Panglima Perang Kerajaan Xili

Panglima Perang Kerajaan Xili
Fakta Mengejutkan(Part 2)


Seorang gadis berjalan sendirian ditengah keramaian Kota. Disekitarnya, banyak orang yang berlalu lalang menikmati suasana yang ramai akan pedagang kaki lima. Kedai-kedai yang buka di sepanjang jalan, serta para penghibur jalanan yang sedang menampilkan aksi mereka hanya demi mendapatkan satu keping koin perak. Ya. Itulah Ibu Kota.


Ada peribahasa mengatakan, jika Ibu Kota lebih kejam dari pada Ibu tiri. Tapi menurut Zhaozu, lebih kejam Ibu Suri dibanding keduanya. Hehehe. Tidak ... tidak! Ini serius.


Ibu Suri akan melakukan apa pun untuk memenuhi keinginannya dengan berbagai cara. Bisa secara halus, atau juga dengan kekerasan. Banyak yang tunduk dibawah kekuasaan Ibu Suri, termasuk para Mentri serta Kasim. Namun bagi Zhaozu, Ibu Suri hanya sekedar Nenek tua yang harus dihormati serta disayangi. Seharusnya.


Tapi, bukan itu yang ada dalam pemikiran Zhaozu saat ini. Dia tak menerima alasan apapun yang diucapkan Ibu Suri dengan mengatasnamakan kasih sayang. Menurut Zhaozu itu salah dan tetap salah. Secara tidak langsung, Ibu Suri terlibat atas kebencian semua orang kepada Xin'er.


Kembali kepada gadis yang sedang berjalan tadi. Dia tampak begitu santai berjalan dengan keranjang belanjaan di tangannya. Tampak, sebuah senyum ceria terukir indah di bibir merahnya. Dia pun mampir di beberapa kedai untuk membeli barang yang dibutuhkannya.


Saat sedang asyik berbelanja, sebuah tangan kekar memegang tangannya, membuat ia menoleh kearah si pemilik tangan. Sontak saja ia mengernyitkan kening karena merasa tak mengenali orang tersebut.


"Maaf! Anda siapa?" lekas menepis tangan orang tersebut yang ternyata seorang pria tampan. Diamatinya dengan lekat wajah nan rupawan itu. "Saya tidak mengenal Anda," cetus gadis itu lagi.


Pria itu tersenyum ramah kepadanya. "Kau Shio May, bukan?" gadis itu menautkan kedua alisnya ketika namanya disebutkan. "Yang Mulia ...!" pria itu belum menuntaskan ucapannya, tapi si gadis langsung mundur karena terkejut.


Gadis itu berlari menghindari pria tersebut karena merasa hidupnya terancam. Namun, dengan cepat pria itu langsung mengejar dan menangkapnya. "Kenapa kau lari?" mencengkram lengan gadis itu dengan kuat.


Gadis tersebut berusaha berontak, namun tetap tak bisa melepaskannya. "Bu-bukan! Na-namaku ... namaku ... Chikie," sahutnya gugup. Kentara sekali jika dia saat ini sedang ketakutan.


Melihat Shio May ketakutan, si pria lekas menggelengkan kepalanya dan berkata dengan lembut. "Jangan takut! Aku tidak akan membunuhmu! Aku hanya ...!"


"Tuan, tolong jangan ganggu hidupku lagi! Bukannya Yang Mulia Permaisuri sudah setuju jika aku pergi dari Kota Yongsheon, maka Beliau tidak akan membunuhku dan keluargaku!" tutur Shio May mengiba.


Si pria tertegun mendengar ucapan Shio May. "Permaisuri?" gumamnya lirih.


Kenapa Shio May menyebutkan Permaisuri di sela ketakutannya? Padahal, Yang Mulia yang dimaksud pria itu bukan Permaisuri, melainkan Tuannya.


"Tuan. Ku mohon, kasihanilah aku!" pinta Shio May lagi membuat si pria kembali sadar.


Pria itu menatap Shio May, kemudian melirik sekitaran yang ternyata banyak pasang mata sedang memperhatikan mereka. "Ikut aku, maka aku tidak akan membuatmu terluka sedikitpun! Aku janji," ucapnya supaya membuat Shio May bisa tenang.


Dengan mengangguk pasrah, Shio May mengikuti langkah pria itu ke suatu tempat menuju rumah makan yang terkenal di Kota ini. Dia terus mengikuti langkah kaki pria itu menuju lantai dua. Saat kakinya menapak di lantai dua, dia dibuat terkejut seketika. Seorang pria sedang duduk di kursi sambil menikmati hidangan yang tersedia di meja.


Wajah tampan namun dingin. Itulah gambaran yang terlihat jelas dari penampilan pria itu. Siapa lagi kalau bukan Panglima Perang Kerajaan Xili, Zhu Zhaoling. Ya. Dialah orang yang dipanggil Yang Mulia oleh pria tadi.


Sosok tampan dan dingin itu menoleh sekilas saat melihat seorang gadis yang dibawa oleh pengawal bayangannya. "Siapa yang kau bawa, Yu Xuan?" bertanya sebelum kembali fokus pada makanannya.


Zhaoling tidak akan mengenali gadis itu. Tapi, Shio May jelas mengenal sosok yang ada dihadapannya tersebut. Pria yang terkenal dingin dan kejam di medan perang, pria yang selalu membuat hati para musuh bergetar karena ketakutan, itulah Zhaoling.


Yu Xuan mendekat dan berbisik di telinga Zhaoling. "Yang Mulia, dia gadis itu!"


Seketika Zhaoling menghentikan makannya. Netra elang itu menatap tajam kearah Shio May seperti sebuah belati yang siap menusuk kapanpun. Dia lekas bangkit dari duduknya sambil berkata, "bawa dia!" setelah memerintahkan hal tersebut pada pengawal bayangannya, kaki Zhaoling melangkah pergi dan langsung diikuti oleh mereka.


"Siap!" Yu Xuan pun menarik tangan Shio May supaya gadis itu mengikutinya.


Sungguh, saat ini Shio May ketakutan dibuatnya. Dia dapat memastikan apa yang akan terjadi selanjutnya, jika mengikuti ajakan pria itu. Namun, dia pun tak punya cara lain agar bisa menghindari pria dingin itu. "Tuan. Apa Anda akan menghukum saya?" bertanya dengan suara yang bergetar.


Shio May lekas mengangguk dengan cepat. "Baik. Baik, Tuan Panglima! Apapun yang ingin Anda tanyakan, saya akan menjawab semua pertanyaan Anda sesuai yang saya ketahui!"


"Bagus," sahut Zhaoling kembali melangkah.


Mereka pun tiba disebuah rumah kecil di Kota tersebut, dengan di sambut Li Wei. Zhaoling, Yu Xuan, dan Shio May langsung duduk di kursi yang sudah di siapkan Liu Wei di ruangan itu.


"Katakan!" ucap Zhaoling singkat tanpa ingin membuang waktu.


Yu Xuan segera membuka suaranya. "Permaisuri terlibat dalam hal ini," seketika Zhaoling menatap tajam kearah Yu Xuan dan Shio May.


Brak


Meja di depan mereka hancur karena Zhaoling memukulnya dengan keras. "Beraninya kau memfitnah Permaisuri!" bentaknya membuat Shio May ketakutan.


Nada bicaranya yang tinggi membuat gadis itu gemetaran dan tak berani berkata apapun. Dia terkejut melihat Zhaoling semarah itu, namun Yu Xuan berusaha menenangkannya. "Tuan. Biarkan dia menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Jika dia berbohong, maka aku sendiri yang akan memasukkannya ke kandang Harimau untuk menjadi santapannya!" nada ancaman itu jelas terdengar, membuat Shio May tambah ketakutan.


"Su-sungguh Tuan, saya tidak berbohong! Permaisuri se-sendiri yang mendatangi saya dan meminta saya untuk membeli obat itu, serta menirukan penampilan Putri Xin'er. Saya tidak tahu, jika tujuannya adalah untuk memfitnahnya!" ungkapnya dengan jujur.


"Apa kau yakin jika itu Permaisuri?" tanya Liu Wei.


Shio May mengangguk pasti. "Awalnya saya tidak yakin, karena Beliau menutupi jubah!" kemudian, Shio May menceritakan kejadian malam itu.


Tiga orang pria memakai pakaian serba hitam mendatangi rumahnya. Ada satu wanita diantara ketiga pria itu yang datang dengan menutupi kepala menggunakan jubahnya. Namun, tak sekalipun wanita tersebut membuka wajahnya.


Mereka mengutarakan maksud dan tujuan kedatangannya. Dibawah ancaman serta ketidakberdayaan, Shio May menyetujui perintah wanita tersebut. Sejujurnya, ia tak tahu jika tindakan yang dilakukannya akan berakibat buruk pada hidup seseorang. Ia hanya tahu membeli sebotol obat sesuai tulisan yang ada di kertas, tanpa mengetahui khasiat obat tersebut.


Shio May pun kebingungan karena harus memakai pakaian dan bergaya menirukan seseorang. Tapi, dia tak ingat jika penampilannya saat itu mirip sekali dengan Putri Ketiga Xin'er. Setelah selesai, dia pun bergegas menemui wanita yang menutupi kepalanya itu. Namun, para pengawalnya itu tak membiarkannya untuk mendekati wanita tersebut.


Karena rasa penasaran, Shio May membuntuti mereka dan menemukan fakta bahwa wanita yang menutupi kepala menggunakan jubah adalah Penguasa Istana Harem, yaitu Permaisuri.


Tak banyak bicara lagi, ia pun bergegas pergi dengan ketakutan setelah memastikan kebenaran itu. Seminggu kemudian, insiden pembunuhan terjadi di dalam Istana yang melibatkan Xin'er sebagai tersangka dan Permaisuri menjadi korbannya. Setelah itu, Xin'er diusir dari Istana dan diasingkan ke Perbatasan. Lalu, ada pria yang mendatangi Shio May dan memberikan sekantung koin emas, serta mengancamnya.


Karena ketakutan, Shio May pun mengiyakan dan melarikan diri ke Kota ini. Tapi tak disangka, pengawal bayangan Panglima masih dapat menemukannya.


Zhaoling menatap tajam kearah gadis yang terus menunduk takut itu. Dia bahkan tak berani mendongak setelah selesai menceritakan kejadian sebenarnya. Terlihat jelas dari sorot matanya, bahwa tidak ada perkataan Shio May yang bohong. Dia memang tidak tahu, karena waktu itu hanya di suruh membeli sebotol obat di pasar gelap. Untuk apa dan siapa, dia tidak tahu.


"Brengsek," umpat Zhaoling kesal dengan menendang kursi untuk meluapkan emosi.


Hancur sudah hati Zhaoling saat ini. Tak ada yang lebih menyakitkan dengan pengkhianatan oleh seseorang yang dipercayai. Sungguh, perbuatan ibunya itu secara tidak secara langsung membuat hidupnya hancur.


Zhaoling sangat frustasi saat ini. "Ya Dewa. Apa yang harus aku lakukan?"


...Bersambung ......