
“Sudah?” Tanya Azam.
Stella mengangguk sambil mencium punggung tangan Azam.
Mereka akhirnya pulang, bersiap untuk kembali dengan kegiatan masing-masing.
Ketika mereka akan pergi ke bandara, ternyata ada seseorang yangs sedang menunggu kehadiran Stella di ruang tamu.
Dia adalah Kleo, manager Stella dulu.
Wanita itu menghentikan langkahnya di pertengahan anak tangga.
“Kleo” Gumam Stella.
“Bukankah dia lelaki yang berasamamu di rumah sakit waktu itu?” Tanya Azam.
Stella mengangguk, raut wajahnya sangat terlihat khawatir.
“Aku yang akan menemuinya, kembalilah ke kamar. Aku akan memanggilmu nanti” Ucap Azam lalu turun membawa kopernya.
“Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?” Tanya Azam pada lelaki itu.
Kleo menatap Azam dari atas hingga bawah, ingatannya masih belum lupa bahwa lelaki di depannya ini adalah seseorang yang mengaku sebagai calon suami Stella di rumah sakit hari itu.
“Dimana Stella?” Tanyanya to the point.
“Jika ingin bertemu dengan istriku, setidaknya dapat izin dariku dulu” Jawab Azam.
Kleo mengepalkan tangannya, menatap Azam dengan mata elang.
Tidak lama Zaidan keluar, dia tidak tau siapa lelaki yang sedang bertatap tajam dengan kakaknya.
“Kak Azam, ayo berangkat” Sahut Zaidan, mengalihkan fokus kedua insan itu pada Zaidan.
“Tunggu dulu, aku masih ada urusan” Ucap Azam pada Zaidan, lalu menatap Kleo, “sebaiknya tidak usah mencari istriku lagi, aku tidak akan membiarkannya bertemu dengan lelaki lain tanpa aku bersamanya” Sahutnya.
“Ck, Stella masih banyak jadwal yang belum diselesaikan. Dia harus kembali, jika tidak selain dari karirnya yang hancur, pinalti dari setiap kontrak akan membuatnya miskin asal kau tahu saja” Ucap Kleo dengan nada angkuh.
“Aku akan membayar pinalti kontraknya, bukankah sudah selesai? Kami akan segera pergi, jika masih ingin disini, adikku Zaidan yang akan menemanimu” Ucap Azam.
Lelaki itu naik menjemput istrinya, membiarkan Kleo berdiri seorang diri di ruang tamu.
“Lihat saja, aku akan membuat Stella hancur. Aku tidak main-main dengan ucapanku” Teriaknya lalu pergi dari sana.
Tidak hanya Azam yang mendengar hal itu, Zaidan, Maryam bahkan Stella yang berada di kamarnya pun turut mendengarkannya.
“Maas, aku takut” Gumam Stella.
Hal yang paling ia takutkan mungkin saja terjadi, ancaman yang terdengar dari Kleo terdengar seperti bukanlah isapan jempol semata. Stella mengenal lelaki itu selama bertahun-tahun, bukanlah hal yang baik jika membuat masalah dengannya.
“Tidak apa-apa, ayo segera keluar dan tinggalkan kota ini. Kau terlalu tidak aman berada di sini” Ucapnya, menuntun istrinya keluar kamar.
Sedangkan di bawah, mereka sudah disambut oleh dua saudara Azam.
“Ada apa?”
“Siapa dia?”
Ucap Maryam dan Azam bebarengan.
“Tidak ada, dia hanya teman Stella dulu. Aku tidak mengizinkan dia bertemu dengan Stella jadi, dia mungkin tersinggung” Jawab Azam tenang.
Hal gila jika dia menceritakan yang sebenarnya kepada mereka. Meskipun Zaidan sudah tau masa lalu kakak iparnya tapi, Azam tidak ingin lelaki itu ikut campur. Dia akan menyelesaikan masalah tangganya sendiri.
“Ayo berangkat, pak Erlangga sudah menunggu di bandara” Ucap Azam, menatap pada Maryam jahil.
Mereka tiba di pondok pesantren di malam hari, beruntung hari ini jalanan tidak begitu macet. Dijemput oleh supir keluarga dari pondok, setidaknya mereka bisa beristirahat sejenak di perjalanan.
Sesampainya di pondok pesantren, mereka menemui abi dan umi sebentar lalu pergi beristirahat.
“Mas, aku mau bicara” Panggil Stella setelah membersihkan diri.
“Sini”
Seperti biasa, Azam menepuk tempat di sebelahnya, memberikan ruang untuk istrinya duduk di atas ranjang.
“Ada apa hm?” Tanya Azam sembari memeluk Stella.
“Bagaimana jika ancaman itu benar adanya? Bagaimana jika Kleo benar-benar melakukan hal yang tidak kita inginkan?” Gumam Stella lirih.
Azam mengelus puncak kepala Stella, mencium kening wanita yang ia cintai itu sedikit lama, “Itu tidak akan mengubah apapun pada kita, karena apa yang akan dia lakukan pasti tidaklah jauh dari masa lalumu. Tidak perlu takut, aku akan selalu ada bersamamu, mendampingimu apapun yang terjadi” ucapnya.
“Bagaimana jika abi dan umi tau? Kak Maryam juga, apa pendapatnya tentang aku nanti jika dia mengatahui hal ini?” Ucap Stella.
Ke-khawatirannya itu seperti sudah ingin membuat kepalanya pecah. Ketenangan yang beberapa hari ini ia rasakan, sirna begitu saja, digantikan oleh rasa was was dan takut di setiap detiknya.
“Abi dan umi tidak akan mempermasalahkan hal ini, begitupula dengan kak Maryam. Mereka tau aku mengambil keputusan ini bukan tanpa dasar dan alasan yang jelas.
Mungkin mereka hanya akan sedikit terkejut, lalu akan kembali seperti biasa. Keluargaku bukanlah orang-orang yang akan memandangmu berbeda. Kami pun sama, pernah memiliki dosa, pernah memiliki kesalahan, hanya saja dalam takaran yang berbeda dan Allah SWT menutupi aib-aib kami. Percayalah, mereka akan selalu mendukungmu”
Azam lagi-lagi bisa membuat Stella tenang, tidak ada yang terbaik selain dari suaminya itu.
“Jangan terlalu banyak pikiran, aku tidak mau kau sakit” Ucap Azam, mengecup kening Stella lama.
Saat itu, Stella merasa dirinya dipenuhi dengan kasih sayang. Kelembutan dan kesabaran yang di lakukan oleh Azam membuatnya merasa selalu aman dan dilindungi.
“Terimakasih” Ucap Stella.
Tidak ada kata lain yang bisa ia ungkapkan kepada suaminya. Hanya ucapan terimakasih yang sanggup ia utarakan atas apa yang telah Azam lakukan padanya selama menjadi istri lelaki itu.
“Sudah menjadi tanggung jawabku, sayang. Tidurlah, ini sudah larut” Ucap Azam, membawa sang istri menempatkan kepalanya di bantal, juga memeluk wanita itu.
Setelah Stella terlelap, Azam diam-diam pergi mengambil ponselnya, menjauh dari ranjang dan menghubungi seseorang.
“Pastikan semuanya bersih, aku tidak mau ada satupun yang tersisa, rentas saja semuanya, jangan ada yang dilihat” Ucap Azam pada seseorang di seberang sana.
“Kau harus membayarku dengan mahal, kak. Ini sangat melelahkan jika kau mau tau, kepencet satu saja, bisa mengantarku ke nereka detik itu juga” Ucap seseorang dari seberang sana.
“Ketika kau kembali kemari, aku akan membawakan jodoh terbaik untukmu, Zaidan. Kerjakan saja semuanya dengan baik” Ucap Azam.
Ya, seseorang yang sedang ia hubungi adalah Zaidan, adik laki-lakinya yang memang sudah tau latar belakang Stella. Tidak ada orang lain yang bisa ia percaya selain Azam untuk menghapus data-data Stella selama berada di agensi majalah dewasa dulu.
“Jangan lupa data-data yang berada di club malam dan juga laki-laki tadi” Ucap Azam lagi, memperingatkan Zaidan untuk menghapus semua tanpa sisa.
“Iya, jangan menyalahkan aku jika mungkin sedikit mengintipnya ya. Kau sendiri yang memerintahkan aku melakukan ini” Ucap Zaidan, menggoda kakaknya.
“Awas saja jika kau melakukan itu, aku akan menghabisi dirimu dengan tanganku sendiri” Ancam Azam.
“Uh Tacuuut” Sahut Zaidan dengan kekehan di belakangnya.
“Aku sudah melakukan semuanya dengan baik, jangan lupa uang jajanku di tambah kak Azam tercintah” Lanjut Zaidan, senang sekali menggoda sang kakak.
“Menjijikkan. Assalamu’alaikum” Sahut Aza lalu menutup telfonnya dengan salam.
Ada perasaan lega ketika dia tau Zaidan sudah menyelesaikan perintahnya dengan baik. Tersebarnya aib-aib istrinya sudah diminimalisir dengan itu, ditambah dengan penarikan majalah-majalah yang sudah beredar dari agensi itu, bahkan meskipun itu yang diedarkan di luar negeri.
Yang paling disayangkan adalah Azam tidak bisa mengambil majalah itu dari orang-orang yang sudah membelinya.