
Istana sedang berduka. Seorang istri dari Pangeran Ketiga, atau istri dari seorang Panglima Besar telah gugur di medan perang.
Dia melawan pemberontak dengan gigih tanpa menyerah sedikitpun. Rela mati demi mempertahankan harga dirinya, sungguh perbuatan yang patut di puji.
Yun Xin'er. Bukan, tapi Sin Yoona!
Nama yang tertulis di batu nisan itu mengingatkan akan perjuangan hidupnya yang pelik, penuh liku dan juga kepahitan.
Seorang wanita yang tangguh dan tegar dalam menjalani kehidupan yang sulit sekalipun. Dialah Yoona, wanita yang seharusnya menjabat sebagai Permaisuri di generasi berikutnya, bahkan kemungkinan terbesarnya akan menjadi seorang Ibu Suri.
Tahta Kekaisaran sudah pasti jatuh ke tangan Pangeran Zhu Zhaozu, atau Panglima Zhaoling. Karena, dialah satu-satunya Pangeran yang sah dimata hukum Kerajaan untuk menjabat sebagai Kaisar selanjutnya.
Sedangkan Pangeran Zhaohan, Zhaoyan, serta Zhaokang, ketiganya telah tewas di medan perang dan nama mereka dikenang sebagai pengkhianat Negara.
Tapi, walaupun seperti itu, ibu dari mereka, yaitu Selir Wang dan Selir Bai tetap tinggal di Istana atas kebijakan Kaisar Zhihu.
Kebahagiaan memang tak mesti di dapat walau seorang Putra Mahkota sekalipun. Di kehidupan selanjutnya, Zhaoling harus mengurus Putranya seorang diri tanpa ada istri yang menemani. Dia harus merawat dan membesarkan Zhaolie seperti apa yang diamanatkan mendiang sang istri disaat terakhirnya.
Wajah lugu dan polos Zhaolie tengah menatap dengan penuh harap. Tersenyum kearah Zhaoling walaupun di tengah kepahitan hidup sang ayah. Bayi tampan itu belum mengerti akan rasanya kehilangan seorang ibu. Yang dia tahu, seseorang kini tengah menimangnya untuk tidur dan menyiapkan susu untuk mengenyangkan perut kecilnya.
Tak terasa, air mata Zhaoling menetes jatuh di wajah anaknya. Ia mengingat bagaimana perjuangan mereka ketika ingin memiliki seorang anak. Xin'er selalu percaya bahwa suatu hari nanti dirinya akan menjadi seorang ibu, walaupun Tabib mengatakan ia tak kan bisa hamil lagi karena rahimnya rusak.
Tapi, dengan keyakinan dan kesabarannya ia pun membuktikan bahwa penantiannya tak sia-sia. Akhirnya, Xin'er menjadi seorang ibu. Namun, takdir Dewa selalu mempermainkan hidupnya. Disaat dirinya sudah menjadi seorang ibu, dengan teganya Dewa memisahkan mereka dengan cara merenggut nyawa Xin'er.
Lalu, untuk apa Dewa memberikan mereka keturunan jika pada akhirnya harus memisahkan ibu dan anaknya?
Zhaoling memejamkan mata ketika bibirnya mengecup wajah sang anak. Walaupun pergerakan Zhaoling cukup keras, tapi untungnya tak mengusik tidur si bayi tampan.
Tok ... tok ... tok
Pintu kamar diketuk berulang kali dari luar, membuat Zhaoling menoleh kearahnya.
"Masuk," singkatnya.
Tak membutuhkan waktu lama, pintu itu di dorong dan terbuka lebar, menampakkan seseorang yang sangat dikenalinya. "Malam sudah larut, kenapa Permaisuri belum tidur?" tanya Zhaoling tanpa menoleh.
Walaupun wajahnya menunduk menghadap putranya, tapi dia tahu siapa orang yang masuk tersebut. Entah diketahui dari suara langkah kakinya, atau dia hanya memperkirakannya saja!
Permaisuri Jian mendekati Putra dan Cucunya. Dipandangnya wajah tampan si kecil yang mirip dengan Zhaoling sewaktu bayi, namun ada beberapa bagian mirip dengan Xin'er, seperti mata dan bibirnya.
"Apa dia susah tidur?" bertanya tanpa menjawab pertanyaan yang terlontar dari Zhaoling tadi.
Nada bicara dan perubahan sikap Zhaoling kentara sekali jika dirinya kini menjaga jarak dengan ibunya. Dia bersikap dingin dan cuek pada siapapun, termasuk ayahnya Sang Kaisar.
Semenjak kejadian kepergian Xin'er waktu itu, masih menyimpan banyak tanda tanya besar di hatinya. Sehingga, Zhaoling harus bekerja ekstra untuk mengungkap kebenaran atas kematian istrinya.
Ya. Disaat terakhirnya, Xin'er mengatakan sesuatu yang membuat Zhaoling terkejut tak percaya. Xin'er menyebutkan seseorang di sekitar Zhaoling adalah musuh dalam selimut, orang yang tak pernah senang jika melihat dirinya bahagia.
Terlihat wajah sedih Permaisuri Jian Xia ketika putranya menjawab dengan ekspresi datar. Beliau mengusap kepala Zhaoling dengan lembut sambil berkata, "istirahatlah Nak! Kau butuh istirahat agar tubuhmu tetap sehat. Jika kau sakit, siapa yang akan merawat Alie? Walaupun aku ada dan bisa mengurusnya, tapi dia lebih membutuhkanmu, bukan!" ujarnya menasehati.
Wajah Zhaoling seketika menoleh kearah wanita yang menjadi ibunya itu. Rasanya, sulit dipercaya jika wanita sebaik dan selembut ini tega melakukan kejahatan terlebih terhadap anak dan menantunya. "Tidak ... tidak, dia tidak mungkin melakukan itu!" batin Zhaoling menampik apa yang di gumamkan istrinya.
"Apa mungkin yang dimaksud Xin'er itu, Penguasa Istana Selatan? Kalau begitu ... Selir Wang Xiumeng pasti dalang dibalik ini semua! Dia adalah ibu kandung Zhaohan dan Zhaoyan. Ya, pasti dia yang dimaksud Xin'er!" sambung Zhaoling masih membatin.
Melihat putranya hanya diam, Permaisuri Jian menjadi salah tingkah dan juga tak enak hati. Beliau pun berpamitan kepada Zhaoling dan berlalu begitu saja dari kamar putranya itu.
Namun, sebelum benar-benar keluar, langkahnya terhenti ketika mendengar suara Zhaoling. "Ibu. Aku akan menjaga kesehatanku," ucapnya sembari menoleh.
Mendengar perkataan putranya, Permaisuri berbalik dan langsung memeluk Zhaoling yang tengah menggendong Alie. "Tak ada yang membuat hati seorang ibu bahagia selain panggilan Ibu dari putranya," ucapnya dengan terisak. "Terima kasih, Nak!" lanjutnya kemudian.
Zhaoling membalas pelukan ibunya dengan hangat. "Maafkan aku, Ibu! Aku sungguh ...."
Permaisuri lekas menggelengkan kepalanya. "Tidak, Nak! Kau tidak perlu meminta maaf, karena kau tak salah. Ibu mengerti akan keadaanmu saat ini, jadi Ibu sangat paham." pungkasnya. "Baiklah! Ini sudah malam dan kalian berdua harus beristirahat," ucapnya dengan senyum yang mengembang.
Zhaoling mengangguk sembari tersenyum. "Baik, Bu!"
Permaisuri keluar dari kamar Zhaoling dengan perasaan bahagia. Akhirnya, putra semata wayangnya itu bersikap hangat lagi dan kembali memanggilnya ibu. Beliau melangkahkan kaki menuju kamarnya dengan tersenyum lebar.
•
Sementara di tempat lain.
"Brengsek," umpatnya geram seraya memukul meja dihadapannya. "Ternyata wanita sialan itu masih bisa membuka suaranya walau Iblis kematian sudah menghampiri. Kurang ajar," lanjutnya membanting kursi.
"Bu, tenanglah! Nyonya bilang kita tidak perlu khawatir tentang masalah ini," ucap anaknya menenangkan. "Yang harus kita lakukan adalah tidak menampakkan diri dihadapan anggota keluarga kerajaan, jika kita tak ingin ditangkap pasukan militer!" sambungnya dengan santai.
Sang ibu mengepalkan tangan geram. Dia sangat marah karena Xin'er bisa mengatakan bahwa dirinya lah yang melakukan penusukan kepada semua orang. Namun, Xin'er tak sempat mengatakan dalang dibalik semua kejadian ini karena kesadarannya telah hilang sepenuhnya. Padahal, Xin'er sudah diberi tahu siapa wanita yang menjadi musuh dalam selimut mereka.
Muning menarik nafasnya lebih dalam. Rasanya, sangat sulit untuk bergerak leluasa setelah Xin'er mengatakan bahwa dirinya lah yang menusuknya sampai mati. Keberadaan Muning sekarang telah diketahui semua orang, setelah kebenaran terungkap di depan umum.
Begitupun dengan Mingna. Wanita itu pun tak bisa leluasa pergi kemana saja karena kasus ibunya. Walaupun geram, tapi dia bersikap santai karena merasa ada yang melindungi mereka dari bahaya. Yang harus dilakukan saat ini ialah waspada dan bersembunyi dengan sebaik mungkin agar tidak diketahui anggota keluarga kerajaan ataupun prajurit. Jika itu terjadi, mereka akan diseret ke penjara, atau mungkin lebih buruk lagi. Mereka akan langsung dihukum mati saat itu juga.