
Pagi itu suara takbir masih berkumandang, “Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar”.
Stella, Azam, umi Fatimah bersama dengan Zaidan bersama-sama berjalan menuju masjid dengan senyum mengembang sempurna. Pertama kali dalam kehidupan Stella, berangkat menuju masjid, apalagi tujuannya untuk beribadah sholat ied.
“MasyaAllah” Gumam Stella ketika melihat ramainya orang-orang yang memenuhi masjid kala itu.
“Ini istrinya Azam ya umi?” Tanya seseorang yang saat itu berada di samping umi Fatimah.
Dengan ramah, umi Fatimah menjawab, “Iya bu, alhamdulillah punya mantu perempuan yang cantik dan rajin begini”
“Sudah isi belum?” Tanya ibu-ibu yang lain.
“Alhamdulillah, sudah” Jawab Stella.
Mata ibu itu terlihat berbinar, “Wah, alhamdulillah ya”
Saat itu, banyak sekali yang bertanya kepada umi Fatimah, begitu juga kepada Stella. Mereka terlihat membuka tangan lebar-lebar menyambut kedatangan Stella disana.
Maklum jika ibu-ibu banyak yang bertanya-tanya, mengingat pernikahan Azam dan Stella diselenggarakan dengan sederhana dan hanya dihadiri oleh petinggi-petinggi pondok sebagai saksi.
Stella pun jarang keluar jika berada di rumah mertuanya itu. Wajar jika orang-orang tidak begitu mengenali sosok Stella dengan baik.
Setelah sholat dilaksanakan, mereka juga bersama-sama mendengarkan khutbah di hari yang suci itu.
“Jamaah yang dirahmati Allah. Idul fitri sering dimaknai dengan hari raya sekaligus berakhirnya bulan puasa ramadhan, ada pula di lain tempat yang memaknai bahwa hari raya idul fitri adalah hari yang ‘kembali suci dan terbebas dari dosa’. Jamaah sekalian, Allah SWT memerintahkan kita bersama untuk menghadapkan wajah kita kepada agama yang lurus sebagai fitrah kita sebagai hamba kepada-Nya, begitu yang tertulis dalam Al-Qur’an surat Ar-Rum ayat 30.
Dalam kata lain, idul fitri berarti adalah hari yang mengantarkan kita untuk kembali dan mengenal Allah SWT. Bahkan dari sejak ramadhan saja kita sudah jelas diantarkan kembali kepada Allah SWT, bagaimana caranya? Ya tentu saja dengan ibadah-ibadah yang disunnahkan dalam ramadahan.
Apa saja itu? Tentu dari puasa, sholat berjamaah, tadarus, sedekah, memberi buka puasa kepada sesama, dll. Itu semua jelas dapat kita lakukan di bulan yang suci yaitu bulan Ramadhan.
Jamaah sekalian, jika Ramadhan mengajarkan kita untuk mengenal Allah SWT lebih dalam maka, dengan adanya idul fitri ini kita diharapkan sudah kembali kepada Allah SWT. Jika sudah mengenal Allah SWT maka, bagaimana selanjutnya?
Selanjutnya adalah bagaimana kita merawat keimanan kita kepada Allah SWT. Untuk itu, kita perlu melakukan beberapa hal seperti berdoa agar hati kita tetap istiqamah di jalan-Nya, selanjutnya adalah berkumpul dengan orang-orang yang sholeh dan sholehah, dilanjutkan dengan ibadah dengan terus menerus meskipun itu hanya sedikit.
Demikian pesan yang bisa saya sampaikan, jika ada salah-salah kata saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Semoga Allah SWT memberikan kita semua keberkahan kepada kita lahir dan batin. Selamat hari raya idul fitri, wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh”
Setelah khutbah ditutup, terdengar suara Azam yang memimpin doa penutup disana. Stella sangat paham dengan suara itu, suara yang begitu candu untuknya.
“…Amiin”
Seperti itu suara yang terdengar di akhir doanya, disusul dengan suara kembang api yang membumbung ke udara. Ramai sekali suasananya, begitu meriah. Baru kali ini Stella merasakan euphorianya lebaran, ternyata begitu menyenangkan.
Wanita itu menundukkan kepalanya, membayangkan bagaimana dirinya jika idu fitri tiba di masa lalu. Dirinya pasti akan berangkat ke luar negeri dan berfoya-foya disana, entah itu untuk urusan pekerjaannya sebagai seorang model atau untuk melayani ‘klien’ atau bisa jadi juga sekedar hanya untuk liburan.
Disamping itu, jika tidak pergi ke luar negeri maka dia hanya berdiam diri di klub untuk bersenang-senang dengan teman-temannya.
Entahlah, dia lupa kapan terakhir kali dirinya merayakan suasana idul fitri dengan keluarganya.
“Nak, ayo kita pulang” Suara umi Fatimah membuyarkan segala lamunan Stella. Wanita itu mengajak Stella untuk kembali ke rumah, sedangkan Azam juga Zaidan sudah menunggu dua wanita beda generasi itu di depan gerbang masjid.
Tidak ada percakapan yang berarti di antara mereka selama perjalanan, itu semua karena para tetangga yang terus bertanya perihal Stella.
“Dulu, mbak Stella ini gimana ceritanya bisa bertemu dengan mas Azam?”
“Mbak Stella dulunya sekolah dimana?”
“Wah lulusan luar negeri, pasti sangat cerdas”
“Sekarang tidak bekerja ya? Tidak boleh ya sama mas Azam?”
Kira-kira seperti itu cuitan-cuitan yang keluar dari ibu-ibu yang merasa penasaran dengan Stella.
Wanita itu hanya tersenyum, sesekalu menjawab jika perlu.
“Saya tidak melarang istri untuk bekerja, selama pekerjaannya halal dan tidak menyalahi aturan Islam tapi, saya lebih suka jika istri saya di rumah dan tidak merasakan lelahnya mencari uang karena mencari nafkah adalah tugas saya sebagai seorang suami” Begitu jawaban yang diberikan Azam kepada ibu-ibu disana.
Tidak heran jika banyak yang mengidolakan Azam, dari yang muda hingga yang tua, dari yang perempuan maupun yang laki-laki, atau bahkan yang muslim atau yang bukan. Jawabannya selalu baik, tutur katanya pun santun.
Setelah itu, Azam sekeluarga dan juga para tetangga akhirnya berpisah, pulang ke rumah masing-masing.
Setelah bersiap, Stella menghampiri Azam, “Mas” Ucap Stella lirih.
Azam menoleh, mendapati istrinya dengan senyuman tipis di bibirnya. Azam bisa melihat dengan jelas raut kegugipan juga keraguan dari sorot mata istrinya.
Stella meraih tangan suaminya, mencium punggung tangan lelaki itu dengan lembut, “Minal aidzin wal faidzin ya mas. Aku minta maaf atas segala khilaf yang aku lakukan, baik itu disengaja ataupun tidak, besar ataupun kecil. Sebagai seorang istri, aku mungkin belum bisa menjadi yang baik dan taat untuk mas Azam. Ridhai aku disetiap langkahku ya mas, bimbing aku menjadi istri yang sholehah untuk kamu, menjadi anak yang taat untuk umi, menjadi kakak dan adik yang baik untuk kak Maryam dan Zaidan, serta menjadi ibu yang sempurna untuk anak-anak kita kelak” Ucap Stella.
Wanita itu meneteskan air matanya, mengingat bagaimana lelaki di hadapannya ini tanpa lelah dan tanpa amarah terus membimbing Stella menuju jalan kebaikan dalam surganya Allah SWT.
“Sayang, manusia adalah tempatnya salah dan khilaf. Aku juga minta maaf ya atas segala kesalahan yang pernah aku lakukan padamu, temani aku sampai akhir ya, jangan pernah melepaskan genggaman tangan ini sampai hayatlah yang memisahkan kita. Selamat hari raya idul fitri ya, sayang. Sehat selalu untukmu dan anak kita” Jawab Azam sembari mengelus puncak kepala istrinya dan diakhiri dengan mengecup kening sang istri setelah membacakan doa singkat.
“Terimakasih mas” Ucap Stella, menghambur ke pelukan sang suami.
“Apa kau akan terus menangis di hari yang bahagia ini?” Ucap Azam, mengalihkan pembicaraan sembari menghapus air mata istrinya.
“Kita harus menemui umi di depan. Biasanya, kita akan melakukan sungkem terlebih dahulu kepada abi dan umi” Ucap Azam.
Lelaki itu mengajak Stella keluar kamar dan menemui umi Fatimah yang sudah ada di ruang tamu, sedankan Zaidan sudah melakukan sungkem kepada umi.
“Umi, minal aidzin wal faizdin. Azam minta maaf jika Azam ada salah-salah kata dan perbuatan. Azam juga masih belum bisa menjadi anak yang berbakti kepada umi, Azam minta maaf yang sebesar-besarnya” Gumam Azam sembari melakukan sungkem dengan Stella di sampingnya.
Entah bawaan hamil atau apa, Stella hari itu benar-benar terharu dan terus menangis.
“Nak, kalian adalah sepasang suami istri. Semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah ya, jadilah orang tua yang baik untuk anak-anak kalian kelak. Berikan contoh yang benar kepada mereka, bimbing mereka menuju surganya Allah ya. Jangan lupakan Allah SWT apapun yang terjadi kedepannya” Jawab umi Fatimah, mengelus pelan puncak kepala anak juga menantunya.