang begitu berat tadi?


“Waktunya hanya sekitar 15-30 menit saja, ini akan terasa lebih ringan dari sebelumnya” Ucap bu dokter dengan tenang.


Azam dengan sigap menemani sang istri, sementara bayinya dibawa ke ruangan khusus untuk bayi. Bahkan sampai proses membersihkan diri, Azam sesekali turut membantu.


“Sekarang bu Stella sudah bisa istirahat ya, kerja bagus, bu. Sekali lagi, selamat” Ucap bu dokter sebelum akhirnya pergi meninggalkan ruangan.