Panglima Perang Kerajaan Xili

Panglima Perang Kerajaan Xili
Penemuan Mayat


Liu Wei dan Yu Xuan bergerak cepat menuju kearah Timur, sesuai petunjuk yang mereka dapat. Tujuan mereka hanya satu, menemukan Xin'er dan keluarganya yang dikirim sebagai tahanan Kerajaan.


Langkah mereka terhenti di persimpangan jalan. Dihadapan mereka sekarang ini ada jalan bercabang, yang keduanya sama-sama menuju wilayah perbatasan.


Kedua pengawal bayangan Zhaozu, saat ini tengah kebingungan untuk memilih jalur mana yang harus dilewati. Mengingat, kedua jalur ini mempunyai perbedaan tersendiri.


Bila kereta kuda melewati jalur kanan, mereka takkan kesulitan karena kelebaran jalan yang cukup dan permukaan yang rata . Namun, membutuhkan waktu yang sangat lama hingga dua hari lamanya karena, harus melewati beberapa pedesaan serta menyebrangi sungai.


Jalur kiri sangat efektif bila ingin lebih cepat untuk sampai di perbatasan. Tapi, jalur kiri sangat berbahaya serta beresiko, karena harus melewati hutan belantara dan juga pegunungan yang berbatu. Jadi, tidak mungkin para prajurit memilih jalur ini. Pikir Liu Wei dan Yu Xuan.


Maka dari itu, kedua pengawal bayangan tersebut melesat melalui jalur kanan. Tapi, mereka tidak tahu bahwa jalur yang diambil berlainan arah dengan para prajurit yang membawa Xin'er dan keluarganya.


Walaupun pergerakan keduanya sangat cepat, tapi mereka tak bisa mengejar kereta Kuda yang membawa tahanan kerajaan. Padahal, saat ini mereka sudah berada sangat jauh dan hampir sampai diarea perbatasan. Tinggal menyebrangi sungai saja, maka sampailah di perbatasan Dongnam. Bahkan, dari sini mereka dapat melihat Kuil Dewa Angin.


"Ini tidak mungkin! Kenapa para prajurit tak terlihat sama sekali?!" wajah keduanya saat ini menjadi gusar, kala tak menemukan rombongan prajurit yang mengawal Xin'er dan keluarganya sebagai tahanan kerajaan. Bahkan, tak ada tanda-tanda jika sungai telah diseberangi oleh perahu. Karena, perahu yang biasa dipakai untuk menyebrang masih terikat manis ditempatnya.


Keduanya saling menatap, sebelum berucap kembali. "Jangan-jangan ... ah, sial!" bergegas mereka memutar arah kembali menuju arah sebaliknya. Walaupun sudah sangat jauh, tapi mereka rela kembali demi bisa menemukan istri dari tuannya.


Wushh ... wushh ...


Pergerakan keduanya seperti angin yang berhembus, tanpa terlihat siapapun.


...💥💥💥💥💥...


Sementara, di Istana.


"Kenapa Ibu tidak mencegah Xin'er pergi? Ibu kan tahu sendiri, bahwa Istriku tak melakukan kejahatan yang dituduhkan bagian penyidik!" hati Zhaozu saat ini menjadi geram. Dia bahkan berseteru terlebih dulu dengan kepolisian bagian penyidik.


Permaisuri hanya bisa terdiam melihat kemarahan putranya. Sesungguhnya, Beliau sendiri tak tega melihat menantunya diperlakukan dan dihina seperti kemarin. Tapi, apa yang bisa Permaisuri lakukan untuk membebaskan Xin'er dari tuduhan-tuduhannya?


Dielus lembut bahu Zhaozu dengan menatap haru, kemudian Permaisuri mendaratkan kepalanya di dada sang anak. "Apa kamu marah sama Ibu karena tak bisa membuktikan kebenaran tentang Istrimu?" pertanyaan bernada sedih itu lolos dari mulut Permaisuri.


Zhaozu sontak menundukkan kepalanya menatap wajah ibunya. "Aku tidak marah kepada Ibu. Hanya saja, aku sedikit kecewa karena Ibu tak bisa membujuk Ayah atas kejadian ini. Aku marah kepada diriku sendiri yang tidak bisa menjaga Istriku dengan baik. Dia pasti marah karena aku tak ada disampingnya saat itu. Dia pasti kecewa, Bu!" ujarnya dengan penyesalan yang mendalam.


"Nak. Jika kedua pengawal bayanganmu itu menemukan Xin'er, bawa dia ke tempat aman. Jangan bawa dia kemari karena, semua rakyat Xili telah membencinya." tutur Permaisuri memberikan saran. "Zhaozu, dengarkan Ibumu ini. Walaupun Xin'er tidak tinggal di dalam Istana, tapi Ibu akan memberikan kehidupan yang layak baginya." Permaisuri mencoba meyakinkan putranya saat ini. Beliau sama halnya dengan Zhaozu, penuh penyesalan.


Helaan nafas panjang terdengar dari mulut Zhaozu. Dia teramat sangat menyesal karena tidak pulang cepat ke Istana, setelah menemukan kebenarannya. Walaupun bukti tidak didapatnya, tapi setidaknya dia bisa membantu istrinya terbebas dari tuduhan palsu.


Setelah menemui ibunya, Zhaozu lekas pergi ke markas militer. Dia kembali menjadi Zhaoling, Panglima Perang. Tugasnya saat ini mengumpulkan semua bukti dan mencari tahu siapa dalang dibalik konspirasi ini. Hatinya sangat geram karena, sebagai suami dirinya tak bisa menolong sang istri dan membuktikan kebenaran tentangnya.


Zhaozu mencengkram kuat kertas-kertas yang menumpuk dihadapannya. Kertas itu berisikan bukti kejahatan Xin'er yang didapat bagian penyidik.


Pyaaarrrr


"Arrrggghhh," rasanya sangat sulit untuk memecahkan kasus konspirasi ini. Walaupun Zhaozu berusaha keras, tetap saja mereka takkan percaya. "Apa yang harus aku lakukan agar bisa membebaskanmu, Xin'er?" wajahnya tertunduk lesu setelah ia mengusapnya dengan kasar. "Astaga, Xin'er. Maafkan aku!" kembali Zhaozu mengucapkan penyesalannya.


...💫💫💫💫...


Tiga hari sudah Liu Wei dan Yu Xuan mencari jejak Xin'er, Tuan Xiaoyu dan juga Xiaolang di jalur sebaliknya. Mereka seperti sengaja disembunyikan oleh kabut tebal yang menyelimuti, sehingga tak bisa terlihat dimana pun.


Walaupun usahanya belum membuahkan hasil, tapi keduanya tetap semangat untuk menemukan keberadaan istri-tuannya beserta keluarganya. Dinginnya angin malam tak menyurutkan tekad keduanya untuk terus melakukan pencarian.


Sampailah kedua pengawal bayangan Zhaozu di area hutan terlarang. Mereka mengernyitkan kening ketika melihat daerah yang tertutupi pepohonan rindang yang terkenal angker tersebut. Gelapnya malam menambah suasana semakin mencekam. Sebetulnya, ada jalan lain lagi selain melewati hutan tersebut. Tapi, jika orang yang tak sabaran pasti akan melewati hutan tersebut supaya cepat sampai, tanpa tahu apa yang sedang menunggunya di depan sana.


Seperti para prajurit yang membawa tahanan kerajaan itu. Mereka memilih jalur masuk hutan, supaya bisa mempersingkat waktu. Tapi karena mereka kemalaman, akhirnya mereka terkepung Binatang penghuni hutan tersebut.


Sebelum masuk hutan, Liu Wei dan Yu Xuan saling pandang terlebih dulu. Setelah yakin, keduanya pun bergerak cepat memasuki hutan angker tersebut.


Belum jauh mereka masuk, Indra penciuman keduanya disuguhkan sesuatu yang berbau busuk. Sontak keduanya berhenti sambil menutup hidung masing-masing. Hatinya menjadi cemas seiring bau amis darah yang tercium semakin kuat.


Dengan langkah hati-hati, serta kewaspadaan yang tinggi, keduanya terus melangkah sambil sesekali memperhatikan area sekitar dan mengikuti kemana arah indra penciuman membawanya.


Bau busuk yang menyengat tercium dari radius lima puluh meter dengan posisi mereka saat ini. Potongan-potongan kain berlumuran darah terlihat berceceran disepanjang jalan. Hati keduanya semakin gusar melihat potongan kain tersebut.


Keduanya saling menatap, kemudian mengangguk bersamaan seiring kaki terus melangkah maju ke depan. Bau busuk tercium semakin menyengat ... semakin menarik perhatian ... semakin membuat jantung deg-degan ... dan ...


"Astaga, mayat!" seru keduanya dengan terkejut. Bukan hanya satu, tapi tiga orang sekaligus.


Mayat-mayat itu dalam kondisi mengenaskan. Seluruh tubuhnya tercabik oleh cakar panjang dan tajam. Bagian perutnya terdapat lubang besar bekas koyakan gigi taring, hingga ususnya terburai keluar. Wajahnya sudah tidak bisa dikenali karena sudah membusuk.


Melihat dari kondisi fisik mayat-mayat ini, Liu Wei dan Yu Xuan yakin jika mereka mendapat serangan dari binatang buas penghuni hutan angker. Yang jadi pertanyaan, mayat siapakah ini? Menilik dari pakaian yang mereka pakai itu seperti ...???


"Baju tahanan?!" keduanya terkejut bukan kepalang, melihat kenyataan yang ada didepan mata.


Walaupun disini minim pencahayaan, tapi Liu Wei dan Yu Xuan dapat memastikan bahwa pakaian yang dikenakan mayat-mayat ini adalah baju tahanan kerajaan. Di sekitar mayat-mayat tersebut juga terdapat beberapa barang yang sangat mereka kenali. Salah satunya adalah jepit rambut yang selalu dikenakan istri-tuannya.


Dengan tangan yang gemetar, dia memungut benda tersebut dan mengamati dengan teliti. Sungguh, saat ini dihatinya berharap bahwa itu bukan benda yang sering dilihatnya setiap hari. Tapi sialnya, takdir seolah mempermainkan perasaannya saat ini. Walaupun hanya sekilas melihatnya, tapi Liu Wei dapat memastikan bahwa benda ditangannya itu adalah jepit rambut Xin'er. "Ini ...?!" Liu Wei tak dapat melanjutkan perkataannya karena, Yu Xuan sudah merebut benda tersebut dari tangannya.


"Bukankah ini milik Tuan Putri?" Liu Wei mengangguk dengan pertanyaan Yu Xuan. "Kalau begitu, mayat-mayat ini adalah ...? Tidak mungkin!" tampiknya seraya menunduk guna memeriksa.


Liu Wei terpaku ditempat tanpa bergerak sedikitpun. Tatapannya lurus kearah mayat yang tertelungkup dengan luka yang sangat parah. "Yu Xuan. Bagaimana ekspresi Tuan Zhaoling jika tahu istrinya telah ...?"


Yu Xuan mendongak menatap Liu Wei yang terdiam dengan mata berkaca. "Jangan menyimpulkan apa yang belum jelas! Mayat itu belum tentu Tuan Putri," Yu Xuan terus menampik ucapan Liu Wei. Walaupun sebenarnya, hatinya sangat resah saat ini.


'Semoga mayat itu bukan Tuan Putri!'