
Bulan demi bulan berlalu, pagi itu Stella sedang bersiap menuju pondok bersama dengan sang suami. Ummi Fatimah sudah kembali ke pondok setelah Arsyad berusia tiga bulan, rupanya wanita paruh baya itu tidak begitu betah dengan suasana kota yang tidak se-adem di pondok.
“Sayang, kemejaku yang warna biru dimana ya?” Tanya Azam, berada di depan pintu kamar anaknya dengan kondisi shirtless, sementara Stella masih mengurus arsyad.
“Tadi sudah aku siapkan mas, ada di walk in closet seperti biasa” Ucap Stella. Wanita itu memang selalu menyiapkan kebutuhan suaminya, bahkan dari hal terkecil seperti menyiapkan air mandi.
“Tidak ada sayang” Ucap Azam.
Stella menghela napasnya sedikit, “Baiklah, aku akan melihatnya sebentar lagi, biar aku selesaikan ini dulu ya sayang” Sahut Stella.
Stella melanjutkan memasang popok untuk Arsyad, lalu mengganti pakaian bayi kecil itu, sesekali juga sambil bercanda hingga Arsyad tertawa.
Azam mendekati istri juga anaknya, memeluk istrinya dari belakang, ikut menatap putra mereka dengan sayang.
“Arsyad lucu ya?” Tanya Azam.
Stella mengangguk, “Tentu. Lihat saja wajahnya, persis seperti kamu” ucapnya, menatap Arsyad yang wajahnya benar-benar seperti Azam junior.
“Bagaimana kalau Arsyad kita buatkan adik? Pasti rumah akan semakin ramai” Bisik Azam.
Stella melotot, wanita itu langsung menoleh dan mencubit perut berotot suaminya, “Arsyad masih terlalu kecil, sayang” ucapnya.
Azam tertawa renyah, “Iya sayang, maaf ya. Pokoknya kalau kau sudah siap mengandung lagi, katakan saja” sahutnya lalu mengecup kening Stella.
Setelah selesai dengan anaknya, Stella langsung pergi ke kamarnya, meninggalkan Arsyad bersama dengan suaminya.
Lagi-lagi, Stella hanya mampu menghela napas, dia melihat dengan jelas kemeja biru yang tadi dicara suaminya, menggantung dengan indah di tempat biasanya ketika dia menyiapkan baju untuk Azam.
“Mas, ini apa hayo?” Ucap Stella, membawa baju itu ke hadapan suaminya.
Sedangkan Azam hanya nyengir sambil menggaruk pelan tengkuknya, “Apa aku yang tidak melihatnya ya, sayang?” ucapnya.
Stella lagi-lagi hanya mampu tersenyum sembari memberikan baju itu pada suaminya.
Dengan senang hati, Azam menerima baju yang masih di hanger itu, lalu memeluk Stella sambil mengecup bibir wanita itu sekilas “Terimakasih sayang”. Tentu saja itu dilakukan tanpa dipertunjukkan pada Arsyad, anak mereka.
...***...
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh”
Stella dan Azam memasuki rumah utama pondok, menyalami umi Fatimah juga beberapa saudara yang berada disana.
“Aduh lucunya”
“Lihat, kok bulat sekali begini. Jadi gemas, pengen gigit”
Kira-kira seperti itu reaksi orang-orang ketika melihat Arsyad yang saat itu berada di dalam gendongan Stella.
Memang kediaman umi Fatimah terlihat lumayan ramai daripada biasanya, kalian tau itu kenapa?
“Zaidan, apa sudah siap? Tamu undangan sudah menunggu” Ucap salah seorang saudara mereka, mengecek Zaidan di kamarnya.
Ya, rupanya Zaidan sudah berani untuk menikah, menyusul kakak-kakaknya membina rumah tangga.
“InsyaAllah siap” Jawab Zaidan sembari menggunakan peci putihnya, lelaki itu terlihat menawan dengan setelan baju pengantin begitu.
“MasyaAllah, anak umi tampan sekali” Ucap umi Fatimah ketika melihat putranya keluar dari kamarnya.
Zaidan langsung menyalami sang umi sambil tersenyum, “Doakan Azam ya, umi” ucapnya.
Umi Fatimah mengelus punggung Zaidan perlahan, “Pasti. Umi selalu mendoakan yang terbaik untuk anak-anak umi. Ayo segera ke depan, pak penghulu sudah datang” ajak umi Fatimah.
Zaidan pun keluar di dampingi oleh sang ibunda, dimana umi Fatimah juga menjadi salah satu saksi atas pernikahan putra bungsunya nanti.
“Qabiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkuur, haalan” Ucap Zaidan dengan tegas dalam satu tarikan napasnya.
“Sah” Jawab seluruh orang yang menyaksikan pernikahan itu.
“Alhamdulillah. Allahumma allif bainahuma kama allafta baina Adam wa Hawwa, wa allif bainahuma kama allafta baina sayyidina Ibrahim wa Sarah, wa allif bainahuma kama allafta baina sayyidina Yusuf wa Zulaikha, wa allif bainahuma kama allafta baina Sayyidina Muhammadin Shallallahu’alaihi wa sallama wa sayyiditina Khadijatal Kubra, wa allif bainahuma kama allafta baina sayyidina Aly wa sayyiditina Fatimah Az-Zahra.
Barakallahu laka wa baaraaka alaika wa jama’a bainakumaa fii khoir”
Ya Allah, rukunkan keduanya sebagaimana Engkau rukunkan Nabi Adam dan Hawa, rukunkan keduanya seperti Engkau rukunkan Nabi Ibrahim dan Sarah, rukunkan keduanya sebagaimana Engkau rukunkan Nabi Yusuf dan Zulaikha, rukunkan keduanya sebagaimana Engkau rukunkan Baginda Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam dan Khadijah Al-Kubra dan rukunkan keduanya sebagaimana Engkau rukunkan Ali dan Fatimah Az-Zahra.
Semoga Allah SWT memberkahimu dalam suka dan duka dan semoga Allah SWT mengumpulkan kalian berdua di dalam kebaikan.
Setelah penghulu selesai dengan doanya, akhirnya pengantin wanita dipersilahkan untuk memasuki ruang resepsi.
Stella bersama dengan umi Fatimah mengapit pengantin wanita yang tidak lain dan tidak bukan adalah seseorang yang dulunya sempat berseteru dengan Stella.
Khalisa?
Bukan.
Wanita itu adalah Viona, masih ingat? Entah bagaimana ceritanya wanita itu malah masuk ke dalam kehidupan Zaidan.
Stella juga Azam juga terkejut ketika Zaidan mengatakan akan menikah dengan Viona, awalnya mereka ‘positif thinking’ , karena yang bernama Viona bukan hanya satu bukan? Tapi, akhirnya semua itu sirna karena Viona yang dimaksud adalah Viona yang sama dengan yang beberapa waktu lalu sempat datang ke rumah mereka untuk merusak.
Bedanya, kali ini Viona datang dengan kondisi sudah kalem. Tidak seperti awal kedatangan Stella dahulu. Dimana ketika Viona datang ke pondok bersama dengan Zaidan, wanita itu sudah menjadi wanita sholehah, insyaAllah.
Sebelum membalikkan badannya untuk bertemu dengan istrinya, Zaidan sibuk mengusap air matanya, entah sesperti apa perjuangannya untuk mendapatkan Viona tapi, jelas tersirat rasa lega di matanya.
Ketika membalikkan tubuhnya menghadap Viona, Zaidan kembali meneteskan air matanya, apalagi ketika Viona mencium punggung tangannya.
Entah bagaimana hubungan mereka sebelum hari ini tapi, keduanya sama-sama mencurahkan tangis bahagianya hari itu.
“Dunia memang tidak bisa kita prediksi ya? Siapa yang menyangka kita malah menjadi saudara ipar?” Ucap Viona kepada Stella, ketika itu Viona sedang berada di ruang makeup, bersama dengan Stella yang sedang menyusui Arsyad.
“Allah selalu punya rencananya sendiri untuk kita, Viona” Jawab Stella kalem, dia tidak lagi mau membahas tentang apa yang sudah terjadi.
“Maafkan aku atas apa yang pernah aku lakukan kepadamu, dulu” Ucap Viona, wanita itu menatap Stella dengan rasa bersalahnya.
Stella mengangguk, “Lupakan saja apa yang sudah terjadi, buat itu sebagai pelajaran untuk kita” jawabnya sembari mengedipkan matanya, memberi isyarat untuk Viona agar menghentikan obrolan mereka perihal itu, karena ada perias pengantin. Menurut Stella, itu sedikit tidak pantas dibicarakan ketika ada orang lain di dalam sana.
Viona hanya mengangguk, tersenyum.
“SATU”
“DUA”
“TIGA”
Cekrek
“Gaya bebas ya”
“SATU”
“DUA”
“TIGA”
Cekrek
Keluarga umi Fatimah hari itu terlihat bahagia ketika berfoto bersama di acara pernikahan Zaidan. Senyum mereka merekah bebas, meskipun tanpa abi Daud yang membersamai mereka, alhamdulillahnya mereka sudah ikhlas dengan kepergian abi Daud, Zaidan sudah tidak menyalahkan dirinya sendiri, Erlangga yang sudah beradaptasi dengan tugas barunya serta Azam dan Stella yang benar-benar menikmati menjadi orang tua dalam keluarga kecil mereka.
...---END---...