
Setahun berlalu ...
Kehidupan Zhaoling dan Xin'er semakin tenang, setelah mendapatkan izin dari Kaisar dan Tuan Khong Guan. Kini, mereka hidup bersama disebuah Desa yang jauh di Wilayah Selatan, bernama Desa Monthong. Di Desa ini mereka hidup seperti Rakyat biasa yang berprofesi sebagai Petani dan Penggembala.
Awalnya, Zhaoling menolak permintaan istrinya untuk tinggal di Desa tersebut, karena dia pikir hidup di Desa akan sangat buruk dan mungkin bisa membuat mereka tersiksa. Tapi ternyata, hidup di Desa itu menyenangkan, bahkan keadaan mereka jauh lebih baik dari pada tinggal di Kota Besar.
Saat ini, mereka menempati rumah sederhana di bawah kaki Gunung Kun. Di samping rumah mereka terdapat dua rumah yang berukuran sama, yaitu rumah milik Liu Wei dan Yu Xuan. Kedua pengawal bayangannya itu gak pernah bisa pergi jauh dari Zhaoling, selalu ada dimanapun Tuannya berada. Bahkan, keduanya membawa istri mereka untuk pindah ke tempat ini.
Singkat cerita, Liu Wei menikahi Mengshu dan Yu Xuan menikahi Yuelie, di Kuil Kuno tempat dulu Zhaoling dan Xin'er menikah. Ketiga pasangan itu memutuskan untuk tinggal di tempat yang sama dengan alasan agar bisa saling melindungi.
Mereka memutuskan menikah saat Paman Tangsin mengantarkan kedua pelayan pribadi Xin'er itu atas permintaan Zhaoling. Pria dingin itu memikirkan nasib Mengshu dan Yuelie jika ditinggalkan di Ibu Kota tanpa perlindungan mereka. Pasti, keduanya tersiksa di sana oleh aturan-aturan yang akan dibuat Zhaohan dan yang lainnya.
Karena, besar kemungkinan mereka akan mempersulit hidup kedua pelayan pribadi Xin'er dengan berbagai cara, agar mereka bisa menarik Xin'er untuk kembali ke Ibu Kota.
Paman Tangsin sendiri memutuskan untuk menetap di Kuil, menjadi seorang Biksu. Dia mengabdikan dirinya menjadi pelayan Dewa, agar kehidupannya bisa tenang, dan melepaskan semua urusan tentang Dunia atau sejenisnya.
Para suami saat ini sedang bekerja di ladang, sedangkan para istri berada di rumah. Mereka memasak makanan untuk para suami dan mengantarkan makanan tersebut ke ladang setelah matang. Ketiga pasangan itu kompak dalam segala hal. Tak ada yang disebut Tuan atau Nona, karena Zhaoling dan Xin'er meminta mereka bersikap biasa dan memperlakukannya sebagai kawan, bukanlah majikan.
Seperti saat ini, Mengshu tengah membutuhkan bantuan dari Xin'er dan Yuelie, karena para suami sedang tidak dirumah. Dia meringis, meraung, bahkan menjerit tatkala merasakan rasa mulas yang mulai menyerang.
"Argh, sakit sekali!" rengek Mengshu ketika perutnya merasa di cengkram dengan nafas yang memburu dan keringat bercucuran.
Xin'er dan Yuelie terlihat panik ketika cairan keluar merembes dari sela pahanya. "Ketubannya sudah pecah!" seru Xin'er gugup. "Pa-pasti tidak akan lama lagi dia akan keluar," sambungnya dengan perasaan sulit diartikan.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Yuelie ikut gugup. Bahkan, dirinya terlihat menangis ketika Mengshu meringis menahan sakit dengan tangan yang mencengkram ujung gaunnya. Yuelie berlari keluar untuk meminta bantuan warga lain yang rumahnya berjarak cukup dekat. Dia berinisiatif sendiri kali ini, karena Xin'er tak merespon pertanyaan yang terlontar darinya. Wanita itu malah asyik menenangkan Mengshu dengan tubuh gemetaran karena panik dan takut bercampur jadi satu.
Tangan Xin'er terus mengusap peluh yang membasahi pelipis Mengshu menggunakan handuk kecil. "Bersabarlah, Ashu. Tahan sebentar lagi, tunggu mereka datang!" ujarnya menenangkan Mengshu yang sudah terlihat mengkhawatirkan.
Matanya terus melirik kearah pintu, berharap Yuelie datang membawa Tabib Desa atau tetangga untuk membantu Mengshu bersalin. Ternyata, setelah cukup lama menunggu, tak ada tanda-tanda kedatangan Yuelie ataupun Tabib Desa, membuat perasaan Xin'er semakin cemas.
Dia terus mengusap pelipis yang dibasahi keringat itu sambil berdoa dalam hati, meminta pertolongan Dewa agar mengirimkan siapa saja untuk membantunya dalam menangani persalinan Mengshu. Karena ini sudah waktunya untuk si jabang Bayi keluar dan melihat Dunia.
"Xin'er. Aku sudah tak kuat lagi," jerit Mengshu seraya mencengkram lengan Xin'er.
"Tahan, Ashu! Kau ... kau pasti bis ..."
"Aaaaaaaarrrggghhh," cengkraman semakin kuat ketika Mengshu merasakan Bayinya ingin keluar.
Xin'er semakin bingung dibuatnya. Dia tak mempunyai pengalaman dalam melakukan persalinan, juga tak pernah membantu orang untuk bersalin. Semasa hidup di zaman modern, ia hanya tahu memegang pistol dan pisau, tak pernah sekalipun ia menemani bahkan membantu seseorang yang akan melahirkan. Jadi, bagaimana mungkin ia mengerti tentang semua ini.
Di saat kebingungan melanda, para suami telah kembali dari ladang karena merasakan sesuatu yang besar akan terjadi. Mungkin, semacam firasat. Mereka bergegas menghampiri Xin'er yang sedang menenangkan Mengshu.
"Apa yang terjadi?" tanya ketiganya.
Wajah Xin'er terlihat cemas. "A-Ashu akan melahirkan," jawabnya dengan gugup.
"Apa?" Ketiganya terkejut sampai membulatkan mata. Setelah itu, mereka bergegas mendekati kedua wanita yang sedang terduduk dilantai dengan Xin'er yang memangku kepala Mengshu, karena Mengshu sudah tak bisa bergerak sedikitpun.
"Kemana perginya Yuelie?" tanya Yu Xuan dengan pandangan menyapu seluruh ruangan. Dia melirik Xin'er yang hanya menggelengkan kepalanya, "pasti dia meminta bantuan tetangga!" gumam Yu Xuan lirih tanpa memperdulikan Xin'er lagi.
Wanita itu tengah kebingungan saat ini. Pasalnya, baru pertama kali ini ia melihat wanita yang akan melahirkan. Rasanya, ia tak tega melihat ekspresi kesakitan yang ditunjukan Mengshu saat tadi.
Zhaoling mengusap kepala Xin'er dan menuntunnya mendekati ranjang dimana Mengshu tengah meringis kesakitan. "Bantu dia," ucapnya lembut membuat Xin'er menoleh tak mengerti.
"Maksudmu?" sungguh, rasanya otak Xin'er tak bisa mencerna dengan baik saat ini.
"Ashu sudah kesakitan, dan Bayinya harus segera dikeluarkan. Kalau tidak, itu akan berbahaya pada keduanya, bahkan bisa merenggut nyawa mereka!" tutur Zhaoling seketika membuat Xin'er maupun Liu Wei terkejut.
"Benarkah?" keduanya bertanya serempak dan di angguki Zhaoling.
Liu Wei menunduk dihadapan Xin'er. "Nona. Tolong selamatkan Ashu dan calon anak kami, aku mohon!" pintanya memelas.
Xin'er semakin dibuat kebingungan kali ini atas permintaan Liu Wei. Jangankan membantu seseorang bersalin, kucing dirumahnya saja tidak berani menolong saat akan melahirkan anaknya. Dia terlalu takut jika melakukan kesalahan dan membuat keduanya dalam bahaya. Sungguh, dia menyesal karena memilih pendidikan Militer dibanding Kebidanan. Andai saja dulu Xin'er sekolah Kebidanan, mungkin saat ini keahliannya bisa digunakan untuk menolong Mengshu.
"Aa-apa yang harus aku lakukan? Aku tak mengerti masalah persalinan," cetusnya lirih dengan sangat gugup.
Namun, ketiga pria itu meyakinkannya dirinya agar segera menolong Mengshu yang sudah tak mempunyai waktu lagi, karena sudah saatnya Bayinya keluar.
Dengan perlahan, ia mengangguk setuju membuat mereka bisa bernafas lega. Setelah semua peralatan telah tersedia, dan Xin'er siap, mereka segera memberikan ruang untuk Xin'er melakukannya. Kain bersih segera ditaruh diatas kaki Mengshu yang sebelumnya sudah terbuka lebar dan dipegangi Liu Wei. Sedangkan Zhaoling dan Yu Xuan berdiri di samping ranjang Mengshu sambil menyemangati Xin'er.
Ingin sekali Xin'er kabur dari tempat ini jika tidak ingat bahwa ada dua nyawa yang harus diselamatkan. Dia menarik nafas untuk menetralkan perasaannya yang semakin gugup tak karuan.
"Be-bersiaplah, Ashu. Tarik nafas ... hembuskan perlahan!" ujar Xin'er seraya memperlihatkan agar Mengshu menirukannya.
Bukan cuma Mengshu yang mengikuti arahan Xin'er, namun ketiga pria itu juga menirukan apa yang diperintahkan Xin'er kepada Mengshu.
"Huft ... huuuh!" tarikan nafas dan hembusan berulang terus diikuti mereka yang ada di sana.
"Siap ... dorong!" instruksi Xin'er kepada Mengshu.
"Heeeeeggghh ... haaahhh!" ketiga pria itu terus mengikuti Mengshu yang mulai mengejan untuk mengeluarkan jabang Bayi.
"Lagi," ujar Xin'er yang sudah melihat kepala sang Bayi sudah keluar.
"Heeeeeeggghhh ..." ketiga pria itu tetap mengikuti Mengshu sambil saling menggenggam tangan.
Xin'er yang sedang fokus kepada Mengshu pun menjadi terganggu akan tindakan ketiga pria disampingnya itu. "Hei, kalian itu berisik sekali! Kenapa kalian mengikutinya? Apa kalian juga akan mengeluarkan Bayi?" cibirnya kesal, karena ketiganya tak henti-hentinya mengejan.
Ketiganya hanya cengengesan saat Xin'er menegurnya. Mereka menggaruk tengkuknya tak gatal, seraya saling memandang. "Kami ikut tegang," cetusnya kemudian.
"Haish, kalian ini. Benar-benar kompak, disaat seperti ini saja kalian saling membantu." ejek Xin'er dan melanjutkan pertolongannya kepada Bayi Mengshu yang sebentar lagi akan keluar.
Bersambung ...