
Pov Yoona
Aku berjalan sendirian di kegelapan, tanpa ada siapapun yang menemani. Hatiku terasa hampa, sunyi sepi dengan kekosongan abadi. Sakit, sedih, takut, itulah yang kurasakan saat ini.
Hatiku bagaikan tergores luka yang cukup dalam, namun tak ada setetes darah yang keluar. Tapi, itu sungguh sangat menyakitkan, walaupun aku tak tahu apa penyebabnya.
Jantungku berdetak tak karuan, seperti sedang merasakan ketakutan yang luar biasa. Kalian bisa bayangkan, jika saat ini kalian sedang dikejar setan. Bagaimana rasanya? Nah, seperti itulah perasaanku saat ini.
Sakit,
Ini sungguh menyakitkan. Aku terluka, tapi aku sendiri tak bisa menemukan bagian tubuhku yang terluka. Hanya saja, perasaan ini sungguh sangat menyiksa.
Takut,
Aku sangat takut. Ketakutan yang sangat besar mendominasi perasaanku saat ini. Namun, aku sendiri tak tahu jika ketakutan ku itu disebabkan karena apa!
Sedih,
Jujur aku sangat sedih, sampai air mataku ini tak berhenti menetes. Tapi, sekali lagi, aku tak tahu apa penyebab kesedihanku itu!
Aku berjalan menyusuri ruang yang gelap, berharap menemukan cahaya walau hanya setitik saja. Tapi, rasanya sangat sulit menemukan penerang di kegelapan abadi ini. Sampai-sampai aku harus jatuh berkali-kali dan harus bangkit sendiri.
Hidupku terasa mati,
Aku menyerah,
Aku tak mampu menanggung beban hidup yang sangat berat ini. Rasanya, aku kesulitan untuk hanya sekedar bernafas. Aku lelah berjalan dan tak sanggup lagi untuk melangkah lebih jauh. Perlahan, mataku tertutup sedikit demi sedikit. Namun, sebelum aku menutup mata ini, sesuatu terjadi tepat di penghujung kepasrahan.
Di saat aku menyerah, sebuah cahaya menyilaukan mataku. Dari setitik sinar, semakin lama cahaya itu semakin membesar dan menerangi kegelapan abadi dalam hidupku. Bukan hanya seberkas cahaya saja, namun sebuah suara samar ku dengar memanggil namaku.
"Yoona,"
"Yoona,"
"Sin Yoona,"
Satu ... dua ... tiga ...
Suara lembut seorang pria mengusik Indra pendengaran ku. Rasanya, aku hapal si pemilik suara bariton ini. Tapi, aku sepertinya lupa akan namanya.
Jelas ku dengar jika ia memanggil namaku berulang kali. Tapi, mataku ini sulit untuk terbuka dan melihat siapa orang yang sedari tadi memanggil namaku.
"Yoona, kau bisa mendengar ku?" terdengar nada kekhawatiran dari suara beratnya.
Ku coba mengerjapkan mata secara perlahan sampai terbuka lebar. Namun, tak lama kemudian aku menutup mataku kembali karena cahaya yang menyilaukan.
"ugh,"
"Tidak apa-apa, perlahan saja!" ucapnya menginstruksi.
Ku coba mengerjap ulang kembali mataku secara perlahan, sampai bisa menyesuaikan cahaya yang diterima Indra penglihatan ku.
Pertama kali ku lihat ketika mataku terbuka sempurna yaitu, ruangan bernuansa putih dengan bau obat-obatan yang khas. Hatiku bergumam, ini pasti Rumah Sakit.
Hah, Rumah Sakit?
Tidak ... tidak! Mana mungkin di sini ada Rumah Sakit! Pasti ini hanya sebuah mimpi.
Tapi, ....? Ah, bukankah tadi ada seseorang yang memanggil namaku? Ya. Aku harus memastikan sesuatu.
Netra mutiara ku giring memutar mencari sosok yang sedari tadi mengusik Indra pendengaran ku, menelisik setiap ruang sampai tertuju pada seorang pria yang tengah berdiri di sampingku sambil tersenyum hangat.
"Kau sudah sadar?" bertanya masih dengan nada kekhawatiran, namun tak terdengar seperti tadi.
Wajah tampan itu, aku mengenalnya. Tapi, ada yang aneh saat ini. Kenapa, dia berbeda?
Ku anggukan kepala perlahan sembari membuka suara lirih, "iya."
Aku hanya menggelengkan kepala, dan ia pun mengerti. "Baiklah, kamu istirahat dulu! Akan ku panggilkan kedua orang tuamu," cetusnya kemudian sembari berbalik pergi.
Orang tuaku katanya? Apa aku ....?
Sebelum ia pergi, aku memanggilnya dan ia pun berbalik menoleh lagi. "Ada apa?"
Ini bukan mimpi. Pria ini sungguh orang yang sangat ku kenali, dan sangat dekat denganku. Tapi, penampilannya berbeda. Rambut pendek dengan kacamata, serta pakaian yang dikenakan mirip dengan seorang ... Dokter.
Hah, Dokter?
Mataku membulat sempurna. Ku lirik name-tag di saku depan bagian kanan yang bertuliskan ... Jerry Chan-Dokter Spesialis
Dokter? Jadi, dia seorang Dokter?
Wajahnya mirip dengan ...?
"Aling," gumam ku lirih.
Dia mengernyitkan keningnya, samar mendengar gumaman ku tadi. "Kau membutuhkan sesuatu?"
Wajah dan suaranya sangat mirip dengan Zhaoling. Yang membedakan ialah penampilannya. Zhaoling memiliki rambut hitam pekat yang panjang terurai, sering diikat ekor kuda jika akan berperang. Dari mata, hidung, tubuh tegapnya, tak ada yang berbeda.
Dokter Jerry terus memperhatikanku. "Jika ada yang membuatmu tak nyaman, katakanlah kepadaku! Aku akan memeriksa kondisimu lebih lanjut," pungkasnya karena aku tak mengatakan sepatah katapun.
"Tidak, Dokter! Aku baik-baik saja," ucapku cepat.
Dia tersenyum seraya mengangguk. "Baiklah! Aku panggil dulu orang tuamu," lanjutnya kemudian melangkah keluar.
Walaupun aku masih bingung dengan semua ini, aku hanya bisa mengangguk pasrah. Sejujurnya, aku tak mengerti dengan semua kejadian yang menimpaku ini. Mulai dari tugas penyelamatan, lalu mati karena terkena ledakan bom, kemudian hidup menjadi seorang Nona yang berubah menjadi Putri dengan bersuamikan Pangeran Kerajaan besar.
Lika-liku kehidupan yang dialami terasa nyata. Sepertinya aku mengalami semua kejadian itu sendiri, tanpa terkecuali. Rasa bahagia, suka cita, sakit hati, bahkan kematian pun semua kurasakan. Tapi, mengapa aku hidup kembali di tempat ini, masa ini, dan kehidupan ini?
Saat sedang memikirkan semua itu, tiba-tiba saja pintu terbuka dengan menampakkan wajah-wajah yang tak asing bagiku. Dengan raut kecemasan sekaligus bahagia, mereka datang menghampiri yang kemudian langsung memelukku.
"Yoona sayang, akhirnya kamu sadar Nak!" ucap keduanya serempak.
Seulas senyum tergambar di bibir ini, ketika menyambut pelukan hangatnya. "Ayah, Ibu!"
Setelah cukup puas berpelukan, akhirnya mereka mengurainya sambil tersenyum senang. "Kau membuat Ayah dan Ibumu ini ketakutan setengah mati, Nak!" ungkap wanita paruh baya yang berdiri di sampingku sambil mengusap kepalaku lembut.
"Iya. Apa jadinya jika kami kehilanganmu waktu itu? Mungkin kami tak kan bisa hidup lagi," timpal pria yang menjadi ayahku itu.
"Jangan bicara seperti itu, Ayah, Ibu! Kalian lihat aku baik-baik saja," ucapku menenangkan keduanya.
Ayah terlihat antusias ketika melihat kondisiku saat ini. "Beruntung, Dokter Jerry datang dan menangani mu. Dokter yang lain sudah menyerah dengan kondisimu waktu itu," katanya sambil menahan sesak di dada.
Aku tahu, Beliau sepertinya menahan tangis saat ini. Mungkin, karena kondisiku waktu itu sangat parah dan saat ini mereka senang melihat Putrinya sadar kembali.
Ayahku menceritakan kejadian waktu itu, ketika aku dan pasukan menjalankan misi penyelamatan di perbatasan. Waktu itu, aku dan rekanku terkena ledakan bom yang dipasang musuh tepat di gerbang perbatasan antar negara.
Karena kecurangan musuh, banyak rekanku yang gugur di sana akibat terkena ledakan bom. Tapi, hidupku sepertinya dilindungi oleh Dewa berkat doa ibuku.
Walaupun kondisiku saat itu kritis, tapi aku masih bisa diselamatkan oleh Tim Penyelamat dan Tim Medis yang datang menolong.
Kedua orang tuaku berusaha menyelamatkan nyawaku dengan membawaku ke beberapa Rumah Sakit besar di Kota. Namun, karena kondisiku parah, akhirnya aku dinyatakan koma.
Aku terbaring di ranjang Rumah Sakit selama tujuh bulan lebih, tanpa membuka mata apalagi suara. Tak ada pergerakan apapun dari tubuhku, karena memang seperti itulah orang yang dinyatakan koma.
Sebenarnya, aku masih bingung dengan apa yang ku alami ini. Rasanya, semua itu seperti mimpi bagiku. Namun, mimpi itu juga seperti nyata.
Aku hidup di zaman kuno selama tujuh tahun lebih, hampir delapan tahun lamanya. Tapi, kedua orang tuaku berkata bahwa aku koma selama tujuh bulan lebih dan tak pernah sadarkan diri selama ini.
Hidup di zaman kuno selama tujuh tahun lebih, namun dinyatakan koma di zaman modern selama tujuh bulan lamanya. Lalu, disebut apa kejadian yang ku alami ini?
Aku sungguh tak mengerti.