Pelacur Itu Istri Gus Azam

Pelacur Itu Istri Gus Azam
Keluarga Khalisa


“Assalamu’alaikum” Salam itu terdengar halus, masuk ke dalam pendengaran setiap orang yang berada di dalam rumah.


“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh” Jawab mereka bersama, sembari melihat ke arah pintu, tempat sumber suara itu berada.


Terlihat Khalisa disana, bersama dengan dua orang paruh baya yang Stella yakin sekali itu adalah orang tua dari Khalisa.


“Umi, mbak Stella, kak Maryam”


Khalisa sedikit berlari, menghampiri umi Fatimah juga dua wanita yang ia sebut namanya.


“Umi, minal aidzin wal faidzin. Mohon maaf kalau Khalisa ada salah, Khalisa rindu sekali dengan umi hmm” Ucap Khalisa pada umi Fatimah sembari mencium punggung tangan wanita paruh baya itu.


Juga mencium tangan ibu Delia sopan. Selanjutnya menghampiri Stella juga Maryam, tidak lupa minal aidzin dulu dengan Azam dan Zaidan.


“Oh ini istri mantan calon mantu? Yang membuat Azam membatalkan pernikahannya dengan Khalisa?” Ucap wanita paruh baya itu pada Stella saat mencium punggung tangannya.


“Namanya Stella, dia wanita cantik, baik, mandiri, juga penurut, insyaAllah yang terbaik untuk Azam” Sahut Azam dengan senyum ramahnya, membanggakan istrinya seolah wanita itu adalah berlian di dalam kehidupannya.


Sementara itu, terlihat sunggingan senyum dari ibunda Khalisa, mengisyaratkan ketidak suka-annya dengan jawaban Azam.


“Umi, tidak seharusnya mengatakan hal seperti itu. Mbak Stella ini wanita yang baik” Ucap Khalisa, gadis itu jelas merasa sungkan dengan semua orang yang berada disana. Takut jika nantinya malah terjadi kesalah-pahaman atas apa yang telah diucapkan oleh sang ibunda.


Stella tersenyum, “Tidak apa-apa Khalisa” Jawabnya dengan senyuman paling tulus.


“Bagaimana dengan pondok pesantren? Berjalan dengan baik?” Tanya umi Fatimah, mengalihkan pembicaraan dan juga kecanggungan yang tiba-tiba saja terjadi.


“Alhamdulillah berjalan dengan baik, sesekali ada saja kendalanya, ya memang tidak ada yang berjalan dengan mulus sekali di dunia ini, pasti ada saja kerikil-kerikilnya. Lalu, bagaimana dengan Lailatul Qadar sendiri?” Jawab abi dari Khalisa, dilanjutkan dengan pertanyaan balik.


Umi Fatimah mengangguk, “Kau benar. Alhamdulillah menantuku Erlangga siap meneruskan mas-mu. InsyaAllah akan menjadi pemimpin yang amanah untuk pondok”


“Alhamdulillah” Gumam abi dari Khalisa.


Dari perbincangan-perbincangan yang disampaikan disana, dapat disimpulkan bahwa abi Khalisa adalah seorang pemilik sekaligus pemimpin salah satu pondok pesantren ternama di kota tersebut. Sedangkan umi Khalisa adalah seorang dosen pada kampus yang terakreditasi baik.


Stella diam-diam menciut hatinya. Pantas saja jika suaminya akan dijodohkan dengan Khalisa, background keluarganya begitu jelas, Khalisa sendiri juga merupakan gadis cerdas, cantik, solehah. Benar-benar setara dengan keluarga suaminya.


“Ehm, maafkan aku tuan tapi, bukankah tidak sopan jika anda terus memperhatikan seorang wanita yang bukan mahrammu?” Ucap Zaidan, memberikan peringatan tajam kepada adik dari Erlangga, Evan.


Evan segera menoleh kepada Zaidan, “Juga bukankah suatu ketidak sopanan ketika anda ikut campur ke dalam urusan pribadi orang lain?” Jawabnya angkuh, tipe-tipe lelaki berandal memang.


Zaidan memiringkan senyumnya, “Aku hanya tidak ingin Khalisa mendapatkan lebih banyak dosa karena dirimu yang mungkin sedikit tidak tau diri. Padahal Khalisa hanya diam tapi, kau melihatnya seolah dia telah menggoda pandanganmu sejak tadi. Gadis itu terlalu baik jika harus menanggung dosamu”


“Cih, malah ceramah. Aku permisi” Ucap Evan lalu segera pergi ke kamarnya, meninggalkan tamu-tamu umi Khalisa.


Sedangkan, Erlangga langsung menatap kepergian adiknya dengan tajam. Di sisi lain, ada ibu Delia yang menundukkan kepala, malu dengan perilaku anak bungsunya.


...***...


“Sayang, kau banyak diam seja tadi, ada masalah? Apa masih kepikiran dengan ucapan uminya Khalisa?” Tanya Azam pada istrinya.


Malam sudah menyapa, sepasang suami istri itu sedang bersiap untuk menjemput mimpi mereka masing-masing.


Stella tersenyum dan menggeleng, “Tidak mas, hanya sedikit lelah” jawabnya.


Azam hanya mengangguk, merengkuh tubuh mungil Stella ke dalam pelukannya.


Tapi, Stella tidak juga memejamkan matanya.


“Kenapa mas Azam lebih memilih aku yang latar belakang keluargaku bahkan tidak begitu jelas seperti Khalisa?” Gumam Stella, mempermainkan jarinya pada dada suaminya.


Azam pun tersenyum kecil, meraih lalu menggenggam tangan Stella yang asyik bergerilya di dadanya.


“Jadi, itu yang membuat istriku ini terdiam sejak tadi hm?” Ucap Azam, menatap wanita yang sebentar lagi akan melahirkan buah hati mereka.


“Tidak, aku hanya bertanya” Jawab Stella, tidak mengakui perasaannya.


“Sayang, aku sudah memilihmu menjadi bagian dari kehidupanku. Aku percaya kau mau dan mampu menjadi pribadi yang jauh lebih baik daripada kau yang dahulu. Aku tidak pernah membeda-bedakan makhluk Allah SWT, aku percaya takdir Allah SWT itu nyata adanya. Beliau tidak mengirimkanmu padaku sekedar hanya untuk bertemu, melainkan benar-benar mengirimmu untukku sepenuhnya.


Tidak perlu khawatir dengan apapun, kau tetap wanita terbaik, tercantik pun teristimewa bagiku. Apa yang sudah terjadi biarkan saja berlalu, jangan pikirkan hal-hal buruk, itu akan mengganggu kesehatanmu hm, aku tida ingin istriku ini sakit” Ucap Azam, mengecup kening Stella lama.


“Terimakasih ya mas” Ucap Stella lalu memeluk tubuh suaminya.


Tapi, apa boleh dikata? Azam memilih dirinya. Wanita yang minim ilmu religi, mengajarkan kepadanya akan banyak hal tentang kehidupan. Sungguh, Stella terasa seperti diangkat kembali setelah terjatuh ke dasar jurang.