
Di belahan Bumi bagian Utara. Daerah Perbatasan Baujighong.
Terjadi peperangan antar Kerajaan besar. Kedua belah pihak mengirim pasukan terbaik mereka yang dipimpin Panglima terhebat yang mereka miliki. Pasukan berkuda serta prajurit bersenjata lengkap tengah bersiap untuk memulai peperangan.
Di medan perang semuanya bisa terjadi. Hidup dan mati, kalah atau menang, itu hal yang biasa terjadi kepada kedua belah pihak yang terlibat peperangan. Jika musuh menang, maka mereka yang kalah, begitupun sebaliknya. Tapi, para prajurit itu tak gentar sedikitpun dan siap mengorbankan nyawa demi mendapatkan kemenangan untuk Negaranya.
Nguuuuuunng
Terompet tanda perang telah berbunyi. Para prajurit dibarisan depan segera bersiap untuk mengayunkan pedang dan tombak mereka. Para pemanah dibarisan belakang tengah bersiap menarik busur dan melepaskan anak panah kearah depan untuk menjatuhkan musuh.
"Serang!" teriak para pemimpin mereka.
"Haaaaaa," seluruh prajurit bergegas maju dengan penuh semangat. Tak ada rasa takut sedikitpun dari sorot mata mereka, yang ada hanya semangat bertarung untuk meraih kemenangan.
Sleb ... sleb ...
Ratusan bahkan ribuan anak panah meluncur dengan cepat dari atas seperti hujan yang mengguyur Bumi.
"Aaaakkhh," banyak prajurit yang jatuh akibat terkena anak panah tersebut karena, mereka tak sempat melindungi diri dengan perisai.
Tapi, pertempuran tak berhenti disitu. Prajurit dengan pedang dan tombak segera maju kembali dan saling membenturkan senjata mereka untuk melindungi diri. Bahkan, mereka tak segan untuk terus maju guna menerobos pertahanan musuh.
Slash ...
"Aaaakh," korban berjatuhan dari kedua belah pihak. Prajurit itu mati setelah terluka berat akibat serangan musuh. Baik itu kawan ataupun lawan, mereka tak bisa membedakan mayatnya saat ini yang harus terinjak-injak oleh kaki saat bertarung melawan musuh.
Korban berjatuhan dimana-mana dengan memiliki luka yang cukup berat, sehingga menewaskan mereka saat itu juga. Bau amis darah tercium diarea tempat pertempuran berlangsung. Mayat berserakan seperti ikan yang terdampar di darat karena surutnya air laut. Mereka menggelepar sebelum kehilangan kesadaran sepenuhnya.
Sungguh tragis menyaksikan pemandangan tersebut. Tak ada rasa peduli ataupun simpati dari mereka kepada musuh. Karena, jika mereka mengasihani musuh, maka mereka sendiri yang akan menjadi korban kebrutalan para prajurit siap mati itu.
Setelah prajurit dengan pedang dan tombak saling bertarung, disusul oleh pasukan berkuda milik masing-masing. Mereka menyerang dengan penuh semangat serta keganasan. Tatapan tajam dan dingin terlihat dari ekspresi wajah mereka, juga dipenuhi rasa haus akan darah musuh.
Semua orang yang terlibat dalam perang ini akan memiliki tekad yang kuat untuk menang dan mempertahankan wilayah kekuasaan mereka saat berada di medan perang. Jika mereka kalah di perang kali ini, bukan hanya akan kehilangan wilayah kekuasaan, tapi juga akan kehilangan nyawa. Karena, jika sampai musuh yang menang dan menangkap mereka semua, mereka pasti akan dibunuh juga. Hukuman paling ringan yaitu, dijadikan budak untuk Raja dan Pejabat Tinggi Kerajaan.
Pertempuran cukup sengit. Kedua belah pihak tak mau mengalah pada musuh dan terus mempertahankan formasi mereka agar musuh tidak dapat menerobos kedalam. Jika formasi pertahanan mulai goyah, bukan tidak mungkin bagi musuh dapat menyerang bagian dalam pertahanan mereka. Kalau sampai itu terjadi, maka pihak mereka akan kalah.
"Lapor, Panglima! Jendral Chong sudah mulai turun," seorang prajurit segera mendekati pemimpin mereka.
Panglima tersebut menyeringai penuh arti. Tangannya melambai kerah prajurit itu sambil berkata, "biarkan dia jalan masuk! Berikan kesempatan untuknya menang. Anggap saja ini hadiah sebelum kematiannya," cetusnya.
"Panglima Zhaoling. Apa Anda yakin akan membiarkan Jendral Chong masuk kedalam formasi kita?" tanya Jendral Jun.
Zhaoling melirik sekilas, kemudian tersenyum tipis. Mata elangnya menatap jauh kearah musuh di depan yang sedang bertempur melawan pasukannya dengan gigih. Dia saat ini belum turun tangan, tapi musuh sudah menurunkan Jendral mereka satu persatu ke medan perang. Bukankah pasukan Xili cukup kuat?
Sekali lagi, Zhaoling tersenyum bangga kearah pasukan yang dipimpinnya. Walaupun pasukannya mengalami kerugian, tapi korban yang mereka dapatkan jauh lebih sedikit daripada pasukan musuh. Itu tandanya, dia cukup berhasil melatih para prajurit tersebut.
"Mulai melempar kail untuk memancing Ikan! Kita berikan umpan terbaik supaya Ikan tertarik memakannya," kata Zhaoling.
Seperti yang diperintahkan Panglima Zhaoling kepada prajuritnya, mereka segera membuka formasi pertahanan seolah telah kalah oleh musuh. Tapi, mereka tidak tahu bahwa itu adalah taktik perang Zhaoling untuk menarik mereka kedalam.
Prajurit itu menembakkan anak panah yang sudah diberi gantungan khusus, agar prajurit lainnya dapat melihat simbol tersebut. Seluruh pasukan Zhaoling segera mengerti isyarat yang disampaikan prajurit itu. Mereka membiarkan pertahanan melemah, agar pemimpin musuh dapat terpancing untuk turun ke medan perang. Walaupun seperti itu, mereka tetap bertahan untuk tidak kalah dan mati.
Jendral Chong melihat Zhaoling dari kejauhan yang sedang bertarung melawan prajuritnya, kemudian ia menaiki kudanya disusul oleh dua Jendral Lainnya.
Setelah jarak mereka dekat, ketiganya langsung berpencar untuk mengepung Zhaoling dari semua sisi agar tidak bisa lari. Lalu, ketiganya turun dan menyerang Zhaoling bersama-sama. Mereka tak memberikan kesempatan bagi Zhaoling untuk mempersiapkan diri dan melawan.
Trang ... trang ... trang
Suara benturan dari pedang mereka terdengar nyaring. Tiga lawan satu, bukan lawan seimbang. Tapi, Zhaoling tetap berusaha mempertahankan dirinya agar tidak terluka. Dia berusaha menahan semua serangan yang diberikan ketiga Jendral musuh itu sampai tubuhnya mundur beberapa langkah karena dorongan kuat.
"Hooo. Inikah Panglima Besar Xili yang terkenal dengan sebutan Iblis Kematian itu? Ku rasa mereka salah memberikan julukan," ejek Jendral Chong.
"Kau benar, Jendral Chong. Dia bukan Iblis Kematian, tapi dia itu adalah si pecundang." timpal Jendral Ching sambil tertawa lepas. "Ku dengar, dia selalu membawa wanita cantik dan bersembunyi di belakangnya saat berperang. Lalu, dimana wanita cantik itu? Sayang sekali jika kau menjadikannya tameng untuk melindungi diri sendiri," lanjut Ching mengejek.
Zhaoling hanya tertawa mendengar ejekan mereka. "Aku tidak akan menjadikan siapapun tameng untuk melindungi diriku. Karena sejujurnya, aku bisa membunuh kalian bertiga bahkan seratus prajurit dalam sekali serang. Tapi, para prajurit setiaku saja sudah cukup untuk membunuh kalian bertiga."
"Sombong. Bilang saja kalau kau takut," cetus Jendral Chang. Kemudian, ia berlari dengan cepat kearah Zhaoling sambil mengayunkan pedangnya. "Hiyaaaaaa,"
Zhaoling tak bergerak sedikitpun untuk menghindari serangan Jendral Chang. Tapi, sebelum pedangnya mengenai tubuh Zhaoling, sebuah pedang menghalanginya.
Trang ...
Jendral Chang terkejut dengan pergerakan seseorang yang tiba-tiba mengganggu serangannya. Dia menoleh kesamping yang ternyata seorang wanita dengan pedang ditangannya, tengah berdiri sambil menatapnya tajam. "Hoo, ini ternyata sang pelindung Panglima Besar Xili! Sangat cantik. Sayang sekali jika harus mati di medan perang," seloroh Jendral Chang.
Kemudian, dengan berani Jendral Chang mengusap pipi mulus wanita itu setelah mengitarinya. "Bagaimana jika kau menjadi teman tidurku saja? Aku berjanji, tidak akan membawamu berperang seperti yang dilakukan oleh Zhaoling!" ucapnya dengan nada menggoda.
Wanita itu langsung menepis tangan Jendral Chang dengan keras. "Tidak usah banyak bicara! Aku akan membunuhmu," cetus wanita itu dengan geram.
"Woow, galak sekali. Tapi aku suka," desis Jendral Chang dengan suara dibuat-buat. "Jika di ranjang juga seperti itu, mungkin akan sangat menarik!" cibirnya kemudian.
"Hahaha," Jendral Ching, dan Chong itu tertawa lepas karena gurauan Jendral Chang pada wanita itu. Dia berhasil menggoda si wanita sampai wajahnya memerah. Namun bukan karena tersipu, tapi malah membuatnya semakin marah.
"Brengsek," wanita itu segera maju untuk memberikan pelajaran pada ketiga Jendral itu, Chang, Ching, dan Chong. Pedangnya segera terayun keatas, "rasakan ini!"
Tapi, suara Zhaoling berhasil membuatnya diam ditempat. "Tahan, Ming He!" lalu, Zhaoling segera berjalan mendekati Ming He dan menyuruhnya mundur. Kemudian, ia berkata dengan lembut kearah ketiganya. "Aku ingin memberikan hadiah besar kepada Kaisar Chengqi, sebagai salam perdamaian!" ucap Zhaoling tiba-tiba.
Ketiga Jendral itu saling pandang, lalu mereka tertawa mengejek. "Apa kau mulai takut sekarang? Jika seperti itu, maka tidak masalah! Berikan kami semua wilayah kekuasaan mu dan juga para wanita cantik sebagai penghibur. Kami akan membiarkanmu tetap hidup," ejek ketiganya.
Zhaoling menggelengkan kepalanya. "Aku tidak akan memberikan apapun yang kau minta. Tapi, hadiah yang ku maksud adalah ... kepala kalian bertiga!" suara Zhaoling menjadi dingin dan datar. Tatapan matanya yang tajam bagaikan pisau yang siap menusuk jantung kapan saja.
Setelah berbicara, Zhaoling langsung menggerakkan tangannya tiba-tiba untuk mengayunkan pedangnya kearah Jendral Chang dengan kuat. Jendral Chang yang tidak siap dan tak bisa membaca pergerakan Zhaoling pun tak dapat menghindar lagi. Akhirnya ....
Sreeekkkk ...
Pedang Zhaoling tepat mengenai lehernya, dan Kepala Jendral Chang langsung jatuh menggelinding di tanah. Tubuhnya pun jatuh ketanah dengan keras akibat hilangnya Kepala Jendral Chang.
"Kakak Chang!" seru Ching dan Chong serempak. Mereka terkejut dengan pergerakan Zhaoling yang tiba-tiba
Kepala Jendral Chang segera diinjak dibawah kaki Zhaoling sambil berkata, "Perang baru dimulai. Akan aku tunjukan bagaimana sang Iblis Kematian beraksi,"
...Bersambung gaess, ... ...