Pelacur Itu Istri Gus Azam

Pelacur Itu Istri Gus Azam
Pulang


Tiba di hari ke-11, akhirnya Stella, Azam dan jamaah yang lain bersiap untuk kembali pulang. Mereka langsung menuju ke pondok pesantren untuk sekedar melepas rindu.


“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh” Ucap Stella dan Azam bersamaan saat memasuki rumah abi dan umi.


“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh” Jawab abi dan umi bebarengan.


Terlihat Zaidan sudah berada disana, rupanya lelaki itu sering datang mengunjungi orang tuanya semenjak abi Daud pingsan ketika pernikahan kak Maryam tempo hari.


“Tumben ingat rumah hah?” Ucap Azam sembari menepuk pundak adiknya.


“Aku hanya pulang sebentar, nanti sore aku kembali. Nanti ketika aku wisuda, kalian harus datang ya” Ucap Zaidan, menunjukkan kartu untuk wisudanya nanti.


“Alhamdulillah. Akhirnya, adikku bisa menjadi dokter sungguhan” Sahut Azam.


“Apa menurutmu selama ini aku sedang bermain dokter-dokteran?” Tanya Zaidan sinis.


Mereka semua tertawa, dengan kehangatan yang dimiliki diantara mereka, membuat Stella merasa begitu nyaman, meskipun orang tuanya telah tiada tapi, keluarga suaminya benar-benar membuatnya merasa tidak sendirian.


“Kakak iparmu sedang hamil, apa kau punya kenalan dokter yang bagus di sekitar sini?” Sahut Azam pada Zaidan.


Sontak saat itu semua mata langsung tertuju pada Stella. Dengan pandangan yang sulit di artikan untuknya.


“Kau hamil, nak?” Tanya umi Fatimah, langsung mendekati menantunya.


Stella tersenyum sambil mengangguk.


“Alhamdulillah” Ucap umi Fatimah, langsung memeluk Stella.


Bagaimana tidak? Sudah lama ia menantikan seorang cucu di dalam keluarga mereka. Memang di hari tua merasa sendirian itu sangat tidak enak.


“Rencananya Azam ingin membawa satu santriwati atau pengurus pondok ke rumah, abi, umi” Ucap Azam to the point pada orang tuanya.


“Untuk apa?” Tanya abi Daud.


“Untuk membantu pekerjaan Stella di rumah, Azam tidak ingin dia kelelahan, apalagi biasanya dia membereskan rumah sebesar itu seorang diri. Sekarang, kondisinya sudah tidak lagi sama, Azam khawatir dengannya” Ucap Azam, memberikan alasan yang jelas kepada abi Daud.


“Bagaimana dengan mbak Deden? Dia kan ada dengan suaminya disana” Ucap abi Daud lagi.


“Iya mas, mbak Deden pasti akan membantu Stella disana. Nanti kita bicarakan dengan mbak Deden” Sahut Stella.


Ada rasa terkejut ketika suaminya mengucapkan keinginannya tadi, pasalnya itu belum mereka bicarakan sebelumnya.


“Baiklah kalau begitu” Ucap Azam, mengalah dengan kemauan sang istri.


Setelah berbincang-bincang sedikit lama, mereka masuk ke kamar masing-masing. Azam dan Stella membersihkan diri dulu lalu beringsut menuju ranjang mereka.


“Mas, kok tidak membicarakannya dulu denganku?” Tanya Stella pada Azam.


Azam dengan lembut mengelus pelan surai hitam sang istri.


Ya, lelaki itu rupanya sudah siap menjadi suami siaga. Dia bahkan sudah siap menghadapi dengan segala kemungkinan yang bisa saja terjadi ketika masa kehamilan sang istri nanti. Itu sudah ia pikirkan matang-matang.


“Apa itu akan mengambil semua pekerjaanku?” Tanya Stella lagi.


“Apa yang ingin kau lakukan?” Tanya Azam balik.


“Memasak, menyiapkan kebutuhanmu bahkan mencuci pakaianmu, aku tidak mau ada orang lain yang menyentuh apapun yang menempel pada tubuhmu” Sahut Stella posesif, bahkan dari pelukannya bisa dirasakan itu semakin erat, seolah mengatakan bahwa Azam adalah mutlak miliknya.


“Baiklah, asal itu bukanlah pekerjaan yang berat, aku masih mengizinkanmu. Tapi, untuk cuci baju, biarkan aku yang melakukannya untukmu jika memang kau tidak mau dilakukan oleh orang lain” Sahut Azam.


Stella hanya mengangguk, semakin menenggelamkan kepalanya pada dada bidang milik suaminya. Nyaman, satu kata yang tidak bisa lagi digantikan dengan apapun.


“Tapi, mas. Apa aku boleh mengajukan seseorang saja untuk menjadi temanku dirumah?” Tanya Stella pada Azam.


Azam pun mengangguk, dia menoleh pada istrinya yang sedang bermanja, “Boleh, katakan saja siapa yang ingin kau bawa ke rumah?” Sahutnya.


“Viona” Jawab Stella singkat.


Setelah mendengar hal itu, Azam terdiam cukup lama. Rupanya lelaki itu sedang berfikir jauh ke depan.


“Apa kau yakin?” Tanya Azam, seolah mempertanyakan keteguhan Stella dengan keputusannya.


Stella pun mengangguk, “Aku begitu tertutup sekarang, tidak banyak hal yang bisa aku lakukan dengan orang lain tapi, jika dengan Viona kan enak. Aku sudah mengenalnya cukup lama, dia pasti akan bertanggung jawab dengan tugasnya, aku juga bisa bersenang-senang dengannya jika memang sedang suntuk, itu tidak akan menjadi hal yang kaku untukku dan untuknya” Ucapnya, memberikan penjelasan dari segi keuntungan yang akan di dapat dirinya juga Viona, itu adalah cara Stella meyakinkan suaminya.


“Hm, boleh boleh saja sebenarnya. Tapi, apa kau tau bahwa sebenarnya kita tidak boleh tinggal dengan kita? Mengingat Viona bukanlah seseorang yang halal aku lihat. Maka, sanggupkah dia menutup auratnya ketika sedang berada di rumah? Bisakah dia tidak menampakkan wajahnya ketika aku sedang berada di rumah? Apa kau ingin aku mencarikan tempat tinggal untuknya?” Ucap Azam.


Stella berpikir sejenak, benar juga yang dikatakan suaminya.


“Imam Ahmad Rahimahullah mengatakan ‘Pria yang bukan mahram boleh mengambil wanita baik budak atau wanita merdeka untuk dijadikan sebagai pembantu tapi, ia harus memalingkan wajahnya dan tidak melihatnya, jika pembantunya itu adalah wanita yang merdeka’. Aku bisa saja melakukan hal itu tapi, apa Viona sanggup melakukannya?” Tanya Azam.


Lagi-lagi Stella hanya diam, dia tidak memiliki jawaban apapun. Itu adalah sebuah dilema untuknya, karena Viona adalah gambaran dirinya dulu. Hanya saja, Stella harus melakukannya karena memang dia adalah istri dari Azam, juga alhamdulillahnya dia mendapatkan hidayah begitu cepat dari sholat bertaubat dulu.


“Karena itu pria yang menjadikan wanita sebagai seorang ‘budak’, tidak boleh melihat bagian tubuh manapun dari wanita merdeka. Berbeda jika yang ia jadikan pembantu adalah wanita dari budak. Maka, ia boleh melihat bagian tubuh yang tidak menjadi auratnya ketika sholat, sebagaimana yang sudah diterangkan pada bab nikah” Ucap Azam lagi.


“Mas, aku tidak paham dengan wanita merdeka dan juga budak, bukankah mereka sama-sama wanita yang statusnya akan menjadi asisten rumah tangga atau pembantu?” Tanya Stella.


“Aurat perempuan merdeka atau para majikan harus ditutup rapat, hanya boleh menyisakan wajah dan telapak tangan dengan tujuan menjaga kehormatan diri dan keluarga karena statusnya sebagai seorang wanita yang merdeka.


Sedangkan budak perempuan adalah seseorang yang tidak punya kekuatan sosial, ekonomi, maupun politik jadi, tidak dianggap memiliki kehormatan sehingga tidak perlu menutupi auratnya. Toh, semisal mereka digauli oleh majikannya, tidak ada yang bisa complain. Dari sudut pandang bisnis, membuka aurat bagi seorang budak adalah perlu, untuk menarik perhatian pembelinya”


Deg


Stella terdiam dengan penjelasan Azam jadi, apa dirinya di masa lalu termasuk ke dalam kategori budak?


“Tapi, ini adalah terjadi di awal islam sayang. Sekarang zamannya jelas sudah berbeda. Intinya, pria yang menjadikan seorang wanita tidak bermahram sebagai asistem rumah tangga keduanya tidak boleh saling melihat. Wanita itu tidak boleh terlihat terbuka, juga tidak boleh memperlihatkan rambutnya bahkan seujung kuku karena itu termasuk ke dalam aurat”


Stella akhirnya berpikir keras, dia ingin sekali membantu Viona tapi, apakah wanita itu mampu memenuhi persyaratan yang disampaikan oleh Azam? Jujur saja, Stella meragukan hal itu.