
Para perampok bertopeng segera melepaskan penutup wajah mereka, setelah sampai di sebuah Gua yang ada di daerah pegunungan Dong.
Mereka langsung menurunkan perlahan pria salah satu anak angkat Tuang Khong yang terluka terkena sabetan pedang. Lukanya cukup parah, karena pedang lain menusuk tepat di dada kirinya.
Jiong meringis kesakitan menahan luka di bagian dada kirinya dengan kain yang diberikan oleh Jihu. "A-aku su-sudah tak sa-sanggup be-bertahan la-lagi, Ayah." ucapnya dengan kesulitan.
Tuan Khong menggenggam erat tangan Jiong sambil mengelus kepalanya lembut. "Jangan berkata seperti itu, Nak! Ayah akan memastikan dirimu selamat. Percayalah," kata Tuan Khong. "Jihu, Yoona. Kalian carikan dedaunan obat di sekitar sini, dan tolong cari bunga langka yang berwarna ungu dengan bentuk seperti corong. Cepat cari, dan segera bawa kemari!"
"Baik!" Jihu dan Yoona segera pergi untuk mencari tanaman obat tersebut. Jiong berusaha menghentikannya, namun keduanya telah keluar dari Gua.
"Bersabarlah, Nak. Kamu akan selamat," cetus Tuan Khong memberikan semangat pada putranya.
Jiong menggelengkan kepala perlahan. "Lu-luka di tu-tubuhku cu-cukup parah, A-yah. A-aku ti-dak a-kan se-sela-mat," lirihnya masih dengan kesulitan. "A-yah, to-long be-berikan ini pa-da Yoona." sebuah jepit rambut dengan ukiran bunga matahari, diserahkan Jiong kepada ayahnya. "Katakan bah-wa se-lama ini dia sa-lah paham. Pria itu ti-tidak tahu kalau Yoona diusir dari Istana," lanjut Jiong dengan sangat kesulitan.
Tuan Khong mengernyitkan keningnya mendengar perkataan Jiong, Putra Kedua-nya. "Pria? Pria siapa?" tanya Tuan Khong bingung. Selama ini, Beliau tak tahu jika Yoona seorang Putri, lebih tepatnya adalah istri dari Pangeran Xili. Yoona pun tak pernah bercerita kalau dirinya adalah bagian dari kerajaan. Dia cuma mengatakan bahwa mereka difitnah, sehingga dihukum oleh Kaisar untuk diasingkan ke Kuil Dewa.
Namun, Jiong tak bisa melanjutkan ucapannya karena sudah tak bisa menahan sakit di bagian luka tersebut yang memang sangat fatal. "Aarrgggh,"
"Jiong ... Jiong ... Jiong!" Tuan Khong mengguncangkan tubuh putranya, namun tak ada reaksi apapun. Jiong telah pergi untuk selamanya.
"Kakak Kedua!" teriak semua dengan histeris. Mereka bahkan sempat menepuk bagian tubuh Jiong.
Di saat bersamaan, Jihu dan Yoona baru saja kembali dari hutan dan membawa tanaman herbal yang diminta ayahnya tadi. Melihat semua orang menangis, keduanya lekas mendekat dengan tatapan datar. "Ada apa ini?"
Mereka tak menjawab pertanyaan Jihu dan Yoona. Hanya isak tangis yang terdengar pilu dari semua orang yang berada di sana. Karena merasa diabaikan, Jihu berteriak dengan kesal. "Kenapa kalian menangis? Katakan biar aku paham,"
Daeyong segera menggeser tubuhnya supaya Jihu melihat apa yang ada dihadapan mereka dengan sendiri. Tak perlu penjelasan, cukup sebuah tindakan saja sudah menjelaskan segalanya.
Mata Jihu membelalak. Ia bahkan menjatuhkan tanaman herbal yang sempat dicarinya bersama Yoona di hutan dengan susah payah. "Jiong ... bangun! Aku sudah menemukan obat yang bisa menyembuhkan lukamu itu. Li-lihat ..." dia pun segera memungut tanaman yang tadi sempat terjatuh ke tanah dan memperlihatkan di depan Jiong yang sudah menutup matanya. "Aku berhasil menemukan obat ini bersama Yoona di hutan itu. Kau tahu, kami mendapatkan ini dengan susah payah. Jadi, kau harus memakannya saat ini juga!" celotehnya seperti tak terjadi apa-apa.
Yoona segera memeluk tubuh Jihu dengan erat. "Biarkan kak Jiong istirahat, Kak. Dia sudah lelah," desis Yoona dengan lirih. Air mata sudah membanjiri pipi hingga suara Yoona pun terdengar bergetar.
Jihu meronta dari dekapan Yoona. Dia berjalan mendekati jasad Jiong lagi. "Kau tahu, aku akan marah jika kau mengabaikan perkataan ku. Ayo, lekas duduk dan makanlah bunga langka ini, supaya lukamu cepat sembuh!" ujarnya lagi.
Semua orang yang melihat itu menjadi tak tega. mereka keluar untuk menghindari pemandangan yang mengharukan tersebut. Sementara Tuan Khong Guan hanya terdiam tak bereaksi apapun. Beliau menatap dengan tatapan kosong kearah jasad putranya.
Kenangan dua tahun bersama Jiong bukan waktu sebentar. Mereka bersama-sama disaat suka ataupun duka. Terlebih, ayahnya yaitu Tuan Khong, tak membeda-bedakan semua anak angkatnya. Kasih sayang yang sama kepada mereka selalu tercurah, membuat Kelima anak angkatnya hidup berdampingan dengan rukun.
Sedih, tentu sangat sedih. Tapi, melihat Jihu yang sangat terpukul atas meninggalnya Jiong membuat hati semakin sakit. Jihu dan Jiong sudah bersama sejak lama. Keduanya ditemukan oleh Tuan Khong pada saat usia dua belas tahun, dan dalam keadaan menyedihkan. Mereka ditinggal mati oleh orang tuanya karena pembantaian masal, yang dilakukan para bandit.
Tuan Khong yang tak sengaja melewati Desa mereka, melihat jelas kekejaman para bandit itu. Sebagai seorang yang berhati nurani, Beliau pun segera menyelamatkan Jihu dan Jiong serta menyembunyikan keduanya dari para bandit yang sedang mengincar nyawa keduanya.
Sejak saat itu, keduanya jadi anak angkat Tuan Khong Guan, dan memiliki marga Khong.
Tuan Khong berdiri dan menghampiri Jihu. Dipeluknya putra pertamanya itu sambil menepuk punggungnya pelan. "Relakan kepergian adikmu, Nak. Dia terlalu lelah," ucapnya lirih.
Seketika tubuh Jihu ambruk di tanah. Dia menangis sejadi-jadinya, "maafkan aku!" terdengar rasa penyesalan dari nada bicaranya. Jihu merasa dirinya tak bisa melindungi adiknya tersebut.
"Tabah kan hatimu, Nak. Ikhlaskan kepergian Jiong dengan hati yang lapang. Biarkan dia beristirahat dengan tenang!" nasihat Tuan Khong lagi. Semua orang menangis dalam diam, tak kuasa menahan rasa sedih yang mendalam ini.
...💫💫💫💫...
"Apa? Jendral Hui tewas?" Kaisar terkejut atas laporan yang disampaikan seorang prajurit.
"Betul, Yang Mulia. Pembunuhnya adalah Perampok bertopeng dan ... dan ..." prajurit itu tampak gugup tak bisa melanjutkan ucapannya.
Kaisar Zhihu menautkan kedua alisnya melihat prajurit yang gugup itu. "Katakan dengan jelas. Dan apa?!" pinta Kaisar.
"Sebelumnya hamba minta maaf, Yang Mulia!" ucapnya takut. "Orang yang terlibat dan melindungi para perampok bertopeng itu adalah ... Pa-Panglima Zhaoling, Yang Mulia!" ungkapnya sedikit terbata.
"Tidak mungkin!" sanggah Kaisar seraya berdiri dari tahtanya. "Kau memfitnah Putraku atas kematian Jendral Hui? Dia itu bawahan setia Zhaoling. Tidak mungkin putraku membunuh pengikut setianya!" Kaisar terus menampiknya.
"Kami sudah menemukan bukti di tempat kejadian, Yang Mulia. Selain topeng para perampok itu, kami juga menemukan kipas milik Panglima tergeletak diantara mayat pasukan Xili." tuturnya seraya memperlihatkan kedua benda tersebut kearah Kaisar.
Suasana di dalam Istana menjadi ricuh. Mereka segera membicarakan apa yang sedang terjadi saat ini. Bahkan, dengan terang-terangan mereka mengutuk Zhaoling karena melindungi perampok bertopeng yang selalu meresahkan para Bangsawan.
"Sungguh pria munafik. Dia menggunakan kekuasaannya untuk hal yang menjijikan seperti ini," para Mentri dan Pejabat lain segera menggunjing Zhaoling.
Namun, mereka tak melihat seringai kemenangan dari seseorang yang berada diantara mereka saat ini. Pria itu tersenyum dengan hati yang sangat puas, "terimalah akibatnya jika kau berani berurusan denganku!"