
Waktu menunjukan dini hari, sekitar pukul dua pagi. Suara angin ribut serta rintikan hujan sudah tak terdengar lagi, pertanda badai telah berlalu.
Sebelumnya, angin ribut itu memporak-porandakan bangunan yang sudah lapuk dimakan usia. Suara gaduh dari ambruknya bangunan terdengar nyaring, namun tak membuat semua orang berani keluar untuk melihat. Karena, hujan yang sangat deras, disertai petir menyambar begitu menakutkan.
Setelah cukup lama mengguyur seluruh daratan di bumi, akhirnya hujan pun reda menyisakan genangan air diberbagai tempat, serta udara dingin yang menyelimuti.
Brak ... brak ...
Suara benda berjatuhan terdengar nyaring di lantai bawah penginapan Huoluo, tempat Zhaoling dan Xin'er menginap.
"Geledah semuanya! Pastikan orang itu tertangkap! Kalau tidak, nyawanya harus digantikan dengan nyawa kalian!" terdengar suara seseorang memerintah yang dijawab serempak 'siap!' oleh beberapa orang.
Langkah kaki mereka tak dibiarkan senyap, karena memang mereka berniat menyeret orang dengan paksa.
"Tuan. Tolong jangan bunuh saya! Saya tidak tahu apa-apa," ucap pemilik penginapan dengan mengatupkan kedua tangannya.
Tapi, rengekan permohonan lelaki tua pemilik penginapan hanya diabaikan oleh orang tersebut. Pria itu memicingkan senyum menampakan wajah jijiknya pad si pemilik. Bokongnya mendarat di salah satu bangku ruangan itu, dengan kaki diangkat ke meja. "Hancurkan semuanya jika mereka melawan!" titahnya lagi.
Lelaki tua pemilik penginapan segera bersimpuh di kaki orang tersebut. "Tuan. Tolong jangan rusak barang-barang ditempat ini, Tuan! Saya, mohon!" pintanya lagi mengiba seraya menyentuh kaki orang itu.
Pria itu terkejut karena kakinya tiba-tiba disentuh orang asing. Ia segera menghempaskan tubuh si pemilik dengan mengibaskan kalinya. "Minggir kau, pak tua! Aku tak suka jika kau sentuh," cercanya dengan nada tinggi. "Orang kumuh sepertimu tak pantas walau hanya menyentuh pakaianku. Dasar, tak tahu diri!" hardiknya sambil berkacak pinggang. "Ayo, bergerak cepat! Aku ingin segera menangkapnya!" titahnya lagi pada anak buahnya.
Tak ... tak ... tak ...
Beberapa langkah kaki terdengar menaiki anak tangga menuju lantai dua penginapan tersebut. Mereka dengan paksa mendobrak pintu setiap kamar yang ada di lantai dua penginapan tersebut.
Semua orang yang sedang tertidur pulas segera terkejut karena pintu kamar didobrak oleh beberapa pria berwajah sangar.
"Keluar semuanya dari kamar ini! Segera turun untuk menghadap Pangeran!" titah para anak buah si pria tadi setelah mendobrak semua pintu.
Semua orang yang berada dikamar tersebut segera berhamburan keluar karena takut dibunuh. Mereka diancam menggunakan pedang yang siap menebas leher mereka dengan mudah.
"Ada apa ini? Kenapa kita harus diseret paksa keluar dari kamar kita?" tanya salah satu penghuni kamar dengan kebingungan sambil tetap berjalan menuruni tangga.
"Mereka prajurit kerajaan," bisik para penghuni kamar dengan ketakutan saat melihat banyak prajurit dilantai bawah.
Mereka semakin dibuat kebingungan saat harus menghadap satu persatu kepada prajurit itu untuk digeledah. "Benar! Kita tidak mengerti apapun dan harus menghadap Pangeran untuk digeledah? Apa ada seorang pencuri yang bersembunyi di penginapan ini?" bisik mereka lagi.
Semua orang menunduk hormat dan membuka tangannya lebar dengan pasrah untuk digeledah. Tidak ada yang boleh menolak saat para prajurit memeriksa seluruh pakaian yang mereka kenakan. "Yang sudah diperiksa, segera berkumpul disebelah sana!" tunjuk prajurit ke pojok ruangan.
Mereka pun mengikuti perkataan prajurit tersebut. Bagaimanapun, mereka tak dapat melawan kekuasaan orang yang sedang duduk dengan santai memperhatikan mereka dari bangku ruangan itu.
"Beribu maaf, Pangeran! Kami tidak menemukannya!" ujar salah satu prajurit melapor.
Orang yang di sebut Pangeran itu segera berdiri sambil menggebrak meja, membuat semua orang terkejut.
Brak
"Bodoh! Cari lebih teliti lagi! Pastikan tak ada satu orang pun yang keluar dari penginapan ini dan membawa barang dari kerajaan. Jika tidak, maka nyawa kalian taruhannya!" ancam pangeran tersebut.
Para prajuritnya menjadi ketakutan sampai membubarkan diri lagi untuk mencari keberadaan orang yang dimaksud. Mereka terus mencari karena takut ancaman dari Pangeran. Bagaimanapun, pria itu memiliki kekuasaan tertinggi di Kerajaannya dan juga Ibukota. Jika seseorang berani melawan, maka balasannya adalah kematian.
Prajurit itu bergegas lari lagi ke lantai dua penginapan ini untuk memastikan tak ada yang terlewat satupun. Setiap kamar digeledah kembali guna mencari sesuai perintah Pangeran mereka. Takutnya, orang yang dicari ternyata bersembunyi tanpa diketahui mereka.
Kini, hanya tersisa dua kamar di ujung yang saling berdampingan. Salah satunya adalah kamar yang Zhaoling dan Xin'er tempati.
Langkah mereka segera mendekat kearah kamar tersebut untuk melakukan hal yang sama sebelumnya seperti kamar yang lain. "Keluar!" teriak salah satu pria sambil menendang pintu kamar tersebut.
Para prajurit itu dapat mengetahui dan sangat yakin bahwa orang yang dicari hanya dengan cara melihat pakaiannya saja.
Dua orang yang sedang berpelukan itu terkejut melihat beberapa pria mendatanginya dengan cara yang tak lazim. Keduanya tambah terkejut dengan teriakan pria itu yang memanggil tuannya dengan sebutan Pangeran.
"Apakah orang itu benar-benar kemari?" batin si pria seraya memandang wanita disampingnya yang sedang ketakutan.
Sebelumnya, karena permainan panas yang mereka lakukan sampai tidak mendengar keributan yang terjadi dilantai bawah. Mungkin juga, mereka tak perduli dan memilih menuntaskan hasrat masing-masing.
Langkah kaki terdengar nyaring mendekati kamar tersebut. Kedua insan yang tengah dimabuk asmara tadi langsung gelagapan. Mereka dengan cepat mengenakan pakaian masing-masing untuk menutupi tubuh polosnya.
Wajah sang Pangeran terlihat marah dengan tatapan tajam tertuju kearah keduanya, terutama lelaki tua dihadapannya. "Beraninya! Kau mencuri barang-barangku dan memamerkannya kepada orang lain untuk kepentingan dirimu sendiri! Apa kau cari mati?" hardik Pangeran.
Pria tua itu segera bersimpuh dibawah kaki sang Pangeran Pertama. "Ampuni hamba, Pangeran! Hamba bersalah,"
Wanita di sampingnya menjadi terkejut karena si pria memohon ampun pada orang dihadapannya yang dipanggil dengan sebutan Pangeran Pertama. "Pangeran. Apa yang kamu lakukan? Segera berdiri dan balas mereka semua! Kamu juga kan memiliki kekuasaan. Jadi, tak seharusnya memohon belas kasih pria itu!" cerca si wanita.
Pangeran Pertama menoleh kearah wanita tersebut dan menggelengkan kepala sambil berdecak. "Sungguh miris sekali hidupmu, Nona." ejeknya. Kemudian, Pangeran itu mengitari tubuh wanita itu sambil memperhatikannya dari atas sampai bawah. "Kau mengira dia itu seorang Pangeran dan kau mau ditidurinya? Atau, kalian memang memiliki hubungan sebelumnya dan berniat menipu rakyat dengan penampilan elegan kalian!" seru sang Pangeran.
Wanita itu mengerutkan keningnya mendengar ucapan pria dihadapannya itu. "Apa maksud perkataan mu? Dia itu memang seorang Pangeran Pertama dari Kerajaan Jixang!" ucapnya membela lelakinya.
Pangeran itu tersenyum sambil berkata. "Oh. Dia itu Pangeran Pertama dari Kerajaan Jixang!" cibirnya. "Lalu, aku ini siapa jika dia adalah Pangeran Pertama Jixang?" bertanya sambil menunjuk dirinya sendiri. Lalu, sang Pangeran mencengkram wajah si pria tua yang mengaku sebagai Pangeran Pertama Jixang tersebut. "Dia hanya seorang penipu yang membodohiku saat di jalan. Dia juga mencuri barang-barangku dan mengambil harta bendaku, sampai aku dikira gelandangan karena berpenampilan kotor." ucapnya seraya menghempaskan tubuh pria itu ke lantai dengan keras.
Wanita itu tercengang mendengar penuturan Pangeran Pertama. "Jadi, dia bukan Pangeran?" lirihnya dengan terkejut.
Pangeran tersenyum mengejek. "Dia pikir, Pangeran Jixang yang asli tak kan datang dan menemukannya, sampai dia berani berbuat onar di wilayah ini? Walaupun aku bukan berasal dari kota ini, tapi aku akan tetap mencarimu dan menyeretmu untuk di hukum! Prajurit. Tangkap mereka dan masukan kedalam penjara. Kita lihat! Apakah dia masih berani berbuat arogan setelah merasakan hukuman Jixang!!" ucapnya tegas.
"Ja-jangan hukum aku, Pangeran!" wanita itu segera berlutut dihadapan Pangeran. "Aku tidak tahu jika dia seorang penipu yang hanya memanfaatkan wanita lemah sepertiku! Dia mengancamku sebelumnya, hingga aku menuruti kemauannya. Tolong Pangeran pertimbangkan ini!" pintanya mengiba.
"Nona Yun. Apa yang kamu bicarakan? Kau yang menggodaku lebih dulu karena melihat pakaian mewah yang ku kenakan," cerca si pria tua yang mengaku sebagai Pangeran.
"Aku menggodamu? Cih, tak sudi aku berurusan dengan pria tua macam dirimu jika bukan terpaksa." sahutnya cepat.
"Dasar wanita tak tahu diri! Wanita rendahan kau, Nona Yun!" maki si pria.
Mendengar nama wanita itu, Pangeran Jixang menjadi terkejut. Bagaimanapun, tujuan kedatangannya itu adalah menemukan gadis bermarga Yun ini. Perjalanan jauh ini ternyata tak sia-sia dan membuahkan hasil, walaupun tidak seperti yang ia harapkan. "Siapa namamu?" tanya Pangeran kemudian.
"Nama saya, Yun ..."
Saat wanita itu akan menjawab, teriakan seorang prajurit segera mengalihkan mereka. "Pangeran. Ada satu pasangan lagi di kamar sebelah. Saya membawanya kemari," ucap prajurit tersebut.
Satu pasangan yang dibicarakan tadi segera memasuki ruangan pengap tersebut. Wajah mereka terlihat biasa saja tanpa ada rasa takut sedikitpun. Dengan santainya, keduanya berjalan saling berpegangan. "Ada apa ini?" tanya keduanya bersamaan.
"Xin'er?"
Pangeran kembali menoleh kearah wanita tadi. "Jadi, namamu Yun Xin'er?" tanya Pangeran dengan tatapan penuh arti.
"A-aku ..." sebelum wanita itu meneruskan ucapannya, Pangeran Jixang itu lekas memeluknya.
"Syukurlah! Akhirnya aku menemukanmu lagi, Er'er. Aku tahu, bahwa usahaku takkan sia-sia kali ini!" ucapnya dengan senang.
Sementara, dua orang yang masuk tadi hanya terdiam seraya saling memandang. "Apa kau mengenalnya?" tanya pria disampingnya yang dijawab gelengan kepala.
...Bersambung, gaess ... ...