Panglima Perang Kerajaan Xili

Panglima Perang Kerajaan Xili
Malam Pertama(Part 2)


Perasaan Xin'er tak karuan, antara malu dan juga kesal. Pasalnya, disekitar leher putihnya dan juga bagian dada mulusnya, terdapat bercak merah tanda gigitan makhluk buas. Yaitu, nyamuk berkepala besar.


Walaupun sebenarnya tak ada yang terjadi malam tadi, antara dirinya dan Pangeran. Tapi, pria itu membohonginya dengan bilang bahwa mereka telah melakukan sesuatu.


Xin'er berusaha mengingat kejadian tadi malam antara dirinya dan Pangeran. Tapi, tak ada gambaran apapun tentang penyatuan raganya. Dan yang pasti, dia tak merasakan kesakitan di sekujur tubuhnya atau di bagian intimnya, kecuali tanda kiss mark yang terlihat di bagian leher dan dada.


Pangeran menyentuh pundaknya pelan, membuat Xin'er terkejut dan reflek menoleh. "Ada apa?" ketusnya tanpa kesopanan seperti biasa yang dia lakukan. Mungkin karena kesal, Xin'er berubah menjadi judes dan galak.


"Masih memikirkan kejadian semalam?" tanya Pangeran tanpa basa-basi. Dia tersenyum dalam hati karena berhasil mengerjai gadis yang menjadi istrinya itu.


Bukannya menjawab, Xin'er semakin cemberut dengan tangan terlipat di meja. "Aku tidak yakin jika kita telah melakukannya!"


Pangeran menyeringai. "Jadi, kamu ingin kita mengulang kejadian semalam?" tanya Zhaoling menggoda. "Baiklah. Ayo, kita ulangi lagi!" ucapnya penuh semangat.


Segera, Xin'er menggelengkan kepalanya. "Tidak! A-aku sudah ingat. Baiklah. Aku mandi dulu," ujarnya seraya beranjak dari ranjang menuju bilik mandi.


Zhaoling terkekeh melihat tingkah lucu dan menggemaskan Xin'er menurutnya. Dia sangat senang menggoda istri kecilnya itu. "Tentu kamu tak kan mengingatnya, karena semalam kita tidak ngapa-ngapin. Hanya saja ... aku memberikanmu pelajaran," gumamnya sambil tertawa kecil.


Semalam.


Xin'er menutup rapat-rapat mata serta bibirnya, saat wajah Pangeran semakin mendekat. Seharusnya, gadis itu tak melakukan itu. Walau bagaimanapun, Pangeran buruk rupa itu tetaplah suaminya. Tapi, Xin'er tetaplah Xin'er. Dia selalu memegang teguh pendiriannya. Sekali tidak tetap tidak.


Padahal, cadar hitam Pangeran tak pernah lepas dari wajahnya. Namun, Xin'er terlalu takut untuk melihat apa yang seharusnya dilihat. Lebih tepatnya, belum siap.


"Bisakah Dewa mencabut nyawaku saat ini dan memindahkannya kedalam tubuh petarung saja? Aku lebih baik melawan musuh daripada melawan perasaan seperti ini," jeritan batin Xin'er seolah permohonan yang harus dituruti Dewa.


"Kenapa kau terus memejamkan mata dan mengatupkan bibir seperti itu? Memangnya tidak pegal?" ejekan Pangeran sontak membuat Xin'er membuka matanya dengan sempurna.


"Ku kira dia akan melakukan sesuatu padaku?" batin Xin'er menatap dalam.


Ternyata, saat ini Pangeran tengah duduk di kursi sambil minum arak. "Kemari lah!" ujarnya sambil menggerakkan tangan meminta Xin'er menghampiri.


Dengan malas, Xin'er beranjak dari ranjang dan menghampiri Pangeran yang tengah menikmati arak dengan tenang. "Duduk!" perintahnya langsung dituruti Xin'er saat itu juga.


Sebelum berucap kembali, Pangeran tersenyum dibalik cadarnya. "Apa saat ini kau kecewa, karena aku belum menyentuhmu?" ledeknya menggoda.


"Apa? Kecewa? Tidak!" sahut Xin'er cepat. "Justru aku senang kau tidak menyentuhku!" batinnya berteriak.


"Oh. Ku kira kamu kecewa. Ternyata tidak," cetusnya dengan nada sedih.


Mendengar itu, Xin'er merasa bersalah. Bagaimanapun, itu sudah menjadi hak Pangeran dan Xin'er berkewajiban memenuhi keinginan suaminya. Sambil menunduk, ia berkata. "Maaf,"


Pangeran mendongakkan wajah menatap Xin'er dari balik cadarnya. Sejujurnya, dia tak tega pada istri kecilnya itu. Tapi, ini adalah pelajaran untuk Xin'er bahwa seburuk apapun suamimu, tetap harus kau layani sepenuh hati. Nampaknya, Zhaoling memang benar-benar berniat memberikan ujian besar pada Xin'er.


Alih-alih menjawab perkataan istrinya. Pangeran berbicara sambil menuangkan arak kedalam gelasnya. "Arak ini terbuat dari perasan buah dan bunga persik. Ada sedikit campuran ginseng juga didalamnya. Jadi, ini sangat bagus untuk menghangatkan tubuh yang sudah kelelahan akibat perjalanan jauh."


Pangeran segera menegak minuman di gelas sampai habis. Kemudian, menatap Xin'er dengan seringai penuh arti.


Xin'er melihat kearah wadah berisikan arak tersebut, kemudian mengalihkan pandang kearah suaminya. "Apa aku perlu meminumnya?" tanya Xin'er dengan polos.


Pertanyaan bodoh yang keluar dari mulut istrinya itu membuat Pangeran tertawa keras. "Hahaha." setelah cukup puas tertawa, Pangeran menuangkan arak tersebut kedalam gelas kosong dan memberikannya kepada Xin'er. "Jika kau ingin, minum lah. Tapi, jika kau tak mau, biarkan saja. Aku hanya menjelaskan kandungan didalamnya, tidak menyuruhmu untuk ikut minum!" cetusnya masih terkekeh.


Xin'er mengerucutkan bibirnya mendengar ejekan suaminya. Terkadang, Xin'er berniat meninju wajah Pangeran karena ucapannya yang selalu memojokkan. Namun, apalah daya karena mirisnya pria itu adalah suaminya sendiri. Dengan cepat, Xin'er menyambar gelas berisikan arak tersebut dan langsung menegak hingga tandas.


Nafasnya memburu seiring amarah yang tertahan. Tapi, dia justru bingung harus berkata apa. Apalagi, mereka sedang berada di kediamannya. Jika terdengar keributan diantara dirinya dan Pangeran, bukankah itu akan membuat ayah dan kakaknya sedih? Dan yang terpenting, nenek lampir dan kedua anaknya akan menertawakan serta menghinanya. Haish, sungguh menyebalkan!


"Kau kuat minum? Jika tidak, maka jangan ..." sebelum pangeran menuntaskan ucapannya, Xin'er segera menuangkan arak lagi kedalam gelasnya, kemudian segera meneguk sampai tak tersisa. Dia melakukannya berulang kali, tanpa memperdulikan suaminya yang menatap dengan heran, bahkan sampai melotot.


Namun, Xin'er tak mendengarkan apa yang dikatakan suaminya saat ini. Pandangannya mulai kabur, serta kepalanya sedikit pusing, dan mulai meracu tak jelas.


Xin'er berdiri sempoyongan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya mengusir rasa pusing, serta mengerjapkan mata berulang seperti orang cacingan. "Kenapa bumi berputar? Hah, bahkan kau pun ada dua. Eh tidak! Tunggu ... kau ada satu, dua, tiga, empat, lima. Kau ada lima. Hahaha!" Dia tertawa sembari menunjuk Pangeran dihadapannya.


"Xin'er. Kau mulai mabuk. Cepat, minum ini untuk menghilangkan efeknya!" titah Pangeran sambil mengeluarkan obat dan memasukkannya ke mulut istrinya.


Tapi, Xin'er menepisnya dan membuat obatnya jatuh. Dia kembali menunjuk suaminya. "Hei, kau! Kau pikir dirimu hebat bisa menjerat aku kedalam Istana? Heh, akan aku tunjukan seberapa hebatnya aku untuk membunuhmu!"


Tangannya terayun menuju Zhaoling dengan kekuatan penuh, tapi tak sedikitpun ia menyentuhnya karena efek minuman tersebut begitu kuat. Sehingga, menurut Xin'er kuat tapi hanya menggantung di udara.


Zhaoling menatapnya datar sambil memicingkan bibirnya. Betapa bodohnya gadis dihadapannya ini. Ternyata, istrinya itu hanya tahu berkelahi tapi tidak kuat minum. Cuma beberapa gelas dia sudah KO, apalagi kalau satu kendi? Mau jadi apa dia ini?


Tanpa Pangeran sadari, Xin'er maju dan melepaskan cadar hitam yang selalu menutupi wajahnya secara tiba-tiba. Sontak ia berbalik badan menghindari kemungkinan yang akan terjadi. Takutnya, Xin'er berpura-pura mabuk untuk melihat wajahnya.


"Kau sungguh tidak sopan, gadis bodoh! Beraninya kau melepaskan cadar ini!" bentak Zhaoling dengan keras.


Bukannya takut, Xin'er justru semakin mendekat dan membalikan tubuh suaminya hingga kini mereka saling menatap. Tangannya terulur menyentuh kulit putih bersih, dengan mata yang indah, serta hidung mancungnya. Bibir tebal yang sensual, ditambah rahang yang tegas. Ah, pahatan sempurna ciptaan Tuhan.


"Aku hanya ingin melihat seberapa buruk wajahmu itu, suamiku!" Xin'er cekikikan mengucapkan kata 'Suami', padahal itu yang membuat Zhaoling seketika membeku.


Zhaoling segera tersadar saat bibirnya ternyata telah dikecup oleh istri kecilnya itu. Tanpa persiapan, Xin'er mencium bibir suaminya dengan kepayahan. Tentu Zhaoling tahu, jika ini pengalaman pertama buat istrinya dan juga dirinya. Karena, Xin'er hanya menempelkan saja bibirnya tanpa memperdalamnya.


"Dasar gadis bodoh! Apa kau sudah puas melihat wajah buruk rupa suamimu ini, sampai kau berani mencium ku!" bentaknya keras. Padahal, dia tengah menahan irama jantung yang sedang naik turun akibat ulah istrinya.


Bagaimanapun juga, Pangeran pria normal dan bukan pesakitan seperti kabar yang beredar.


Xin'er kembali berucap. "Aku tahu wajahmu sangat buruk, sampai aku ingin sekali menghajar hingga babak belur." cetusnya dengan gaya tak karuan. "Ayo, kita bertarung! Siapa yang kalah harus menuruti semua perintah yang menang?" tantangnya kemudian sambil memasang tinjunya.


Zhaoling menggelengkan kepala sambil tersenyum miring. "Astaga, gadis bodoh! Jika aku tak ingat dia sedang mabuk, mungkin aku akan membuatnya bungkam untuk selamanya!" gumamnya.


Dengan sekali hentak saja, tubuh Xin'er melayang dan mendarat di rajang dengan keras sampai dia berteriak. "Hei, pria bodoh. Kita belum bertarung. Ayo, tunjukan kekuatanmu!"


Mendengar ocehan istrinya itu, membuat Zhaoling jengah. Diulurkan kedua tangannya untuk mengurung istrinya didalam kungkungan, kemudian satu tangan menahan kedua tangan Xin'er yang mulai memberontak. "Kau ingin tahu seberapa kekuatanku? Mari, kita bertarung sekarang juga!"


Wajahnya menyusup diantara ceruk istrinya, kemudian menghisapnya sampai memerah. Xin'er semakin menggeliat merasakan hembusan nafas Zhaoling dan sentuhan bibirnya di lehernya. Tapi, justru itu membuat gairah Zhaoling semakin naik.


Tak hanya dileher, Zhaoling sedikit membuka pakaian istrinya sampai belahan bukit kembar terlihat. Dia menelan saliva dengan kasar, seolah tenggorokannya terganjal sesuatu. Kembali bibirnya mencetak tanda yang sama di bagian itu sampai penuh. "Aku menginginkannya!"


Aksinya harus berhenti saat mendengar dengkuran halus dari si pemilik tubuh yang sedang dikuasai Pangeran. "Astaga. Dia tertidur disaat seperti ini?"


Zhaoling tak percaya jika Xin'er akan tidur disaat tubuhnya sedang digerayangi olehnya. Padahal, hasratnya sedang membuncah seperti mau meledak. Namun, ia memilih tak melanjutkannya lagi karena menghormati istrinya. Dia tidak mau mengambil kesempatan dalam kesempitan.


"Tidurlah, gadis bodoh. Besok kita akan melanjutkannya lagi!" bisik Zhaoling seraya mencium kening istrinya, kemudian mendekap tubuhnya dengan erat.


Mereka pun tidur bersama melewati malam panjang di malam pertama, dengan berpelukan.


...Bersambung ......


Bab selanjutnya update tak menentu sesuai waktu senggang othor aja,😁


Hari senin, gunakan vote sebaik mungkin. Berikan kesini supaya bermanfaat.😜😅


Terima kasih yang selalu setia mendukung ya.😘😘


...~Lien Machan~...