
Srek ... srek ...
Tebasan terus dilakukan oleh mereka guna menghalau anak panah yang melesat bagaikan hujan tersebut. Sebisa mungkin mereka terus melindungi dengan senjata seadanya. Beruntung, pedang mereka sembunyikan dibalik jubah yang dikenakan dan bisa berguna dikeadaan genting seperti ini.
"Jalankan perahunya secepat mungkin! Kita tak bisa terus menghentikan anak panah dengan cara seperti ini," kata Zhaoling menginstruksi.
Mereka mengikuti perkataan Zhaoling dan terus mendayung dengan kecepatan penuh. Sedangkan sebagiannya membantu Zhaoling menghalangi anak panah yang mengarah pada mereka.
Sleb ..
"Aaakkhh," ringisan keluar dari mulut Jihu karena lengannya terkena anak panah.
"Kakak," pekik Yoona saat melihat anak panah menancap ditangan Jihu. Dia segera membantu untuk mencabut anak panah tersebut dan menghentikan darah yang keluar dari lukanya. Yoona pun segera mengambil tanaman obat yang ada dalam kantong, kemudian menumbuknya menjadi halus, setelah itu menempelkannya di luka Jihu. "Tahan ya, Kak!" ujarnya dengan wajah cemas.
Jihu hanya tersenyum melihat kekhawatiran di wajah adik angkatnya tersebut. Walaupun bukan adik kandung, tapi perhatian Yoona lebih dari keluarga sendiri dan itu membuatnya senang. Jihu menyayangi Yoona lebih dari nyawanya sendiri, sebab wanita cantik itu telah memberikan arti kehidupan baginya.
"Aku baik-baik saja!" seru Jihu menenangkan hati adik angkatnya itu.
Mereka pun mempercepat laju perahu ke tengah Lautan sehingga menjauhi pasukan kerajaan yang terus mengejar.
•
•
Zhaohan menundukkan badannya untuk memungut sesuatu yang tergeletak di tanah. Dia menautkan kedua alis saat melihat kantong berisikan tanaman herbal yang diyakini milik salah satunya. Dengan segera, ia mengeluarkan semua barang yang ada di dalam kantong tersebut. Betapa terkejutnya Zhaohan saat beberapa benda ikut jatuh dari kantong tersebut. Namun, yang paling menarik perhatiannya yaitu sebuah benda yang sangat ia kenali. Sebuah jepit rambut dengan ukiran bunga Matahari diatasnya.
Jepit rambut bunga Matahari milik Xin'er itu Zhaoling berikan pada Jiong saat mereka berbincang waktu malam sebelum penyerangan. Dia ingin menyampaikan permohonan maaf pada Xin'er, namun wanitanya itu sangat sulit untuk didekati. Sehingga, Zhaoling berbincang dengan Jiong dan juga Jihu.
Dia menceritakan semua kejadian sebelum Xin'er pergi dari Istana, lebih tepatnya diusir untuk diasingkan ke perbatasan Kuil Dewa Angin. Jihu dan Jiong pun menceritakan awal mula pertemuan dengan Yoona dan ayah serta kakaknya yang sedang diburu oleh Serigala di hutan larangan.
Mereka berusaha menyelamatkan, namun takdir berkata lain. Tuan Yun Xiaoyu dan Xiaolang.
"Bukankah ini milik Xin'er?" gumamnya terus memperhatikan jepit rambut itu. "Tidak ... tidak! Xin'er sudah mati dan Zhaoling sendiri yang membawa jasadnya kembali, serta di makamkan di belakang Paviliunnya. Pasti ini hanya mirip saja, karena perhiasan wanita kan banyak dijual di toko." tampik Zhaohan tak percaya.
Saat Zhaohan meyakinkan diri bahwa barang itu bukan milik Xin'er, sebuah fakta baru terungkap. Seorang prajurit yang tadi mengejar para perampok itu mengatakan bahwa Zhaoling berada diantara mereka. Panglima Xili sendiri yang melindungi perampok bertopeng hingga mereka selalu dan selalu selamat dari pengejaran pasukan kerajaan.
Fakta ini meyakinkan Zhaohan bahwa Xin'er masih hidup dan dia ikut dalam kelompok perampok bertopeng. Tidak mungkin Zhaoling akan bersikeras melindungi mereka sampai rela difitnah. Ini pasti ada hubungannya dengan Xin'er.
"Ternyata selama ini Zhaoling menyembunyikan Xin'er dalam kelompok perampok itu, agar aku tak menemukannya. Heh. Kita lihat, seberapa lama kau akan terus menyembunyikan dia dariku!" gumam Zhaohan seraya mengepalkan tangannya.
Dia sangat marah setelah mengetahui bahwa Xin'er masih hidup dan disembunyikan bersama para perampok bertopeng itu. Padahal, Zhaoling pun baru mengetahuinya sekarang setelah Mengshu bercerita.
"Prajurit. Siapkan Armada Laut milik kita. Kejar para perampok itu dan pastikan tidak ada seorang pun ya bisa lolos kali ini! Jika Zhaoling masih bersikeras melindungi mereka, maka kita juga harus membunuhnya." titah Zhaohan kepada pasukannya. Dia tertawa puas dalam hatinya.
Begitu mudahnya Dewa memberikan jalan baginya untuk menyingkirkan Zhaoling tanpa harus bersusah payah. Dengan begini, maka dirinya semakin dekat dengan tahta kekaisaran.
Sebagai seorang Pangeran Pertama, tak menutup kemungkinan untuknya menguasai tahta kekaisaran setelah Kaisar meninggal nanti. Tak ada generasi penerus dari putra Permaisuri lagi, karena Zhaoling dinyatakan berkhianat pada Kerajaan. Jadi, satu-satunya yang berkemungkinan besar menggantikan Kaisar adalah dirinya, Pangeran Pertama Zhaohan.
Di tempat lain.
Seorang wanita paruh baya tengah bersimpuh dihadapan sebuah patung dengan mengatupkan kedua tangannya dan mata terpejam. Bibir wanita paruh baya tersebut tak henti-hentinya mengucapkan sesuatu yang tak bisa didengar oleh orang lain, karena terlihat seperti bergumam.
Setelah seseorang memasuki ruangan dimana dirinya berada, wanita itupun segera menyudahi ritual berdo'anya. "Yang Mulia Permaisuri. Tuan Hong ingin melaporkan sesuatu kepada Anda," ucap seorang pelayan yang masuk tersebut.
Permaisuri Jian membuka matanya dan menghentikan doanya, kemudian Beliau menoleh kearah pelayan tersebut. "Suruh dia masuk!" titahnya kemudian.
Dengan segera pelayan itu menyuruh Tuan Hong masuk kedalam setelah dipersilahkan Permaisuri. Pria berbadan tinggi itupun menunduk hormat kearah Permaisuri setelah mengatupkan tangannya dan menunduk dihadapan patung Dewa.
"Ada hal penting apa sampai kau berani mengganggu ritual berdoa siang ku?" tanya Permaisuri dengan dingin.
Hong meminta maaf sebelum menjawab pertanyaan Permaisuri. "Yang Mulia. Hamba menemukan kabar tentang Pangeran Zhaozu," sahutnya cepat membuat Permaisuri terkejut.
"Putraku? Kabar apa yang kau dapatkan tentang Putraku, Hong?" tanya Permaisuri tak sabar.
"Hamba dengar bahwa Pangeran Zhaozu melindungi para perampok bertopeng dan membantu mereka kabur. Saat ini, Pangeran Zhaohan sedang mengejarnya dengan Armada Angkatan Laut kita ke daerah perbatasan." jawab Hong dengan tegas.
Permaisuri tampak lesu mendengar kabar tersebut. Berarti yang selama ini didengarnya tentang kabar tersebut benar adanya, bahwa Zhaozu melindungi perampok bertopeng. Sikap Zhaozu ini sudah termasuk melakukan pengkhianatan Negara, karena mendukung pemberontak untuk lebih leluasa beraksi.
"Kemana tujuan utama mereka?" tanya Permaisuri lagi. Sesungguhnya Beliau menjadi semakin khawatir dibuatnya. Semenjak kasus terakhir yang menimpa Xin'er, putranya itu sengaja menjauhkan diri darinya. Rasa cinta Zhaozu terhadap Xin'er begitu besar, sehingga apapun yang dilakukan Permaisuri padanya akan berimbas balik padanya. Terlebih, Zhaozu sendiri yang membuktikan jika Xin'er tidak bersalah.
"Menurut seorang prajurit, tujuan utama mereka adalah rumah Saudagar kaya di Desa Khuthang, yaitu Tuang Tong Sheng." sahut Hong lagi.
Permaisuri termenung sejenak, kemudian berkata. "Desa Khuthang! Baiklah, Ayo kita kesana!" ucap Permaisuri tiba-tiba.
Tuan Hong terkejut mendengar perkataan Permaisuri. "Kita menyusul Pangeran Ketiga kesana? Tapi, perjalanan kesana penuh bahaya, Permaisuri. Saya takut terjadi sesuatu pada Yang Mulia," cegahnya.
Sesungguhnya memang benar, bahwa perjalanan menuju ke Desa Khuthang penuh dengan bahaya. Selain harus mendaki Gunung dan melewati lembah, perjalanan ke Desa Khuthang pun harus melewati Hutan belantara. Di hutan tersebut terdapat banyak sekali Binatang buas, serta para perampok.
Mereka sangat kejam melebihi para perampok bertopeng. Jika seseorang tertangkap oleh kawanan perampok itu, maka mereka bisa mati secara tragis. Karena, perampok itu tak segan menguliti mangsanya, serta mengeluarkan organ dalam untuk dijadikan makanan mereka.
Perampok itu lebih dikenal sebagai pembunuh berdarah dingin, karena sikap kejinya. Menjadikan organ dalam manusia sebagai makanan, sungguh perbuatan di luar batas kewajaran. Pertanyaannya, apa mereka Manusia?
Entahlah.
Perampok kejam itu menamai dirinya sebagai Setan Darah. Mereka menguasai wilayah daratan Chang Chute. Karena kekejamannya, banyak penduduk mati dengan kehilangan organ dalamnya. Mereka memiliki tubuh tinggi dan besar, serta berwajah menyeramkan seperti Monster.
"Lalu, bagaimana dengan putraku? Dia pun menuju ke tempat itu, Hong!" seru Permaisuri dengan perasaan gelisah.
"Yang Mulia Permaisuri tenang saja. Pangeran bersama dengan para Perampok Bertopeng. Pasti mereka berkawan baik bersama perampok Setan Darah tersebut." sahut Hong menenangkan.
Permaisuri Jian menghela nafas panjang, kemudian mengangguk. "Baiklah. Kita tunggu kabar selanjutnya," ucapnya pasrah.
...Bersambung .......