
Zhaoling dan kedua pengawal bayangan segera mencari kemana perginya para perampok bertopeng. Kali ini, dia tak mau kehilangan jejak Xin'er lagi. Sudah cukup baginya harus berpisah selama beberapa tahun dengan membawa kesalahpahaman diantara mereka. Zhaoling ingin agar Xin'er memberikannya kesempatan untuk dirinya supaya bisa menjelaskan perihal masa lalu yang kelam itu.
Entah mengapa, setelah dia mengobrol banyak bersama kakak angkatnya Xin'er, hatinya sedikit tenang. Pasalnya, dia menemukan fakta bahwa istrinya itu masih sangat mencintai dia. Hanya saja ego Xin'er terlalu tinggi, juga rasa sakit hati yang mengubahnya menjadi benci.
"Aku harus segera menemukan istriku sebelum Zhaohan," gumamnya masih bisa di dengarkan kedua pengawal bayangannya.
Liu Wei dan Yu Xuan hanya diam tanpa berniat bicara. Keduanya bergegas mengikuti setiap langkah Zhaoling kemanapun dia pergi.
Drap ... drap ... drap ...
Suara langkah kaki sebuah pasukan terdengar oleh ketiganya. Ternyata tak jauh dari tempat mereka berada sekarang, ada rombongan prajurit Xili yang bergerak menuju ke area Dermaga. Mereka terlihat sedang terburu-buru, kemungkinan sudah menemukan sesuatu.
Karena tak ingin terlewatkan kabar apapun, ketiganya segera bersembunyi dengan melompat keatas pepohonan supaya tak terlihat. Mereka ingin memastikan apa yang sedang dilakukan pasukan Xili di tempat ini dan kemana arah tujuan mereka.
Melihat jumlahnya yang begitu banyak, tidak mungkin kan hanya untuk menangkap rombongan perampok bertopeng. Pasti mereka akan berperang ke suatu Wilayah. Tapi, kenapa mereka pergi berani tanpa di pimpin Panglima Perang? Bukankah setiap peperangan dirinya selalu dilibatkan? Tapi ...
"Kenapa Pangeran Pertama harus membawa pasukan sebanyak ini hanya untuk menangkap perampok bertopeng?" gerutu prajurit yang tertangkap dengar Zhaoling dan kedua pengawal bayangannya.
"Iya. Dia tak seperti Pangeran Ketiga, yang selalu mengajak pasukan jika dalam perang besar saja. Kalau hanya menangkap perampok atau bandit, dia pasti pergi bersama kedua pengawalnya, atau paling banyak membawa sepuluh prajurit." sahut yang lain.
"Tapi dengar-dengar, Panglima kita itu sekarang melindungi para perampok bertopeng. Makanya, Pangeran Zhaohan membawa kita kemari supaya bisa menangkap Panglima. Kalian tahu sendiri bukan, jika kekuatan Panglima setara dengan seratus prajurit. Jika kita harus melawan Panglima bersama kedua pengawalnya, bakal mati konyol kita!" seru yang lain.
Zhaoling dan Liu Wei serta Yu Xuan hanya terus mendengarkan mereka dari atas. Setelah mendengar obrolan mereka, Zhaoling yakin jika semua ini adalah rencana busuk Zhaohan untuk menjatuhkannya.
Maka dari itu, Zhaoling harus mempunyai strategi untuk mengalahkan pasukan Xili tanpa melukai. Bagaimana pun, mereka adalah pasukannya sendiri. Prajurit yang dilatih dan dididik oleh Zhaoling dengan penuh perjuangan. Tidak mungkin baginya untuk membunuh pasukan yang selalu rela mati demi membela Negaranya.
Setelah pasukan benar-benar lewat semua, ketiga pria itu gegas pergi untuk mengikuti langkah mereka menuju tempat dimana Zhaohan berada. Sebuah Dermaga dengan perahu-perahu besar terlihat, namun hanya tinggal beberapa saja karena sebagian sudah pergi.
"Kenapa mereka semua berkumpul di sini? Jangan-jangan ...?" ucapan Zhaoling tak tersampaikan karena Liu Wei menyela.
"Bukankah itu Jihu, kakak angkat Putri Xin'er?" tunjuk Liu Wei kepada seorang pria yang sedang berdiri tak jauh dari Zhaohan.
Di depan Zhaohan pun terdapat orang-orang yang sedang mengantri menunggu giliran dipanggil. Ketiganya meyakini bahwa mereka sedang di geledah. "Ternyata kita kalah cepat olehnya untuk menemukan rombongan Jihu," cetus Yu Xuan kesal.
"Benar. Lihat, wanita itu pasti Putri." tunjuk Liu Wei. "Sekarang Pangeran Zhaohan pasti tahu bahwa Putri Xin'er masih hidup," lanjutnya kemudian.
Zhaoling menggelengkan kepalanya dan berbicara dengan pasti. "Tidak, kita tidak terlambat. Selama Zhaohan tak bisa melihat wajah Xin'er, selama itu juga dia tak kan tahu!" ucapnya seraya berlari kencang.
Melihat Tuannya yang berlari begitu cepat, Liu Wei dan Yu Xuan menjadi bingung. "Apa rencananya, Panglima? Kau belum memberitahu kami," desis keduanya bertanya.
"Membuat semua orang tidak pernah bisa melihat wajah istriku untuk selamanya," sahut Zhaoling. Setelah itu, ia melompat setinggi mungkin, kemudian mengibaskan tangannya ke bawah diantara posisi prajurit terdepan dan Zhaohan.
Duarrrrr ...
Ledakan keras terdengar dihiasi kepulan asap putih tebal yang menutupi area sekitar. Asap itu menghalangi pandangan mereka selama lima belas menit. Walaupun waktunya tak lama, tapi dalam waktu sesingkat itu Zhaoling bisa membawa mereka semua pergi meninggalkan tempat tersebut.
Zhaoling segera menarik tangan Xin'er untuk mengikuti langkahnya. Liu Wei dan Yu Xuan segera mengikuti langkah Tuannya untuk menarik para anggota kelompok Jihu agar segera menaiki perahu.
Awalnya, Xin'er dan anggota kelompok yang lain berontak. Namun, Jihu mengatakan harus mengikuti kemana langkah orang yang menyelamatkan mereka itu. Dan ternyata, orang itu membawa mereka ke perahu untuk bisa meloloskan diri.
"Tuan Panglima!" seru mereka tak percaya.
"Cepat, jalankan perahunya! Kita harus segera tiba di perbatasan sebelum malam hari, karena akan sangat berbahaya untuk berlayar diwaktu malam." cetus Zhaoling tanpa memperdulikan ekspresi terkejut mereka.
Jihu yang melihat mereka hanya diam, segera mengambil kayu panjang yang tergeletak untuk mendorong perahu supaya bergerak ke tengah. "Kita akan mati jika terus berada di sini," cetusnya berteriak.
Mendengar suara Jihu membuat mereka sadar, kemudian segera membantunya mendayung perahu tersebut. "Ayo ... ayo, kita pergi!" ucap mereka semangat.
Yoona menatap pria yang sedang menggenggam tangannya dengan perasaan campur aduk. Tapi, ada sesuatu yang menggelitik hatinya untuk mengucapkan kata walau hanya ucapan terima kasih. "Terima kasih, karena kau telah menyelamatkan kami!" ucapnya dingin.
Zhaoling menatap lekat wanita bercadar di hadapannya. Dia teringat akan masa lalu, saat dimana dirinya menyamar menjadi seorang Pangeran buruk rupa. Zhaoling pun tak bisa menahan perasaan itu sampai dirinya terkekeh pelan.
Melihat Zhaoling yang terkekeh, Yoona merasa bahwa dia sedang mengejeknya. Dia pun menepis keras genggaman tangan pria itu dari tangannya. "Seharusnya aku tak mengatakan itu padamu," decaknya sebal.
Namun Zhaoling semakin tertawa melihat tingkah sok galak istrinya yang tak pernah berubah. "Kau masih sama seperti dulu, Xin'er!"
"Jangan panggil aku, Xin'er!" Yoona berteriak. "Dia sudah mati. Aku adalah Shin Yoona, seorang putri dari Tuan Khong Guan, pedagang obat herbal. Ingat itu!" bentak Yoona keras.
Semua orang menatap kearah mereka dengan rasa penasaran. Apa yang terjadi diantara mereka membuat semua orang bertanya-tanya. Tapi, sebelum mereka bertanya, suara prajurit terdengar dari arah Dermaga.
"Mereka kabur!" teriak prajurit itu seraya menunjuk kearah perahu yang mereka tumpangi.
Asap putih itu telah memudar, hingga semua orang bisa melihat kepergian mereka.
"Cepat, kejar dan tangkap mereka!" teriak Zhaohan penuh amarah.
Melihat prajurit itu bergegas menaiki perahu, mereka semakin mempercepat laju perahu yang mereka tumpangi itu. Ini kesempatan mereka melarikan diri, maka harus menggunakan kesempatan ini dengan sebaik mungkin.
"Tembakan panah kearah mereka!" teriak Jendral Jun kepada pasukannya.
Mendengar perkataan Jendral Jun, mereka semakin mempercepat laju perahu supaya tidak terkena tembakan panah tersebut.
Pasukan pemanah tengah bersiap untuk melesatkan anak panah dari busur yang mereka pegang saat ini. Setelah instruksi dari Jendral Jun, mereka pun melepaskan anak panah tersebut kearah lautan, tepatnya menuju perahu yang ditumpangi para perampok.
"Tembak!" teriak Jendral Jun.
Shuuuuut ...
Ratusan anak panah melesat tinggi keatas, kemudian menukik ke bawah dengan cepat.
"Awas, panah datang! Lindungi diri kalian sebaik mungkin!" teriak Jihu.
Mereka semua mencoba menghalangi anak panah yang terbang menuju kearahnya dengan senjata seadanya. Memang, cara ini cukup berhasil. Namun, anak panah datang lagi semakin banyak dan bertambah jumlahnya berkali lipat.
"Astaga!"
...Bersambung ......