Panglima Perang Kerajaan Xili

Panglima Perang Kerajaan Xili
Hukuman Penolakan


Dua puluh tahun kemudian ...


Masih di dalam aula istana-pemilihan selir.


Saat ini semua orang tengah menatap kearah Xin'er yang sedang gugup untuk menampilkan bakatnya. Xin'er yang menjadi pusat perhatian semua orang, hanya bisa tersenyum kecut sambil berjalan menuju ke tengah.


Jika saja ia bisa, ia akan memilih untuk kabur dari tempat yang membuatnya tak nyaman ini. Bukan hanya gugup! Jujur saja, Xin'er saat ini tengah berpikir keras supaya dia langsung ditolak semua orang, terutama Kaisar dan juga Pangeran Ketiga. Tapi ... apa ya yang harus dilakukan?


Xin'er membungkuk hormat, lalu berkata. "Maafkan saya, Yang Mulia! Saya tidak mempunyai bakat apapun untuk ditampilkan. Saya hanya seorang gadis kecil yang tidak mengerti apapun dan juga ... tidak punya kemampuan khusus!" tuturnya berusaha tenang, setelah menjeda sedikit ucapannya.


Semua orang mulai berbisik. "Dia berani mengatakan kejujurannya dihadapan semua orang. Salut, aku!"


"Betul. Jarang sekali ada orang yang mau mengatakan hal sesungguhnya!" timpal yang lain.


"Tapi, dia itu sangat bodoh karena tak bisa melakukan apapun. Coba lihat! Diusianya saat ini, bahkan dia tak mempunyai kemampuan khusus. Benar-benar gadis bodoh." ejek yang lainnya.


"Iya. Kalian tahu tidak, dia ini Nona dari keluarga mana?" yang lain menggelengkan kepala karena memang tak tahu. Orang itupun melanjutkan ucapannya lagi. "Dia itu ternyata putri dari Perdana Mentri yang hebat dan terkenal itu lho. Perdana Mentri Yun!"


Mereka langsung membulatkan mata mendengar itu. "Ah, yang benar?"


Gosip pun menyeruak seiring berjalannya waktu. Mereka ribut menggunjing orang sampai suara mereka seperti burung di pasar hewan. Bahkan, dengan terang-terangan mereka menghina Perdana Mentri karena tidak becus mendidik putri bungsunya.


Muning dan Mingna tertawa senang dalam hati, karena semua orang akhirnya tahu bahwa Xin'er itu gadis yang bodoh. Berbeda dengan Tuan Xiaoyu yang merasa lega, walaupun semua orang menggunjingnya, tapi itu tak masalah. Dengan begitu, masalah ini akan membuat Pangeran menolak Xin'er secara langsung.


Sebetulnya, Perdana Mentri Yun tak mau putrinya menikah dengan keluarga kerajaan. Selain berbahaya untuk keselamatannya, Beliau pun tak setuju jika Xin'er menikahi pria cacat seperti Pangeran Ketiga.


Tapi Xin'er sangat geram mendengar ucapan dari mulut lemes para Kasim, Mentri, Bangsawan, apalagi para Putri yang centilnya nauzubillah. Tangannya mengepal pertanda ia sangat marah. Tapi, saat ini bukan jalan terbaik untuk membuat keributan. Ditambah, dirinya berada di tengah-tengah kerajaan yang dikelilingi para prajurit. Haish, benar-benar kesal!


Perlahan, ia berdiri lalu menatap sengit semua orang yang bergosip disekitarnya. Tak sengaja, netra mutiara itu berpusat kepada seorang pria paruh baya yang menatapnya sedih. Wajah sendunya kentara sekali, jika dirinya sedih menyaksikan putrinya dipermalukan seperti itu. Namun, tak ada apapun yang bisa dilakukan olehnya. Setidaknya, dengan begini putrinya akan ditolak langsung.


Dengan mengangguk sambil tersenyum, ayahnya mengisyaratkan bahwa dia harus kuat dan tak perlu memperdulikan kicauan orang-orang disekitar. Untuk apa mendengarkan mereka? Toh, mereka tak kan tahu isi hati kita seperti apa? Jadi, jangan memperdulikan perkataan mereka!


Xin'er yang cerdas menangkap isyarat ayahnya. Dia pun mundur dengan perlahan karena sadar diri bahwa tak perlu menunggu untuk ditolak atau diusir. Daripada seperti itu, lebih baik dia duluan yang meninggalkan tempat ini.


Semua orang setuju dengan keputusan Xin'er yang langsung undur diri karena tidak mempunyai kemampuan apapun, termasuk Kaisar dan Permaisuri, serta para Pangeran lain.


Bagaimanapun juga, seorang Selir harus mempunyai keterampilan dan bakat yang baik. Bukan hanya untuk menjadi seorang istri, tapi juga harus mempunya sesuatu yang patut dibanggakan. Bagi keluarga Kerajaan, keterampilan adalah sesuatu yang penting. Baik itu dalam hal apapun, selama seseorang memiliki keterampilan, mereka akan selalu dihormati.


Zhaohan pun tersenyum karena Xin'er tak kan dipilih adiknya untuk menjadi selir. Dia masih mempunyai kesempatan untuk menjadikan salah satu selir penghuni Istana haremnya. Namun, suara Pangeran Ketiga membuat senyumannya menghilang.


"Siapa yang mengizinkanmu pergi?" teriakan itu mengundang wajah semua menoleh kearahnya. "Aku belum memutuskan kau pantas atau tidak. Mengapa kau pergi begitu saja? Bukankah itu tidak sopan?" seringai licik diwajahnya yang tak bisa terlihat siapapun.


Semua orang menatapnya dengan aneh. Apa Pangeran Ketiga masih ingin gadis itu menjadi selirnya? Walaupun, dia tak mempunyai bakat khusus?


Segera, Perdana Mentri Yun maju mendekati putrinya dan menunduk hormat didepan Pangeran Ketiga. "Ampuni ketidak sopanan putri hamba, Yang Mulia. Dia masih kecil dan tidak mengerti tatakrama. Jika Anda ingin menghukum, hukumlah hamba saja. Hamba siap mendapatkan hukuman apapun dari Anda!" ucapnya dengan penuh penyesalan.


"Ayah. Tidak seharusnya ayah melakukan itu. Aku yang salah, dan ayah tak perlu melakukan apapun untuk menyelamatkanku!" seru Xin'er saat mendengar perkataan ayahnya.


"Diam, anak nakal. Kau tidak boleh menanggung amarah Yang Mulia. Ayah tak mau kau terluka. Sebaiknya, segera minta maaf pada Yang Mulia. Cepat!" bisik Tuan Xiaoyu.


Pangeran Ketiga tersenyum penuh kemenangan. Dengan cara ini, ia dapat memperlihatkan kepada semua orang bahwa Xin'er memang layak menjadi pendampingnya. "Kau bersalah. Tapi, ayahmu harus mendapatkan hukuman karena tak bisa mendidik putrinya dengan benar. Seorang putri Perdana Mentri bersikap arogan seperti itu? Heh, mau jadi apa kamu?" ejeknya.


Geram sekali mendengar perkataan yang membuat hatinya nyelekit bagaikan dicubit sedikit. Ingin sekali Xin'er menampol orang yang memakai cadar itu. Selain mempunyai wajah buruk rupa, Pangeran Ketiga itu mulutnya pedes.


"Maafkan hamba, Yang Mulia!" hanya perkataan itu yang keluar dari mulut Xin'er, tanpa ada ucapan yang melawan.


Tapi, perintah selanjutnya Pangeran Ketiga, membuat Xin'er membulatkan mata. "Pengawal. Kemari dan keluarkan pedangmu! Tebas leher Perdana Mentri dihadapan semua orang, terutama putri sombongnya itu!" titahnya yang langsung dituruti.


"Apa?" Xin'er yang terkejut segera mendongak menatap kearah pria dihadapannya. Kejam sekali pria ini. Batin Xin'er.


Titah Pangeran langsung dituruti pengawal yang langsung mengangkat pedangnya tanpa ragu. "Siap, Yang Mulia!"


Semua orang membelalakan mata melihat itu. Pangeran terkenal bersikap baik dan ramah. Dia pun bukan orang yang kejam. Tapi kenapa? Karena seorang Xin'er menolak menjadi selir, dia sampai berbuat seperti ini? Bahkan, menghukum mati ayahnya didepan semua orang.


Permaisuri yang merasa tindakan putranya berlebihan, langsung berdiri. Bagaimanapun, Perdana Mentri adalah pengikut setianya. "Pangeran Zhaozu, itu tak benar! Tidak sepatutnya kau lakukan itu, Pangeran!"


Pangeran Ketiga sekilas menoleh kearah ibunya, kemudian kembali menatap wajah Xin'er yang terlihat cemas. Tapi, tak ada sedikit pun rasa takut di wajah Tuan Xiaoyu. Mungkin, demi menyelamatkan putrinya, dia rela berkorban. "Perdana Mentri Yun saja tidak ragu untuk menerima hukuman ini. Iya, kan. Tuan Perdana Mentri?"


Tuan Xiaoyu mengangguk. "Hamba tidak akan melawan perintah Anda, Yang Mulia. Selama Anda membiarkan putri saya hidup, saya rela mati!" tegasnya menjawab.


"Tidak. Ayah tidak boleh melakukan itu. Biarlah aku yang menerima hukumannya. Aku siap mati, jika itu membuat Pangeran Zhaozu senang. Silahkan, bunuh aku!" teriak Xin'er dengan suara lantang. "Lagipula, aku sudah mati di kehidupan sebelumnya. Tak apa, jika aku mati sekali lagi. Tapi, sebagai pahlawan, bukan pecundang yang berlindung di ketiak seorang ayah."


Pangeran Ketiga tersenyum kecut. "Cih. Segitunya kau tak ingin bersamaku? Sampai-sampai, kau selalu berusaha lepas dariku. Tapi, aku akan membuatmu tak bisa mengelak lagi." tekad Zhaoling dalam hati. "Tidak. Ayahmu yang tetap akan mendapatkan hukumannya!" tegasnya lagi.


"Tidak. Jangan lakukan itu, Yang Mulia." kini Nyonya Muning bersama Mingna maju. "Yang Mulia. Jika Anda menghukum suami hamba, bagaimana kami bisa hidup? Tolong ampuni dia, Yang Mulia!" ucap Nyonya Muning mengiba.


"Maksudnya, kalian mau ikut dihukum?" pertanyaan Zhaozu membungkam keduanya yang langsung menggelengkan kepala. "Baiklah. Kalau begitu, hukum mereka juga. Cepat!"


Tanpa ragu, pengawal langsung mengangkat pedangnya dan mengayunkan ke depan, kearah mereka. Semua orang menjerit histeris menyaksikan eksekusi yang begitu kejam dilakukan di tempat umum seperti itu. Namun, mereka bisa apa? Mereka tak bisa melawan kekuasaan keluarga kerajaan.


Baik itu Tuan Xiaoyu, Nyonya Muning, dan Mingna, memejamkan matanya tak bisa membayangkan akan mati dengan cara seperti ini. Jika mereka mati saat ini juga, itu berarti karena kesalahan Xin'er. Jadi, ibu dan anak itu dapat dipastikan akan sangat membenci Xin'er.


Namun, belum sempat pedang yang diayunkan pengawal menyentuh leher Tuan Xiaoyu, sebuah pedang lain menghalaunya. Sehingga, terdengar tabrakan yang sangat keras.


Trang ...


Mereka semua terkejut dengan kejadian itu. Siapa yang berani melawan titah sang Pangeran? Apalagi, ini masih diarea Kerajaan.


Tuan Xiaoyu beserta istri dan anak tirinya langsung menoleh ke samping. Berapa terkejutnya ketiga orang tersebut saat tahu bahwa Xin'er tengah berdiri sambil membawa sebilah pedang di tangan. "Xin'er,"


"Jika ada yang berani menyentuh keluargaku, akan ku pastikan kalian mati ditangan'ku!" teriak Xin'er dengan tatapan tajam kearah mereka.


Mendengar ucapan tegas Xin'er, Pangeran Ketiga tersenyum puas. "Ini saatnya dia beraksi!"


...Bersambung ... ...