Panglima Perang Kerajaan Xili

Panglima Perang Kerajaan Xili
Kebencian Hijin


Pagi menjelang. Setelah asyik mengobrol bersama Pangeran dari Jixang itu, mereka memutuskan untuk kembali ke Xili. Rasanya, Xin'er sangat malas meladeni perdebatan antara Zhaoling dan Jianglie yang memperebutkan dirinya.


Keduanya tak mau mengalah untuk mendapatkan cinta dan perhatian Xin'er. Namun yang pasti, saat ini pikiran gadis itu sungguh sangat kacau. Di tempat lain, ada seorang suami yang harus dijaga perasaannya. Batin Xin'er.


"Sudahlah! Kalian teruskan saja perdebatannya. Aku mau pulang," lerai Xin'er karena mereka terus beradu mulut dan saling memberikan perhatian lebih padanya.


Hatinya menjadi dongkol kala melihat kedua pria itu asyik ribut disaat seperti ini. Xin'er segera beranjak dari duduknya, dan berlalu begitu saja meninggalkan mereka.


"Kau mau kemana?" tanya keduanya serempak yang hanya diabaikan Xin'er.


Dengan terpaksa, Jianglie membiarkan Xin'er pergi bersama pria saingan cintanya. Dia pun berjanji akan kembali lagi untuk merebut hati Xin'er.


Sesampainya di Istana, mata semua orang menatap kedatangan Putri Ketiga itu dengan tatapan kebencian. Dia dituding menggoda Pangeran Pertama. Karena sebelum pergi dari Istana, dirinya sempat berdebat dengan Ibu Suri pasal Pangeran Zhaohan sampai diusir Pangeran Ketiga.


Xin'er melewati mereka dengan cuek, walaupun tatapan membunuh dari semua orang menghakiminya. Dia terlalu malas meladeni ocehan serta mulut nyinyir mereka yang hanya akan menyakiti hatinya saja.


Zhaoling tahu, bahwa istrinya saat ini sedang bersikap tegar. Tapi, dia pun yakin hati Xin'er sangat terluka oleh ucapan pedas dari semua orang. Bergegas ia pergi ke kediaman Panglima untuk berganti pakaian menjadi Pangeran Ketiga. Zhaoling ingin menyambut istrinya di depan gerbang Istana Zhoseng, agar sedikit mengurangi kesedihannya.


Namun tak disangka, di kediaman Pangeran Ketiga ternyata sudah ada dua pelayan pribadi Xin'er dan juga pengawalnya yang sampai lebih dulu. "Bagaimana caraku masuk ke Istana Zhoseng kalau mereka bertiga ada disini?" batin Zhaoling.


Dia berpikir cepat untuk memanggil Liu Wei dan Yu Xuan agar mengalihkan ketiga orang tersebut. Dengan bantuan dari kedua pengawal bayangannya, Zhaoling segera masuk kedalam Istana Zhoseng tanpa diketahui siapapun.


Xin'er yang baru saja sampai di Istana Zhoseng langsung disambut oleh ketiga pengikutnya saat bertemu diluar. Dia pun bergegas masuk kedalam, karena semua orang mengikutinya sampai kemari. Awalnya, dia itu tak mau masuk dan masih marah pada suaminya karena sikapnya waktu itu. Tapi, saat ini tak ada pilihan lain untuknya selain bersembunyi di dalam Istana Zhoseng untuk sementara.


"Ayo, kita masuk! Mereka ingin Nona terluka," bisik Tangsin mengajak Xin'er masuk kedalam.


Xin'er yang tahu situasi buruk saat ini pun mengiyakan ajakan Tangsin, dan mengabaikan rasa marahnya pada Pangeran Ketiga.


Saat masuk kedalam, Xin'er bisa melihat ekspresi ceria dari suaminya, walaupun senyum hangatnya tak bisa terlihat dari wajahnya yang tertutup cadar hitam.


"Kau sudah sampai? Syukurlah!" ucap Zhaoling penuh kelegaan karena sempat merasa khawatir. Dia takut jika Ibu Suri atau Zhaohan datang untuk menghadang jalan Xin'er, saat dirinya pergi menyelinap tadi.


Baik Xin'er maupun ketiga pengikutnya mengira, jika ungkapan kekhawatiran tersebut karena Pangeran merasa bersalah pada Xin'er.


Zhaoling segera menghampiri istrinya, kemudian segera memeluknya erat. "Maafkan aku, Xin'er! Aku tak bermaksud kasar kepadamu waktu itu," cetusnya sambil menggenggam tangan istrinya. "Maukah kau memaafkan kesalahanku?" tanya Zhaoling penuh harap.


Mereka bertiga saling pandang, kemudian mengangguk kearah Xin'er supaya gadis itu mengiyakan dan memaafkan Pangeran. Bagaimanapun, dengan berada disisi Pangeran serta mendapat dukungannya adalah jalan keselamatan untuk Nona-nya.


Ada sedikit keraguan di raut wajah Xin'er yang terlihat saat menganggukkan kepalanya. Sebenarnya, dia sangat marah pada suaminya tersebut. Tapi, memang tak ada tempat teraman lainnya di Istana ini selain bersamanya. Pikir Xin'er.


Zhaoling segera memeluk istrinya dengan erat. Tangannya terulur mengusap kepala Xin'er dengan sayang. Dia pun mengecup kening istrinya walau terhalang cadar hitam yang menutupi wajahnya.


...💫💫💫💫...


"Dasar brengsek! Jadi, Xin'er selama ini bersembunyi di rumahnya? Kalau aku tahu dia ada di sana, mungkin sudah ku kirim pembunuh bayaran saat itu juga!" seorang wanita muda terlihat sedang marah sambil melempar barang-barang di kamarnya.


Pelayannya menunduk tak berani mengatakan apapun. Dia hanya terdiam untuk beberapa saat, kemudian mengucapkan perkataan yang membuat wanita muda itu menoleh. "Tuan Putri. Pangeran Ketiga menyambutnya dengan senang," ucap pelayan tersebut.


Putri itu memutar tubuhnya seraya mengerutkan keningnya. "Adik Ketiga memaafkan kesalahannya begitu saja? Astaga, aku tidak percaya!" serunya kemudian.


"Benar, Tuan Putri Hijin. Hamba dengar juga, orang yang menjemput Putri Xin'er itu adalah Tuan Panglima Besar." tutur pelayan menjelaskan.


Wajah Putri itu semakin terkejut. Dia telah mengetahui jelas bagaimana perangai Panglima Besar Xili itu. Walaupun wajahnya sangat tampan, tapi sifatnya kasar dan juga sombong. Dia pun terkenal dengan sebutan Tuan dingin dari Kemiliteran.


"Benarkah? Aku semakin tidak mempercayai semua ini! Bagaimana bisa si pria dingin itu mau menuruti perintah Pangeran Ketiga untuk menjemput istrinya? Sedangkan saat Pangeran Pertama menyuruhnya mengawalku pulang, dia menolaknya mentah-mentah! Apa hebatnya gadis itu, sampai Panglima Zhaoling bersedia menjemputnya sendiri?" gerutu Putri Hijin.


Pelayannya itu segera mendekat, lalu berbisik. "Tuan Putri percaya takhayul tidak?" Hijin mengedikkan kedua bahunya. "Aku rasa, Putri Xin'er memakai sihir pemikat untuk menjerat para pria. Lihat! Panglima saja takluk padanya, apalagi para Pangeran!" cetusnya menghasut.


Tampak, Hijin mengangguk karena termakan ucapan pelayannya. "Kau benar, Qin'qin! Semua Pangeran terpesona akan kecantikannya. Termasuk suamiku, Pangeran Zhaohan." Qin'qin mengangguk dengan perkataan Hijin.


"Maka dari itu, kita harus mencari orang pintar di seluruh penjuru dunia, untuk menghilangkan sihir pelet Putri Xin'er! Jangan biarkan ini berlarut, karena bisa membahayakan posisi Anda!" saran Qin'qin pada majikannya.


Hijin pun setuju akan pendapat pelayannya. "Kau benar! Aku takkan membiarkan Xin'er menjerat para Pangeran di Kerajaan Xili ataupun Kerajaan manapun dengan pesonanya. Dia harus merasakan kepedihan karena terusir lagi. Bukan cuma diusir dari kediaman Pangeran Ketiga, tapi diusir Kaisar dan seluruh rakyat Xili untuk selamanya." cicit Hijin penuh tekad seraya menyeringai.


Pelayannya ikut tersenyum melihat sang majikan yang mulai bangkit dan penuh semangat lagi, setelah sempat merasakan sedih karena dimarahi Pangeran Zhaohan.


•


Waktu itu, Hijin menegur Zhaohan agar tidak mendekati Xin'er lagi. Dia telah mendengar kabar, jika suaminya selalu menemui istri Pangeran Ketiga. Namun, bukannya mengiyakan permintaan istrinya, Zhaohan malah membentak serta menampar Hijin karena ikut campur urusannya.


Ada apa dengan Zhaohan? Bukankah wajar bagi seorang istri yang meminta suaminya untuk tidak mendekati wanita lain, terlebih itu istri adiknya sendiri? Apakah Zhaohan masih tidak puas setelah memiliki tujuh selir dan kini ingin menambah satu lagi?


Jika itu untuk dijadikan selir, tentu Hijin tidak mempermasalahkannya. Namun, permintaan Zhaohan kali ini sungguh sangat menyakiti hati dan perasaannya. Zhaohan meminta Hijin merelakan posisinya sebagai Putri Pertama untuk digantikan Xin'er. Hal itu sungguh membuat Hijin marah, tapi tak bisa melakukan apa-apa. Sebelum dirinya bisa protes, tangan Zhaohan sudah mendarat di pipi mulusnya dan meninggalkan tanda merah bekas tamparannya.


Hati Hijin sungguh sakit sekali. Dua tahun lebih dia menyandang gelar Putri Pertama. Tapi, tak sekalipun Zhaohan mengistimewakannya. Malah, tindakan suaminya itu selalu membuatnya harus merasakan kepahitan empedu. Tak selang beberapa bulan pernikahannya, Zhaohan membawa seorang wanita ke kediamannya dan mengakuinya sebagai Selir Pertama. Lalu, selanjutnya itu terus terjadi sampai sekarang. Selama hampir tiga tahun, Zhaohan sudah memiliki enam selir.


Hijin sangat iri pada Xin'er yang diakui sebagai istri satu-satunya oleh Pangeran Ketiga. Dia geram karena suaminya pun ternyata mencintai Xin'er juga. Kebenciannya semakin besar saat Zhaohan mengatakan akan merebut Xin'er dari tangan Zhaozu untuk dijadikan istri satu-satunya, dan mengusir Hijin serta semua selirnya jika Xin'er mau.


"Akan ku pastikan Xin'er menuai perbuatannya sampai diujung hayatnya. Tak ada hukuman yang lebih kejam selain mati secara perlahan dengan kondisi mengenaskan! Kita lihat saja, Xin'er!" Hijin bertekad dengan penuh amarah.