
Mentari pagi mulai bersinar menyinari Bumi. Udara menghangat setelah Sang Raja Sinar tersebut semakin merangkak naik secara perlahan sampai terlihat diatas kepala.
Semua orang tengah beraktifitas sesuai pekerjaan masing-masing. Namun, ada juga yang masih bergumul dibawah selimut tanpa merasa terganggu dengan panasnya cuaca disekitar.
Sebuah kepala menyembul dari balik selimut itu. "Emh," perlahan matanya mengerjap dengan gerakan membuka mulut lebar. "Hoooaaammh," kedua tangan meregang setelah mengambil posisi duduk. "Jam berapa ini ya," desisnya dengan suara serak khas bangun tidur. Masih sedikit terpejam, dengan malas ia mencoba beranjak dari tempat tidurnya namun segera dihentikan oleh seseorang.
Sebuah tangan menarik tubuhnya hingga jatuh kembali ke ranjang, dengan posisi menindih orang yang menariknya tersebut. "Astaga," pekiknya terkejut setelah menatap wajah seseorang yang selalu membuatnya kesal akhir-akhir ini. Ia meronta berusaha melepaskan pelukan pria dibawahnya itu.
"Kau mau kemana?" bertanya tanpa berniat melepaskannya.
"Aku mau keluar," sahutnya ketus. "Lepaskan, atau aku teriak!" ancamnya kemudian.
Zhaoling tersenyum seraya melepaskan pelukannya. Kedua tangannya diangkat dan ekspresi wajahnya terlihat datar. "Silahkan kalau mau keluar!" ucapnya kemudian.
Yoona berdecak sebal karena laki-laki itu selalu membuatnya kesal. "Cih," ia beranjak dari ranjang dan berdiri dengan tangan mengibaskan rambut panjangnya. "Dasar, pengganggu!" cibirnya kemudian.
Sedangkan Zhaoling hanya diam dengan mata terus menatap kearah Yoona, lebih tepatnya tubuhnya. Pria itu bahkan tak berkedip walaupun Yoona saat ini sedang mengoceh tak jelas seperti Radio butut. Pandangannya tak beralih sedikitpun dari wanitanya.
Melihat Zhaoling hanya diam dengan senyum tipis, membuat alis Yoona saling bertautan. "Kenapa kau menatapku seperti itu? Seolah aku ini ..."
Zhaoling segera menghentikan ucapan Yoona dengan berkata, "teruskan!"
Yoona mulai jengah menghadapi pria dihadapannya tersebut. Sikapnya selalu berubah-ubah sesuai keinginannya. Ingin sekali memukul wajah sombongnya itu, agar dia tahu kekuatan Yoona yang sebenarnya. Eh, tidak ... tidak. Dia terlalu tampan jika harus mendapat pukulan di wajah. Bisa-bisa Yoona tak tega melihat wajah tampan itu mendapat luka lebam.
Zhaoling menyibakkan selimut membiarkan dadanya terekspose untuk Yoona nikmati. Walaupun wanita itu akan berkata tidak suka, nyatanya dia saat ini menatap tanpa berkedip. Otot di tubuhnya menjadi aset berharga untuk menarik perhatian istrinya. Itu terbukti ketika Yoona tak mengalihkan pandang kearah lain, hanya tertuju kearah dada dan perutnya. "Sudah puas?" tanya Zhaoling Singkat.
Tanpa sadar Yoona menjawab, "belum!"
Pria dingin itu terkekeh seraya menggelengkan kepalanya. "Kemari lah. Aku akan membiarkanmu menyentuhnya jika kau mau!" mengulurkan tangan berharap Yoona menyambutnya.
Seketika, kesadaran wanita itu terpancing saat tangannya benar-benar menyentuh dada bidang suaminya. "Hei. Kenapa kau tak mengenakan pakaianmu! Dasar mesum," pekiknya seraya mundur.
Zhaoling tertawa kecil menanggapi ucapan istrinya. "Kenapa aku harus memakai pakaian, disaat istriku saja telanjang seperti itu!" ucapnya sembari menunjuk dengan dagu.
Wajah terkejut Yoona terlihat jelas ketika menyadari bahwa dirinya tak memakai sehelai benang pun ditubuhnya. "Kya," kedua tangan menyilang di dada dengan gerakan berbalik badan. Memori otaknya kembali memutar rekaman adegan semalam, saat sangkarnya dengan suka rela menerima Junior ber-kultivasi. Rasanya memalukan ketika mengingat bagaimana agresifnya Yoona saat itu, sampai Zhaoling sendiri kewalahan menghadapi dirinya. Ingin rasanya ia tenggelam ke dasar Bumi ketika mengingat dirinya meminta Zhaoling untuk kembali memasukan Junior kedalam sangkarnya.
"Jadi, siapa yang mesum?" bisik Zhaoling tepat di telinganya.
Telapak tangan Yoona menutupi wajahnya yang sudah memerah akibat menahan malu. "Haish, memalukan!" gumamnya lirih.
"Tidak. Kau tidak memalukan. Justru itu membuatku senang karena kau dengan suka rela memberikannya padaku," ucap Zhaoling seraya memeluknya dari belakang. "Apa kita lanjutkan lagi yang tadi pagi? Sepertinya, aku malas jika keluar di waktu begini. Lihat, bahkan Matahari sudah naik sampai ubun-ubun!" menunjuk kearah jendela.
•
•
Tubuhnya begitu lemah dengan perut yang berbunyi nyaring minta diisi. Bersikap cuek mungkin jalan satu-satunya yang harus dilakukannya saat ini. Ia segera memakan makanan yang tersedia di meja dengan sangat lahap, membuat kedua pengawal bayangan Zhaoling menatapnya dengan aneh.
Yoona tak perduli pada kedua pria itu, karena ia sangat kelaparan saat ini. Setelah mengalami malam panjang bersama Zhaoling, membuat dirinya sulit untuk tidur setiap hari. Bahkan, suaminya itu selalu meminta jatah setiap malamnya.
Ya. Semenjak kejadian di penginapan itu, kedekatan mereka menjadi lebih akrab. Tepatnya, setelah mereka memutuskan untuk hidup bersama lagi. Tapi dengan catatan, Zhaoling tak boleh kembali ke Istana dan melepaskan gelar Putra Mahkota-nya.
Tentu saja, hal itu sangat mudah dituruti oleh Zhaoling. Dia rela melepas segala kemewahan Istana hanya demi bisa hidup bersama Yoona. Begitupun sebaliknya, Yoona pun meminta izin pada ayah angkatnya untuk mengikuti kemana pun Zhaoling pergi membawanya.
Sebulan yang lalu, saat mereka akan meninggalkan Kota Dorokdok, Kerajaan Chithul. Yoona bertemu dengan rombongan Tuan Khong Guan, saat mereka baru saja kembali dari Kota Sharimie, Daratan Shotokoyah. Tujuan utama Tuan Khong ke Kota Sharimie yaitu, untuk mencari anak-anak angkatnya karena Beliau sangat khawatir. Namun, tak disangka jika rombongan Tuan Khong Guan bertemu dengan Yoona, Zhaoling, Liu Wei dan Yu Xuan, yang akan pergi ke Kuil Kuno yang ada di Wilayah Selatan.
Zhaoling menjelaskan semua kejadian yang menimpa mereka ketika berada di Kota Khuthang dan juga makhluk mengerikan penghuni Hutan Chang Chute yang menewaskan rombongannya termasuk Jihu. Jika bukan karena Zhaoling, mungkin Yoona pun akan menjadi mangsa makhluk mengerikan penghuni hutan itu.
Meski Tuan Khong Guan sangat bersedih atas kehilangan Putra pertamanya, Jihu. Namun, Beliau pun tetap bersyukur karena Putrinya masih hidup. Maka dari itu, Tuan Khong mengizinkan Zhaoling untuk membawa Yoona kemana pun ia pergi. Ayah angkatnya itu yakin bahwa Zhaoling bisa menjaga putrinya lebih baik darinya.
Setelah urusan dengan Tuan Khong Guan selesai, mereka melanjutkan perjalanan kembali menuju Kuil Kuno. Tapi sebelum bisa meninggalkan Kota Dorokdok, mereka kembali dihadang oleh pasukan Xili yang dipimpin Kaisar.
Zhaoling sangat terkejut ketika melihat kedatangan ayahnya bersama pasukan Xili. "Apa kedatangan Yang Mulia kemari hanya untuk menangkap ku?" tanya Zhaoling datar.
Kaisar Zhihu tersenyum seraya menepuk bahu putranya. Beliau melirik Yoona yang ada di samping Zhaoling, "Segitu bencinya dirimu padaku, sampai baru bertemu saja tak memanggilku dengan sebutan Ayah!" ucapnya sambil mengalihkan pandang kembali kearah Zhaoling.
"Aku tak kan kembali," tegas Zhaoling tanpa menjawab ucapan Kaisar.
Helaan nafas terdengar panjang ketika putranya sangat acuh. "Zhaozu. Ayah mengerti perasaanmu, karena aku pernah berada diposisimu seperti sekarang. Tapi, sebuah fakta tak mungkin mengubah segalanya. Kau adalah pemilik tahta selanjutnya, dan itu tak bisa dibantah oleh siapapun. Jika kau masih ingin berkelana untuk mencari jati dirimu, silahkan. Ayah tak kan memaksa! Namun, Ayah hanya mengingatkan untuk pulang suatu hari nanti, ketika kau telah siap memikul tanggung jawab ini." ucap Kaisar sebelum mereka berpisah.
Kedatangan Kaisar ke Kota ini bukan untuk menjemput Zhaoling, tapi hanya untuk memastikan apa yang menjadi keinginan putranya itu. Beliau tak ingin memaksa putranya untuk segera memikul tanggung jawab besar dengan mengurus seluruh Rakyat. Kaisar memberikan kebebasan untuk Zhaoling menentukan kehidupannya, namun Beliau juga berharap putranya itu mempertimbangkan segala sesuatu dengan matang.
Kaisar mengizinkan Zhaoling untuk pergi berkelana ke seluruh penjuru Dunia, jika dirinya merasa tak nyaman untuk tinggal di dalam Istana. Terlebih, masalah Xin'er yang pernah mendapatkan siksaan batin saat berada di dalam Istananya. Beliau pun meminta maaf kepada menantunya tersebut atas kesalahan yang dilakukan Ibu Suri dan juga Permaisuri, yang memperlakukannya dengan buruk. Juga atas hukuman yang beliau berikan kepada keluarga Yun, sampai menyebabkan Perdana Mentri Yun Xiaoyu dan Xiaolang tewas di serang binatang buas.
Yoona sudah memaafkan Kaisar dan berjanji akan mengajak Zhaoling kembali setelah hati suaminya sudah luluh. Kaisar pun berterima kasih pada Yoona karena kemurahan hati yang memaafkan kesalahannya dengan mudah, serta mengerti akan perasaan seorang ayah terhadap putranya.
"Kamu wanita baik dan tangguh. Ayah yakin, Zhaozu akan hidup bahagia bersamamu!" ucap Kaisar sebelum mereka pergi.
Akhirnya, baik itu Kaisar Zhihu maupun Tuan Khong Guan, mengizinkan mereka pergi berkelana dan hidup tanpa terbebani apapun tentang Istana.
Bersambung ...