Pelacur Itu Istri Gus Azam

Pelacur Itu Istri Gus Azam
Bersama Santriwati


Pagi itu, setelah selesai dengan kesibukan melayani tamu, Stella pergi ke asrama putri untuk menjemput santriwati ke rumah utama. Sedangkan para santriwan, hanya dikirim camilan juga makan siang oleh Azam.


Kenapa tidak sekalian dibawa? Tentu saja untuk menghindari fitnah. Azam tidak mengizinkan snatriwan dan santriwati dikumpulkan menjadi satu.


Biasanya, memang mereka akan dikumpulkan menjadi satu jika misal ada kajian atau ketika sholat berjamaah di masjid tapi, itu jelas sudah ada batasannya, pintu masuk yang beberda juga posisi laki-laki yang berada di depan lalu di tutup mimbar di belakang, baru santriwati di belakang mimbar tersebut, jelas tidak benar-benar menjadi satu yang bercampur begitu.


“Aku tida melarang kebaikanmu tapi, aku tidak mengizinkan jika santiwan dan santriwati harus dicampur menjadi satu, bawa saja para santriwati, biar aku yang mengurus para santriwan” Begitu ucap Azam.


“Assalamu’alaikum” Ucap Stella saat memasuki asrama putri.


Penjaga asrama yang bernama mbak ningsih, waktu itu langsung berdiri menjawab, “Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, mbak Stella. Ada perlu apa?” Ucapnya sembari menyalami menantu pemilik pondok pesantren itu.


“Mau menjemput anak-anak, mbak Ningsih” Sahut Stella ramah.


“Loh, mau kemana mbak?” Tanya mbak Ningsih lagi.


“Tidak kemana-mana, hanya ke aula rumah utama. Kasian kalau mereka merayakan idul fitri sendirian begini, mbak Ningsih juga ayo ikut” Jawab Stella.


Mbak Ningsih tersenyum ramah, tidak menyangka jika istri dari Gus Azam ini begitu baik meskipun sempat tersandung skandal beberapa bulan yang lalu.


“Tidak mbak Stella, terimakasih. Kebetulan sebentar lagi saya mau kembali ke rumah. Tadinya mau meninggalkan anak-anak ini kasian tapi, kalau mau dibawa keluar semua saya jadi tenang” Jawab mbak Ningsih.


Mbak Ningsih ini dulunya adalah santriwati juga di pondok pesantren itu. Wanita itu akhirnya mengabdi ke pondok sebagai rasa syukur dan balas budinya kepada Kyai Daud yang sudah mengambilnya dari jalanan untuk disekolahkan dengan layak. Dia memiliki suami yang juga seorang santriwan disana dulunya, rumahnya tidak jauh dari pondok pesantren, pekerjaan sang suami adalah sebagai petani.


Mbak Ningsih sebenarnya libur sampai beberapa hari kedepan tapi, dikarenakan masih ada santriwati yang tinggal, Mbak Ningsih selalu menyempatkan diri datang untuk melihat santriwati disana benar-benar baik-baik saja. Begitulah rasa tanggung jawabnya yang besar terhadap pekerjaan.


“Sebentar ya, mbak biar saya panggilkan dulu” Ucap mbak Ningsih lalu pergi ke kamar para santriwati, setelah mendapat anggukan dari Stella.


Tidak lama, akhirnya mbak Ningsih datang bersama dengan beberapa santriwati yang semalam membantunya membuat ketupat juga lontong.


“Assalamu’alaikum” Sapa mereka bersamaan.


“Wa’alaikumsalam warahmatullah” Jawab Stella dengan senyum khasnya.


Mereka satu per satu mencium tangan Stella sambil mengucapkan, “Minal aidzin wal faidzin”.


Stella dengan hangat menyambut mereka dengan baik. Suasana pondok pesantren kala itu benar-benar sepi, tidak bisa dibayangan oleh Stella bagaimana mereka semua, bocah-bocah itu harus melewati hari bahagia ini dengan kesendirian begini?


“Ayo ikut aku ke rumah utama, kita bisa bersantai disana sambil merayakan hari ini dengan baik” Ajak Stella.


Mereka semua saling menatap, ragu jika harus menginjakkan kaki di rumah utama (lagi) setelah semalam.


“Tidak apa-apa, tidak usah canggung. Aku sudah menyiapkan tempat untuk kalian jadi, tida perlu malu atau apa nanti” Sahut Stella, dengan riang wanita itu mengajak para santriwati ikut bersamanya.


Akhirnya, dengan sedikit keraguan mereka ikut dengan Stella ke rumah utama.


“Kita bersantai saja disini” Ucap Stella setelah menutup pintu pondok.


Para santriwati itu disambut dengan baik disana, mereka dibuat bak seorang penitng yang sedang bertamu.


“Tidak usah sungkan, makan saja apa yang kalian inginkan. Aku menyiapkan ini khusus untuk kalian, agar kita bisa sama-sama merayakan hari yang fitri ini” Ucap Stella.


Mereka semua jelas terharu, mengingat sudah beberapa tahun terakhir mereka selalu merayakan idul fitri seorang diri, tanpa keluarga juga tanpa perayaan yang istimewa tapi, lihat hari ini?


Seseorang yang notabennya adalah ‘orang lain’ malah mengajak mereka untuk menikmati momen ini bersama.


“Aku tidak tau bagaimana caranya melakukan ini dengan benar tapi, aku harap kalian semua menikmati hari ini dengan baik” Ucap Stella, menunjukkan senyum terbaiknya.


Mereka semua hanya bisa tersenyum haru.


“Seandainya saja, rumahku sehangat rumah ini, mungkin hari ini aku tidak akan disini” Celetuk salah seorang sanriwati. Tersirat kesedihan dari sorot matanya.


“Iya, orang tuaku bahkan tidak peduli denganku. Aku hanya dibiarkan disini sedangkan mereka sibuk dengan pekerjaan mereka” Sahut salah seorang yang lain.


“Masih mending kalian memiliki orang tua yang lengkap, bagaimana dengan aku? Sudah broken home, tidak ada yang peduli pula, mereka hanya sibuk dengan keluarga baru masing-masing”


Stella mendengar penuturan para santriwati itu dengan baik hingga, “Mbak Stella pasti memiliki keluarga yang begitu baik bukan? Itulah kenapa mbak Stella hari ini menjadi seseorang yang begitu dermawan” Ucap seseorang disana.


Mendengar hal itu, Stella tersenyum kecut, “Aku ini seorang pendosa, baik dulu maupun sekarang. Aku tidak pernah lagi merayakan idul fitri entah sejak kapan, aku hampir tidak ingat kapan terakhir kali merayakannya, entah ketika aku masih kecil atau ketika masih sangat kecil.


Orang tuaku dulu selalu sibuk bekerja demi untuk kesejahteraanku sebagai putri tunggal mereka. Hingga beranjak dewasa, aku menikmati masa-masa mudaku juga hari-hari penting seperti ini seorang diri. Aku cukup acuh, karena aku sama sekali tidak merasa kesepian. Aku bersenang-senang, jalan-jalan, pergi ke luar kota bahkan ke luar negeri bersama teman-temanku di hari-hari besar begini.


Keluargaku pun juga sama, tidak benar-benar hangat seperti yang kalian bayangkan. Meskipun begitu, aku tau mereka sangat menyayangiku sebagai putri mereka, mereka melakukan pekerjaan siang dan malam agar aku tidak kesusahan di kemudian hari.


Entah suatu keberuntungan atau apa, aku malah dipertemukan dengan seseorang yang kalian panggil gus Azam itu. Alhamdulillah, sejak itu kehidupanku lebih tertata.


Dan kalian jangan pernah merasa berkecil hat, itu bukan berarti kalian ditelantarkan disini. Mereka hanya ingin yang terbaik untuk anak-anak mereka. Jika orang tua kalian mengirim kalian ke pondok pesantren, bukankah itu artinya mereka masih sangat peduli? Kalian dititpkan disini untuk belajar ilmu agama yang baik, mereka juga memikirkan jika kalian berada di pondok pesantren jadwal makan kalian juga teratur.


Bisa dibayangkan jika misal kalian berada di luar sana? Pernah berangan-angan jika misal kalian tidak disini, bagaimana kehidupan kalian di luar sana?”


Stella mengatakannya panjang lebar, mencoba memberi pengertian kepada para santriwati itu untuk tetap tenang.


“Apapun yang sedang kalian hadapi hari ini, segala kesulitan itu pasti ada ganjarannya suatu hari nanti. Anggap saja ini ujian untuk kalian, ujian kita hari ini adalah suatu bentuk kasih sayang Allah SWT kepada kita, ini adalah tangga untuk kita menginjak level keimanan yang lebih tinggi. Jangan juga membandingkan diri sendiri dengan orang lain, seperti ‘kamu mah masih mending, nah aku’, itu namanya kurang bersyukur.


Tidak boleh seperti itu lagi ya, ayo coba terapkan pada diri sendiri bahwa apa yang kita alami hari ini adalah nikmat dari Allah SWT kepada kita, terus ingat untuk memuji asma Allah SWT agar kita tida menjadi seseorang yang iri hati” Ucap Stella pada para santriwati saat itu.


Mereka menghabiskan waktu bersama hingga sore menyapa tanpa Stella. Wanita itu terus disibukkan dengan datangnya tamu ke kediaman umi Fatimah.


Meskipun begitu, para santriwati sama sekali tidak merasa keberatan, mereka bisa mengerti posisi Stella juga bisa mengerti maksud Stella membawa mereka kesana agar mereka tidak merasa kesepian di asrama.