
Xin'er berlari tak tentu arah. Perasannya saat ini sedang kalut, antara terkejut dan juga takut. Terkejut karena mendengar pengakuan tiba-tiba Zhaoling yang berkata bahwa pria itu mencintainya. Takut, jika dirinya akan jatuh cinta pada pria lain dan menduakan suaminya.
"Bodohnya kamu, Xin'er!" rutuknya dalam hati. Air mata yang sempat berurai, telah ia usap sepenuhnya. Pikirannya pun kembali melayang pada kejadian yang baru saja tertewatkan.
Sentuhan Zhaoling benar-benar membuatnya hilang kesadaran. Gadis itu memang belum pernah mendapatkan sentuhan manis walaupun Pangeran Ketiga selalu bersikap baik padanya. Suaminya itu cenderung menahan diri dan tak pernah memaksakan keinginannya.
"Maafkan aku, Zhaozu. Tanpa sadar, aku telah mengkhianati kepercayaan mu!" gumamnya lirih. "Tapi, aku juga marah padamu karena kemarin kau menampar serta mengusirku. Padahal, aku selalu percaya padamu dan juga menganggapmu temanku." lirihnya dengan sedih.
Helaan nafas panjang terdengar. Dia hanya menunduk sambil merenungi apa yang telah terjadi. Namun, beberapa waktu kemudian, sebuah tepukan mendarat di bahunya hingga membuat Xin'er refleks menoleh. "Ada apa?" ketusnya.
"Nona. Apa yang sedang Nona lakukan disini?" tanya orang tersebut yang ternyata Bibi Tangli.
Xin'er meringis saat melihat sosok wanita tua yang menegurnya barusan. "Ah, Nenek. Maaf! Kupikir tadi siapa," cetusnya cengengesan. "Aku disini sedang ... mmm-sedang memberikan ikan-ikan makan. Ya, begitulah. Hehehe," entah alasan bodoh apa yang ia ucapkan pada Bibi Tangli, karena berhasil membuat wanita tua itu mengernyitkan keningnya.
"Nona memberi makan ikan di kandang burung?" Pertanyaan Bibi Tangli membuat Xin'er semakin meringis. Bibi Tangli tersenyum kecil, kemudian berkata lembut. "Nona. Tuan Panglima memohon izin pamit kembali ke Istana," ucapnya menyampaikan.
"Kembali? Hah, betul juga. Dia pasti akan pulang dan aku tak perlu malu bertemu dengannya lagi," gumamnya tak didengar nenek. "Ya sudah. Biarkan dia pulang," cetusnya dengan cuek.
Bibi Tangli menyentuh pundak Xin'er seraya mengusap kepalanya lembut. "Kembalilah bersama Tuan Panglima ke Istana. Selesaikan masalah antara Nona dan Pangeran. Nenek yakin, jika Pangeran tidak bermaksud seperti itu. Pasti, ada alasan dibalik sikap kasarnya terhadapmu!" ujar nenek menasehati.
Xin'er tak menjawab apapun. Dia termenung semakin dalam mengingat perlakuan suaminya waktu itu. "Haruskah aku memaafkannya?" ucapnya meminta jawaban nenek.
"Coba dengarkan alasan dia melakukan itu, Nona. Jika alasannya masuk akal, maka maafkanlah. Namun, jika menurutmu itu hanya menyakitimu, maka tinggalkanlah dia. Bagaimanapun, dia itu suamimu!" nasihat nenek lagi.
Xin'er mengangguk setuju. "Baiklah, Nek! Aku akan kembali, tapi tidak hari ini. Suruh Zhaoling pulang lebih dulu." ucapnya kemudian.
"Kenapa? Kenapa kau menyuruhku pulang lebih dulu? Apa kau tak berniat kembali ke Istana?" tiba-tiba pria dingin yang baru saja membuat jantungnya tak karuan itu, kini tengah berdiri dengan tatapan tajamnya.
Sikap dingin dan angkuhnya pria ini justru membuat Xin'er memiliki perasaan lebih. Padahal, Pangeran Ketiga selalu bersikap lembut padanya. Namun, gadis ini malah menyukai pria arogan seperti Panglima tersebut.
"A-aku akan kembali. Tapi, tidak hari ini!" jawabnya gugup.
Zhaoling melangkah mendekati, namun Xin'er segera mundur untuk menghindari. "Kenapa tak ingin kembali bersamaku? Kamu harus memiliki alasan kuat untuk menolaknya! Jika tidak, maka jangan salahkan aku berbuat kasar! Sampai ayahmu pun tak bisa menghalangi langkahku," cetusnya dengan nada ancaman.
"Ya Dewa. Pria ini benar-benar menyebalkan! Selalu saja mengancam," batin Xin'er menatap dengan kesal. Tangannya terkepal kemudian berdiri. "Baiklah ... baiklah! Begitu saja harus mengancam," ucapnya mengalah.
Xin'er berlalu melewati Zhaoling yang masih menatapnya tajam. Tak ada senyuman di wajah tampan itu, bahkan rasa simpati walau secuil. Gadis itu menghentakkan kaki karena kesal dengan sikap dingin Zhaoling.
Beberapa saat, Xin'er telah bersiap dibantu Mengshu dan Yuelie. Mereka berdiri dengan bodoh diluar rumah, sambil sesekali melirik Zhaoling yang tengah berbicara dengan Tangsin. "Tadi nyuruh buru-buru, sekarang dia malah ngobrol sama Paman Tangsin. Apa sih maunya dia?" gerutu Xin'er yang dibenarkan kedua pelayannya.
Zhaoling menghampiri ketiga gadis yang sedang membicarakannya dibelakang. "Ayo, kita berangkat sekarang!" ucapnya langsung.
Zhaoling memicingkan senyumnya sebelum menjawab. "Kami? Aku hanya akan membawamu pulang, tidak dengan mereka!" jawabnya cepat. "Putri akan pulang bersamaku malam ini. Untuk mereka, Paman Tangsin yang akan membawanya besok." lanjutnya kemudian.
Xin'er membulatkan matanya karena terkejut. "Mm-maksudmu, aku hanya pulang bersamamu? Tidak! Aku tidak mau," tolaknya cepat.
"Yakin?" satu kata yang terselip sebuah ancaman didalamnya, membuat nyali Xin'er menciut. "Baiklah! Paman Tangsin." panggilnya kemudian. "Bawa kedua pelayan itu ke rumah bordir. Jual mereka kepada Nyonya Bai!" titahnya lagi yang langsung dituruti Tangsin.
Mengshu dan Yuelie bersembunyi dibalik tubuh Xin'er dengan ketakutan. "Nona. Kami tidak mau dijual kesana," ucap mereka dengan gemetaran.
Xin'er kebingungan karena Tangsin menarik tangan keduanya tanpa ragu. Dengan cepat, Xin'er menepis tangan Tangsin keras. "Paman. Paman ini kan pengawal pribadi ayah. Kenapa Paman menuruti keinginan pria sombong ini?" hardiknya.
"Karena aku punya token," sambar Zhaoling seraya memperlihatkan sebuah token milik Pangeran Ketiga. "Kau lihat! Jika dia tak menuruti perintahku, maka dia beserta keluarganya akan dihukum gantung. Tapi, sepertinya kau memilih itu. Baiklah. Besok, akan ada prajurit kerajaan datang kemari untuk menjemput kalian. Persiapkan diri kalian untuk menerima hukuman besok!" ancamnya lagi seraya pergi.
Xin'er semakin dibuat kesal dengan pria dingin dan sombong ini. Benar kata Moheng, kalau pria dihadapannya itu kejam. Tak ada pilihan lain saat ini, membuat Xin'er harus mengalah. Dia pun segera memanggil Zhaoling yang akan menaiki kudanya.
"Tunggu!" Zhaoling pun menoleh. "Baiklah! Aku akan ikut pulang denganmu. Tapi, jangan berikan hukuman apapun pada Paman Tangsin dan keluarganya, juga Mengshu dan Yuelie!" pinta Xin'er memohon.
Zhaoling hanya menggerakkan tangan seperti menyuruhnya mendekat. Dengan malas, Xin'er segera mendekat. "Seharusnya, dia yang takut denganku karena aku istri dari Pangeran. Bukan malah aku yang takut padanya!" Xin'er mencebik dalam hatinya.
"Jangan pernah membuatku harus selalu mengancammu untuk menuruti semua perintahku!" bisiknya ditelinga Xin'er.
Wajah gadis itu memerah akibat menahan amarah. "Baiklah, Tuan Panglima! Aku akan menuruti keinginanmu," ucapnya dengan nada dibuat-buat. "Jika bukan karena terpaksa, aku takkan menuruti perintahmu. Dasar pria sombong!" umpatnya dalam hati.
"Hoho. Sepertinya, pujianmu untukku lebih manis jika dalam hati. Kenapa tak diungkapkan saja terus terang?" ejeknya seperti tahu pikiran Xin'er.
Xin'er membulatkan mata. "Apa dia cenayang? Apapun yang aku pikirkan dan ungkapkan dalam hati selalu diketahui olehnya."
"Sudahlah! Tidak usah dipikirkan! Ayo, naik!" titahnya seraya melompat ke kudanya.
Melihat Zhaoling yang langsung menaiki kuda, Xin'er pun terheran dan kemudian bertanya. "Mana kuda untukku?" tanya gadis itu seraya melirik ke kiri dan kanan.
"Kudamu? Hemh, sepertinya kau salah paham lagi, Putri! Kau akan pulang bersamaku dengan satu kuda. Aku tak ingin kau kabur saat diperjalanan. Jelas?" ucap Zhaoling santai.
"Apa? Satu kuda denganmu? Aku tidak ...!" sebelum Xin'er melanjutkan ucapannya, Zhaoling segera memotongnya.
"Maka jangan salahkan aku tidak berbelas kasih pada para pengikutmu!" ancamnya lagi.
Xin'er terhenyak mendengar ancaman pria itu lagi. "Hah, ya Dewa. Baiklah! Kau menang, Aling!" teriaknya kesal.
...Bersambung gaess ......