
Dua minggu menjalani bulan Ramadhan, Stella melakukannya dengan baik tanpa ada satu pun rintangan. Rupanya bayi yang berada di dalam perutnya sama sekali tidak rewel.
“Sayang, mau belanja keperluan dedek Ala kapan?” Tanya Azam pada Stella.
Pagi itu mereka hanya bersantai bersama di ruang keluarga, memanfaatkan waktu akhir pekan dengan maksimal.
Setelah kejadian tempo waktu, mereka akhirnya memilih mbak Deden saja yang mengurus rumah, datang di pagi hari dan pulang di sore hari, kecuali hari Sabtu dan Minggu. Kenapa? Selain dari libur, Azam yang akan mengerjakan pekerjaan rumah, katanya itung-itung membantu pekerjaan sang istri.
What a romantic boy?
“Kau memanggilnya apa?” Tanya Stella dengan kening yang mengekerut.
“Dedek Ala, Azam dan Stella” Sahut Azam.
Sontak setelah itu, Stella langsung tertawa keras. Ini pertama kalinya Azam memanggil bayi mereka dengan sebutan itu, menggelikan sekali di telinga Stella. Azam yang biasanya terlihat kaku di luar sana, siapa yang menyangka ternyata lelaki itu memiliki jiwa ‘alay’ bak anak muda yang tinggi dalam dirinya?
“Kau tidak suka dengan sebutan itu, ya?” Tanya Azam polos.
Stella menggeleng-gelengkan kepalanya, “Bukan tidak suka, aku hanya merasa itu seperti anak-anak muda yang memberikan nama untuk anaknya” sahutnya.
Azam pun tersenyum mendengar penuturan istrinya. Dia memang melihatnya di internet tadi malam jadi, sangat tidak heran jika bahasa yang ia gunakan sedikit terkesan alay.
“Jadi, kapan mau belanjanya, sayang? Sekalian beli keperluan lebaran juga boleh” Ucap Azam.
Stella terlihat berpikir sejenak, mencari moment yang tepat mungkin?
“Hari ini juga boleh, mas” Jawab Stella akhirnya.
“Kalau begitu, ayo segera bersiap” Sahut Azam, mengajak istrinya untuk segera berangkat.
Mereka akhirnya berangkat menuju swalayan, memilih beberapa baju juga printilan bayi yang pertama.
“Ini lucu” Gumam Stella.
“Ini juga lucu” Gumamnya lagi saat melihat sesuatu ‘lucu’ yang lain.
Memang jika sudah berhadapan dengan printilan bayi, bukankah semuanya akan terlihat lucu di mata kita yang melihat?
Stella pun begitu, dia terus mengatakan ‘lucu’, ‘lucu’, ‘lucu’ tapi, semuanya diletakkan kembali pada tempatnya, masih tidak ada satu pun yang diambil.
Azam yang melihat hal itu tentu gemas sekali dengan istrinya itu.
“Kau terus mengatakan bahwa mereka lucu tapi, tidak ada satu pun yang kau ambil. Memangnya mencari yang bagaimana sayang?” Tanya Azam pada istrinya.
“Rasulullah SAW bersabda ‘Jauhilah gaya hidup bermewahan. Sesungguhnya hamba-hamba Allah SWT itu bukan orang yang bermewah-mewahan’
Mereka semua harganya terlalu mahal, mas. Kita cari yang harganya tidak menyundul langit begitu. Bukan karena terlalu hemat tapi, keperluan dedek bayi itu sangat pangjang, mungkin hingga dia sampai di usia 22 atau 23 tahun. Ah, semoga saja dia menuruni kecerdasanmu” Sahut Stella, menjelaskan panjang lebar alasannya terus meletakkan barang-barang yang ia ambil sejak tadi.
“Ambil saja, sayang. Tidak apa, toh itu untuk kebutuhan anak kita” Ucap Azam sembari merangkul pinggang istrinya. Lelaki itu mulai menunjukkan kepemilikannya ketika ada lelaki yang dengan terang-terangan memandang Stella dengan tatapan kagum.
“Cemburu?” Gumam Stella menggoda sang suami.
Benar saja, tepat sasaran dan sesuai dugaan, lelaki itu langsung mengalihkan pandangannya dari Stella.
Karena Stella yang pemilih, sudah hampir dzuhur menyapa, mereka tidak juga mendapatkan apa-apa. Khawatir jika istrinya akan kelelahan, Azam akhirnya menyuruh pegawai swalayan itu membungkus apapun yang dikatakan ‘lucu’ oleh Stella.
Ya meskipun mungkin saja nanti Stella akan mengamuk karena Azam dinilai terlalu boros, itu akan lebih baik daripada Azam harus mendengar istrinya mengeluh kelelahan.
Bukan karena tidak mau dijadikan tempat mengeluh, Azam hanya merasa kasihan dengan istrinya, dia akan merasa bersalah jika itu terjadi. Seandainya jika bisa, Azam akan membawa rasa sakit yang digendong Stella untuknya saja.
Sayangnya, alih-alih membawa rasa sakit iu bersamanya, kodratnya sebagai lelaki adalah mengemban keduanya, Stella juga anaknya.
Setelah memilih printilan bayi, Azam mengajak Stella untuk pulang. Nyatanya, daripada pulang, Stella ingin sholat di masjid terdekat saja dan melanjutkan perjalanan mereka berburu keperluan ramadhan.
“Sepertinya anak pertamaku adalah perempuan, terlihat sekali bagaimana ibunya sangat suka belanja setelah memasuki masa kehamilan” Gumam Azam, melirik Stella yang terlihat begitu bahagia.
Stella pun tersenyum mendengar hal itu, “Aku tidak masalah dengan apapun jenis kelamin anak kita nanti. Mau laki-laki atau perempuan, sama saja. Anak adalah anugerah yang dititipkan kepada kita” Ucapnya.
Azam mengelus kepala sang istri pelan, “Aku bangga padamu, bisa belajar secepat ini di usia yang tak lagi muda bukanlah hal yang mudah”
Lelaki itu menjalankan mobilnya menuju swalayan lain yang diinginkan Stella.
“Tukang jahit?” Gumam Azam, setelah melihat ternyata tempat tujuan mereka adalah tukang jahit.
“Iya, kita jahit saja. Insyaallah harganya jauh lebih terjangkau daripada jika kita beli di swalayan, bisa sesuai dengan model yang kita harapkan juga kan?” Ucap Stella.
“Baiklah, aku setuju denganmu” Ucap Azam.
“Zaidan, umi dan kak Maryam juga kak Erlangga kira-kira mau tidak ya jika dibuatkan juga?” Tanya Stella.
Rupanya wanita itu ingin berseragam satu keluarga.
“Biasanya kami akan menggunakan warna putih polos di hari lebaran, dimana itu menandakan jiwa kita yang kembali fitrah dan suci setelah bermaaf-maafan. Jika kau ingin berseragam dan membuatnya dengan warna, tidak ada masalah sayang. Kita bisa melakukan hal yang berbeda” Sahut Azam.
“Apalagi kebiasaan keluarga ketika lebaran menyapa, mas?” Tanya Stella, penasaran dengan kebiasaan keluarga suaminya ketika sedang merayakan hari raya idul fitri.
Maklum, ini adalah tahun pertama Stella setelah 25 tahun hidup, sama sekali wanita itu tidak pernah merayakannya. Hanya tau sekedar dari berita-berita di media sosial.
“Kami berkumpul di pondok, sungkem kepada abi dan umi lalu bermaaf-maafan dengan saudara-saudara, tidak lupa hal yang wajib adalah ketupat. Biasanya kami juga akan merayakannya bersama dengan santriwan santriwati pondok yang tidak pulang” Ucap Azam.
Stella mengerutkan keningnya, tidak pulang dari pondok? Ketika hari raya idul fitri?
“Memangnya mereka tidak rindu dengan suasana rumah yang ramai sampai tidak pulang?” Tanya Stella.
“Ada yang broken home, ada yang yatim piatu, ada pula yang memang tidak diperbolehkan pulang oleh orang tua mereka, ada banyak alasan kenapa mereka tetap tinggal di hari bahagia seperti itu.
Sudah seharusnya kita merasa bersyukur dengan kehidupan yang kita miliki. Kadang banyak orang yang berada di bawah kita, yang tidak bisa merasakan bahagianya bersama dengan keluarga di usia yang masih muda” Ucap Azam.
Setelah itu mereka turun dari mobil, Stella memesan baju warna putih dengan model yang sama. Ukuran yang dipesan Stella tidak akan salah, dia sudah mempersiapkannya sejak sebelum pulang dari pondok.
Mereka juga membeli kue lebaran untuk di rumah juga untuk di pondok. Tidak lupa, Stella membeli bingkisan untuk anak-anak yang tidak pulang ke rumah. Tujuannya tentu agar mereka masih merasakan kehangatan keluarga, meskipun hanya dengan bingkisan sederhana yang mereka berikan.