Panglima Perang Kerajaan Xili

Panglima Perang Kerajaan Xili
Menjadi Teman


Sudah sebulan Xin'er berada di Istana. Saat ini, dia tengah merindukan ayah dan kakak kandungnya. Kemarin saat pulang, Xin'er dan Zhaoling hanya menginap dua malam di rumahnya. Namun, dengan alasan penting, Pangeran harus kembali secepatnya ke Istana dan terpaksa Xin'er harus ikut. Karena bagaimanapun, Pangeran adalah suaminya yang wajib diikuti kemanapun pergi.


"Nak. Jaga dirimu baik-baik di Istana. Pastikan kau makan dengan teratur, dan juga merawat suamimu dengan benar. Bantu dia untuk melewati masalah yang dihadapi. Sejujurnya, dia itu kesepian didalam Istana. Jadi, kau harus bisa menjadi istri sekaligus teman baiknya!" nasihat Tuan Xiaoyu pada putrinya.


Ada sedikit perkataan aneh dari ayahnya yang Xin'er sendiri tak tahu apa artinya. Maksudnya, Pangeran kesepian di Istana dan dia pun harus melewati masalah? Sebenarnya, apa yang terjadi di dalam Istana? Kenapa ayahnya begitu sangat khawatir pada mereka? Bukankah seorang Pangeran hidupnya akan terjamin?Apakah ...???


Belum sempat Xin'er memikirkan apa yang terjadi selanjutnya, suara kakaknya segera terdengar. "Ingat! Jika di dalam Istana, kau tidak boleh berulah apapun. Kakak tak bisa datang kesana setiap waktu. Jika pun kesana, harus ada kepentingan dulu baru bisa melihatmu. Jadi, kau harus menjaga diri baik-baik di sana!" nasihat Xiaolang pada adik satu-satunya.


Xin'er mengangguk sambil memeluk kakaknya dengan erat. "Aku akan baik-baik saja di sana. Kakak juga harus menjaga diri kakak dan ayah sebaik mungkin. Awasi terus pergerakan si nenek lampir dengan kedua anaknya itu, dan segera beritahu aku jika mereka berulah! Kakak harus berjanji!" celoteh Xin'er berbisik ria ditelinga sang kakak.


Xiaolang terkekeh mendengar panggilan Xin'er untuk ibu tiri mereka itu. Dia tak menyangka jika gadis kecilnya itu akan lebih berani sekarang, dibandingkan dulu. Sifat dan sikapnya jauh berbeda dengan Xin'er kecil kesayangannya. Tangannya mengacak gemas rambut Xin'er sambil berkata, "jangan khawatir!"


Xin'er segera menepis tangan kakaknya yang terus mengacak rambutnya seperti memperlakukan seorang anak kecil. "Hish, kakak. Aku bukan anak kecil lagi! Jadi, berhentilah bersikap seperti itu! Bikin kesel aja." ketusnya sambil cemberut.


Kakaknya malah tertawa dibuatnya. Dia tak bisa mengendalikan diri karena menurutnya, tingkah adiknya selalu lucu dimata Xiaolang.


"Xin'er. Sudah selesai belum? Ayo, kita harus segera kembali!" teriak Zhaoling dari ara luar. Dia sudah berada diluar gerbang dan ditemani oleh ibu serta saudara-saudara tiri Xin'er yang sedang menjilat dengan tak tahu malu.


"Ya, sebentar!" sahut Xin'er ikut berteriak.


"Xin'er. Bawa Mengshu dan Yuelie untuk menemanimu di sana. Bawa juga Tangsin sebagai pengawal pribadimu. Ayah akan tenang jika mereka bersama denganmu!" ucap Tuan Xiaoyu.


"Tapi, ayah. Mereka adalah pelayan dan pengawal pribadi ayah. Untuk Mengshu, aku memang berniat membawanya. Jadi, ayah tak perlu mengirim Yuelie dan paman Tangsin ikut bersamaku!" tolak Xin'er cepat.


Namun, perintah ayahnya tak bisa dibantah. Dengan berat hati, Xin'er menerima keputusan ayahnya padahal dia khawatir dengan keadaan ayah dan kakaknya.



Diluar ...


Nyonya Muning mendekati Zhaoling dan berkata dengan suara pelan. "Yang Mulia. Apa Anda tidak akan mencari Selir lagi untuk menemani Xin'er di Istana harem Anda?" tanya Muning.


Mingna pun mendekat. "Jika Anda masih memerlukan Selir, saya siap kok!" timpal Mingna.


Zhaoling melirik sekilas, kemudian berpaling sambil menggelengkan kepalanya. "Haish. Tak tahu malu!" gumamnya lirih dibalik cadar.


Moheng pun melakukan hal yang sama. "Yang Mulia. Jika Anda memerlukan pengawal, panggil saja saya! Saya ini juga pandai bela diri dan ilmu pedang. Xin'er pun saya yang mengajarkan. Jika Anda menginginkannya, saya siap berangkat sekarang juga!"


Helaan nafas panjang terdengar. "Nanti akan aku pikirkan dulu." berkata kepada Moheng. Kini wajahnya menghadap Muning dan Mingna. Keduanya sangat antusias mendengar jawaban yang akan keluar dari mulut Pangeran. "Untuk masalah Selir, aku tidak berniat mencarinya lagi. Bagiku, istri hanya satu dan itu Xin'er seorang." ucapnya tegas.


Wajah mereka berubah mencebik. Niat hati ingin mendapatkan sesuatu yang bisa menguntungkan, tapi malah langsung ditolak mentah-mentah. "Ckk, sok alim!" cibirnya dengan bergumam yang masih bisa didengar Zhaoling.


Walaupun mendengarnya, Zhaoling hanya cuek dan tetap setia menunggu Xin'er keluar.


Tak lama kemudian, Xin'er keluar bersama ayah dan kakaknya. "Aku pamit ya, Ayah, Kakak, Bibi, dan kalian juga." ucapnya tanpa mau memanggil Muning dengan sebutan ibu serta kedua kakak tirinya.


Tuan Xiaoyu mendekati Pangeran. "Tolong jaga Putri hamba, Pangeran!" pintanya yang diangguki langsung Zhaoling.


Kereta kencana itu segera berangkat meninggalkan pelataran kediaman Perdana Mentri Yun, menyisakan mereka yang masih menatap kepergian rombongan Pangeran. Wajah sedih jelas terlihat dari Tuan Xiaoyu dan Xiaolang. Berbeda dengan mereka, ketiga orang lainnya malah senang akan kepergian Xin'er menuju Istana yang kata orang penuh dengan marabahaya.


Walaupun di Istana serba dilayani dengan gemerlapnya kemewahan, tapi jika kita tak memiliki kekuasaan dan pengikut setia, maka sama saja membunuh diri sendiri. Apalagi, Pangeran yang menikahi Xin'er bukan Pangeran normal. Ketiganya yakin, jika hidup Xin'er pasti seperti dalam neraka.


"Rasakan, kau. Hahaha!" batin ketiganya tertawa puas.




Xin'er terperanjat saat suara seseorang menegurnya dengan keras. Dia sontak berbalik, kemudian menunduk hormat.


Seorang wanita tua dengan pakaian ciri khas penguasa Kerajaan segera berdiri dihadapan Xin'er, sambil menatap penuh kebencian. "Jadi, ini istri dari Pangeran Ketiga?" bertanya dengan nada merendahkan.


Xin'er hanya mengangguk hormat kepada wanita tua tersebut. Kembali, wanita tua itu segera berucap. "Seorang gadis yang tak mempunyai bakat dan tak mengerti tatakrama Kerajaan. Ternyata, Pangeran Ketiga cukup bodoh memilih istri. Haish, memang pasangan serasi." ejeknya seraya pergi.


Ingin sekali Xin'er memukul mulut pedas wanita tua itu, jika dia tak punya kesopanan. Tapi, Xin'er diajari bagaimana cara menghormati orang yang lebih tua darinya. Maka dari itu, dia hanya diam sambil menunduk menunggu wanita tua itu pergi.


Setelah wanita tua itu pergi, seorang wanita paruh baya yang cantik segera datang menghampiri. Dengan senyum mengembang, Beliau mengusap lembut kepala Xin'er. "Apa Ibu Suri mengatakan sesuatu?" tanya Permaisuri Jian.


Xin'er segera mendongak menatap wanita lembut yang penuh kasih sayang dihadapannya. "Tidak, Yang Mulia! Beliau hanya ingin berkenalan saja dengan hamba." jawabnya berbohong.


Permaisuri Jian hanya tersenyum penuh arti. Dia tahu apa yang dikatakan Xin'er itu pasti kebohongan, karena dia sangat mengetahui tabiat mertuanya itu. Dari dulu, Ibu Suri selalu mengejek dan menjelekan putranya. Tepatnya, setelah kematian putra pertamanya, Zhaoliang. Dan juga selalu merendahkan putra keduanya, Zhaozu yang cacat.


Maklum, semua orang tak tahu jika Pangeran Ketiga itu adalah pria tampan dengan berbagai keahlian. Dia pandai ilmu bela diri dan juga pedang. Tapi, Permaisuri tetap menyembunyikan identitas asli putranya, walaupun itu kepada ibu mertuanya sendiri.


Helaan nafas terdengar sebelum Permaisuri berucap kembali. "Apa kamu betah tinggal disini, sayang?"


Xin'er mengangguk sambil tersenyum. "Tentu, Yang Mulia. Apalagi, Anda memperlakukan saya seperti putri Anda sendiri. Bagaimana saya tidak betah?" sahutnya dengan tersenyum.


"Jika aku menganggap kamu seperti putriku, maka kamu pun harus melakukan hal yang sama. Panggil aku ibu dan jangan bersikap formal seperti itu. Aku lebih suka kita berbicara santai, dari pada harus melihatmu selalu menunduk di depanku. Rasanya, seperti aku ini wanita jahat saja." tutur Permaisuri terkekeh.


Keduanya pun bercengkrama sambil tertawa lepas dihalaman belakang tersebut. Mereka saling bercerita satu sama lain, perihal kehidupan yang dijalani.


Ternyata, benar kata ayahnya. Hidup di Istana tidak mudah. Banyak halangan dan rintangan yang menghadang mereka, walaupun mereka mempunyai kedudukan tinggi didalam Istana. Seperti Permaisuri Jian ini, ibu mertuanya Xin'er.


Walaupun Beliau seorang yang berkedudukan tinggi di Istana harem, tapi dirinya harus merelakan rasanya berbagi cinta dan sayang bersama wanita lain yang menjadi selir suaminya. Belum lagi, hinaan yang didapatnya karena kedua putranya yang bernasib buruk.


Apakah ini keberuntungan bagi Xin'er karena memiliki suami Pangeran Ketiga, yang menyatakan bahwa dirinya takkan menikah lagi dengan wanita lain? Tapi, apa Xin'er harus yakin bahwa suaminya itu tak kan mengingkari perkataannya? Secara, dia kan Pangeran dari Kerajaan yang memiliki kekuasaan!


"Apa yang sedang kamu pikirkan sampai terlihat cemas seperti itu? Apa sedang memikirkan'ku?" tiba-tiba Zhaoling muncul didepannya dan mengejutkannya, sampai Xin'er terhenyak.


Xin'er yang terkejut segera memegangi dadanya. "Astaga. Kenapa kamu muncul tiba-tiba seperti hantu?" hardiknya kesal seraya memukul lengan suaminya.


Zhaoling terdiam menatap Xin'er dari balik cadarnya. Xin'er yang melihat itu, lantas menarik tangannya kembali yang tadi sempat memukul lengan suaminya tanpa sadar. "Ma-maaf!"


Mereka terdiam tanpa bersuara sedikitpun. Setelah cukup lama terdiam, Zhaoling segera membuka suaranya. "Teruslah berbuat seperti itu, Xin'er." Ucapan yang tak dimengerti oleh istrinya itu. Kemudian, dia melanjutkan kembali ucapannya. "Aku senang kalau kamu menganggap ku teman."


Ada sedikit nada kesedihan dari cara bicara Pangeran. Xin'er tahu, bahwa dia kesepian seperti yang dikatakan ayahnya. Eh tunggu! Darimana ayahnya tahu tentang semua itu? Tapi, wajar juga sih jika ayahnya tahu. Secara, Tuan Xiaoyu adalah Perdana Mentri. Tapi, apakah Perdana Mentri juga memperhatikan semua Pangeran disini selain urusan negara?


Ah, sudahlah!


Untuk apa Xin'er memikirkan itu semua. Yang terpenting baginya saat ini ialah menjadi teman yang baik. Ya, dia bertekad akan menjadi teman bagi Zhaoling disini.


Bersambung ...