Panglima Perang Kerajaan Xili

Panglima Perang Kerajaan Xili
Penyebab sakitnya Zhaoling


Semenjak kejadian tempo hari, tak pernah ada preman yang datang membuat keributan lagi di pasar. Mereka seperti menghilang ditelan bumi, dan tak diketahui keberadaannya dimana pun. Pedagang di pasar cukup senang atas hilangnya mereka dari tempat ini, karena para preman pasar itu selalu membuat keributan dan menghancurkan barang dagangan mereka jika tak diberikan apa yang diinginkan.


Sebenarnya, para preman itu ditangkap oleh pasukan kerajaan atas laporan dari Walikota setempat. Mereka ditangkap saat berada di markas yang tak jauh dari pasar tersebut. Orang yang melaporkan memang Walikota, lebih tepatnya Putri Walikota sendiri yang pernah menyaksikan kejadian itu saat dirinya sedang berjalan-jalan di Desa.


Xia Lan, nama putri Walikota itu. Dialah orang yang melihat kejadian tempo hari ketika para preman berbuat ulah, dan melihat bagaimana ketiga pria tampan yang bertindak tanpa diketahui semua orang. Dia juga yang memborong semua barang dagangan para pedagang, karena ingin mendapat pujian dari ketiga pria tampan di sana.


Nyatanya, ketiga pria tampan itu hanya bersikap cuek kepadanya karena mereka sudah memiliki keluarga. Namun, Xia Lan tak perduli dengan semua itu. Selama ada kemungkinan, pasti ada jalan untuk merebut perhatian salah satu dari mereka.


Xia Lan selalu mengikuti kemana arah pulang ketiganya setelah dari pasar. Wanita itu sangat mengagumi ketampanan, kecerdasan, kekuatan, bahkan keterampilan ketiganya. Pujian yang terlontar tak cukup mewakili hatinya jika sudah berhadapan dengan mereka. Tapi jika boleh jujur, Lan lebih mengagumi salah satu pria dari ketiga pria itu.


Dia sering mendatangi pasar tradisional itu hanya untuk dapat bertemu mereka, terutama pria yang pertama kali membuat hatinya bergetar. Ya. Pria itu tak lain adalah Zhaoling, si tampan dingin yang membuat Xia Lan terus menguntit kemana pun mereka pergi. Wanita itu rela mempermalukan dirinya jika ketahuan oleh keluarganya nanti.


Kata orang, cinta itu buta dan tuli, tak mendengar dan tak melihat. Itulah yang terjadi pada Lan saat ini. Dia terbutakan cinta semu dan menulikan telinganya saat semua orang mengatakan bahwa ketiga pria itu sudah memiliki keluarga kecil. Selama ada kesempatan, Lan akan menggunakannya sebaik mungki . Itulah tekadnya.



Hari ini Xin'er memasak makanan cukup banyak. Entah mengapa, dirinya ingin sekali melakukan itu saat ini. Hatinya seperti merasakan kegembiraan yang luar biasa, namun Xin'er tak tahu apa penyebabnya.


Seperti biasa, ketiga pasangan itu berkumpul di ruang makan untuk mencicipi hidangan yang disajikan Xin'er hari ini. Makanan yang sangat menggugah selera tersedia begitu banyak, membuat kening mereka mengkerut.


"Ada acara apa ini? Tumben sekali kau masak begitu banyak," tanya Yu Xuan melirik Xin'er yang tengah asik melayani suaminya.


"Entahlah! Aku hanya ingin saja," sahutnya tak menoleh sedikit pun.


Yu Xuan berdecak. Sikap cuek Xin'er persis seperti Zhaoling. Namun, saat ini yang membuatnya heran adalah, sikap keduanya seperti berubah kebalikan. Zhaoling menjadi seperti Xin'er yang periang dan juga ... sedikit sensitif. Dia bahkan sering marah jika tersinggung sedikit saja, serta merajuk jika tak mendapatkan yang ia mau. Rasanya, Yu Xuan ingin muntah saat Zhaoling sudah bersikap manja pada istrinya.


Entahlah. Hanya itu yang dirasakan Yu Xuan saat ini. Tapi, bukan hanya dirinya saja yang merasakan hal itu, Liu Wei pun juga sama. Keduanya selalu menggelengkan kepala tak percaya akan perubahan pasangan suami-istri tersebut yang bersikap terbalik dihadapan mereka.


Makanan mulai dimasukan kedalam mulut. Semuanya sangat menikmati rasa masakan Xin'er, yang menurutnya sangat enak. Namun, berbeda dengan Zhaoling. Pria itu menautkan kedua alisnya dengan gerakan mulut seperti menahan sesuatu.


"Aling. Coba makan ini, dan berikan aku penilaian!" ujar Xin'er seraya menaruh potongan daging di mangkuk milik suaminya.


Zhaoling segera membekap mulutnya karena merasa perutnya seperti bergejolak. Rasa mual menyerangnya saat itu, membuat ia langsung berlari ke belakang.


"Uweeeekk," dia memuntahkan semua isi perutnya secara terus-menerus. Tubuhnya lemas seketika dengan kepala yang terasa pusing.


Xin'er berlari mengejar suaminya ke belakang. Dia sangat khawatir dengan kondisinya saat itu, "kau baik-baik saja?" tanya Xin'er seraya memijat tengkuk Zhaoling.


"Entahlah. Perutku rasanya seperti dikocok," sahutnya masih menundukkan wajah. Kemudian, Zhaoling membasuh wajahnya berulang karena merasa pandangannya mulai kabur.


Saat wajahnya mendongak menghadap, Xin'er terkejut bukan kepalang. Wajah Zhaoling pucat pasi bagaikan mayat hidup, dengan mata yang mengernyit menahan sakit kepala yang menyerangnya tiba-tiba. "Kau kenapa, Aling? Wei, Xuan, tolong aku!" teriak Xin'er kepada kedua pria itu karena tubuh Zhaoling tiba-tiba saja ambruk menindihnya.


Bergegas kedua pria itu lari menghampirinya diikuti istri mereka. Keempat orang itu terkejut saat mendapati Zhaoling pingsan dipangkuan istrinya. "Aling ... Aling. Apa yang terjadi?" mereka segera mengangkat tubuh Zhaoling dan membawanya ke kamar.


Yu Xuan segera keluar untuk mencari tabib, sedangkan Liu Wei menggosok kaki Zhaoling dengan menggunakan minyak urut. Yuelie membantu membawakan air hangat untuk kompres dan langsung diterima Xin'er. Mengshu hanya bisa melihat saja karena dirinya tengah menggendong Liu Chen.


Tak berapa lama, Yu Xuan datang membawa seorang Tabib Desa untuk memeriksa kondisi Zhaoling. Semua orang keluar dari kamar tersebut untuk memberikan ruang bagi Tabib memeriksa kondisi Zhaoling.


Cukup lama Tabib memeriksa kondisi Zhaoling, dia ingin memastikan apa penyebab pria ini muntah-muntah dan pingsan begitu saja. Setelah pasti, barulah ia memanggil Xin'er dan yang lainnya untuk datang ke kamar.


Setelah dibayar, Tabib itu pun pulang. Kini, tersisa lah ketiga pasangan suami-istri itu di rumah. Melihat Zhaoling yang terbaring lemah, kedua sahabatnya pun tak tega meninggalkannya. Akhirnya, mereka pun menginap di rumah Zhaoling-Xin'er pada malam ini.




Ramuan dari Tabib telah habis, namun kondisi Zhaoling tetap sama, tak ada perubahan. Sehingga, Xin'er memutuskan untuk membawanya ke Tabib Kota. Di kota, ada Rumah Sakit cukup besar dengan peralatan sedikit canggih, serta banyak Tabib khusus.



Karena Mengshu baru saja melahirkan, Liu Wei pun tak ikut bersama mereka. Yu Xuan dan Yuelie yang mengantarkan pasangan itu untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut di Rumah Sakit Kota.



Sesampainya di sana, Zhaoling diperiksa dengan seksama oleh para Tabib. Tapi kemudian, mereka pun menggelengkan kepalanya karena kebingungan. Pasalnya,tak ada penyakit apapun dalam tubuh Zhaoling.



"Apa yang Anda rasakan saat ini, Tuan?" tanya Tabib tersebut.



Zhaoling pun menjelaskan kepada Tabib tersebut, bahwa dirinya sering merasakan mual, pusing, serta tubuhnya sangat lemas. Bila mencium aroma sesuatu, dirinya langsung mual ingin muntah. Jika menginginkan sesuatu dan tak mendapatkannya saat itu juga, maka Zhaoling akan merajuk. Terkadang, dirinya pun melakukan hal yang tak biasa dilakukan. Misalkan, memakan buah yang rasanya masam atau memakan makanan pedas.



Mendengar penjelasan Zhaoling, Tabib itu tersenyum lebar seakan mengejek dirinya. Sungguh, itu membuatnya sangat marah. Jika Yu Xuan tidak menghalanginya, mungkin wajah Tabib itu akan babak belur dihajar oleh Zhaoling.



"Tuan. Saya sarankan istri Anda untuk menjalani pemeriksaan di Tabib khusus," keempat orang itu mengerutkan keningnya mendengar perkataan Tabib tersebut.



"Maksudnya?" mereka saling memandang. Kemudian, Xin'er berbicara. "Saya baik-baik saja, Tabib Long."



"Memang. Anda baik-baik saja, tapi suami Anda yang mengalaminya." ujar Tabib Long sebelum melanjutkan ucapannya kembali. "Kemungkinan, saat ini Anda sedang mengandung!"



"Apa?"



**Bersambung** ....