Panglima Perang Kerajaan Xili

Panglima Perang Kerajaan Xili
Serangan Jantung


"Ayah ... Ibu ...!" jeritan histeris Yoona terdengar memilukan. Gadis itu meratapi diri karena kepergian kedua orang tuanya setelah kondisinya kembali drop.


Satu jam yang lalu pihak Rumah Sakit memberikan kabar, bahwa kondisi kedua orang tua Yoona memburuk setelah di operasi.


Selain lukanya yang cukup parah, faktor usia pun menjadi pemicu, sehingga mengakibatkan keduanya tak mampu bertahan.


Akhirnya, kedua orang tua Yoona menghembuskan nafas terakhir setelah mendapatkan perawatan khusus sebelumnya.


Jerry mendekap tubuh rapuh yang bergetar hebat itu. Tak ada yang terucap dari bibir tebalnya__yang ada hanya penyemangat agar Yoona bisa lebih sabar dalam menghadapi cobaan hidup ini.


Pria itu memberikan semangat lewat sentuhan kasih sayang, agar Yoona tak merasa sendirian. Jerry berharap gadis itu lebih kuat dan juga tabah dalam menerima semuanya, walaupun memang sangat sulit untuk menjalaninya.


"Kenapa? Kenapa?" Yoona mengulangi pertanyaannya terus menerus. Dunianya seakan runtuh ketika mendapati orang yang dikasihi meninggalkannya begitu saja.


Jerry terus mengusap punggung Yoona dengan lembut. Melihat Yoona yang rapuh seperti ini, Jerry merasa sangat terpukul. Dia merasa gagal menjadi seorang Dokter yang tak bisa menolong pasiennya.


"Maafkan aku!" lirihnya seraya terus mendekap tubuh lemah tersebut. "Seharusnya aku bisa menyelematkan nyawa kedua orang tuamu. Tapi ...." Pria itu tak melanjutkan ucapannya sebab Yoona mengurai pelukannya.


"Tidak, Dokter! Jangan katakan itu!" ucap Yoona disela isak tangisnya. Memang, bukan salah Jerry jika kedua orang tua Yoona meninggal. Tapi, gadis itu hanya bisa menyalahkan diri sebab tak bisa melindungi kedua orang terkasih setelah dirinya hidup kembali.


Betapa besar penyesalan Yoona ketika dirinya yang selalu fokus untuk mengetahui cerita tentang Kerajaan Xili dan mengabaikan kedua orang tuanya. Sungguh, dia teramat menyesali perbuatannya.


"Andai aku tak fokus untuk mencari hal yang tak berguna, mungkin mereka masih ada!" lirihnya masih dengan tangisan. Terdengar nada penyesalan dari ucapan tersebut.


Tak bisa dibayangkan kondisi kejiwaan Yoona saat ini. Yang pasti, jiwanya terguncang dan ia sangat terpukul akan kepergian kedua orang tuanya untuk selama-lamanya.


Jerry kembali mendekap tubuh yang berguncang hebat itu. Dia mengecup pucuk kepala Yoona dengan sayang, "Jangan bersedih lagi, oke! Kamu masih punya aku," cetusnya dengan lembut. "Tuhan memberikan cobaan kepada umatnya sesuai batas kemampuannya. Aku yakin kamu pasti kuat, Nona Sin!" lanjutnya kemudian.


Bukannya berhenti, Yoona malah semakin menangis. Dia menenggelamkan wajahnya di dada bidang Jerry tanpa mengeluarkan sepatah katapun untuk menyahuti perkataan pria itu barusan. Yoona tak mau terlena hanya karena dirinya kesepian saat ini. Lebih tepatnya gadis itu merasa takut_takut akan kehilangan lagi.


Sudah cukup bagi Yoona merasakan kepahitan hidup di dunia mimpi seperti Kerajaan Xili. Berkali-kali jatuh hanya untuk bertahan hidup, namun tetap saja dirinya mati dan kembali ke dunia nyata.


Tapi, dirinya tidak tahu apakah itu anugrah atau sebuah bencana? Sebab, baik di Xili atau dunia asli, ternyata hidupnya terus menerus terancam.


Rasa sakit akan kehilangan sudah dirasakan ketika dirinya mendapati kematian ayah serta kakaknya di dunia mimpi itu. Perdana Mentri Yun Xiaoyu dan kakaknya Yun Xiaolang, tewas ketika mereka diserang sekelompok serigala di hutan angker.


Kini, rasa itu datang lagi bahkan lebih dari apa yang dirasakan sebelumnya. Kedua orang tua di dunia nyata harus pergi untuk selamanya, meninggalkan Yoona dengan rasa yang menyesakkan dadanya.


Yoona sangat rapuh saat ini, sehingga dirinya memang benar-benar membutuhkan seorang teman yang bisa menghiburnya.


Jerry mengerti akan hal ini. Maka dari itu, ia tak pernah sedikitpun melepaskan pelukannya di tubuh rapuh tersebut.


Setelah acara pemakaman selesai, Yoona kembali ke kediamannya. Dirinya dibantu kepolisian mencari bukti-bukti lain untuk menangkap Mayor Bang Khong, atau pria yang mirip dengan Pangeran Zhaohan.


Tak terkecuali, Jerry pun ikut dalam pencarian bukti dengan mereka. Pria itu tak membiarkan Yoona berjuang seorang diri untuk mendapatkan bukti kejahatan musuh, sebab dia tahu bagaimana Mayor Bang Khong itu.


Sehingga, seluruh prajurit termasuk Yoona tewas dalam tragedi tersebut. Beruntung, Yoona bergerak cepat untuk menghindar walaupun tubuhnya terlempar ke sungai yang tak jauh dari tempat kejadian.


Walaupun seperti itu, tetap saja lukanya cukup parah dan dirinya harus koma selama hampir delapan bulan lamanya. Yoona bisa hidup kembali berkat Dokter Jerry, atau Letnan Jendral dari kesatuan khusus kemiliteran.


Pria itu adalah Agen rahasia yang bertugas untuk membasmi para pengkhianat atau musuh yang menyamar di Negaranya. Karena identitas khususnya itu, maka Jerry mengubah dirinya menjadi seorang Dosen di salah satu Universitas ternama di Negaranya.


Tujuannya hanya untuk membasmi semua penjahat yang bersembunyi di Negaranya tersebut.


"Apa rencana kamu selanjutnya, Nona Sin?" tanya Jerry.


Yoona melirik sekilas, kemudian fokus kembali ke depan. Dirinya saat ini benar-benar tak tahu harus berbuat apa. Rasanya, dunia sudah kiamat ketika kedua orang tuanya pergi meninggalkan Yoona untuk selamanya. "Entahlah, Dokter! Aku tak tahu harus berbuat apa," sahutnya malas.


Helaan nafas terdengar dari mulut Jerry. Tangannya terulur mengusap kepala Yoona dengan lembut. "Seorang prajurit sepatutnya tegar dalam menghadapi masalah apapun. Aku tahu, kamu adalah gadis yang kuat dan juga cerdas. Maka dari itu, berhentilah meratapi diri dan mulailah pencarian bukti." kata Jerry.


"Pihak kepolisian tak membiarkan aku bergerak sesuka hati. Mereka membatasi ruang gerak selama tak ada bukti kuat yang mereka temukan!" sahut Yoona sedih.


"Apa kamu ini bodoh? Kamu kan bisa menyamar untuk mencari buktinya tanpa perlu melibatkan kepolisian!" cibir Jerry mengejek Yoona.


Netra mutiara itu membeliak sebal menoleh kearah Jerry. "Hah, bodoh? Dengan mudahnya kamu mengatakan itu tanpa beban apapun!" ketusnya sebelum melanjutkan ucapannya lagi. "Kepolisian mengawasi setiap saat karena takut akan bertindak diluar batas. Bagaimana aku bisa keluar jika seperti ini?"


Jerry tersenyum miring. Dia meraih tangan Yoona dan menggenggamnya dengan lembut. "Kan ada aku!" ucapannya sukses membuat Yoona salah tingkah. "Dengarkan aku, Sin Yoona! Selama aku hidup, aku tidak akan membiarkan dirimu dalam bahaya." lanjutnya kemudian.


Mendadak, jantung Yoona berdetak lebih kencang seperti ingin meledak. Dia sangat gugup diperlakukan manis oleh Jerry. Namun Yoona tersadar, jika dirinya tidak boleh terlena akan cinta yang semu.


Melihat wajah gadis di hadapannya memerah, Jerry mendadak panik. Ia segera menempelkan telapak tangan di kening Yoona dan mengelus pipi gadis itu dengan lembut. "Apa kamu sakit? Wajahmu merah sekali!" seru Jerry cemas.


Yoona jadi gelagapan dibuatnya. Ia segera menepis tangan Jerry pelan. "A-aku baik-baik saja! Ja-jangan pedulikan lagi!" ucapannya terbata membuat Jerry menjadi semakin cemas.


"Aku akan mengambil obat demam untukmu!" cetusnya seraya beranjak dari tempat duduknya. Bukan Jerry tak paham akan situasi saat ini yang terjadi kepada Yoona. Tapi, dia justru tak ingin membuat Yoona malu akan perlakuan manisnya. Lebih tepatnya, dia berpura-pura bodoh agar Yoona bersikap biasa saja.


Gadis itu melongo ketika melihat Jerry beranjak dengan raut wajah panik. Yoona meraup udara dalam-dalam sambil mengipas-ngipasi wajah menggunakan tangan. "Dokter bodoh. Apa dia tak tahu kalau aku tersipu oleh perlakuan manisnya? Tapi, untung saja dia tak mengerti. Kalau tidak, aku bisa tambah malu!" gumamnya.


Jerry tersenyum sebelum kembali dengan obat dan segelas air putih di tangannya. "Minum dulu obatnya biar kamu tidak demam!"


"Baiklah!" Yoona pasrah meminum obat yang diberikan Jerry padanya. Untuk menolak, dia tak bisa! Sebab dirinya akan bertambah malu jika Jerry tahu bahwa Yoona tersipu.


Jerry kembali tersenyum setelah Yoona meminum obat yang dia berikan. Sebenarnya itu bukan obat demam, melainkan suplemen penambah darah. Jerry tahu jika Yoona akhir-akhir ini jarang tidur dan sering mengalami sakit kepala.


Tangannya kembali mengelus kepala Yoona dengan lembut. "Gadis pintar," ucapnya sembari tersenyum kemudian melangkah pergi.


Yoona hampir tersedak dibuatnya. Pria itu sepertinya sengaja mempermainkan jantung Yoona, agar dirinya mati muda. "Aaaa-astaga. Dokter sialan ini menguji imanku!" batin Yoona menatap sebal.


...Bersambung ......