Pelacur Itu Istri Gus Azam

Pelacur Itu Istri Gus Azam
Aqiqahan Arsyad Ali Ihsan


Stella memasrahkan acara aqiqah putra pertamanya kepada sang suami, meskipun ikut berpartisipasi tapi, wanita itu tidak begitu diizinkan banyak bergerak oleh sang suami.


Pagi itu, terlihat dua ekor kambing yang kita-kira berusia masih satu tahunan sudah berada di halaman belakang kediaman Azam dan Stella.


“Syarat dari hewan kurban aqiqah adalah tidak cacat, maksudnya adalah tidak cacat adalah tidak buta sebelah matanya, tidak sedang sakit, tidak pincang, tidak kurus hingga tidak punya banyak sumsum tulang serta diutamakan yang jantan” Ucap Maryam pada Stella, mereka sedang memperhatikan persiapan proses penyembelihan hewan aqiqah itu.


“Bismillahirrahmanirrahim” Bisik Azam, setelah memegang pisau besar ditangannya.


“AllahuAkbar, Allahummashalli’alasayyidina Muhammad”


“Bismillahiwallahuakbar. Allahumma minka walaka. Allahumma taqabbal minni. Hadzihi ‘aqiqatu Arsyad Ali Ihsan”


Dengan menyebut asma Allah SWT, Allah maha besar. Ya Allah, dari dan untuk-Mu. Ya Allah, terimalah ini dari kami untuk aqiqah anak kami, Arsyad Ali Ihsan.


Azam mengucapkan doa itu ketika menyembelih dua ekor kambing untuk aqiqahan putra pertamanya. Pria itu juga memanggil beberapa ustad untuk membantunya dalam memotong-motong hewan itu nantinya.


“Jika kita sudah menyembelih hewan aqiqah, ada baiknya kita tidak mematahkan tulang dari hewan itu, akan lebih baik jika kita memotong setiap persendian atau ruas tulangnya” Ucap Maryam pada Stella, mereka sedang mengamati proses penyembelihan kedua kambing itu di halaman belakang rumah Stella dan Azam.


“Memangnya kenapa, kak?” Tanya Stella pada Maryam.


“Hikmahnya tafa’ul, Stella. Itu adalah lambang dari keselamatan tubuh dan juga anggota badan dari anak itu sendiri” Jawab Maryam.


Sedangkan di sisi lain, Azam juga memanggil beberapa pengurus santriwati untuk membantunya memasak. Malam nanti, rencananya memang akan diadakan pengajian di rumah mereka, guna untuk menyambut juga mengadakan acara aqiqahan Arsyad. Jadi, dapur sudah ramai dengan mbak-mbak yang memasak, mempersiapkan acara nanti malam.


Semalam, Maryam dan juga Zaidan langsung datang sedangkan Erlangga mungkin akan hadir nanti ketika acara pengajian, mengingat kesibukannya di pondok pesantren dan perusahaannya.


“Omong-omong, ketika setelah melahirkan apa kau tidak merasakan apa-apa?” Tanya Khalisa pada Stella.


Wanita itu rupanya turut hadir pagi buta tadi.


“Merasakan apa?” Tanya Stella, bingung dengan kemana arah pertanyaan Khalisa.


“Ya seperti baby blues misalnya?”


Stella tersenyum, “Tentu aku meraskannya, meskipun sudah rutin melakukan kursus parenting tapi, setelah ada di lapangan, semuanya jauh berbeda. Ada rasa panik, terkejut dengan situasi yang baru aku alami tapi, aku bersyukur karena ada umi dan suami yang turut membantu serta menenangkan aku” jawabnya.


Teringat beberapa hari lalu ketika dia baru pulang dari rumah sakit, kadang dirinya akan menangis tanpa sebab. Di lain kesempatan, merasa sangat kewalahan dengan bayinya yang menurutnya begitu rewel. Dia juga insomnia, padahal bayinya sudah tidur.


Hal baru untuknya, seakan semua pelajaran yang ia ambil saat kursus tiba-tiba lenyap.


Malam mulai menyapa, acara dilaksanakan sepelas sholat maghrib, memang agak sore agar nanti selesainya tida terlalu malam.


Acara pertama yaitu pembukaan, moderator acara saat itu adalah Zaidan selaku paman dari bayi yang sedang di aqiqahi, “Untuk membuka acara pada malam hari ini, marilah bersama-sama kita mengucapkan basmalah, Bismillahirrahmanirrahim”


Setelah itu disusul dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Azam selaku ayah dari sang bayi yang sedang di aqiqahi, yakni membacakan surat Luqman ayat 13-18.


Dimana dalam surat Luqman ini, menjelaskan seorang ayah yang memberikan pesan kepada sang anak untuk selalu mengamalkan ketauhidan tanpa menyekutukan nama Allah SWT, berbakti kepada orang tua terutama ibu yang telah mengandung juga melahirkannya, serta beriman dengan mempercayai adanya Allah SWT dan tetap memujinya, berakhlaq yang baik terhadap sesama.


Empat hal itu jika kita rangkum menjadi tiga buah pilar pesan yaitu perihal aqidah, syariah dan akhlaq.


“Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahirabbil’alamin. Allahumma nurussamawati wanurusy syamsyi wal qamari. Allahumma sirrulillahi nurun nubuwwati Rasulillahi Shallallahu’alaihi wasallam walhamdulillahirabbil’alaimiin”


Sambil menggunting sedikit rambut Arsyad, Azam membacakan doa tersebut untuk putranya. Selanjutnya meniup ubun-ubunnya dengan membaca, “Allahumma inni u’idzuha bika wa dzurriyyataha minasy syaithanirrajiim”.


Stella menggendong putranya dengan sayang, acara aqiqah malam itu berjalan begitu khidmat, dihadiri dengan keluarga juga beberapa kerabat, serta tetangga-tetangga mereka.


Tidak pernah terbayang bagi Stella bahwa dirinya akan membuat acara seperti ini untuk anaknya, begitu religius bukan?


“…Alhamdulillah, pada kesempatan kali ini saya selaku ayah dari Arsyad Ali Ihsan, bayi yang saat ini kita aqiqahi. Pertama-tama saya sampaikan terimakasih banyak atas datangnya bapak-bapak sekalian pada acara kami.


Bapak-bapak sekalian, ada beberapa hal yang harus kita pahami perihal aqiqah. Dimulai dari hukumnya hingga kapan waktu pelaksanaan yang tepat,…


Hadirin sekalian yang senantiasa berada di dalam lindungan Allah SWT. Setiap syariat yang ada di dalam Islam, pasti memiliki tujuan dan hikmahnya, begitupula dengan aqiqah. Ada poin penting yang mungkin bisa saya sampaikan di acara hari ini, tidak sedikit yang beranggapan bahwasannya aqiqah adalah suatu bentuk dari menghambur-hamburkan uang, Na’udzubillah, jangan sampai kita semua memiliki pemikiran seperti itu ya bapak-bapak sekalian.


Padahal, selain dari sebagai bentuk rasa syukur kami kepada Allah SWT, hal-hal seperti ini juga memiliki hikmah dalam membentuk hubungan yang baik antar tetangga, saudara yang tururt bahagia atas lahirnya anak kami. Semoga Allah SWT selalu memberikan kita rezeki yang cukup agar kita senantiasa bisa melakukan syariat-syariat Islam termasuk aqiqah kelak,…”


Setelah acara cukur rambut, Azam memberikan beberapa patah kata sebagai bentuk tausiah sebelum akhirnya acara ditutup dengan doa.


“Allahummakhfadzhu min syarril jinni wal insi wa ummish shibyani wa min jami’issayyiati wal ‘ishyani wahrishu bihadlanatika wa kafalatika al-mahmudati wa bidawami’inayatika wa ri’ayatika an-nafidzati nuqaddimu biha’alal qiyami bima kalaftana min huquqi tububiyyatika al-karimati nadabtana ilaihi fima bainana wa baina khalqika min makarimil akhlaqi wa athyabu ma fadldlaltana minal arzaqi. Allahummaj’alna wa iyyahummin ahlil’ilmi wa ahlil khairi wa ahlil qur’ani wa la taj’alna wa iyyahummin ahlisy syarri wadloiri wadzolami wathughyani”


Ya Allah, jagalah dia dari segala keburukan jin, manusia ummi shibyan, serta segala keburukan dan maksiat. Jagalah dia dengan penjagaan dan tanggungan-Mu yang terpuji, dengan perlindungan dari-Mu yang agung. Dengan itu, aku mampu melaksanakan apa yang Kau bebankan kepadaku, dari hak-hak ketuhanan yang mulia. Hiasi dia dengan apa yang ada diantara kami dan makhluk-Mu, yakni akhlak mulia serta anugerah yang paling indah.


Ya Allah, jadikanlah kami dan mereka sebagai ahli ilmu, ahli kebaikan dan ahli Al-Qur’an. Janganlah kau jadikan kami dan mereka sebagai ahli kejelekan, keburukan, aniaya serta tercela.


Kira-kira begitu arti dari ayat yang dibacakan oleh Azam diakhir acara walimatul aqiqah putranya.


Tepat pukul 20.00, acara aqiqah selesai. Seluruh tamu undangan sudah pulang ke kediaman masing-masing.