
Sepanjang hari, Xin'er hanya diam tak seperti biasanya. Gadis ceria itu kini tiba-tiba murung karena perkataan Ibu Suri tempo hari. Bayangan kekalahan seolah menari dipikirannya dan membuat dirinya terpuruk serta tunduk dalam kesedihan.
Dulu, Yoona memang seorang prajurit militer. Berbagai keahlian bela diri ia kuasai. Tapi, tubuh lemah Xin'er seolah menghalangi gerakan tenaga dalamnya. Perlu latihan khusus agar tubuh lemah ini dapat berkompromi dengan otak dan otot Yoona sebelumnya.
Helaan nafas panjang terdengar dari mulutnya. Saat ini, ia sungguh dibuat frustasi akan masalah yang dihadapinya. Terlebih, masalah ini berhubungan langsung dengan Pangeran Ketiga dan Ibu Suri.
Apakah dia harus menyerah dan memilih pergi secara suka rela untuk meninggalkan Pangeran Ketiga? Bukankah itu alasan bagus untuk bercerai, mengingat dia tak mencintai suaminya?
Astaga, pusing sekali!
Dari pada pusing memikirkan hal ini sendirian, lebih baik mengatakannya pada Pangeran Ketiga. Ya, itu yang seharusnya!
Terdengar pintu kamar di dorong seseorang hingga terbuka, dan menutupnya kembali saat dirinya telah masuk sepenuhnya kedalam ruangan. Sosok pria tinggi tegap dengan memakai cadar hitam yang menutupi wajah sepenuhnya, terlihat berjalan menghampiri. Tak perlu ditanyakan lagi siapa pria itu! Karena, Xin'er tahu bahwa pria itu adalah suaminya.
'Kebetulan sekali dia datang!' pikir Xin'er
Dengan senyum manis mengembang, Xin'er menyambut kedatangan suaminya yang saat ini langsung duduk disampingnya. "Hai!" ucapnya singkat.
Pangeran hanya mengangguk membalas sapaan istrinya. Dia mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya, kemudian menyerahkannya pada Xin'er. Kening istrinya mengkerut menatap benda yang ada ditangan suaminya itu
"Apa ini?" tanya Xin'er bingung.
Pangeran terkekeh mendengar pertanyaan istrinya tersebut. "Apa kau tidak tahu benda apa ini?" dia balik bertanya.
Xin'er berdecak sebelum berkata, "Ckk. Aku tahu itu kipas lipat. Yang aku maksudkan, untuk apa kau memberikanku kipas ini?"
"Bukankah wanita itu suka dengan kipas seperti ini?" Bukannya menjawab, Pangeran balik bertanya lagi. "Kipas ini kan bisa kau gunakan untuk mengusir rasa penat dan panas yang menyerang tubuhmu." jelas Pangeran seraya membuka kipas tersebut.
Xin'er tampak tak tertarik dengan pemberian suaminya tersebut. Dia mencebik sambil mengerucutkan bibirnya serta memalingkan wajah. 'Cih. Untuk apa kipas? Aku tak suka dengan benda itu!'
Melihat Xin'er yang bahkan tak mau memandang kearah benda yang dipegangnya, Zhaoling hanya bisa tersenyum pahit seraya menggelengkan kepala. Dia hanya ingin membuat Xin'er senang. Tapi, gadis itu malah tak tertarik sedikitpun. Cara satu-satunya yaitu ...
"Ini bukan kipas biasa," cetus Zhaoling dan benar saja cara itu menarik perhatian Xin'er. Melihat istrinya menoleh walupun sedikit, Zhaoling pun senang dan melanjutkan ucapannya. "Ini sebenarnya sebuah senjata rahasia," ucapnya sambil membuka kipas tersebut dan memperlihatkannya pada Xin'er. Saat kipas itu dibuka, terlihat mata pisau yang berkilauan karena ketajamannya.
"Pisau lipat," pekik Xin'er dengan mata yang berbinar. "Ini bagus sekali," cetusnya seraya merebut benda itu dari tangan suaminya.
Pangeran berdecak sebal mendengar ucapan Xin'er. "Kenapa kamu itu berbeda dengan gadis lain? Semua gadis menyukai barang berharga dan mewah, sedangkan kamu malah menyukai segala bentuk senjata. Apa di kehidupan sebelumnya kau itu seorang kesatria?" cibir Pangeran.
Xin'er terhenyak sesaat, kemudian tersenyum. "Ya. Anggap saja seperti itu,"
Walaupun dirinya dibuat tak percaya dengan tingkah istrinya yang menyukai senjata, tapi Pangeran Ketiga tetap tersenyum. "Disaat aku tak bisa melindungi istriku, kau bisa melindungi dirimu sendiri. Dengan senjata kipas lipat ini, kau bisa terlihat elegan tanpa memperlihatkan sisi kekejaman."
Zhaoling sebagai seorang Panglima Perang, tentu tak bisa selalu berada di samping istrinya untuk terus melindungi. Dia takut jika bahaya datang kepada istrinya disaat dia tak ada. Zhaoling selalu mengkhawatirkan keadaan Xin'er di Istana saat di medan perang, daripada keselamatan sendiri saat melawan musuh.
Raut wajah sedih kentara sekali dari cara bicara Pangeran Ketiga. Tapi, obrolan ini harus ia manfaatkan untuk membuka celah meminta izin pada suaminya. Dengan ragu-ragu, Xin'er mengutarakan keinginannya.
"Yang Mulia. Jika kau mengkhawatirkan ku, bagaimana kalau aku berguru di suatu Perguruan kungfu terbesar?" pertanyaan Xin'er berhasil membuat Pangeran Ketiga terkejut.
Mendengar nada bicara terkejut suaminya, Xin'er berusaha menjelaskan tujuannya. "Aku ingin pandai ilmu bela diri. Sesuai perkataan mu tadi, jika aku harus bisa melindungi diri dari berbagai segala bahaya yang ada. Maka dari itu, aku ingin melatih kekuatan fisik!" tuturnya menjelaskan.
Xin'er tidak mengungkapkan alasan sebenarnya. Dia tak mau suaminya itu khawatir dan membangkang pada Ibu Suri. Bagaimanapun juga, wanita tua itu adalah neneknya. Jadi, Xin'er tak mau jika sampai mempersulit Pangeran untuk memilih antara dirinya dan juga neneknya.
"Bukankah kamu ahli pedang? Kamu juga pasti ahli seni bela diri," cetus Pangeran tanpa menoleh. Dia sedang berpikir keras untuk mencari tahu alasan istrinya ingin berguru. Zhaoling yakin, Xin'er pasti ditindas orang lain lagi sampai membuatnya meminta hal seperti ini. "Tidak bisa! Kamu tak boleh keluar dari Istana, apalagi untuk berguru yang membutuhkan waktu sangat lama!" tegasnya masih enggan untuk menatap.
Xin'er tertunduk lesu. Dia sudah menduga jawaban yang akan diberikan suaminya. Pangeran pasti tidak akan mengizinkan dirinya keluar dari istana, walaupun waktu sebentar saja. Gadis itu memutar otaknya lebih keras untuk mencari cara agar dirinya bisa melatih fisik dan belajar ilmu bela diri sebelum waktu pertandingan tiba. 'Oh iya,'
"Baiklah. Jika kamu tak mengizinkanku keluar Istana untuk berguru, berarti kamu bisa mengizinkanku masuk ke kamp militer dong!" cetus Xin'er tiba-tiba.
Zhaoling seketika menoleh kearah istrinya. Dia tak habis pikir dengan jalan pikiran Xin'er ini. Ada apa dengannya? Kenapa dia ngotot sekali ingin melatih kekuatan fisik? Apa yang terjadi saat aku tak ada?
Berbagai macam pertanyaan terus menari dipikiran Zhaoling saat ini. Dia tak tahu harus berkata apa saat ini. Bayangan ketakutan akan kejadian dua puluh tahun lalu menyerangnya lagi. Tubuhnya bergetar dengan keringat dingin membanjiri. Kejadian naas itu disaksikan dan dialaminya sendiri, membuat ia fobia akan kekejaman api. Tapi, melihat tatapan penuh harap Xin'er membuatnya tak tega.
"Baiklah. Tapi, kau sendiri yang harus meminta izin untuk masuk militer! Aku tak bisa membantu apapun," ucap Pangeran pasrah.
Wajah Xin'er segera mendongak mendengar perkataan suaminya. "Benarkah! Kau mengizinkanku masuk militer? Aaahh, terima kasih suamiku!" tanpa sadar, direngkuhnya tubuh Pangeran dengan erat. Dia terlalu senang sampai memeluk suaminya dengan begitu mesra. "Aku janji, tidak akan selamanya berada di sana. Hanya waktu sebulan," lanjutnya masih memeluk tubuh Pangeran.
Zhaoling tersenyum senang mendapat perlakuan Xin'er yang spesial menurutnya. Dia membalas pelukan istrinya dengan mengusap punggung Xin'er. "Pergilah! Aku akan mendukung apapun keputusanmu!"
"Baik. Aku akan menemui Panglima untuk membicarakan ini. Kau juga harus menemaniku, ya!" pinta Xin'er membuat Pangeran Ketiga kebingungan.
...🌀🌀🌀🌀...
Setelah terlibat obrolan dengan istrinya sore itu, Zhaoling bergegas menemui dua pengawal bayangannya. Liu Wei dan Yu Xuan. Dia menceritakan permintaan Xin'er dan membutuhkan bantuan dari kedua temannya itu. Zhaoling sebenarnya tak mau istrinya terluka dengan pelatihan berat di kemiliteran. Tapi, melihat tatapan penuh harap Xin'er, hatinya menjadi luluh. Dia pun akan mencari tahu alasan dibalik keinginan Xin'er tersebut.
Zhaoling meminta salah satunya menyamar menjadi Pangeran Ketiga, agar Xin'er tak curiga karena minta bertemu bersama. Awalnya, Zhaoling ragu dan akan jujur pada istrinya bahwa Pangeran Ketiga dan Panglima Perang adalah orang yang sama, yaitu dirinya. Tapi, ada suatu hal yang membuat dirinya masih harus bersembunyi dibalik cadar hitam ataupun topeng sebelah kiri wajahnya.
Baik itu Liu Wei dan Yu Xuan. Keduanya menolak saat diminta menjadi Pangeran Ketiga. Tapi, ancaman Zhaoling membuat mereka tak bisa berkutik dan hanya bisa menurut tanpa protes.
"Lebih baik Liu Wei saja yang menyamar. Tubuhnya lebih tinggi dan cara bicaranya pun hampir mirip dengan Anda," usul Yu Xuan. Sebenarnya, dia tak mau jika Zhaoling memilih dirinya untuk bertukar posisi menjadi Pangeran Ketiga. Dia lebih takut jika salah bicara dan membuat Zhaoling tambah marah.
Liu Wei berdecak sebal karena Yu Xuan mengusulkan dirinya. "Sebenarnya, alasan utamanya karena kau tidak mau melakukannya bukan! Kau ingin bebas tugas dan berkeliling sesuka hati tanpa beban," selorohnya dengan mencebik.
Zhaoling mengernyitkan kening mendengar perkataan Liu Wei. "Jadi menurut kalian, menggantikan posisiku sebentar saja itu adalah suatu beban?" mode garang telah on. Inilah Zhaoling yang ditakuti semua orang, dingin dan datar. Aura yang keluar menunjukan bahwa dirinya saat ini sedang marah.
Hati keduanya seketika menjadi risau dengan jantung yang berpacu cepat. Ketakutan terlihat jelas dari wajah keduanya. "Bu-bukan begitu, Tuan. Ka-kami hanya ..." keduanya tak mampu berkata apapun karena terlalu gugup saat ini.
"Jadi? Apa kalian mau melakukannya?" tanya Zhaoling kembali. Keduanya mengangguk cepat untuk mengiyakannya. Ekspresi Zhaoling berubah ramah lagi setelah mendengar kesiapan keduanya. "Bagus! Datanglah ke kediamanku besok dan gantikan aku sebagai Pangeran Ketiga. Sampai jumpa besok!" ucapnya girang seraya melangkah pergi.
Liu Wei dan Yu Xuan menghembuskan nafas secara kasar setelah sempat menahan nafas saat melihat kemarahan Zhaoling tadi. Mereka mengira jika Zhaoling akan memukul dan menendang keduanya. Tapi, dia berubah menjadi senang saat mereka mengiyakan permintaannya.
"Oh iya," keduanya mendongak kembali karena Zhaoling belum sepenuhnya pergi. "Jangan membuat Xin'er curiga, jika kau bukan aku! Pastikan semirip mungkin agar dia percaya bahwa kau itu Pangeran Ketiga," lanjutnya kemudian.
Keduanya tampak termenung sambil saling pandang. Kemudian, menatap punggung Zhaoling yang semakin mengecil dan menghilang dibalik pintu markas militer. "Bagaimana jika nanti salah bicara atau salah bertingkah? Pastinya akan membuat dia bertambah marah," keluh keduanya seraya menundukkan kepala.