Panglima Perang Kerajaan Xili

Panglima Perang Kerajaan Xili
Teka-teki Ibu Suri


Hari-hari berikutnya, Xin'er benar-benar terkurung di kediaman Pangeran Ketiga. Bahkan, kedua pelayannya pun tak bisa menemuinya setiap waktu. Dirinya bagaikan tahanan rumah saat ini.


Xin'er yang malang, bahkan tak dibiarkan menghirup udara segar di pagi hari ataupun sekedar keluar di sore hari. Perintah itu langsung dilayangkan oleh Penguasa Negara ini, yaitu Kaisar Zhu Zhihu. Tak ada yang berani membantah, termasuk Pangeran Ketiga sendiri.


Di tempat lain. Tampak Ibu Suri sedang berpesta kecil bersama para sekutunya. Wanita tua itu tak sungkan untuk bersulang bersama rekannya yang lain. Saat ini, terlihat raut wajah kemenangan darinya saat mengetahui bahwa Xin'er dikurung di kediamannya sendiri.


"Walaupun bukan gadis itu yang terluka, setidaknya itu membuat dia tak bisa berkutik dan tak bebas berkeliaran. Dengan begitu, kemungkinan besar untuk Ming He menang seratus persen. Karena, dia tak bisa belajar ilmu bela diri kepada siapapun. Hahaha!" Ibu Suri tertawa lepas.


"Betul, Yang Mulia! Dengan begitu, kemungkinan untuk menguasai Istana bagian Utara jauh lebih besar. Putri Xin'er menjadi penghalang bagi kita untuk mengembangkan para pengikut. Dengan keberadaannya disini, Istana bagian Selatan menjadi pendukung setianya karena dia putri dari Perdana Mentri." ujar salah satu Mentri.


"Yang dikatakan Tuan Mentri Jun sangat benar, Yang Mulia. Dia bisa mengancam posisi Anda," timpal yang lain.


Ibu Suri mengalihkan pandangan kearah seorang pendekar wanita yang duduk tak jauh dari mejanya. Dengan senyum ramah, Ibu Suri pun berkata. "Ming He. Selesaikan tugas yang ku berikan padamu. Jangan berikan celah sedikit pun pada putri Perdana Mentri Yun. Sisanya, biar aku sendiri yang mengurusnya!"


Ming He mengangguk hormat pada Ibu Suri. "Baik, Yang Mulia." sahutnya cepat.


Ibu Suri tersenyum penuh arti. Beliau membayangkan keuntungan apa yang akan didapatkan, jika rencana mereka berhasil. Dalam hati wanita tua tersebut, tersimpan sebuah teka-teki yang hanya akan menjadi misteri suatu hari nanti.


...💫💫💫💫...


Kondisi Permaisuri semakin memburuk. Tak ada seorangpun Tabib yang dapat menyembuhkan lukanya, menawar racun dari goresan pedang itu. Tapi, tiba-tiba Ibu Suri membawa seorang Pendekar wanita bersamanya ke kediaman Kaisar. Wanita itu tak lain adalah Ming He. Murid Perguruan Bangau Putih, sang ahli racun.


Awalnya, Kaisar tak percaya dan menolak niat baik Ming He. Namun, Ibu Suri berusaha meyakinkan dan membujuk Kaisar agar memberikan kesempatan pada Ming He. Sedangkan Pangeran Ketiga tidak ada di tempatnya ataupun di Istana saat ini, karena dia sedang pergi mencari ahli racun dari Perguruan Naga Bayang. Tepatnya, ia mencari Qianmu, teman satu perguruan.


Sebelum Pangeran Zhaozu sampai ke Istana, Ming He telah menawar racun yang ada di punggung Permaisuri yang diakibatkan sabetan pedang musuh. Beruntung, racun mematikan itu tak sampai menyebar ke jantungnya, karena telah ditahan pergerakannya oleh para Tabib. Walaupun begitu, para Tabib tetap tak bisa membersihkan darah Permaisuri yang sudah tercemar oleh racun penghisap jiwa tersebut.


Setelah menunggu waktu beberapa jam, akhirnya Permaisuri pun siuman dan bisa ditemui siapapun. Namun, hanya orang tertentu yang bisa masuk untuk menengoknya.


Kaisar tak ingin ada pengkhianat yang berbuat licik dan membahayakan nyawa Permaisuri lagi. Lagipula, saling mencurigai diantara anggota keluarga kerajaan itu sudah biasa. Karena keserakahan dan keegoisan mereka yang saling berebut kekuasaan, demi mendapatkan kemakmuran dalam Istana, serta mendapat kedudukan tertinggi. Hal apapun akan mereka lakukan, bahkan mereka takkan sungkan menyakiti anggota keluarga yang lain demi tujuannya tersebut.


Saat ini, Zhaozu tergesa-gesa mendatangi kamar ibunya setelah mendengar kabar menggembirakan itu. Dia sangat senang saat Liu Wei mengabarkan bahwa Permaisuri telah keluar dari masa kritisnya, bahkan Beliau telah siuman. Wajah sumringah tergambar jelas dari Pangeran Zhaozu saat ini. Dengan langkah pasti, dia memasuki kediaman Kaisar untuk bergegas menemui ibunya.


Permaisuri pun menyambut kedatangan putranya dengan tak kalah bahagia. Mereka berpelukan untuk menumpahkan rasa rindu yang ada dalam dada.


"Maafkan aku, Ibunda! Aku adalah anak yang tak berbakti, karena tak bisa menjaga keselamatan ibunya sendiri. Seharusnya, aku yang terbaring diatas kasur dengan menerima luka itu, bukan Ibunda!" sesal Pangeran Zhaozu seraya menitikkan air mata. Dia meringis melihat luka dipunggung ibunya yang saat ini ditutupi perban yang melilit.


Permaisuri tersenyum mendengar perkataan putranya. "Jangan berkata seperti itu, putraku! Jika kau yang terluka, maka aku akan teramat sangat bersalah. Walaupun kau lebih kuat dariku sekalipun, aku tetap yang akan menjagamu dari marabahaya. Jadi, jangan pernah membahayakan nyawamu demi ibumu ini, nak!" tutur Permaisuri. "Lagipula, Ibu sudah sehat!" lanjutnya kemudian.


Pangeran Zhaozu tertunduk mendengar ucapan ibunya. Rasanya, dia teramat menyesal dengan kepergiannya waktu itu karena menghindari Xin'er.


Permaisuri tersenyum sebelum menjawab pertanyaan putranya. "Ibu tidak mengenalnya. Kau bisa bertanya pada Ibu Suri. Beliau lah yang membawa orang itu untuk menawar racun ditubuh Ibu," sahut Permaisuri Jian.


Zhaozu mengangguk, namun tidak langsung pergi menemui Ibu Suri. Dia pergi ke ruang kerjanya dan termenung memikirkan sesuatu. 'Kenapa kebetulan sekali Ibu Suri bisa cepat mendapatkan seorang ahli racun? Apakah insiden ini ada kaitannya dengan rubah tua itu? Argh, sial. Jika terbukti nenek tua itu yang melakukan semuanya, pasti akan sulit membuktikannya, sebab Beliau sangat pandai memutar balikan fakta!' Zhaozu bermonolog. Dia sangat frustasi saat ini.


Tapi, bagaimanapun ia harus berterima kasih pada orang yang dibawa Ibu Suri untuk menawar racun ditubuh ibunya. Jika bukan karena pertolongan cepat orang tersebut, nyawa ibunya pasti terancam. Lalu, Xin'er? Astaga, sungguh sial! Kenapa gadis itu tak bisa melindungi diri sendiri dan juga Permaisuri. Jika saja Xin'er bisa mengalahkan para penyusup itu, pasti Permaisuri takkan terluka.


"Arrrghh," teriak Zhaozu frustasi. Tubuhnya kini bersandar di kursi kerjanya, dengan kedua tangan mencengkram kepalanya. Dia mengingat laporan yang disampaikan Yu Xuan tempo hari.


"Yang Mulia. Aku menemukan botol berisi cairan beracun dalam kantung pakaian Tuan Putri. Racun tersebut sama jenisnya dengan racun yang melukai Permaisuri. Aku sudah memastikan ke toko yang ada di pasar gelap. Pemilik toko mengatakan bahwa ada seorang wanita dengan ciri-ciri mirip Tuan Putri memesan barang tersebut." tutur Yu Xuan menjelaskan.


"Apa ada yang tahu selain dirimu?" tanya Zhaozu.


"Tidak ada, Yang Mulia. Tapi, aku yakin jika Putri hanya difitnah!" lanjut Yu Xuan dan Zhaozu hanya mengangguk.


Laporan Yu Xuan menambah kepala Zhaozu semakin berdenyut. Siapa yang berani mempermainkannya seperti ini? Pikiran Zhaozu tertuju hanya pada satu nama, yaitu Ibu Suri. Tapi, jika bukan Ibu Suri yang melakukannya, lalu siapa? Apa jangan-jangan, Zhaohan atau Zhaoyan? Tidak ... tidak! Kedua pria itu tergila-gila pada Xin'er. Mereka tidak akan membuat Xin'er terusir dari Istana. Apa mungkin Selir Wang? Wanita paruh baya itu membenci Xin'er karena membuat kedua putranya berseteru. Ya. Pasti rubah jelek itu yang melakukannya!


Zhaozu memijat pelipisnya guna menghilangkan rasa sakit yang menyerang kepalanya. Dia memikirkan cara agar Xin'er terbebas dari tuduhan palsu ini. Zhaozu pun menyuruh Yu Xuan menghilangkan barang bukti tersebut supaya tidak ada yang mengetahui lagi selain dirinya. Selama dia belum mempunyai bukti kuat untuk membela istrinya, maka barang tersebut harus dihilangkan supaya masalah ini tidak naik ke pengadilan kerajaan.


Bagaimanapun, Hakim kerajaan adalah orang yang berada di pihak Ibu Suri. Dia akan bertindak sesuai permintaan Ibu Suri. Jika Xin'er terbukti bersalah, maka bisa dipastikan istrinya itu akan dihukum seberat mungkin dan juga terusir secara tidak terhormat dari Istana ini.


"Hah. Apa yang harus aku lakukan sekarang?" lirih Zhaozu seraya mengusap wajahnya dengan kasar.




Sementara di tempat lain.


Seorang pria menyerahkan sekantung koin emas kepada seorang gadis berusia sekitar dua puluh tiga tahun. Gadis itu memiliki postur tubuh yang hampir sama dengan Xin'er. Hanya wajah dan gaya berjalan saja yang membedakan mereka. Semua yang ada pada diri Xin'er hampir di tiru sama persis oleh gadis tersebut. "Ini uang sebagai bayaran atas pekerjaanmu! Ku harap, kau tak menampakan diri di Wilayah ini lagi! Jika kau sampai ditemukan oleh mereka, maka rencana Yang Mulia bisa gagal dan kau harus mati. Jadi, sebaiknya kau pergi sejauh mungkin supaya mereka tak menemukanmu!"


Gadis tersebut mengangguk sembari tersenyum melihat isi kantung yang diserahkan pria itu. Koin emas dengan jumlah yang sangat banyak, hanya untuk mengelabui orang-orang dengan meniru penampilan Xin'er. Sungguh-sungguh sangat beruntung dirinya bisa kenal dengan keluarga kerajaan. "Baik, Tuan! Sampaikan terima kasihku pada Yang Mulia. Aku berjanji, tidak akan muncul lagi di Wilayah ini dan akan segera pindah ke daerah lain." sahutnya cepat seraya membungkuk hormat.


Setelah menyelesaikan tugasnya, pria itu bergegas pergi supaya tak ada yang melihatnya. Gadis itupun melakukan hal yang sama, dengan terburu-buru pergi untuk pindah ke daerah lain sesuai janjinya pada Yang Mulia.


...Bersambung ......


Bab selanjutnya diperkirakan update tiga hari lagi. Mohon untuk bersabar menunggu ya, gengs!☺️☺️