Panglima Perang Kerajaan Xili

Panglima Perang Kerajaan Xili
Terluka


Sudah delapan hari, Zhaoling dan Xin'er saling menjauh. Semenjak terakhir kali mereka mengobrol di gunung waktu itu, Xin'er meminta untuk tidak bertemu lagi.


Dia tak mau membuat Pangeran Ketiga bersedih, hanya karena Ibu Suri membencinya dan ingin menyingkirkannya dari Istana. Walaupun sejujurnya, hati Xin'er teramat sangat sakit. Tapi, jauh dalam lubuk hatinya, dia merasa kasihan pada suaminya itu.


Pangeran Zhaozu lebih menderita di dalam Istana. Selama ini, ia menanggung kebencian dari semua orang hanya sendirian. Tak ada yang benar-benar tulus menyayanginya, kecuali ibunya. Jika Xin'er pun meninggalkan dirinya, bagaimana nasib Pangeran Ketiga selanjutnya?


"Maafkan aku, Aling. Aku wanita bersuami, tak pantas bila harus pergi dengan lelaki lain selain suamiku! Jadi, ku mohon jangan membuatku berpaling dari suamiku! Walaupun dia jauh dari kata sempurna, tapi dia sangat baik terhadapku." tutur Xin'er setelah menghapus jejak air matanya.


Zhaoling terpaku dan membisu mendengar perkataan Xin'er. Antara senang dan juga sedih. Senang karena, ternyata istrinya masih mengingat dan memilih dirinya dibanding lelaki lain, walaupun tahu bahwa dirinya banyak kekurangan. Sedih karena, Xin'er berusaha tegar untuk bisa bertahan hidup didalam Istana yang selalu menyiksa batinnya.


"Baiklah, Xin'er! Jika itu keputusanmu, maka aku tidak akan mengganggumu lagi!" sahut Zhaoling menegaskan. "Aku berjanji akan menjauhi mu selama itu membuatmu senang. Tapi ingat, jika kau memberikanku celah sedikit saja, maka ku pastikan takkan pernah melepasmu walau apapun yang terjadi!" imbuh Zhaoling lagi.


Mereka pun berpisah setelah hari sudah mulai terang. Keduanya pulang ke Istana secara terpisah, dengan mengambil jalur yang berbeda. Walaupun Xin'er cukup kecewa, tapi ini memang sudah keputusannya dan ia pun tak boleh menyesali apapun lagi.


Tanpa sepengetahuan Xin'er, Zhaoling terus mengawasi langkah istrinya untuk pulang agar selamat sampai Istana. Dia tak mau terjadi sesuatu pada istrinya saat diperjalanan.


Xin'er kembali ke Istana Zhoseng untuk beristirahat, karena semalaman dia tak tidur dan hanya latihan bersama Zhaoling di gunung belakang Istana. Tubuhnya saat ini begitu lelah, namun ia tetap memikirkan perkataan si pria dingin saat memeluknya.


'Pergilah bersamaku!'


"Aarrgggh," Sungguh, pikiran Xin'er saat ini tak karuan. Mengingat semua perlakuan buruk orang-orang di dalam Istana pada dirinya, membuatnya ingin pergi dan mengiyakan ajakan Zhaoling. Tapi, hatinya berkata tidak. Bagaimanapun, dia telah bersuami dan tak pantas bagi wanita bersuami untuk pergi bersama pria lain. Apalagi, Pangeran Zhaozu sangat membutuhkan dukungan dan semangat darinya. Pikir Xin'er.


Melihat Nona-nya sedang bersedih, kedua pelayannya hanya membiarkan Xin'er sendirian tanpa berani mengganggu. Mereka tak mau bertanya jika bukan Nona-nya yang mengatakan sendiri. Karena, keduanya yakin jika Xin'er akan bercerita setelah dirinya tenang kembali.


Saat ini, Xin'er hanya sendirian di dalam kamar tanpa ada yang menemani. Tubuhnya bergetar seiring dengan naik turunnya kedua bahu. Ya, dia sedang menangis. Entah apa yang ditangisi Xin'er saat ini, yang pasti ada kaitannya dengan perasaannya pada Pangeran Ketiga ataupun Zhaoling.


Sudah puas menangis, gadis itu merebahkan tubuhnya di ranjang dengan memeluk guling. Cukup lama terjaga, akhirnya mata Xin'er pun terpejam seiring terdengarnya dengkuran halus. Dia tak menyadari jika seseorang telah masuk ke kamar dan menyusul untuk memeluk tubuhnya dari belakang.


Di ciumnya dalam-dalam aroma tubuh Xin'er sembari memberikan kecupan sayang padanya. Dia teramat sangat menyesali perbuatannya yang telah menyakiti dan mempermainkan perasaan istrinya. Namun, apa boleh buat, jika saat ini tak ada yang bisa dilakukan oleh Zhaoling. Walaupun hatinya ingin mengatakan kejujuran itu, tapi bibirnya terasa kelu saat berhadapan dengan istrinya tersebut.


Sejujurnya, Zhaoling sangat takut akan sesuatu yang belum terjadi. Takut jika Xin'er akan membencinya. Tapi, jika kejujuran itu terungkap, justru Zhaoling akan kehilangan semua orang yang ia sayangi selamanya. Sebab, musuhnya masih berkeliaran di luar sana tanpa diketahui olehnya.


"Maafkan aku, Xin'er. Aku berbuat ini agar kau selamat dari bahaya. Mungkin, aku benar-benar orang yang pengecut," lirih Zhaoling seraya mendekap tubuh istrinya. "Tunggu sampai waktunya tiba, sayang. Aku janji, setelah ini kita akan hidup tenang dan bahagia. Setelah ini, tak kan ada yang mengusik mu lagi di Istana!" ucapnya lagi dengan suara sekecil mungkin, agar tak mengusik tidur istrinya.


Zhaoling pun menyusul Xin'er masuk kedalam alam mimpi sambil terus memeluknya.


Setelah kejadian hari itu, Zhaoling benar-benar menghilang dan hanya ada Pangeran Ketiga. Panglima Perang itu mengumumkan keberangkatannya menuju perbatasan kota untuk menghalau para bandit. Namun sebenarnya, dia berada di samping Xin'er dan menjalankan peran sebagai Pangeran Ketiga dengan perasaan senang.


Setiap hari, dia terus bermanja pada istrinya tersebut. Tapi, sikap yang ditunjukan Xin'er berbeda dengan yang dikatakan padanya waktu itu. Xin'er mengatakan jika dia takkan menerima pria lain selain suaminya, namun kenyataannya dia tak mau disentuh oleh Pangeran Zhaozu walau hanya tangannya saja.


Xin'er terlihat seperti menjauh dan menjaga jarak dari suaminya. Dia lebih banyak melamun sendirian di taman tanpa ditemani Mengshu ataupun Yuelie. Gadis itu seperti sedang memikirkan sesuatu.


Apa itu?


Rasa penasaran mulai menghampiri Pangeran Zhaozu kala istrinya selalu termenung tanpa sebab. Dia mencoba berbicara baik-baik untuk bertanya perihal ini, tapi Xin'er seolah menghindar untuk menjawab pertanyaannya.


"Xin'er. Apa salahku?" seketika gadis itu menoleh.


"Maksudmu?"


Xin'er tersentak karena, pertanyaan dari Zhaozu sangat menohok-nya. Dia bilang pada Zhaoling menerima sepenuh hati suaminya, walaupun suaminya itu banyak kekurangan. Tapi kenyataannya, dirinya bahkan tak mau disentuh sedikitpun oleh suaminya tersebut.


"Maaf!" ucap Xin'er tulus. Rasanya, hati dan bibirnya tak sejalan. Bibirnya berkata iya, tapi hatinya mengatakan tidak. Perasaannya saat ini terbagi antara Zhaozu dan Zhaoling. Pangeran Ketiga dan Panglima Perang.


Pangeran Ketiga termenung sesaat. Entah apa yang sedang ia pikirkan saat ini, karena wajahnya terlihat sangat gusar. 'Mungkinkah Xin'er sudah mengetahui segalanya? Tapi, jika dia sudah tahu, dia tidak akan bertahan disini!' batin Pangeran menerka.


Sekarang, pikiran Zhaoling yang menjadi kacau. Perasaan bersalah terus mendominasi dirinya untuk berbuat sesuatu. Ya, dia harus melakukan sesuatu agar Xin'er mengerti.


"Xin'er. Jujur saja, aku merasa kau itu sedang menjauhiku. Aku tahu, kalau aku banyak kekurangan. Tapi, aku sudah berusaha membuatmu bahagia. Namun ternyata, itu semua tak cukup bagimu. Jadi, mulai hari ini aku takkan mengganggu lagi dan akan menjaga jarak denganmu. Hiduplah di Istana dengan baik," cetus Pangeran tiba-tiba.


Setelah mengatakan hal itu, Pangeran beranjak dari duduknya dan melangkahkan kaki keluar ruangan. Dia pergi tanpa menoleh sedikitpun lagi kearah Xin'er. Sudah cukup baginya membuat istrinya sengsara. Pangeran Ketiga cukup tahu diri dan dia memutuskan untuk memberikan ruang bagi Xin'er berpikir. Dengan ini, mudah-mudahan Xin'er dapat berubah kembali.


Xin'er hanya menatap punggung lebar itu sampai menghilang dibalik pintu, tanpa berniat menghentikannya. Dia sendiri masih bingung dengan perasaannya saat ini. Mungkin, dirinya memang membutuhkan waktu untuk sendiri.


Dua hari berlalu, Pangeran Ketiga tak kunjung pulang ke kediamannya, membuat Xin'er khawatir. Awalnya, dia mengira jika Pangeran Ketiga bermaksud memberikan ruang kepadanya itu ialah dengan tidak menyapanya. Namun, ia salah. Pangeran Ketiga malah tidak kembali ke Istana.


"Dimana kamu, Pangeran?" hati Xin'er saat ini menjadi cemas. Ia menyesal karena tak menghentikannya pergi waktu kemarin.


Untuk pertama kalinya, Xin'er merasakan perasaan resah seperti ini. Semua orang kepercayaan sudah dikerahkan untuk mencari, namun tak ada yang mengetahui keberadaan Pangeran. Walaupun ia berusaha mencari, tapi dia bertindak secara diam-diam. Dia tak mau ada yang memanfaatkan ketidak adaan Pangeran di Istana.


Tepat saat Xin'er dibuat kalap oleh hilangnya Pangeran, Permaisuri Jian datang berkunjung ke kediamannya. Walaupun Beliau ibunya Pangeran, tapi Permaisuri Jian tidak marah ketika Xin'er menceritakan kejadian sebelum Pangeran menghilang.


Permaisuri hanya tersenyum sambil mengelus kepala Xin'er dengan rasa sayang. Tutur kata yang lembut serta keramahtamahan Permaisuri, membuat Xin'er menangis tergugu karena mengingat sosok ibunya.


Melihat sang menantu menangis seperti itu, membuat Permaisuri Jian tak tega. Beliau memutuskan untuk bermalam dengan Xin'er, agar menantunya itu tak kesepian lagi.


Tepat dimalam Permaisuri Jian menginap, datanglah tiga penyusup yang berencana membunuh Xin'er maupun Pangeran Ketiga, sesuai instruksi atasan mereka.


Saat akan menebaskan pedang, Xin'er ternyata terbangun dan menahan pedang mereka menggunakan pedang yang biasa tergeletak di samping tempat tidurnya. Mereka yang terkejut melihat Xin'er terjaga, kemudian berusaha mempercepat tugas mereka. Disaat bersamaan, Permaisuri bangun dan melihat kehadiran orang asing di sana.


Bergegas Beliau mendorong tubuh ketiga para penyusup dan berlari untuk memanggil prajurit ataupun penjaga. Namun sayang, pedang salah satunya berhasil menggores punggung Permaisuri, hingga Beliau tersungkur di lantai dengan luka menganga.


"Tidak," Xin'er segera berlari menghampiri, namun mereka menghalangi. "Minggir kau, sialan!" dia bertarung sekuat tenaga untuk melawan para penyusup agar bisa secepatnya menolong Permaisuri Jian.


Tapi, ilmu mereka cukup tinggi, sehingga Xin'er sulit mengalahkannya. Walaupun ia berusaha, tetap saja ia kalah.


"Hahaha. Ternyata hanya begitu saja kemampuanmu," ejek mereka. "Tuanku terlalu cemas dengannya, padahal dia tak jauh berbeda dengan gadis biasa." lanjut mereka mencemooh. "Ayo, kita selesaikan ini!"


Pedang pun terangkat dan siap melesat menebas leher Xin'er. Namun sebelum menyentuh lehernya, terdengar para prajurit patroli berjalan menghampiri karena mendengar keributan.


"Tuan Putri. Apa yang terjadi?"


Mendengar bahwa ada para prajurit patroli yang datang, mereka pun segera kabur dari arah belakang dan melompat lagi ke atap seperti sebelumnya.


"Tolong!" teriak Xin'er dengan sangat keras.


...Bersambung ......