Panglima Perang Kerajaan Xili

Panglima Perang Kerajaan Xili
Metode Kultivasi


Awas, akan ada jebakan Batman! Jika kalian masih dibawah umur, tolong di skip ya. Othor tidak tanggung jawab jika terjadi sesuatu!


Mohon dimengerti!


💥💥💥💥


Udara pagi ini masih terasa dingin, sisa badai salju semalam yang berlangsung selama tiga jam penuh. Es yang menggunung disekitaran membuat cuaca sekitaran semakin sejuk. Beruntung, ada Goa di dekat bukit yang tempatnya agak tinggi dan tak tertimbun salju, sehingga bisa digunakan untuk tempat berlindung.


Perlahan, es mencair ketika cahaya Mentari menyinari pagi ini melelehkan sedikit demi sedikit gunung salju disekitaran. Namun, ada sebagian daratan yang membeku akibat cuaca yang masih sangat dingin.


Sepasang mata mengerjap guna menyesuaikan cahaya yang masuk ke Indra penglihatannya. Senyumnya mengembang saat menatap sebuah pemandangan indah di depan matanya, yaitu dada bidang seorang pria.


Wuuuuuhh, siapa yang tahan melihat otot six pack yang tercetak di tubuh pria tampan dengan kulit putih bersih? Jangankan dia, Othor juga mau. Hihihiii. Sehingga, wanita itu tak tahan untuk mengulurkan tangan mengusap dada bidang yang terpampang di depan matanya.


Halus_itulah yang dirasakan oleh telapak tangannya saat menyentuh dada yang menonjol membentuk otot tersebut. "Astaga, mimpi indah di pagi hari!" gumamnya tersenyum tipis.


Walaupun udara di sekitar sangat dingin, tapi tubuhnya terasa begitu hangat bagaikan tidur dalam pelukan seseorang.


Eh, tunggu!


Tidur dalam pelukan seseorang? Oh, no!😱😱


Yoona panik_seketika matanya terbuka sempurna. Wajahnya mendongak menatap wajah tampan seorang pria yang beberapa tahun lalu telah sah menjadi suaminya, sedang terlelap seperti Bayi. Bayi besar tentunya, hahaha.


Bulu mata yang lentik, hidung mancung, dan bibir tebal, membuat ketampanannya meningkat melebihi level maksimum. Wanita itu mengucek matanya untuk memastikan bahwa ini hanya sebuah mimpi. Namun, hembusan nafas Zhaoling terasa menyapu keningnya yang sejajar tepat di bibir pria tampan tersebut, sehingga dirinya sadar bahwa ini bukan mimpi.


Melihat Zhaoling bertelanjang dada, otaknya menggiring netra mutiaranya guna melihat tubuhnya sendiri. "Syukurlah!" gumamnya lega karena mendapati tubuhnya yang masih terbungkus memakai pakaian. Tapi, tak lama kemudian ia terkejut karena baju yang dikenakan bukan miliknya, melainkan pakaian dalam pria. Ini berarti pakaian Zhaoling, pikirnya.


Karena tak ingin mengganggu tidur Zhaoling, Yoona bergerak perlahan melepaskan pelukan pria itu yang mungkin dari semalam terus mendekapnya dalam pelukan. Tapi, tak lama kemudian Yoona merasakan nyeri di sekujur tubuhnya, terutama bagian intinya. Sehingga, Yoona melenguh pelan dan kembali diam pada posisi semula.


"Sssttt," desisan kecil keluar dari mulutnya membuat pria itu segera membuka matanya.


"Ada apa? Apa kau baik-baik saja?" Sungguh, bahkan suaranya terdengar seksi saat baru bangun tidur. Ah, andai Yoona sadar akan hal ini. Namun, dia malah memukul dada bidang dihadapannya tersebut dengan keras.


"A-apa yang te-terjadi padaku? Ke-kenapa tubuhku sa-sangat kesakitan?" tanya Yoona lirih dengan debaran jantung tak karuan.


Zhaoling duduk di samping Yoona dengan menatap penuh penyesalan. Dia bahkan tak sanggup mengatakan sesuatu hanya sekedar menjawab pertanyaan istrinya. Tangannya terulur guna membantu Yoona untuk duduk, namun segera di tepis oleh istrinya.


Karena Zhaoling tak menjawab pertanyaan Yoona, wanita itu membuka suaranya lagi dengan mata berkaca, setelah bersusah payah untuk mencoba duduk. "Aling. Jawab pertanyaan ku,"


Helaan nafas terdengar berat. Zhaoling mengalihkan pandang kearah Yoona dengan wajah menunduk, "maafkan aku!" ucapnya singkat. Terdengar nada penuh sesal dari kata yang terucap itu.


Yoona masih bingung dengan ungkapan permintaan maaf dari pria dingin dihadapannya. "Aku mohon maafkan aku, Xin'er!" pintanya lagi dengan memelas, seraya menggenggam erat tangan Yoona.


"Maksudmu!" meminta penjelasan secara detail agar otak kecilnya bisa mencerna dengan baik.


Perlahan, wajahnya mendongak menatap wajah cantik yang berangsur membaik setelah kemarin berhasil membuatnya Khawatir. Zhaoling pun berkata, "demi menyelamatkanmu, aku ..."


💫💫💫💫


Zhaoling merasa putus asa ketika tak mendapati detak jantung Yoona. Dia bahkan menangis, "kembalilah Xin'er!"


Melihat Tuannya menangis, Yu Xuan tak tega dan tiba-tiba saja membuka suaranya. "Tuan, ada satu cara agar membawa detak jantung Putri kembali!" kata Yu Xuan membuat Zhaoling penasaran.


Dengan mata berbinar, Zhaoling bertanya. "Apa itu?"


Yu Xuan terlihat serius saat mengatakannya. "Hangatkan tubuhnya," jawabnya singkat.


Zhaoling mengerti maksud perkataan Yu Xuan, namun dia tetap bertanya. "Maksudmu?"


Yu Xuan pun menjelaskan pada Tuannya agar memberikan sentuhan hangat supaya membuat kesadaran Yoona kembali. Dengan melakukan aktifitas panas, bisa memacu jantung Yoona agar kembali berdetak. Setidaknya, bisa memaksa jiwa Yoona untuk berontak atau menikmati sentuhan lembut dari suaminya.


Awalnya, Zhaoling tak ingin melakukannya. Dia takut Yoona akan marah karena dirinya mencuri kesempatan dalam kenikmatan. Namun, keadaan Yoona semakin memburuk dan tubuhnya sudah dingin sebagian. Jika tidak dihangatkan, maka dia akan benar-benar pergi untuk selamanya.


Yu Xuan dan Liu Wei meyakinkan Zhaoling agar ia segera melakukan penghangatan tersebut, sebab situasi dan kondisi saat ini tak menguntungkan bagi tubuh Yoona. Hanya ini jalan satu-satu untuk membuat tubuh Yoona menghangat kembali. Keduanya pergi setelah Zhaoling setuju. Mereka mencari tempat lain untuk berlindung dari badai salju.


Selepas kepergian kedua pengawal bayangannya, Zhaoling hanya diam menatap wajah yang sudah pucat dengan tubuh sedingin es. Walaupun mereka suami-istri, namun ia ragu untuk melakukannya tanpa persetujuan Yoona. Tapi, yang dikatakan kedua pengawal bayangannya memang benar. Tak ada cara lain lagi.


Perlahan, tubuh Yoona direbahkan di tanah beralaskan jerami yang dilapisi kain dari cadar yang ketiganya biasa pakai. Kemudian, Zhaoling mulai membuka helaian pakaian Yoona yang bernoda'kan tetesan darah saat di hutan tadi.


Pria itu menelan saliva dengan kesulitan saat matanya disuguhkan pemandangan gunung kembar milik istrinya, dengan puncak berwarna pink. Sungguh, naluri lelakinya langsung terpancing seketika tanpa diminta. Bahkan, junior berontak dari dalam sangkar, meminta untuk diberikan jatah kenikmatan.


Zhaoling membuka pakaiannya sendiri, kemudian memeluk tubuh Yoona. Bibir seksi itu mendarat di bibir kecil istrinya, lidahnya menerobos masuk dan mengobrak-abrik rongga mulut, tangannya menjelajahi gunung kembar yang indah serta memberikan sedikit remas*n untuk merangs*ng saraf kesadarannya.


Cukup lama Zhaoling melakukan pemanasan dengan cara seperti tadi, namun tetap saja kesadaran Yoona tak kunjung kembali. Dirasa kurang dalam kegiatannya, pria itu segera melepaskan celana yang dikenakan Yoona dan juga dirinya. Kembali, junior berkedut ketika melihat Goa yang seharusnya ia masuki tiga tahun yang lalu. Ingin rasanya junior segera ber-kultivasi di Goa surga dunia tersebut, untuk menunaikan apa yang menjadi misinya selama ini, yaitu menanamkan bibit unggul dalam rahim istrinya.


Di percobaan pertama, Zhaoling gagal menembakan kepala junior kedalam Goa tempat untuknya ber-kultivasi tersebut. Setelah percobaan ketiga, dia baru bisa melesatkan junior kedalam dan sedikit menghentak nya agar bisa menyesuaikan hunian barunya.


Perlahan tapi pasti. Junior bergerak maju-mundur dan sedikit bergoyang, dengan nafas memburu. Tanpa di duga, bibir kecil Yoona bergetar mengeluarkan cicitan indah di telinga Zhaoling, membuat junior semakin meringsek masuk.


Deru nafas dengan suara indah saling bersahutan, terdengar dari keduanya. Tubuh Yoona perlahan menghangat dan bahkan sampai berkeringat.


Zhaoling berhasil membawa Yoona kembali sadar dengan metode kultivasi junior di dalam Goa kenikmatan milik istrinya.


Metode kultivasi berlangsung cukup lama, karena junior betah di dalam sangkar barunya. Dia terus memberikan hentakan, sampai suara indah Yoona terus menggema di telinganya.


Setelah dirasa cukup, Zhaoling segera memeluk tubuh lelah istrinya, karena dia pun cukup kelelahan.


Ah, sungguh. Malam ini adalah malam terindah untuk Zhaoling saat melihat senyum indah terlukis dibibir Yoona. Bibirnya pun mendarat di kening istrinya dan mengecupnya dengan sayang. Zhaoling tersenyum puas karena ternyata selama ini istrinya masih menjaga mahkota Ratunya hanya untuk Zhaoling bertahta.


"Terima kasih, sayang. Karena kau selalu menjaga kesucian mu, walaupun kita tak bersama. Namun, kini aku merenggutnya dengan paksa demi menyelamatkan nyawamu. Aku tak sanggup kehilangan dirimu, Xin'er. Sungguh, aku tak bisa hidup jika kau tiada." gumamnya seraya mengeratkan pelukannya. "Aku tahu, kau akan marah ketika terbangun besok pagi. Aku akan menerimanya, walaupun kau akan membunuhku sekalipun."


Zhaoling pun memakaikan pakaian dalamnya ke tubuh istrinya, karena pakaian Yoona sudah robek akibat tersangkut ranting pohon.


Bersambung ...