
"Nama apa yang kau berikan pada putramu, Wei?" Zhaoling bertanya tanpa menatap orangnya. Wajahnya tetap fokus ke depan dengan tangan sibuk mencabut ubi dari tanah.
Liu Wei menoleh, kemudian kembali fokus pada pekerjaannya. "Liu Chen," sahutnya cepat.
Zhaoling dan Yu Xuan seketika menghentikan pekerjaannya. Keduanya menatap Liu Wei yang tampak fokus bekerja, "nama yang bagus. Apa kau memikirkan nama ini jauh-jauh hari sebelumnya?" puji keduanya.
"Tentu saja! Kalian tahu, aku bahkan menyiapkan nama ini sebelum kami menikah." ungkap Liu Wei dengan riang.
Kedua sahabatnya terkekeh mendengar perkataan Liu Wei yang menurutnya lucu. Mereka tertawa sebab tak menyangka jika Liu Wei yang sejatinya seorang pria dingin dan cuek ternyata bisa mempersiapkan sebuah nama untuk anaknya bahkan sebelum menikah. Bagaimana kalau anak yang lahir adalah Bayi perempuan?
"Keren kan, aku?" sambung Liu Wei ketika melihat kedua sahabatnya tertawa sambil mengacungkan jempol kearahnya.
Yu Xuan menimpali ucapan temannya itu. "Wei, aku juga sebenarnya sudah mempersiapkan nama untuk anakku kelak. Jadi, bukan cuma kau saja yang keren, aku juga keren!"
Kini, Zhaoling dan Liu Wei yang saling melirik tak percaya. "Kau pun?" Yu Xuan mengangguk. "Jadi, siapa nama yang akan kau berikan pada anakmu kelak?" tanya keduanya serempak.
"Ada deh! Rahasia," ucapnya berbisik sambil terkekeh.
Mereka pun tertawa bersama karena ternyata di saat seperti ini, hidup mereka lebih tenang dan juga bahagia tanpa ada beban apapun. Peperangan dan juga perdebatan dalam Istana yang tak ada hentinya, membuat mereka jengah. Ditambah perebutan kekuasaan yang membuat banyak korban berjatuhan.
Kini, ketiganya telah nyaman menjalani kehidupan sebagai rakyat biasa dan bisa berbahagia bersama keluarga kecil mereka. Tentu, keputusan ini pun tak lepas dari nasihat kakek Lon Thong. Waktu di Kuil Kuno, Zhaoling meminta pendapat kepada kakek untuk masalah kehidupan mereka. Kakek Lon setuju jika mereka hidup menjadi seorang pengembara seperti dirinya, tapi dengan catatan harus tetap kembali jika keluarganya membutuhkan.
Misalnya, sesuatu terjadi kepada ibu atau ayahnya, Zhaoling harus datang membantu, karena itu sebagai bakti seorang anak kepada orang tua. Dan kakek berharap Zhaoling tidak pernah menjadi anak durhaka walaupun orang tuanya yang berbuat salah sekalipun.
"Aling. Apa kau sudah menjual hasil ladang kita yang kemarin? Sepertinya, aku akan membutuhkan banyak uang untuk perlengkapan Liu Chen kelak!" ujar Liu Wei seraya menatap Zhaoling.
Pria itu menggelengkan kepalanya pertanda belum menjual hasil ladang mereka. "Aku berencana menjualnya setelah selesai panen ubi ini," sahut Zhaoling.
Ya. Saat ini mereka sedang memanen ubi jalar yang telah ditanam mereka, untuk dijual ke pasar. Bukan cuma ubi, sayuran, buah-buahan, bahkan gandum pun mereka tanam dan jual ke pasar setelah di panen bersama-sama. Hasilnya pun akan dibagi rata tanpa terkecuali. Zhaoling, Liu Wei dan Yu Xuan mendapatkan bagian yang sama.
Selesai memanen, mereka bergegas pulang dan membersihkan tubuh, lalu berangkat ke pasar untuk menjual hasil panen mereka. Namun, tak disangka ada kejadian menarik di pasar yang mereka datangi hari ini
Sekelompok preman sedang berulah membuat keonaran dengan cara meminta uang keamanan kepada para pedagang yang menggelar dagangannya di pasar tersebut. Mereka tak segan memukul jika tak diberikan bayaran sesuai permintaan.
Ketiga pria itu masih mengamati gerak-gerik mereka dari kejauhan. Mereka tak ingin semua orang tahu bahwa ketiganya seorang Pendekar ahli pedang ataupun kungfu. Jadi, mereka hanya diam namun pergerakannya tak diketahui siapapun.
Saat salah satu preman akan memukul seorang pedagang wanita, dari kejauhan Zhaoling hanya menggerakkan tangan seperti membentuk sesuatu yang kemudian ia lemparkan kearah preman pasar tersebut. Tanpa di duga, tubuh preman itu terjengkang ke belakang sebelum tangannya sempat memukul pedagang wanita tersebut.
Bruk
Tubuhnya terjatuh dengan keras ke tanah tanpa diketahui penyebabnya. "Argh," ringisanya terdengar saat merasakan sakit di dada akibat pukulan seseorang yang entah berasal darimana.
"Siapa itu?" semua orang memperhatikan sekitaran, namun tak mendapati siapapun yang merupakan pelaku penyerang tiba-tiba itu. "Beraninya bermain-main denganku!" ucap pemimpin preman tersebut seraya menendang bangku kedai milik pedagang di sana, dan itu membuat semua dagangannya jatuh berserakan.
Si pemilik kedai segera berteriak sambil memunguti dagangannya. Ia pun bersimpuh dibawah kaki preman tersebut. "Tuan, jangan menghancurkan dagangan saya! Saya cuma rakyat kecil yang membutuhkan banyak uang untuk keperluan sehari-hari. Mohon Tuan untuk tidak menghancurkannya!" pintanya memelas.
Tapi, si preman tak perduli dengan rengekan pedagang tersebut. Dia bahkan menendang tubuh ringkihnya dengan cukup keras. "Persetan dengan keperluan hidupmu. Aku ingin orang tadi segera menampakan diri saat ini juga. Ayo, tunjukan wajahmu sialan!" teriaknya dengan geram.
Jeritan para pedagang tak dihiraukan oleh preman itu, dan mereka semakin menjadi. Tapi, itu tak berlangsung lama, karena ketiga pria dingin itu segera bertindak.
Swosh
Hembusan angin kencang menerpa sekitaran, mengakibatkan semua orang harus menutupi Indra Penglihatan guna melindungi mata. Secepat kilat, tubuh para preman sudah jatuh di tanah dengan luka lebam akibat pukulan seseorang tanpa diketahui. Mereka tak dapat menyaksikan apa yang terjadi sesungguhnya dan siapa pelakunya. Tapi yang dapat dipastikan saat ini, bahwa mereka senang melihat para preman sudah berjatuhan seperti itu.
"Rasakan itu," cibir semua pedagang kepada para preman itu termasuk ketiga pria dingin pelaku penyerangan tersebut.
Semuanya tidak ada yang mengetahui siapa orang yang telah melakukan hal tersebut kepada para preman pasar. Namun, ada seorang wanita yang berdiri tak jauh dari tempat itu dan dia melihat kejadian tersebut.
Seketika, senyum wanita itu terbit bagai Mentari pagi. "Pria yang menarik," ucapnya seraya melangkahkan kaki menuju pasar itu.
Saat ini, keadaan pasar cukup kacau dan berantakan akibat ulah preman, ditambah angin kencang yang berhembus tadi. Mereka kebingungan akan nasib dagangannya yang rusak dan sudah tak bisa dijual kembali.
"Bagaimana ini? Kita belum mendapat uang sepeserpun," lirih mereka kebingungan.
Tapi, tiba-tiba seorang wanita datang menghampiri dan memborong semua barang dagangan mereka, tanpa satupun terlewat. Terkesan cukup aneh sih, tapi mereka tak perduli. Yang terpenting saat ini adalah uang yang dihasilkan dari hasil penjualan barang dagangan hari ini. Kenapa dan untuk apa wanita itu membeli semua barang dalam jumlah banyak, mereka tak mau bertanya walaupun penasaran.
Wanita itu pergi dengan menggunakan kuda, sedangkan barang-barangnya dibawa menggunakan tiga kereta barang menuju alamat yang sudah diberitahukan. Sebelum pergi, wanita itu menoleh kearah tiga pria tampan yang tengah berbenah membereskan lapak jualan mereka. Kemudian, dia tersenyum penuh arti sebelum benar-benar pergi dari pasar tersebut.
Semua pedagang telah pulang, termasuk ketiga pria dingin itu. Mereka berjalan kaki beriringan sambil mengobrol. Namun, saat dipertengahan jalan, tak sengaja melihat wanita yang memborong dagangan mereka itu sedang kesulitan. Lebih tepatnya, wanita itu terjatuh dari tunggangannya, dengan luka di kaki dan tangan.
"Aduh," rengeknya menahan sakit.
Ketiganya saling pandang, kemudian berjalan menghampiri. "Kau tidak apa-apa, Nona?" pertanyaan serempak mereka membuatnya mendongakkan wajah.
"A-aku baik-baik saja, Tuan." sahutnya dengan tatapan memelas. Dari tatapan matanya saja, ketiganya yakin kalau wanita itu sedang menahan sakit. Tapi, mereka tak mau terlibat lebih jauh dengan wanita tersebut, sehingga mereka memanggil orang-orang yang kebetulan lewat tempat itu.
"Paman, Bibi. Bisakah kalian menolongnya? Sepertinya dia terluka," ujar ketiganya kepada orang-orang yang lewat.
Orang-orang itu mengerutkan keningnya. "Kenapa tidak kalian saja yang menolongnya?" bertanya balik dengan tatapan sinis.
"Kami sedang terburu-buru. Istri dan anak kami sudah menunggu di rumah," ungkap ketiganya sengaja memberikan alasan.
Mendengar ketiganya berkata seperti itu, ekspresi wajah wanita tadi menjadi buruk. Dia bahkan berdecak saat ketiga pria itu menyebutkan kata istri dan anak. "Ckk, ternyata mereka sudah memiliki keluarga!" gumamnya lirih yang tak bisa didengar siapapun.
Awalnya, orang-orang tadi tidak mau menolong. Namun, ketiga pria tampan itu terus memberikan alasan agar bisa pulang cepat, akhirnya mereka pun mengerti dan membantu wanita tadi.
Hati wanita itu menjadi dongkol karena tak bisa mendapat perhatian ketiga pria tampan itu. Bahkan, tak ada satu pun yang bersedia menolongnya. "Sepertinya rencana ku ini gagal total," gumamnya dengan rasa kesal bercampur amarah. "Menyebalkan," cetusnya lagi.
...Bersambung ......
...💫💫💫💫...