Panglima Perang Kerajaan Xili

Panglima Perang Kerajaan Xili
Tawanan Ibu Suri


"Yang Mulia. Putri Xin'er masih hidup," seketika wanita tua itu menoleh dengan terkejut. Beliau menatap tajam orang di hadapannya yang membawa kabar berita tentang Xin'er.


"Kau yakin itu Xin'er? Bukankah dia mati dimakan Serigala? Bahkan, Zhaoling sendiri yang memakamkan jasad istrinya itu!" tanya Ibu Suri.


"Tentu, Yang Mulia. Saya sendiri sudah mengikutinya selama seminggu ini dan memastikan bahwa wanita itu adalah Putri Xin'er. Namun, dia mengganti nama menjadi Sin Yoona dan menjadi anak angkat dari pedagang obat herbal, Tuan Khong Guan" sahut pria yang menjadi mata-mata itu.


Ibu Suri mengepalkan tangannya, kemudian memukul meja dengan keras. "Kurang ajar! Ternyata, wanita itu masih hidup. Nasibnya sungguh mujur, karena masih bisa selamat dari kekejaman hutan angker."


"Dia hanya sedikit beruntung saja, Yang Mulia. Jika bukan karena Tuan Khong merawat lukanya, maka dia tak kan selamat seperti ayah dan kakaknya. Tapi, bersyukurlah karena dia ternyata tak mau kembali ke Istana." seloroh mata-mata itu.


Wanita tua itu masih belum merubah ekspresi wajahnya. Beliau sangat geram mendapati kenyataan bahwa Xin'er selamat dari kematian. Jika Zhaoling tahu bahwa istrinya masih hidup, tentu dia tak kan pernah menerima Ming He untuk dijadikan istri, dan itu akan membuat rencana Ibu Suri gagal.


"Apa Zhaozu sudah tahu kalau istrinya masih hidup?" tanya Ibu Suri kemudian dengan perasaan cemas.


Namun, jawaban mata-matanya membuat Beliau sedikit lega. "Sepertinya belum, Yang Mulia. Sebab, saya melihat bahwa Pangeran Ketiga masih sering mendatangi makam di taman belakang." sahut mata-mata itu, kemudian berbicara lagi. "Yang Mulia. Ada hal lain lagi yang harus Anda ketahui," ucapnya dengan serius.


Ibu Suri mengernyitkan dahinya, "katakanlah!"


Mata-mata tersebut menceritakan apapun yang diketahuinya kepada Ibu Suri, perihal perampok bertopeng yang meresahkan kalangan Bangsawan. Awalnya, Ibu Suri tak tertarik dengan cerita tersebut. Namun, saat mata-mata itu menyebutkan bahwa Xin'er menjadi bagian perampok bertopeng itu, matanya berbinar dengan senyum penuh arti.


Beliau menyeringai menampakkan tawa jahatnya karena sudah memiliki rencana. Tentunya, rencana yang akan membuat Xin'er celaka. Beliau segera mengadakan rapat di Istana Dalam, untuk membahas masalah perampok bertopeng yang akhir-akhir ini selalu meresahkan kalangan Bangsawan.


Tentu saja, para Bangsawan sangat setuju untuk menumpas perampok bertopeng itu. Mereka kesal karena perampok bertopeng selalu menggagalkan rencana, dan juga membunuh rekan-rekan mereka.


Ibu Suri sangat senang mendengar bahwa para Bangsawan setuju dengan idenya. Dengan cara ini, maka Beliau bisa menyingkirkan Xin'er tanpa harus turun tangan sendiri. Keadaan Xin'er saat ini justru memudahkan jalannya untuk menyingkirkan tanpa harus bermusuhan dengan cucunya.


Jika Zhaozu tahu bahwa Xin'er masih hidup, maka itu sudah terlambat. Wanita itu akan mati karena hukuman, serta kebencian rakyat. Sangat sederhana, bukan!


Tapi Ibu Suri tak tahu, bahwa Zhaozu saat ini sedang mencari keberadaan Xin'er setelah mendengar ucapan Mengshu. Walaupun Zhaozu tak tahu, bahwa istrinya itu ikut dalam komplotan perampok bertopeng. Dia akan terus mencari dimanapun Xin'er berada.


Setelah memutuskan cara untuk menumpas para perampok bertopeng itu, Ibu Suri dengan leluasanya memberikan Token miliknya sebagai alat supaya orang yang diutusnya bebas melakukan sesuatu. Tapi sebelum itu, Beliau memastikan bahwa tugas ini tidak diketahui oleh Kaisar ataupun Zhaozu sendiri.


Tugas ini bersifat rahasia, dan hanya diketahui oleh orang-orang dalam bagian organisasinya termasuk Pangeran Zhaohan dan Pangeran Zhaokang.


Ibu Suri sengaja tidak memberitahu semua orang bahwa Xin'er masih hidup dan ikut menjadi bagian dari perampok bertopeng. Beliau ingin supaya semuanya berjalan lancar sesuai dengan apa yang diinginkannya, seperti air yang mengalir ke hilir.


Keberuntungan sedang berpihak kepada mereka. Setelah beberapa hari mencari keberadaan perampok tersebut, akhirnya membuahkan hasil juga. Dan kabar yang mengejutkan adalah, bahwa Zhaoling saat ini ditahan oleh perampok bertopeng setelah mereka berhasil merampok Bangsawan di perbatasan.




Suara pedang saling membentur satu sama lain, terdengar di hutan tempat Perampok Bertopeng sebelumnya. Namun, saat ini bukan mereka yang bertarung, melainkan Panglima Xili dan kedua pengawal bayangannya melawan pasukan Xili yang dipimpin Jendral Hui.


Jendral Hui yang tak bisa menunjukan Lencana dari Kaisar, terpaksa melawan pemimpinnya sendiri, Panglima Zhaoling. Padahal, dulu ia sangat menghormati pemimpinnya tersebut dan tak kan pernah meragukan apapun rencana yang telah dibuat Zhaoling.


Tapi kini tingkahnya sangat aneh, membuat ketiga pria dingin itu mencurigainya. Bukan Zhaoling tak berbelas kasih terhadap pasukannya sendiri. Tapi, demi menegakkan hukum yang seadil-adilnya, ia pun berani mengambil keputusan ini tanpa dipaksa atau diminta siapapun.


Merampok adalah sebuah kejahatan, ditambah lagi mereka juga membunuh orang yang dirampok tersebut. Sungguh, itu perbuatan yang tidak berprikemanusiaan. Namun, ada alasan lain dibalik perampokan itu sendiri dan ini menyangkut rakyat miskin juga. Apa Zhaoling akan tega mengabaikannya?


Tentu tidak!


Sebagai seorang pemimpin yang baik, dia harus bertanggung jawab dan melindungi rakyatnya. Tapi, merampok adalah perbuatan dosa dan juga tercela apapun alasannya. Ingat, perbuatan buruk itu tak baik untuk ditiru!


Zhaoling harus menegakkan hukum sesuai dengan peraturan yang ada. Sebagai anggota Kerajaan, juga seorang Panglima. Dia harus memutuskan hukuman yang pantas untuk mereka seadil-adilnya, sesuai perbuatan yang dilakukan.


Bukan hanya para perampok itu yang bersalah, tapi Bangsawan juga terlibat dalam kejahatan ini. Jika mereka tak melakukan penindasan terhadap rakyat miskin, maka tak kan ada pemberontakan seperti ini.


Seharusnya, Bangsawan membantu rakyat yang kesulitan dalam perekonomian, bukan malah sengaja mempersulit mereka dengan pemungutan pajak yang sangat besar. Keringat mereka diperas hanya untuk kemewahan pribadi. Rakyat terpaksa harus rela sengsara demi menyediakan kebutuhan para Bangsawan. Sedangkan mereka hanya bersenang-senang diatas penderitaan rakyat jelata.


Zhaoling menahan pedang Jendral Hui menggunakan tangannya. "Kau tidak boleh melakukan tindakan gegabah, Jendral Hui! Aku akan membicarakan masalah ini dengan Yang Mulia. Aku yakin, Kaisar pasti mempertimbangkan segalanya dengan penuh pengertian. Bagaimana pun, Kaisar adalah orang yang bijaksana!" tegasnya masih menahan emosi.


Jendral Hui termenung. Ada sesuatu yang mencubit hatinya saat itu. Melihat bahwa Zhaoling sangat percaya diri untuk bisa menyelesaikan masalah perampok bertopeng ini, membuat dirinya yakin jika itu pasti keputusan yang paling baik.


Jendral Hui tahu bahwa Zhaoling adalah orang yang baik dan bijaksana seperti Kaisar. Jujur saja, Jendral Hui sangat mengagumi sosok Kaisar dan Zhaoling yang memiliki sifat pemurah dan selalu membela kebenaran. Tapi, saat ini ia harus berbohong untuk menyelamatkan hidup orang yang disayanginya. "Maafkan aku, Panglima! Aku tahu, setelah ini kau akan membenciku dan mungkin membunuhku. Tapi, selama aku hidup, aku akan berusaha melindungi istri dan anakku dari kekejaman mereka." gumam Jendral Hui dalam hatinya.


Dia tak bisa mengutarakan apapun kepada Zhaoling, karena saat ini keluarganya sedang menjadi tawanan Ibu Suri.


"Tidak perlu menunggu nanti, Panglima. Aku yang diberikan tugas oleh Kaisar untuk menumpas semua perampok bertopeng saat ini juga. Walaupun aku harus melawan dirimu, aku akan siap!" tegas Jendral Hui.


"Kalau begitu, bersiaplah merima kemarahanku Jendral! Hiyaaaatt," Zhaoling menghempaskan pedang Jendral Hui yang dipegang tangannya dengan mudah. Ia melompat sedikit keatas sambil mengulurkan tinjunya ke depan.


Bugh


...Bersambung, gaess ......