
Saat ini Zhaoling sedang kebingungan. Bagaimana tidak bingung, dirinya harus menyerang prajurit Xiang seorang diri. Ditambah, dia harus masuk ke penjara bawah tanah untuk menyelamatkan ayahnya Gu Yen, yaitu Gu Yaocan.
Setelah memutuskan, Zhaoling akhirnya melompat ke sisi kiri gerbang yang tinggi menjulang tanpa bantuan siapapun. Dengan ilmu meringankan tubuhnya, dia dengan mudah melompati tembok tinggi tersebut dan berjalan di atap bangunan-bangunan tanpa diketahui siapapun.
Setelah sampai disebuah tempat yang diyakini adalah pintu menuju penjara bawah tanah, dia pun menyelinap dan masuk tanpa terlihat.
Dengan waspada, dia terus turun dan mencari penjara yang mengurung Gu Yaocan. Walaupun Zhaoling tidak pernah melihat wajah ayahnya Gu tersebut, tapi dengan melihat kondisi tahanan yang paling buruk, dia yakin bahwa pria tua itu adalah Gu Yaocan.
Para tahanan berteriak minta tolong padanya untuk dibebaskan. Hal itu tentu memancing penjaga untuk datang dan Zhaoling harus terpaksa melawannya. Padahal, Zhaoling awalnya tidak ingin menumpahkan darah barang satu orang pun. Tapi, keadaan memaksanya untuk melawan.
Setelah memastikan keadaan lebih tenang, dengan segera ia menebaskan pedang kearah rantai yang mengunci jeruji tahanan tempat Gu Yaocan berada. Bukan cuma satu, tapi ada lima orang yang berada didalam tahanan bersama pria tua itu. Wajah Zhaoling yang tertutupi dengan kain, tidak bisa dikenali siapapun dan itu membuatnya aman. Bergegas, dia membawa ayahnya Gu Yen beserta yang lain keluar dari dalam penjara.
Karena kondisi ayah Gu yang parah, akhirnya mereka hanya bisa bergerak perlahan dan Zhaoling harus melindungi mereka semua. Mereka segera membuka gerbang kiri untuk keluar dan tidak membuka gerbang depan sesuai permintaan Gu Yen. Karena, gerbang depan penjagaannya sangat ketat dan banyak prajurit yang berada di sana.
Pada saat akan keluar dari gerbang kiri, sekelompok prajurit dengan dipimpin Panglima Qianfeng datang. Mereka mengepung Zhaoling dan para tahanan yang dibebaskan itu.
Perkelahian pun tak terelakan. Zhaoling terpaksa harus melawan para prajurit dan Panglima Qianfeng yang berilmu cukup tinggi hanya seorang diri. Beruntung, rombongan Gu Yen datang dan membantu mereka.
Pertarungan semakin sengit sampai banyak korban dari kedua pihak yang terluka bahkan mati akibat pertarungan ini.
Zhaoling yang terus melawan Qianfeng tak pernah mengalah sedikitpun. Benturan pedang dari keduanya terdengar nyaring, bahkan tak ada satupun dari mereka terlihat lemah.
Trang ... trang ... trang ...
Cukup lama mereka saling mengayunkan pedang dan bertahan serta mengelak. Tapi, tanda-tanda kekalahan tak terlihat dari keduanya, bahkan mereka tak berniat untuk menyudahi.
Saat dirasa cukup lama, akhirnya mereka berhenti tiba-tiba kemudian saling menatap dengan tatapan tajam. Setelah saling menatap, mereka maju satu sama lain dan saling merangkul, membuat semua orang keheranan.
Bagaimana tidak? Panglima mereka malah berpelukan dengan salah satu pemberontak yang menyelamatkan tahanan. Apa tidak salah?
Begitupun dengan kelompok Gu Yen. Mereka bingung dengan tindakan Zhaoling yang tiba-tiba memeluk Panglima Qianfeng, musuh mereka.
"Apa yang terjadi, Ketua? Mengapa Panglima Xili malah memeluk Panglima Xiang? Apa mereka teman?" tanya salah satu anak buah Gu.
Gu Yen pun sejujurnya tidak mengerti hal ini. Dia hanya diam mematung dan menyaksikan semua itu dengan tatapan sulit diartikan. Apa benar Zhaoling berteman dengan Qianfeng? Kalau benar, mereka pasti akan celaka saat ini.
Saat semua kebingungan, Qianfeng segera berkata dengan lantang. "Bunuh mereka semua yang mencoba kabur dari penjara, termasuk orang yang menyelamatkannya!" titah Qianfeng.
Sekelompok petarung dari Kerajaan Xiang datang mengepung mereka. Kelompok Gu menjadi terkejut dan tidak bisa berkutik. Kekuatan para petarung ini tidak diragukan lagi. Mereka langsung menebas semua dengan mudah termasuk Gu Yen dan ayahnya.
Sebelum Gu Yen menghembuskan nafas terakhir, dia mencoba bertanya alasan Zhaoling memeluk Qianfeng seperti saling mengenal. Tentu itu membuat Qianfeng tertawa terbahak.
"Kau ingin tahu mengapa aku dan Zhaoling saling merangkul? Baiklah. Karena kau akan mati sekarang, akan ku beritahu. Aku dan Zhaoling adalah saudara seperguruan. Dan kami, tumbuh bersama dibawah bimbingan Guru Tertinggi." jelasnya membuat Gu terkejut. "Sudah cukup! Karena kau sudah tahu, maka kau bisa mati tanpa penasaran." lanjutnya kemudian sambil menghunuskan pedang ke perut Gu Yen.
Saat itu juga, Gu Yen mati ditangan Qianfeng dan Zhaoling hanya diam tanpa melakukan apapun.
Kini, hidup Gu Yen, ayahnya, dan para pengikutnya sudah berakhir. Niat hati ingin membuat Zhaoling celaka, namun keadaan buruk berbalik padanya. Dia meregang nyawa ditangan orang yang diperkirakan akan membunuh Zhaoling, yang padahal adalah saudara Zhaoling sendiri.
•
•
Konon katanya, jika mereka menumbalkan anak berusia tiga tahun kepada Dewa Roh, mereka akan memiliki kekuatan dan hidup abadi. Dewa Roh sendiri itu adalah jelmaan sejenis Siluman Banteng. Siluman itu pandai mengelabui mata manusia yang lemah akan iman, serta tamak akan kekuasaan dan kekayaan. Orang yang serakah pasti mudah dikendalikan oleh Siluman Banteng tersebut yang menjelma bagaikan Dewa Roh. Dewa Kemakmuran.
Gu Yaocan membentuk Sekte tersebut dibawah perintah dari Guru Luo. Guru Besar di Perguruan Naga Bayang itu adalah orang yang tamak akan kekuasaan, sama seperti Gu Yaocan. Dia ingin menyingkirkan Guru Lon Thong sebagai pemimpin tertinggi Perguruan Naga Bayang, dan menguasai Perguruan besar tersebut.
Padahal, Guru Lon Thong mendirikan Perguruan Naga Bayang dengan hasil jerih payah sendiri, hingga perguruan tersebut berkembang pesat dan kini menjadi besar.
Guru Luo tadinya hanya seorang pengembara biasa. Dia bertemu dengan Guru Jin yang saat itu adalah murid pertama Kakek Lon. Luo menceritakan kisah hidupnya yang memilukan, sehingga menarik simpati Jin. Dan akhirnya, Jin pun merasa iba padanya, lalu membawa Luo ketempat Kakek Lon.
Setelah beberapa hari diuji, akhirnya Luo dinyatakan lulus dan dia diterima sebagai Murid Kedua, setelah Guru Jin.
Memang, awalnya tak ada yang aneh dari pria yang bernama Luo ini. Tapi, setelah kedatangan Zhaoling saat itu yang mampu menguasai beberapa jurus dengan cepat, Luo pun ketakutan jika kalah saing dengan pemuda tersebut. Apalagi, Zhaoling bisa menguasai jurus rahasia dari Perguruan Naga Bayang yang hanya dimiliki Pendekar Tapak Naga, yaitu Kakek Lon Thong.
Guru Luo semakin marah karena perkembangan pesat tersebut. Dia mengutus dua murid senior untuk membuat keributan dengan Zhaoling, bertujuan untuk menguji kemampuan anak itu. Guru Luo juga yang membuat jebakan di hutan sedalam tiga puluh meter hanya untuk membuat Zhaoling mati. Namun, nasib Zhaoling sangat mujur, sehingga ia kembali dengan hidup.
Mendengar buruannya yang masih hidup, Guru Luo kembali menyuruh muridnya untuk membunuh Zhaoling disaat lengah. Tapi, lagi-lagi Zhaoling bisa mengatasi murid suruhan Guru Luo dengan mudah dan menangkap mereka untuk mengetahui dalang dari semua masalah. Saat hampir membuka suaranya, ternyata Guru Luo membunuh murid senior tersebut agar tidak membuka suaranya supaya kejahatannya tetap aman.
Bulan berganti tahun. Perkembangan Zhaoling sangat pesat dan tentunya itu membuat yang iri semakin dengki. Mereka melakukan penyerangan secara diam-diam ke berbagai wilayah dan mencuri buku rahasia milih perguruan-perguruan kecil disekitar. Setelah itu, mereka memfitnah para murid di Perguruan Naga Bayang. Sehingga banyak murid yang tidak bisa melawan harus kehilangan nyawanya, akibat hukuman yang diberikan Guru Luo saat Guru Tertinggi Lon tidak berada ditempat.
Kekejaman Guru Luo akhirnya diketahui oleh Guru Tertinggi, sehingga Luo diusir dari Perguruan secara tidak terhormat. Para pengikut Guru Luo pun sama halnya dengan dirinya yang diusir tanpa ragu.
Karena alasan inilah, Guru Luo membentuk kelompok pemberontak dan menjadikan mereka bandit untuk mengacau di Kota maupun Desa. Mereka sengaja diberikan tugas seperti itu agar memancing para pelindung untuk datang menyerang. Tujuan utama Guru Luo melakukan itu juga demi memancing kedatangan Kakek Lon Thong bersama para pengikutnya, terutama Zhaoling. Orang yang paling dibenci Guru Luo.
Guru Luo bertapa disebuah hutan larangan yang terletak di wilayah perbatasan Nanjong. Saat sedang bertapa, tiba-tiba dirinya kedatangan seorang pria bertubuh besar dengan aura hitam menyelimuti. Pria itu berkata bahwa dirinya bisa membantu dan memenuhi semua keinginan asalkan bisa mendapatkan daging sebagai persembahan untuknya. Pria itu mengaku dirinya sebagai Dewa Roh, Dewa Kemakmuran.
Daging yang dimaksud itu adalah daging seorang anak berusia tiga tahun. Bila anak lebih atau kurang dari tiga tahun, maka kekuatannya tidak bisa digunakan dan dia tidak bisa mengabulkan permintaan siapapun. Karena, anak yang berusia tiga tahun tingkat kematangan dan teksturnya sangat pas, serta, rasanya pun manis.
Maka dari itu, Guru Luo menculik semua anak yang berusia tiga tahun, baik itu laki-laki atau perempuan untuk dijadikan persembahan Dewa Roh. Dia tak tahu, bahwa Dewa yang dijunjung tinggi itu adalah Siluman Banteng.
Suatu hari, kelompok bandit Guru Luo mengacau di wilayah Kerajaan Xiang. Tentu, Kaisar Xiang tidak tinggal diam. Dia memerintahkan tentara militernya menyerbu para bandit dan menumpas semuanya. Pertahanan militer Kerajaan Xiang cukup kuat, sehingga bisa membunuh para bandit yang sedang mengacau tersebut dan menangkap pemimpinnya, yaitu Gu Yaocan.
Gu Yaocan kalah bertarung melawan Panglima Perang Kerajaan Xiang yang bernama Qianfeng. Dia dijebloskan ke penjara dan dipaksa untuk membuka mulut, agar memberitahukan keberadaan pengikutnya.
Namun, kesetiaan Gu Yaocan terhadap Guru Luo sangat tinggi, sehingga sulit untuk memaksanya. Maka dari itu, ia harus menerima hukuman cambuk setiap hari dan disiksa hingga kakinya patah. Walaupun begitu, dia tetap bungkam tanpa berniat membuka suaranya.
Kabar dari tertangkapnya Gu Yaocan didengar oleh para anggota bandit lain dan keluarganya. Dengan berbagai usaha, Gu Yen mencoba menyelamatkan ayahnya dari penjara Xiang namun selalu gagal. Qianfeng adalah orang yang tidak mudah tertipu dan memiliki tingkat kewaspadaan tinggi. Maka dari itu, tak mudah untuk meruntuhkan pertahanan Panglima Besar Kerajaan Xiang tersebut.
Orang yang bisa mengalahkan Qianfeng adalah orang yang berilmu tinggi diatas dia. Maka dari itu, Gu Yen memancing Zhaoling untuk datang dan memaksa dirinya agar mengalahkan Qianfeng.
Tujuan utama Gu Yen menyuruh Zhaoling adalah karena tugas dari Guru Luo yang meminta agar Zhaoling dibunuh. Gu Yen sadar diri bahwa dirinya tak mungkin bisa membunuh Zhaoling. Maka dari itu, ia menyuruh Zhaoling melaksanakan tugas penyerangan seorang diri agar dia mati ditangan Panglima Qianfeng dan prajurit Kerajaan Xiang.
Tapi, Gu Yen tidak tahu bahwa Zhaoling dan Qianfeng adalah teman dan saudara seperguruan, namun di perguruan yang berbeda. Kakek Lon Thong mendirikan perguruan diberbagai wilayah. Bukan hanya dua atau tiga, melainkan sepuluh perguruan yang sama namun dengan nama yang berbeda. Walaupun Gu Yen satu perguruan, tapi dia tak tahu tentang keberadaan perguruan lain dan murid-muridnya. Hanya Zhaoling yang diberitahu oleh Kakek Lon, karena Beliau menganggap Zhaoling adalah cucunya sendiri.