Pelacur Itu Istri Gus Azam

Pelacur Itu Istri Gus Azam
Keanehan Viona


Sepulang dari rumah sakit, Stella dan Azam sudah disuguhi dengan makan malam yang siap rapi di meja makan.


“Loh, kok masak Viona?” Tanya Stella.


Memang yang biasanya memasak kan Stella, meskipun sudah dibantu dengan Viona tapi, jelas itu menyalahi aturan yang sudah dibuat bukan?


“Iya, aku tadi mencoba resep baru jadi, aku sekalian membuatkannya untuk kalian” Ucap Viona.


Stella akhirnya mengangguk, mengerti dengan alasan yang disampaikan Viona. Tapi, ada yang aneh dengan sikap Viona, terlihat dari cara berpakaiannya mirip sekali dengan Stella ketika berada di rumah, bahkan dari dandanannya sama persis dengan Stella.


Jam makan malam sebentar lagi, tanpa mempedulikan penampilan Viona, Stella dan Azam pun akhirnya beralih menuju kamar untuk menunaikan sholat isya berjamaah.


“Nanti aku akan mencarikan rumah secara terpisah untuk Viona. Perasaanku tidak baik dengannya” Ucap Azam dingin.


Jarang sekali lelaki itu bersikap dingin begitu, bahkan ketika marah Azam tidak pernah menunjukkan wajah dan sikap yang seperti itu pada Stella.


“Kenapa mas? Ada masalah?” Tanya Stella, dia mengelus wajah suaminya yang sekarang sedang berada di pangkuannya. Selepas menunaikan sholat isya tadi, memang Azam langsung berbaring pada pangkuan sang istri.


“Maaf sayang, aku tidak suka dengan kehadirannya” Ucap Azam.


“Yasudah, aku terserah mas saja enaknya bagaimana. Jika memang tidak nyaman dengan keberadaan Viona disini, carikan tempat yang nyaman untuknya” Jawab Stella.


Azam pun hanya mengangguk, menikmati setiap elusan lembut dari Stella di wajahnya.


“Ya sudah, ayo turun. Pasti makanannya sudah hampir dingin” Ucap Stella, mengajak Azam turun.


Mereka melakukan makan malam dengan baik, saat itu Viona tidak berada di kamarnya tapi, dia berada di pantry dapur, makan malam menyendiri disana.


Bukan karena sampai hati tapi, Stella jelas tidak akan mengundang wanita lain di meja makannya dengan suami jika suaminya saja tidak mengizinkan.


“Stella, jika sudah selesai nanti apa aku boleh belajar mengaji dengan kalian? Aku kebetulan sering mendengar kalian mengaji setelah jam makan malam” Ucap Viona, menghampiri Stella dan juga Azam.


Stella menoleh pada Viona, tersenyum sejenak. Jujur saja, dia sangat senang jika Viona mau belajar bersama dengannya dan Azam. Masalahnya, apakah Azam mau?


“Istriku akan setor hafalan al-Qur’annya di malam dan pagi hari. Jika ingin belajar mengaji, belajarlah berdua jika aku sedang tidak di rumah” Sahut Azam.


Lelaki itu berkata seolah memang tidak menyukai Viona. Dari cara bicaranya yang bukan Azam sekali.


“Mas, tidak baik berkata begitu. Barangkali mas Azam mau mengajari Viona juga jika ada waktu senggang?” Ucap Stella lembut.


Tatapan Azam melunak pada istrinya, “Aku harus menyelesaikan beberapa pekerjaan dulu, sayang. Kau saja ya. Lagipula, kalian kan sesama jenis sedangkan aku adalah lawan jenis. Sekalipun ada kau disisiku tapi, aku tidak mau bersinggungan dengan wanita lain apalagi jika berhadap-hadapan. Di pondok saja, tidak seperti itu. Jika memang ingin memperdalam ilmu agamanya, akan lebih baik jika dia tinggal saja di pondok” Ucap Azam pada Stella, itu jelas diucapkan dihadapan Viona langsung.


Azam beranjak dari kursinya, “Aku langsung ke ruang kerja, tolong buatkan aku kopi ya” ucapnya sembari mengecup kening sang istri sebelum benar-benar pergi.


Viona dan Stella saling menatap satu sama lain.


“Maafkan mas Azam ya, Vio” Ucap Stella.


Saat itu Viona hanya tersenyum dan mengangguk, “Tidak apa-apa, suamimu itu sedang menjaga perasaanmu” ucapnya.


Tok


Tok


Tok


“Masuk, sayang” Ucap Azam tanpa melihat siapa yang datang. Dia hanya fokus dengan berkas-berkas yang menumpuk di mejanya.


Azam mengerutkan kening, sejak kapan sandal rumah yang digunakan Stella berbunyi begitu?


Lelaki itu jelas sudah mengatakan pada Stella bahwa menggunkan sepatu yang memiliki heels itu tidak boleh.


“Menurut para ulama Syaikh Abduk Aziz bin Baaz dan Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin Rahimamullah, mengenakan sepatu ata sandal yang memiliki hak tinggi atau heels, itu tidak diperbolehkan sayang. Kenapa? Karena itu akan membahayakan diri sendiri.


Sebagaimana yang kita tau, bahwa di dalam Islam kita diperintahkan untuk menjauhi bahaya. Seperti yang sudah tertulis dalam surat Al-Baqarah ayat 195, ‘Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri dalam kebinasaan’ dan sesuai dengan apa yang tertulis dalam surat An-Nisa ayat 29, ‘Dan janganlah kamu membunuh dirimu’.


Menggunakan sepatu yang memiliki hak tinggi, juga masuk dalam ketegori tabarruj, dimana itu akan membuat caramu berjalan menjadi berbeda, yaitu lebih berlenggak lenggok.”


Azam ingin betul, kalimat itu lah yang keluar dari bibirnya ketika menasehati Stella dulu. Dan dia yakin tidak salah dengar, itu adalah suara sandal yang sudah pasti memiliki hak meskipun sedikit.


Azam segera mengangkat wajahnya dan mendapati Viona yangs sedang berjalan ke arahnya dengan secangkir kopi, mungkin?


“Viona? Apa yang kau lakukan? Kenapa bukan istriku yang mengantarkan kopinya?” Tanya Azam.


“Stella langsung tidur, mungkin dia lupa” Jawab Viona.


Sedangkan, Azam mana bisa percaya dengan ucapan Viona. Apalagi Azam kan memang tidak suka dengan keberadaan wanita itu.


“Yasudah, terimakasih. Keluarlah, aku takut akan menjadi fitnah” Ucap Azam tanpa menoleh pada Viona.


Setelah wanita itu hilang dari pandangan mata, Azam segera beranjak dan melihat ke dalam kamarnya melalui pintu yang memang terhubung untuk memastikan bahwa Stella benar-benar tertidur atau tidak.


“Tidak ada” Gumam Azam lalu masuk ke dalam kamar, barangkali Stella ada di kamar mandi?


Tidak ada juga.


Akhirnya Azam kembali ke ruang kerjanya dan mendapati Stella berdiri disana.


“Loh, sayang?” Ucap Azam.


Jelas saja dia terkejut, “Tadi katanya tidur?” ucapnya.


“Tidak maas, aku tadi ke kamar mandi dapur sebentar, lalu aku membuatkan kopi dan masuk kemari. Ternyata mas sudah membuat kopi sendiri, apa aku terlalu lama?” Ucap Stella.


Azam langsung memasang wajah datar, “Besok, Viona harus keluar dari rumah ini” sahut Azam.


“Loh, kenapa mas?” Tanya Stella bingung.


“Tidak mau tau, Stella. Dia harus keluar! Pangkal dari dosa adalah kebohongan” Ucap Azam singkat.


Stella jelas masih bingung dengan apa yang disampaikan suaminya. Dia tidak tau apa-apa.


“Aku tidak membuat kopi itu sendiri, sayang. Itu adalah ulah dari Viona, dia mengatakan kau sudah tertidur dan membawakan kopi kemari” Ucap Azam.


Stella terdiam sejenak, masih tidak percaya jika Viona yang notabennya adalah teman baiknya akan berbuat demikian? Tentu saja dia tidak akan percaya. Kalaupun itu benar jika Viona yang membuatkan kopi untuk suaminya, itu bukanlah masalah yang besar.


“Mas, tidak baik marah-marah begini. Viona tau batasannya, tidak mungkin dia berniat menggodamu. Aku tadi memang sedikit lama di kamar mandi, mungkin menurutnya aku sudah tidur sedangkan kondisi dapur masih tidak apa-apa, menandakan bahwa aku belum membuatkan minuman untukmu” Ucap Stella, mencoba menenangkan suaminya.


Kasian juga jika harus mengeluarkan Viona, sedangkan Stella sendiri sudah merasa begitu nyaman dan terbantu dengan kehadiran Viona.