Panglima Perang Kerajaan Xili

Panglima Perang Kerajaan Xili
Selalu mengancam


Malam semakin larut. Hawa dingin mulai terasa menusuk tulang, karena pergerakan cepat dari lajunya kuda. Dua orang yang berada diatasnya terlihat menggigil kedinginan.


Perjalanan dari Kota Yongsheon menuju Ibu Kota cukup jauh. Mereka harus melewati beberapa Desa, Hutan, serta Pegunungan. Namun, belum setengah perjalanan, Zhaoling menghentikan laju kudanya.


Xin'er yang melihat kuda yang ditungganginya berhenti, segera menoleh kearah pria dingin dibelakangnya. "Ada apa? Kenapa kita berhenti disini?" tanya Xin'er heran.


Wajah Zhaoling menengadah keatas, melihat langit yang gelap. "Sepertinya akan turun hujan badai," ucap Zhaoling tiba-tiba.


"Hujan badai? Kau bercanda?" Zhaoling menggelengkan kepala sebagai jawaban pertanyaan Xin'er. "Dari mana kau tahu akan ada badai?" cibir Xin'er kemudian.


Tangan Zhaoling menunjuk keatas langit, dengan wajah yang menghadap gadis itu. "Kau dengar? Suara gemuruh bahkan sangat nyaring dan terlihat gumpalan awan hitam di langit," sahutnya.


Xin'er tak mendengar suara gemuruh dan tak melihat awan hitam apapun dari langit seperti yang dikatakan Zhaoling. Dia mencebik serta mengejeknya. "Kau pikir aku anak kecil yang mudah dibohongi? Langit malam memang gelap dan semua awan terlihat hitam. Lalu, aku pun tak mendengar suara gemuruh pertanda akan turun hujan." ketusnya seraya memutar bola mata jengah.


"Kau tak percaya?" tanya Zhaoling dan Xin'er menggelengkan kepala dengan yakin. "Terserah!"


Lalu, Zhaoling menghentakkan kakinya lagi di tubuh kuda dengan keras supaya lari kuda itu lebih kencang. Xin'er yang dibawa dengan kecepatan penuh tentu protes. "Bisakah kau itu membawanya dengan lebih santai? Aku mulai merasakan perutku mual jika kudamu berlari terlalu cepat," ucapnya lekas membekap mulut.


"Supaya cepat sampai," sahutnya cuek.


Xin'er tak bisa berkata lagi. Dia hanya bisa diam sambil menahan gejolak diperutnya karena guncangan keras dari kuda yang mereka tunggangi.


Awalnya, Zhaoling berniat membawa kudanya dengan santai supaya bisa mengobrol banyak dengan istrinya dari hati ke hati. Dan tentunya, biar terlihat lebih romantis. Namun, firasat buruknya tak pernah salah. Malam ini akan turun hujan badai. Walaupun orang lain tak bisa melihat awan hitam yang sudah bergumul, serta suara gemuruh yang nyaring terdengar. Tapi, karena ilmu Zhaoling cukup tinggi sampai dia bisa memprediksi kejadian alam yang akan terjadi.


"Hiyaa," hentakkan kaki semakin keras membuat kuda yang ditunggangi berlari makin kencang.


Xin'er yang sudah tak tahan dengan rasa tak enak diperutnya segera berteriak. "Aling. Hentikan kudanya! Aku mau muntah,"


Mendengar Xin'er berteriak, Zhaoling segera menarik tali pengekang supaya kudanya berhenti berlari. Setelah kuda berhenti, Xin'er segera menunduk dan ..."Wuueek ... wuueek," ia memuntahkan semua isi perutnya.


Zhaoling memijat tengkuk istrinya perlahan. "Kau baik-baik saja?" tanya pria itu cemas.


Xin'er yang kesal segera menepis tangan Zhaoling dengan keras. "Ku bilang jangan terlalu kencang membawa kudanya! Aku tak biasa berlari dengan kuda." hardiknya sebal. "Masih mending naik motor daripada naik kuda," desisnya masih berusaha mengeluarkan isi perutnya.


"Motor? Apa itu motor? Apa motor lebih cepat larinya daripada kuda?" tanya Zhaoling keheranan.


"Tentu saja! Motor larinya bisa melebihi lari kudamu ini. Sayang, di zaman ini belum ada motor!" cetusnya sambil mengelap mulut.


Zhaoling penasaran dengan hewan yang bernama motor ini. Jika hewan itu larinya melebihi kuda, maka itu sangat bagus untuk dibawa perang. Zhaoling bertekad dalam hati, untuk menangkap hewan bernama motor tersebut. "Dimana aku bisa mendapatkan motor?" tanya-nya dengan polos.


Xin'er berdecak sebelum menjawab. "Di seluruh daratan ini, tak kan ada yang namanya motor. Hanya di zaman modern saja motor diproduksi," sahutnya santai.


"Diproduksi? Apa induk hewan itu tak ada di daratan sekitar sini? Dan ... apa maksudmu zaman modern? Memangnya, zaman kita belum modern?" seberondong pertanyaan terus terlontar dari mulut Zhaoling membuat Xin'er kebingungan menjawab.


"Motor bukan sejenis hewan. Tapi, itu sebuah kendaraan yang terbuat dari besi-besi serta memerlukan bahan bakar untuk menjalankannya." jawab Xin'er. Melihat Zhaoling dengan wajah kebingungannya, gadis itu lekas mengalihkan pembicaraan. "Ah, sudahlah! Kau takkan mengerti. Intinya, benda itu tak ada di zaman sekarang. Ya sudah, kita jalan lagi! Aku sudah lebih baik," ucapnya seraya menegakkan kembali tubuhnya.


Kuda pun berlari lagi. Tapi kali ini, larinya tak seperti sebelumnya karena Zhaoling memperlambat sesuai keinginan istrinya. Melihat wajah pucat Xin'er, dia tak tega.


Gludugg ... duaaarrrrr


Seperti yang dikatakan Zhaoling sebelumnya, malam ini akan turun hujan badai di sekitaran. Wajah Xin'er berubah semakin pucat kala butiran air dari langit itu turun perlahan mengenai tubuh mereka.


"Kau benar, Aling. Turun hujan malam ini," cetus Xin'er memuji kepandaian Zhaoling memprediksi cuaca. "Kalau begitu, kita harus cepat! Aku takut cuaca semakin buruk dan seperti yang kau katakan sebelumnya, bahwa akan terjadi badai." ucapnya sedikit menoleh.


"Aku sudah mengatakannya padamu, tapi kau tak percaya." Xin'er mengerucutkan bibirnya mendengar ucapan Zhaoling. "Karena perjalanan masih jauh, kita sebaiknya mencari penginapan terdekat!" ucapnya lagi.


Xin'er hanya bisa mengiyakan ajakan Zhaoling untuk bermalam di penginapan terdekat. "Terserah kau saja,"


Kuda pun berlari menuju desa terdekat untuk mencari penginapan. Dia tak mau sesuatu hal buruk terjadi jika mereka melanjutkan perjalanan. Bagi Zhaoling, hal itu tentu tak masalah. Namun, Xin'er seorang wanita dan pasti takkan kuat bepergian dengan kuda di malam badai.


"Pesan kamar hanya untuk malam ini," ucapnya kepada pemilik penginapan saat mereka sudah sampai.


Si pemilik penginapan memperhatikan penampilan Zhaoling dari atas sampai bawah, kemudian beralih pada gadis cantik disampingnya. "Mau satu atau dua?" tanya si pemilik.


Xin'er maju untuk menjawab pertanyaan si pemilik, namun Zhaoling segera mendahuluinya. "Satu," sahutnya cepat.


"Hei. Apa maksudmu dengan satu? Apa kita akan tidur bersama di satu kamar? Atau, kau akan tidur diluar bersama orang-orang itu?" hardik Xin'er seraya menunjuk beberapa pria yang duduk di bangku penginapan tersebut sambil minum-minum. "Kau mengambil keputusan tanpa berunding denganku," cetusnya lagi.


Pemilik penginapan tertawa kecil melihat ekspresi marah yang ditunjukan Xin'er. Dia berpikir, mungkin pasangan di depannya itu sedang bertengkar. Makanya, si wanita memilih tidur terpisah. "Jadinya mau satu atau dua, Tuan?" tanya si pemilik memastikan.


Zhaoling segera mendekat seraya memajukan wajahnya ke dekat telinga Xin'er. "Di sini banyak musuhku berkeliaran, dan kau sekarang bersamaku. Tidak menutup kemungkinan mereka akan berbuat jahat seperti yang dilakukan kakak tirimu kemarin. Apa kau ingin mencobanya?" bisik pria itu menyeringai.


Xin'er segera menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Satu aja paman," ucapnya cepat pada pemilik penginapan.


Si pemilik tersenyum seraya mempersilahkan mereka naik ke lantai dua penginapan tersebut. Mereka juga diberikan fasilitas seperti makan makan enak, serta pelayanan yang lain yang mereka butuhkan.


"Isi perutmu dengan makanan yang banyak, supaya tidak sakit!" kata Zhaoling tanpa menoleh.


Xin'er mendelik sebal mendengar ucapan pria dingin tersebut. "Tak usah kau pedulikan aku! Aku mau makan atau tidak, itu urusanku. Kau makan saja sendiri," ketusnya dengan jutek.


Mendengar ucapan bernada judes itu membuat Zhaoling menoleh dengan tatapan dingin. Dia pun segera mendekat dan duduk dilantai bersama Xin'er. Wajahnya menyeringai menyiratkan suatu ancaman. "Baiklah. Jika kau tak mau makan, maka aku yang akan memakanmu!"


Xin'er membulatkan mata mendengar sebuah kata ancaman yang pasti selalu Zhaoling tepati. "A-aku akan makan sekarang! Se-sebaiknya kau makan juga," sahutnya dengan gugup. Dia lekas menaruh makan di mangkuk dan menyerahkannya pada Zhaoling.


Zhaoling menyunggingkan bibirnya melihat tingkah lucu sang istri. Dia selalu berhasil menggoda Xin'er yang ketakutan akan ancamannya. "Gadis pintar," ucapnya seraya mengelus kepala Xin'er lembut.


Sedangkan Xin'er hanya berdecak sebal mendapat perlakuan dari Zhaoling yang terkesan selalu menggunakan ancaman untuk berbagai hal. "Pria menyebalkan," gumamnya lirih yang masih bisa didengar Zhaoling.


...Bersambung .......