
Azam menatap Stella, istrinya iu masih saja menenangkan Maryam yang sedang menangis tersedu.
“Demi Allah abi, umi, Maryam tidak seperti yang dikatakan mas Husain” Ucap Maryam pada orang tuanya.
Sepertinya perkataan mantan suaminya tadi begitu mengusiknya.
“Tenanglah, nak. Abi dan umi percaya denganmu. Tidak usah menangis lagi” Sahut umi Fatimah.
Wanita paruh baya itu sebenarnya lebih terluka lagi daripada sang putri. Sedangkan Abi Daud masih terdiam dengan tatapannya yang kosong.
“Abi” Tegur Azam pada ayahnya.
Abi Daud mengangkat kepalanya, menatap sang putra dengan sendu.
“Tidak perlu menyalahkan diri sendiri. Ini adalah takdir dan juga ujian yang harus kita lewati. Kak Maryam adalah wanita yang kuat hati dan imannya. Setelah ini, dia pasti akan baik-baik saja” Ucap Azam sembari merangkul pundak abi Daud, menyalurkan ketenangan lewat pelukan yang ia miliki.
Stella yang tidak tau apa-apa tentu saja hanya diam.
Mewakili abi Daud, Azam pun berbicara kepada Erlangga, “Terimakasih untuk kebaikan anda, pak Erlangga. Saya akan menggantinya nanti” ucap Azam.
Sebenarnya, ada rasa sungkan juga kepada rekan bisnisnya itu. Pasalnya, Erlangga kesana kan untuk mencari seorang guru ngaji untuk ibunya tapi, yang terjadi malah seperti ini. Berawal dari kasus Stella beberapa waktu lalu, sekarang pun melihat bagaimana kehancuran rumah tangga Maryam.
“Kau selalu memanggilku dengan sebutan itu, bisa panggil aku dengan sebutan yang lain jika kita tidak sedang bekerja?” Ucap Erlangga protes
“Panggil aku ‘mas’, seperti yang kau ucapkan untuk lelaki tadi. Itu akan terdengar lebih akrab. Dan juga perihal apa yang sudah aku berikan tadi, aku sama sekali tidak memiliki minat untuk mendapatkan ganti darimu” Sahut Erlangga lagi.
Azam tersenyum kecil lalu kembali terdiam, “Tapi, kak Maryam adalah tanggung jawab abi dan aku jadi, tidak seharusnya anda menanggung hal ini” ucapnya.
Erlangga sedikit berdecak, “Kau tau bahwa aku tidak suka penolakan, Azam. Intinya aku ikhlas melakukannya untuk kakakmu. Lagipula pria tadi begitu menjengkelkan” jawab Erlangga.
Erlangga bahkan mengepalkan tangannya saat mengingat wajah Husain dan perkataannya yang begitu kurang ajar.
“Tapi, anda membayarnya sampai tiga kali lipat. Itu bukanlah jumlah yang sedikit” Ucap Azam.
“Tidak apa-apa. Aku juga minta maaf jika aku terkesan ikut campur, padahal aku bukan siapa-siapa di antara kalian” Sahut Erlangga.
“Abi yang memintamu tetap tinggal, bukan?” Tanya Azam, menebak apa yang terjadi sebelum mereka datang.
Erlangga mengangguk tersenyum, “Kau mengenal keluargamu dengan baik” jawabnya.
Azam yakin, abi Daud tidak akan membiarkan orang lain masuk ke dalam masalah rumah tangga jika bukan untuk alasan tertentu.
Azam tidak tau apa alasan sang abi jadi, lelaki itu hanya menatap abinya dengan penuh rasa penasaran.
“Ada apa, abi?” Tanya Azam.
Abi Daud menatap Erlangga dan juga Maryam bergantian. Entah apa yang sedang di pikirkan lelaki paruh baya itu.
“Maryam, sudah tenang?” Tanya abi Daud.
Maryam yang saat itu memang sudah berhenti menangis, langsung menatap abinya, “Sudah, abi” jawabnya.
Maryam terdiam sejenak, dia menatap umi Fatimah sembari meremas pelan tangan wanita paruh baya itu. Sedangkan, umi Fatimah hanya mengangguk, “Apapun keputusanmu, abi dan umi pasti akan menerimanya, nak” jawabnya.
Maryam terlihat menghela napasnya sedikit, “Bismillahirahmanirrahim, atas restu dan ridho dari orang tua, Maryam menerima lamaranmu tuan Erlangga” jawabnya.
Sontak saja hal itu membuat Azam dan juga Stella terkejut.
“Abi Daud, bolehkah saya menggunakan apa yang telah saya beli tadi menjadi mahar untuk Maryam?” Tanya Erlangga, “Sebelumnya itu adalah hak milik Maryam dan saya akan mengembalikan itu padanya, selanjutnya saya akan memberikan mahar seperti yang diinginkan Maryam” lanjutnya.
“Maryam, apa yang kau inginkan sebagai mahar?” Tanya abi Daud kepada putri sulungnya.
Maryam masih tidak mengangkat wajahnya, dia terdiam sejenak, “Maryam tidak menuntut apapun, abi. Insyallah Maryam menjalankan pernikahan adalah ikhlas untuk ibadah seumur hidup kepada Allah SWT” Jawab Maryam.
Saat itu Azam terdiam sedikit lama, dia ingin mengutarakan sesuatu tapi, takut jika itu akan menyinggung perasaan rekan bisnisnya.
“Katakan, Azam. Gantikan abi sekarang” Ucap abi Daud pada putranya.
Azam mengangguk, dia menatap Stella yang masih juga memeluk Maryam dengan sayang.
“Maafkan aku sebelumnya, mas?” Rasanya begitu aneh ketika dia harus memanggil rekan kerjanya itu dengan panggilan ‘mas’, sangat asing untuk diucapkan oleh Azam.
“Ada beberapa mahar yang dilarang dalam Islam, salah satunya adalah mahar yang haram dimana mahar tersebut tidak boleh berasal dari hasil yang kurang baik, misalnya mencuri, menipu dan sejenisnya.
Salah satunya jika itu adalah hasil penjualan dari barang-barang yang tidak halal. Mengingat kau memiliki beberapa bisnis bar, aku harap kakakku tidak mendapatkan ahar dari hasil bisnis tersebut. Sungguh, itu tidak baik.
Selanjutnya adalah mahar yang berlebihan. Rasulullah SAW tidak menyukai hal-hal yang berlebihan, mas Erlangga. Seperti apa yang sudah tertera dalam hadist riwayat Ahmad ‘Bahwa sesungguhnya pernikahan yang paling besar barakahnya adalah yang paling sedikit maharnya’. Jika kau ikhlas dan tidak keberatan, berikan kakakku sesuai dengan apa yang kau mampu”
Azam menjelaskannya dengan rinci dan sopan, tentu saja tanpa berniat untuk menyakiti atau menyinggung perasaan rekan kerjanya.
“Aku pasti memberikan mahar dari hasil yang halal. Bahkan, aku pasti meninggalkan seluruh bisnis bar itu hari ini juga” Ucap Erlangga dengan mantap.
“Alhamdulillah” Sahut Azam. Entah kenapa hatinya merasa lega dengan apa yang disampaikan Erlangga, seolah itu bukanlah omong kosong belaka.
“Aku akan menjaga Maryam dengan baik, percayalah” Ucap Erlangga, meyakinkan orang-orang yang berada disana dengan ucapannya.
Menjadi duda anak satu membuat Erlangga memang tidak begitu tertarik memiliki hubungan dengan wanita manapun, menurutnya mungkin saja tidak ada wanita lain yang bisa menggantikan mendiang istrinya.
Azam terkekeh pelan, “Aku percaya padamu” ucapnya.
“Suami yang baik adalah suami yang memiliki karakter yang baik, cukup mampu finansial, tidak kasar atau lemah lembut, pria yang subur dan juga sehat. Aku menganggap kak Maryam sebagai kakakku sendiri, aku harap anda tidak seperti apa yang sudah dilakukan lelaki tadi padanya” Sahut Stella.
Rasanya, Stella begitu tidak ingin Maryam tersakiti. Sekarang ia tau, mengapa Maryam menjadi seseorang yang tegas dalam mengatasi masalah dan sering memberikan nasehat perihal masalah dalam rumah tangga kepadanya. Ternyata, dulunya rumah tangga Maryam jauh dari kata harmonis.
Bayangan Stella sekarang, bagaimana bisa Maryam hidup dengan lelaki yang lidahnya setajam itu? Dirinya bahkan merasa sangat sakit hati dengan hinaan tadi.
“Aku menjadi duda hanya karena istriku telah meninggal jadi, aku rasa kau tidak perlu memikirkan seuatu yang kau khawatirkan” Jawab Erlangga.
Azam tersenyum pada Stella, istrinya itu benar-benar sudah berubah. Dia bangga dengan Stella, mau menerimanya dan keluarganya saja sudah menjadi nilai yang luar biasa indah bagi Azam. Jarang-jarang ada wanita zaman sekarang, apalagi dengan kebebasan pergaulan sebelumnya bisa menerima keluarga pasangannya dengan ikhlas.