
Malam ini cuaca dingin menyelimuti, setelah tadi sempat diguyur hujan deras. Tanah disekitaran menjadi lembab serta licin, bahkan ada sisa air yang menggenang ditanah.
Perkelahian mereka bertiga berlanjut sampai keluar goa. Di sini, mereka lebih leluasa bergerak dan menebaskan senjata mereka kearah lawan. Sihuo dan Cunfang yang memakai pedang sebagai senjata, sangat gesit mengayunkannya dan terus menggempur pertahanan Zhaoling. Sementara Zhaoling yang hanya memakai kipas kecil ditangannya, tampak kewalahan menghalau pergerakan kedua pedang dari sebelah kiri dan kanannya.
Walaupun seperti itu, Zhaoling terus menghindar supaya tak terkena tebasan pedang dari kedua seniornya.
Trang ... trang ... sriiiinngg ...
Tebasan demi tebasan terus melayang seiring ayunan tangan mereka. Tak ada pilihan lain selain mengelak dengan menerjang serta melompat keatas guna menghindar.
Tap ... tap ... wuuuusshhh ... buuukkkk
Zhaoling melompati mereka kearah belakang, kemudian menendang punggung keduanya hingga terjatuh ketanah dengan menyungkur. Kakinya mendarat sempurna ditanah tanpa goyah. Walaupun ia terluka, namun ilmu meringankan tubuhnya masih bisa dilakukan.
"Kak Sihuo, kak Cunfang. Apa yang kalian mau dariku sebenarnya?" tanya Zhaoling dingin setelah mendarat di tanah. Menyelidik mencari sesuatu kedalam mata, mencoba menebak apa yang akan mereka katakan.
Seringai dari bibir keduanya terbesit mengejek, setelah keduanya berdiri sempurna. "Kau banyak tanya sekali, anak sombong! Kami tak perlu alasan untuk membunuhmu. Bukankah sudah jelas, bahwa kami tak menyukaimu!" cetus Cunfang menyahuti pertanyaan Zhaoling.
Zhaoling tersenyum kecut menanggapi ucapan murid senior tersebut. Namun, ia tetap tak menyerah dan akan terus bertanya yang sesungguhnya pada kedua murid senior yang selalu membencinya itu. Tidak mungkin kalau mereka hanya karena Zhaoling lebih unggul dari mereka. "Aku akan bertanya sekali lagi dengan kesopanan yang ku punya. Siapa yang menyuruh kalian untuk berbuat itu padaku? Apakah Guru ...?"
Sebenarnya Zhaoling hanya memancing dan berpura-pura tahu, tapi tak disangka mereka terkejut sebagai ekspresi. Keduanya tercengang karena Zhaoling tahu, bahwa mereka disuruh seseorang. Mereka tak menyangka, jika anak sombong itu mudah menebaknya yang padahal Zhaoling sendiri tak tahu. Hanya asal saja! Hahaha.
"Kami tidak di suruh siapa-siapa! Jangan asal menebak, kamu! Lebih baik, kau lawan kami saja dengan kekuatanmu itu!" elak keduanya mengalihkan.
Dari raut wajah gugupnya, Zhaoling tahu bahwa mereka sedang menghindari pertanyaan yang menohok keduanya.
Merasa tak punya pilihan, Zhaoling kembali melawan. Kini ia tak hanya mengelak, namun menyerang dengan kekuatan tapi tidak memakai tenaga dalam. Jika dia memakai tenaga dalam, dalam semenit pertarungan saja dapat dipastikan lawannya akan kalah. Apalagi, dia menguasai kelima jurus rahasia Perguruan Naga Bayang.
Terpojok. Dengan keadaan seperti ini, seseorang cenderung menyerah tapi tidak dengan mereka. Keduanya berusaha menghindari serangan telak yang diberikan Zhaoling bertubi-tubi.
Bagh ... bugh ... braaaakkk
Akhirnya, pertahanan mereka tumbang seiring terjatuhnya tubuh ketanah dengan keras. "Aaakkhh," darah keluar dari mulut keduanya setelah mendapatkan pukulan dari Zhaoling.
"Katakan! Siapa yang menyuruh kalian menyingkirkanku?" bentak Zhaoling lagi namun mereka tetap bungkam. "Baik. Jangan salahkan aku jika tak berbelas kasih pada kalian! Hiyaaa ...,"
Sebelum tangan Zhaoling menyentuh bagian tubuh mereka, keduanya mengangkat tangan sebagai tanda menyerah. Mereka tahu, melawan Zhaoling yang memiliki kekuatan diatas keduanya sangatlah sulit. Walaupun usianya lebih muda, namun Zhaoling sudah menguasai jurus rahasia.
"Baiklah ... baiklah! Kami menyerah. Kami akan mengatakan siapa yang menyuruh untuk membunuhmu. Tapi, kau akan melepaskan kami, bukan?" Zhaoling mengangguk dengan pertanyaan mereka. Keduanya saling pandang terlebih dulu, setelah itu baru membuka suara walaupun terdengar ragu. "Se-sebenarnya, yang menyuruh kami membunuhmu adalah Guru Lu ... aaakkkhhh!"
Sebelum mereka menyelesaikan ucapannya, seseorang telah datang dan menusuk perut keduanya membuat mereka terkapar ditanah dengan bersimbah darah. Zhaoling terbelalak akan kejadian tersebut yang begitu tiba-tiba menurutnya.
"Guru Luo?" Orang tersebut langsung berbalik menghadap Zhaoling dan tersenyum penuh arti.
"Apa kau baik-baik saja, Zhao?" tanya Guru Luo kemudian.
Zhaoling mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Gurunya tersebut. Dia kemudian menoleh kearah belakang Guru Luo yang terdapat Sihuo dan Cunfeng yang terbaring di tanah. Kening Zhaoling mengernyit setelah melihat Cunfeng mengangkat sebelah tangannya dengan kesulitan dan menunjuk kearah Guru Luo sambil bergumam lirih, karena kesadarannya hampir menghilang.
"Dia orangnya!" arti dari tunjukan tangan Cunfeng sebelum ia benar-benar mati dengan tombak yang masih menancap diperutnya.
Kini, wajah Zhaoling menghadap Guru Luo sepenuhnya dengan pertanyaan yang siap dilontarkan. Namun, ia memilih diam dan membiarkan Guru Luo sendiri yang menjawab arti dari tatapan Zhaoling.
Guru Luo mengeluarkan sebuah buku usang dibalik jubahnya, kemudian memperlihatkannya pada Zhaoling dan mengatakan bahwa itu kitab yang dicuri kedua murid senior. Tapi, Zhaoling bukan anak kecil yang lugu dan polos yang dengan bodohnya percaya saat melihat barang bukti ditangan orang yang mengatakannya.
Liu Wei dan Yu Xuan keluar disaat Guru Luo menjelaskan apa tujuan kedatangannya. Netra tegas itu melirik tajam kearah dua bocah seumuran Zhaoling. Diperhatikannya dari atas sampai bawah penampilan kedua pemuda tersebut dengan tatapan tak suka. Mungkin dia ingin mengatakan hal itu, tapi ternyata kata itu tak keluar dari mulutnya. "Mari, kembali ke Perguruan!" ajaknya kemudian.
"Bagaimana dengan mayat Sihuo dan Cunfeng? Apa tidak sebaiknya kita bawa ke Perguruan atau makamkan disini terlebih dahulu?" tanya Zhaoling sebelum melangkah.
"Biarkan saja. Nanti ada orang yang datang kemari atas perintahku. Sebaiknya, kau kembali ke Perguruan agar Guru Tertinggi tidak marah!" tukasnya dengan tegas.
Mau tak mau Zhaoling menurut. Lagipula, Guru Luo tak pernah suka jika perkataannya dibantah. Dia pun mengajak Liu Wei dan Yu Xuan untuk ikut bersamanya. Sepanjang perjalanan, kedua sahabat barunya itu hanya diam tak bersuara ataupun berkomentar. Tapi, Zhaoling tahu jika keduanya saat ini tengah berpikir tentang dirinya yang ternyata murid Perguruan Naga Bayang. Tak apalah! Toh saat tiba di sana, Zhaoling akan menjelaskannya.
Sebenarnya, Sihuo dan Cunfeng adalah orang yang diutus Guru Luo untuk mencelakai Zhaoling, karena dia terlalu takut posisinya akan digeser anak itu. Guru Luo sudah melihat bakat besar yang dimiliki Zhaoling, dan Guru Lon juga sudah mengakuinya. Makanya, dia takut jika suatu saat nanti Zhaoling akan lebih sakti darinya. Sebelum itu terjadi, lebih baik menyingkirkannya.
•
•
Perjalanan ke Perguruan cukup jauh dari hutan tersebut. Mungkin memakan waktu hingga dua jam jika berjalan kaki. Setelah sampai, mereka langsung menghadap Guru tertinggi dan Guru besar. Guru Luo menceritakan semua kejadian yang menimpa Zhaoling dan kedua murid senior.
Kini, semua orang tahu jika Zhaoling tidak bersalah dan mereka menyambutnya kembali dengan senyuman. Tidak seperti sebelumnya, yang bahkan berniat mencelakai Zhaoling. Mereka juga menyambut Liu Wei dan Yu Xuan dengan tangan terbuka. Apalagi, Guru tertinggi langsung yang membawa keduanya masuk.
Awalnya, Liu Wei dan Yu Xuan terkejut karena ternyata kakek tua yang ditemui sebelumnya adalah Guru tertinggi di sini. Tapi sekarang, mereka senang karena bisa masuk kedalam Perguruan sebesar ini tanpa perlu bersusah payah dan tak perlu membayar biaya apapun untuk administrasi.
Tiga tahun berlalu. Baik Liu Wei dan Yu Xuan sudah menguasai sedikitnya ilmu silat, jurus-jurus pedang, bahkan ilmu meringankan tubuh. Keduanya sangat senang dengan apa yang dipelajari di tempat ini.
Tapi, mereka harus bersedih karena harus berpisah dengan sahabat baiknya. Yaitu, Zhaoling. Ya, hari yang ditunggu sudah tiba. Zhaoling harus kembali ke Istana sesuai janji kakek Lon Thong pada kedua orang tuanya.
Sepuluh tahun pendidikan Zhaoling di Perguruan Naga Bayang tidak sia-sia. Dia sudah menguasai semua jurus yang diajarkan para guru di sini, hanya dalam waktu sepuluh tahun. Padahal, banyak murid yang sudah disini lebih lama dari Zhaoling belum bisa menguasai jurus rahasia Perguruan.
"Apa kau akan meninggalkan kami, Aling?" terlihat raut wajah sedih dari kedua sahabatnya.
Zhaoling hanya tersenyum sambil merangkul bahu keduanya. "Aku sudah terlalu lama meninggalkan ayah dan ibuku! Aku sangat merindukan mereka. Jadi, aku harus kembali ke rumah. Tapi, kalian tenang saja! Aku akan sering berkunjung kemari."
Zhaoling tak pernah mengatakan bahwa dirinya adalah seorang Pangeran. Dia tak mau jika temannya akan segan pada dirinya.
"Kami akan sangat merindukanmu, sobat!" ujar Liu Wei dan Yu Xuan seraya memeluk Zhaoling.
"Aku juga," sahut Zhaoling menepuk bahu keduanya.
"Kenapa kalian akan merindukannya?" Suara seseorang terdengar dari belakang, membuat mereka sontak menggiring wajah untuk menoleh. "Jika kalian akan pergi bersamanya!" lanjut orang itu membuat mereka terkejut.
"Maksud Guru?" ketiganya serempak bertanya dengan kebingungan.
Kakek Lon Tong berdiri menatap satu persatu wajah pemuda yang sudah dianggap sebagai cucunya sendiri. "Aku memerintahkan kalian untuk ikut bersama Aling pulang ke rumahnya. Apapun yang terjadi, kalian bertiga harus tetap bersama!" tegas kakek lagi.
"Jadi, kami tidak berpisah?" tanya Liu Wei antusias dan kakek mengangguk. "Yeeeaaahh, Guru yang terbaik!"