Panglima Perang Kerajaan Xili

Panglima Perang Kerajaan Xili
Serangan dadakan


Kedua pemuda itu tampak memperhatikan pemuda lain yang sedang kesakitan akibat luka di kepalanya. Walaupun mereka terlihat tak perduli, tapi mereka cukup bersimpati juga.


Perlahan, keduanya mendekat setelah saling pandang sebelumnya. Mereka menghampiri dan duduk di depan Zhaoling. Ya, pemuda itu adalah Zhaoling yang di celakai oleh para murid senior. "Kenapa kamu bisa jatuh kesini?" tanya keduanya hampir bersamaan.


Zhaoling mendongak dengan membuka matanya perlahan. "Entahlah! Aku rasa ada yang berniat jahat padaku!" ungkapnya mengira-ngira.


Keduanya tampak membulatkan bibirnya. "Kami kira kau jatuh karena tidak sengaja seperti kami!" seru keduanya. "Lagian, siapa yang membuat jebakan seluas dan sedalam ini, jika ingin menangkap hewan buruan? Astaga! Orang jahat benar-benar sadis dan merepotkan!" lanjut mereka lagi dengan tidak percaya.


Walaupun sedang terluka, tapi Zhaoling tetap tersenyum mendengar ocehan mereka. Jika penjahat berbaik hati dan tak sadis, itu namanya bukan penjahat! Ckk, ada-ada saja!


Tiba-tiba suara gemuruh terdengar menggelegar. Dipastikan hari akan turun hujan. Mungkin juga badai angin topan.


Gluduuuuugggg ...


Ketiganya mendongak menatap keatas. Terlihat awan hitam sudah menghiasi langit siang itu. Mungkin sebentar lagi butiran air turun dari langit bersama datangnya awan hitam yang pekat.


"Oh iya, apa kamu bisa berdiri sendiri? Jika bisa, mari kita keatas! Aku mulai takut berada disini." ujar salah satunya.


Zhaoling dan juga satu pemuda itu mengerutkan keningnya heran. "Kenapa? Apa ada sesuatu yang membuatmu khawatir?"


"Aku takut langit akan runtuh dan menimpa lubang ini. Jika begitu, kita tidak akan bisa keluar sampai hari kiamat!" tuturnya menjelaskan.


Keduanya tampak tercengang mendengar jawaban pemuda itu. Astaga! Bisa-bisanya dia mikir langit akan runtuh? Tapi, melihat posisi mereka saat ini, wajar saja sih jika dia takut. Secara, kedalaman lubang mencapai tiga puluh meter yang otomatis sangat dalam, bukan?


Plak


"Liu Wei. Dasar bodoh! Bisa-bisanya kau berpikir langit akan mudah runtuh begitu saja!" hardiknya kesal setelah memukul kepala temannya.


"Aduh, Yu Xuan. Sakit tahu! Aku kan hanya mendengar kata si kancil yang bijak. Katanya, kalau ada suara gemuruh seperti ini, langit akan runtuh. Jika itu terjadi, bagaimana kita bisa lari? Ayo cepat, pakai tali dan kita naik lagi!" cetusnya membela diri sambil bergegas meraih tali.


Zhaoling dan Yu Xuan saling bertatapan. Entah harus berkata apa pada Liu Wei yang bijak seperti kancil itu. "Si kancil mengelabui hewan lain supaya menolongnya dari dalam lubang. Kau ini, ada-ada saja!"


"Oh, begitu ya! Aku kira jika gemuruh terdengar pasti langit mau runtuh." ucapnya cengengesan seraya menggaruk kepalanya.


Yu Xuan berdiri, kemudian membantu Zhaoling untuk berdiri. "Langit memang akan runtuh, menumpahkan air yang banyak sampai lubang ini terisi penuh. Nah, jika kita berada disini terus, kita akan tenggelam. Maka dari itu, ayo kita naik sebelum air memenuhi lubang ini!" ajaknya sambil memegangi bahu Zhaoling.


"Benar juga. Ayo, kita naik!"


Mereka bertiga lekas naik dengan menggunakan tali. Satu persatu dari mereka segera naik dan membantu temannya saat sampai diatas. Walaupun mereka baru pertama kali bertemu, tapi ketiganya sudah akrab dan saling membantu satu sama lain.


Setelah itu, mereka bergegas pergi mencari tempat berlindung dari lebatnya hujan badai. Angin berhembus sangat kencang meniup pepohonan sekitaran, sehingga membuat sebagian pohon yang lebih kecil tumbang.


Ketiga pemuda itu berlindung disebuah gua tak jauh dari hutan tadi. Mereka kini tengah meringkuk kedinginan akibat guyuran hujan yang sempat membasahi tubuh mereka.


Beruntung, di gua ini ada beberapa potong kayu yang berserakan di tanah. Mungkin, seseorang pernah datang ke tempat ini dan membuat api unggun di sana. Sehingga, mereka pun bisa melakukan hal yang sama untuk sekedar menghangatkan tubuh mereka yang sedang menggigil kedinginan.


Ketiganya mendekat kearah api unggun yang sengaja dibuat untuk menghangatkan tubuh. Sambil mengobrol dan bercerita tentang hidup mereka. Liu Wei dan Yu Xuan pun membantu untuk mengobati luka Zhaoling dengan tumbuhan obat di sekitar.


Ternyata, Liu Wei dan Yu Xuan ini adalah anak-anak yang diculik perampok dan dijadikan bagian dari mereka. Keduanya diajari cara mencuri diam-diam sampai merampok paksa warga kaya, bahkan membunuh orang jika mereka melawan.


Awalnya, keduanya melakukan itu karena tak ada pilihan lain. Tapi, setelah bertemu seorang pria tua yang mereka rampok di jalan, tak disangka pria tua itu malah memberikan harta bendanya dengan suka rela. Kakek itu menasehati keduanya agar tidak melakukan perbuatan jahat lagi. Jika alasan bertahan ditempat itu karena takut kepada pemimpin perampok, maka mereka di suruh pergi ke sebuah Perguruan silat yang bernama Perguruan Naga Bayang.


Jika sudah sampai di sana, mereka harus menemui Guru Besar Jin dan memberitahukan padanya bahwa mereka di tugaskan oleh kakek Lon Thong.


Zhaoling tersenyum mengetahui bahwa kedua teman barunya itu akan pergi ke tempat yang sama dengannya. Terlebih lagi, mereka yang dipilih kakek Lon Thong pasti bukan orang sembarangan. Dari sekian banyak anak di belahan dunia, kenapa kakek memilih dua anak perampok ini? Pasti mereka ada sesuatu yang membuat kakek menyukai keduanya.


"Oh ya? Wah, beruntungnya kami karena bertemu dengan kau, Aling!" seru keduanya kegirangan.


Lagi-lagi Zhaoling tersenyum mendengar panggilan akrab yang mereka sebutkan. Dia senang mendapat panggilan akrab itu dari kedua teman barunya. "Oh iya, alasan kalian ke perguruan karena apa? Apa ingin menjadi ..."


Ucapan Zhaoling segera dipotong oleh Yu Xuan. "Aku ingin berubah menjadi orang baik, dan juga membalas kematian orang tuaku pada Tuan Mo." ungkapnya dengan menggertakan giginya. "Tuan Mo menyiksa orang tuaku dan adikku sampai mati. Dia tak membiarkan kami hidup tenang dan memaksaku menjadi penjahat. Jika aku menjadi pendekar yang kuat, aku akan membuat perhitungan padanya!" lanjutnya dengan amarah yang meluap.


Liu Wei pun sama halnya seperti Yu Xuan. Dia mengalami hal serupa dengan yang Yu Xuan dapatkan, karena mereka satu desa. Semua orang di desa kecil itu mati secara perlahan karena kekejaman Tuan Mo. Seorang pemimpin para bandit yang suka membuat ulah di wilayah pinggiran ibukota.


Zhaoling terhenyak. Dia pun sejujurnya mengalami kekejaman serupa yang hampir merenggut nyawanya. Bedanya, dia tak tahu siapa dalang dibalik musibah yang terjadi padanya di Istana maupun di hutan ini.


"Mereka mempunyai tekad yang kuat untuk menjadi lebih baik, dan aku pun harus meniru mereka. Baiklah! Aku akan cari tahu dalang dibalik semua ini dan aku akan membuat perhitungan pada mereka supaya tidak berani menindas orang lain lagi. Semangat, Zhaoling!"


Zhaoling pun kini harus bersiap untuk kemungkinan yang terjadi di masa depan. Entah itu baik atau buruk dan lawannya pun kuat atau lemah darinya, yang terpenting dia sudah menyiapkan segala sesuatunya.


"Kita akan berangkat besok ke Perguruan Naga Bayang untuk menemui Guru Besar Jin, sesuai apa yang dikatakan kakek Lon Thong." cetus Zhaoling membuka suaranya setelah lama terdiam.


Baik Liu Wei maupun Yu Xuan mengangguk setuju. Semakin cepat kesana, maka semakin baik untuk mereka agar segera belajar ilmu bela diri di Perguruan tersebut.


Malam tiba ...


Suasana menjadi hening setelah hujan reda. Hanya terdengar suara binatang malam serta lolongan anjing hutan yang tak jauh dari tempat ketiga pemuda itu saat ini.


Srek ... srek ...


Derap langkah kaki terdengar seperti mendekati kearah mereka. Walaupun cahaya dari api unggun telah padam, tapi beberapa bayangan terlihat memasuki gua tersebut karena terkena sinar rembulan.


Ketiganya terlelap dalam mimpi masing-masing. Bahkan, tak ada yang bergerak sedikitpun dari posisi tidurnya karena udara yang semakin dingin menusuk tulang.


"Mereka tidur pulas!" bisik seseorang yang memasuki tempat ini pada temannya.


"Bagus. Langsung habisi mereka!" titahnya sambil mengangkat tinggi pedangnya.


Pedang bermata tajam itu ter'ayun keatas sebelum menebasnya ke depan kearah ketiga pemuda tersebut. "Hiyaaaaaa ... Srriiing!"


Benda tajam itu berbenturan dengan benda lain sebelum menyentuh tubuh ketiga pemuda tersebut, membuat mereka tercengang. "Apa?"


Mata mereka tambah melebar sempurna setelah melihat seorang dari salah satu pemuda itu berdiri dengan menatap tajam kearah mereka. Hanya sebuah kipas ditangannya yang ia gunakan untuk menahan pedang mereka.


"Pecundang. Sekali pecundang tetap akan menjadi pecundang selamanya!" ejeknya sinis. "Menyerang orang yang sedang tidur, bukan cara yang baik bagi seorang pendekar untuk bertarung! Cuih," ejeknya lagi dengan menatap jijik.


"Brengsek. Beraninya kau mengatai kami pecundang! Akan ku habisi kau sekarang juga. Hiyaaaaa ..."


Bagh ... bugh ...


Sriiiinngg ... brakkkk


Perkelahian tak terelakan, sampai membuat kegaduhan. Liu Wei dan Yu Xuan langsung bangkit dan menjauh dari pertarungan tersebut. Melihat kemampuan bertarung mereka, keduanya yakin jika para pria itu bukan orang sembarangan.


Tapi yang menjadi pertanyaan, siapa mereka? Kenapa mereka datang menyerang ke tempat ini? Dan ... Zhaoling terlihat sangat kuat walaupun sedang terluka!


...Bab selanjutnya diperkirakan update tiga hari lagi. Mohon bersabar ya, gengs😁...