
Stella pulang dan mendapati rumah sudah bersih, bahkan sudah tidak ada debu yang menempel pada setiap perabotan rumahnya.
Sebagai istri yang baik, Stella langsung membawakan jas dan juga tas milik Azam ke kamar mereka, begitu pula dengan Azam yang langsung menuju kamar.
Tidak sengaja, matanya menangkap Viona yang sedang membuat minuman di dapur. Dengan acuh, Azam melanjutkan jalannya.
“Aku siapkan air dulu ya. Mas Azam mau air dingin atau air hangat?” Tanya Stella.
Hal seperti itu selalu ia tanyakan lebih dulu pada sang suami. Karena terkadang, suaminya itu keinginan mandinya suka random.
“Air dingin saja, sayang. Setelah ini kita periksa ke dokter kandungan ya, sejak kita tiba disini kita belum pernah cek kandungan” Ucap Azam.
Stella mengangguk lalu beranjak pergi menuju kamar mandi. Sembari menunggu, Azam mengecek ponselnya, barangkali ada sesuatu yang penting.
Tok
Tok
Tok
Suara pintu kamar itu diketuk perlahan. Azam saat itu hanya mampu mengerutkan keningnya, sudah tau yang mengetuk itu pasti Viona, teman baik Stella.
Azam tidak mau membukanya, takut jika sang istri akan salah paham nanti. Lebih baik menunggu Stella keluar saja, siapa tau Viona memang ada perlu dengan sang istri.
Tok
Tok
Tok
Suara ketukan itu kembali terdengar tapi, lagi-lagi Azam tidak menggubrisnya. Sampai akhirnya Stella keluar karena mendengar suara pintu kamarnya sedang diketuk.
“Mas, kok tidak dibukakan pintu?” Tanya Stella bingung, sambil melihat Azam.
“Takut fitnah, kau saja yang membukanya” Sahut Azam lalu lelaki itu kembali berkutat dengan ponselnya.
Ceklek
Setelah Stella membuka pintu kamarnya, terpampanglah wajah Viona dengan senyumannya, membawa satu gelas kopi di atas nampan.
“Ada apa, Viona?” Tanya Stella ramah.
“Aku membuatkan kopi untuk suamimu, aku tadi melihatnya pulang bekerja jadi, aku berinisiatif membuatkan ini sebagai tanda perkenalan” Jawab Viona, masih dengan senyum terukir di wajahnya, sesekali wanita itu melirik ke dalam, mencari keberadaan Azam mungkin?
Azam yang saat itu sedang fokus, mendengar ucapan Viona dia segera beranjak dan mendekat, “Terimakasih. Lain kali tidak perlu melakukannya, istriku cukup baik dalam melayaniku, tugasmu hanya sebatas rumah, tidak dengan mengurus kebutuhanku” ucapnya tanpa menoleh sedikitpun pada Viona. Lelaki itu juga langsung pergi menuju kamar mandi.
“Maafkan suamiku ya, Viona. Dia memang seperti itu, bukan bermaksud tidak sopan, dia memang selalu menundukkan kepala jika bertemu atau berbicara kepada lawan jenis yang tidak halal ia lihat” Ucap Stella, menjelaskan sikap Azam yang mungkin menurut Viona itu aneh.
“Ah iya, tidak apa-apa. Kau beruntung mendapatkannya” Sahut Viona.
Stella pun hanya tersenyum, “Omong-omong, biar aku bawa kopinya masuk ya. Terimakasih” Ucap Stella sembari mengambil kopi yang disediakan oleh Viona.
Stella tau itu tidak akan disentuh sama sekali oleh Azam tapi, rasanya tidak pantas dan tidak enak juga dengan Viona jika tidak menerimanya. Rencananya, Stella yang akan meminum kopi itu nanti, sebagai tanda menghargai saja, meskipun Viona tidak tau jika yang menyicipi itu bukanlah Azam.
Pernah dulu, saat mbak Deden baru menjadi supir pribadi untuk Stella, ya begitu tingkahnya sama dengan Viona, berkedok sebagai rasa menghormati kepada Azam, wanita itu membuatkan kopi untuk Azam. Tapi, Azam juga menolaknya dan berakhir Stella yang harus menghabiskan kopi itu sendiri.
Pebedaan cara biacara Azam pun terlohat jelas, mungkin karena mbak Deden itu usianya lebih berumur, Azam mengatakannya dengan nada yang sangat sopan. Berbeda saat berbicara dengan Viona tadi, terkesan sedikit ketus.
Setelah kopinya diterima oleh Stella, Viona segera pamit kembali ke tempatnya.
Stella menaruh kopi itu di nakas lalu menyiapkan pakaian untuk sang suami, dan berakhir menunggu Azam keluar dari kamar mandi di atas ranjangnya.
“Mas, kok bicaranya begitu ke Viona? Ketus sekali tadi jawabnya” Ucap Stella menegur suaminya yang sedang mengganti baju.
“Insyaallah itu tidak akan membuatnya merasa sakit hati. Itu adalah batasan yang harus ia ketahui, bukan karena aku bersikap bossy atau bagaimana tapi, agar dia tau sampai dimana batasannya di rumah ini” Jawab Azam.
Lelaki itu menghampiri sang istri, “Jangan terlalu membelanya, aku tidak melarangmu berteman dengan siapapun tapi, ini adalah perihal pekerjaan, sayang. Bertemanlah dengannya ketika kalian memang sedang berdua tapi, saat bersamaku disini, kau istriku dan dia adalah asisten rumah tanggamu. Bedakan itu, tidak baik membawa orang lain menyelam terlalu dalam di rumah tangga kita. Berikan batasan untuknya dan juga kehidupan kita” ucapnya sembari mengelus pelan surai hitam Stella.
“Tapi, ini kan hanya kopi mas” Sahut Stella, masih tidak terima.
“Iya tapi, ini beda cerita sayang. Jika aku misal menerima kopi ini dari wanita lain, bagaimana perasaanmu?” Tanya Azam.
“Tentu aku tidak mau” Jawab Stella cepat, seolah mengatakan bahwa Azam mutlak miliknya.
“Begitu juga dengan Stella. Sekarang kopi lalu apa? Dia akan menyiapkan sarapan? Makan siang? Makan malam? Dia adalah orang lain dalam rumah tangga kita, sayang. Dan melayaniku adalah tugasmu. Itu sebabnya aku tidak mau menerima pemberian apapun dari wanita lain secara pribadi jika itu bukan dari dirimu” Ucap Azam, menjelaskan pada sang istri agar istrinya mau mengerti perihal ini.
Stella mengangguk, “Lalu bagaimana jika berteman dengan lawan jenis?” tanyanya. Ia hanya penasaran, satu pembahasan bisa menjadi panjang jika dengan Stella.
“Boleh, selama itu mengikuti batasan-batasan yang diajarkan Rasulullah SAW. Tapi, jika untuk yang sudah menikah maka, itu tidak akan menutup kemungkinan jika salah satu diantara kedua belah pihak akan merasa cemburu.
Intinya, berteman dengan lawan jenis tidak dianjurkan untuk seseorang yang sudah menikah, sayang. Itu akan mendatangkan fitnah, bersahabatlah dengan sesama jenis agar tidak mendatangkan hal-hal yang tidak diinginkan.
Rasulullah SAW bersabda dalam hadist riwayat muslim, ‘Sebaik-baiknya shaf bagi kaum lelaki adalah yang terdepan, sedangkan shaf terjelek bagi mereka adalah yang paling belakang. Dan sebaik-baiknya shaf bagi perempuan adalah yang terbelakang sedangkan shaf yang terjelek bagi mereka adalah yang paling depan’. Dari sini kita memahami, bahwa tidak sepatutnya wanita dan perempuan berbaur menjadi satu.
Pertemanan antara laki-laki dan perempuan, hendaknya tidak berduaan juga tidak bercampur baur. Dalam hadist riwayat Bukhari juga sudah dijelaska, bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Tidaklah aku tinggalkan setelahku sebuah cobaan yang lebih berbahaya bagi kaum lelaki dibandingkan cobaan yang berasal dari kaum perempuan’.
Sudah jelas sekali bahwasanya berteman dengan lawan jenis tidaklah diperkenankan, kecuali jika memang ada kepentingan yang mendesak”
Azam menjelaskannya dengan seksama, agar Stella dapat menangkap maksud dari apa yang ia sampaikan, memang sedikit menyerempet dengan yang terjadi barusan.
Azam menjaga perasaan Stella dengan tidak memandang wajah Viona, juga tidak berbicara dengan nada yang di lembut-lembutkan dan tidak pula membukakan pintu jika tidak sedang bersama mahramnya.