Panglima Perang Kerajaan Xili

Panglima Perang Kerajaan Xili
Tahanan Ibu Kota


Lima bulan berlalu, namun tak ada tanda-tanda kepulangan Zhaoling, membuat mereka yang berada di sini sangat mengkhawatirkan keadaannya. Terutama Xin'er yang telah dijanjikan kedatangan suaminya setelah putra mereka lahir.


Ya. Anak yang dilahirkan Xin'er berjenis kelamin laki-laki, sesuai yang diharapkan ayahnya. Karena ayahnya tak kunjung pulang, Xin'er pun memberikan nama Zhu Zhaolie kepada putranya, sesuai marga sang ayah.


Setiap hari Xin'er bersama putranya selalu datang ke Dermaga terdekat di Desa Monthong, hanya untuk menyambut kedatangan suaminya. Namun, harapannya musnah begitu saja ketika semua penumpang perahu turun dari kendaraan air tersebut dan tak ada keberadaan Zhaoling di sana.


Rasa penasaran sekaligus khawatir membuatnya bertekad ingin pergi ke Xili, tapi selalu dicegah oleh kedua pengawal bayangan Zhaoling, yaitu Liu Wei dan Yu Xuan. Keduanya beralasan bahwa perjalanan ke Xili sangat jauh dan juga berbahaya, ditambah mereka harus membawa Bayi. Sungguh, bukan hal baik.


Tapi, Xin'er sangat sedih karena tak mengetahui kabar apapun dari suaminya. Dia penasaran dengan apa yang terjadi kepada Zhaoling, sampai tak memberikan kabar apapun selama lima bulan ini.


Liu Wei dan Yu Xuan terus memberikan pengertian kepada Xin'er, kemungkinan yang terjadi di Istana. Mungkin saja, sesuatu hal yang membuat Zhaoling tak bisa pulang dan mengharuskan dirinya diam tanpa memberikan kabar kepada mereka di sini. Yang terpenting, mereka di sini aman dan dia pun juga sehat. Itu lebih dari cukup, kata kedua pengawal bayangan Zhaoling.


Walaupun sejujurnya Xin'er sangat sedih sekaligus marah, tapi dia tetap mendengarkan perkataan keduanya dan tidak bersikeras lagi untuk pergi ke Xili.


Hari-hari dilewati Xin'er dengan kesedihan, dan juga penyesalan karena telah mengizinkan suaminya pergi. Tapi, dia harus terlihat ceria karena kini ada putranya yang menemani kesehariannya. Si tampan kecil yang memiliki wajah persis seperti ayahnya itu, kini sudah pandai berceloteh dan membuat gemas orang-orang yang melihatnya.


Tingkahnya yang lucu dan menggemaskan itu membuat semua orang tak jarang menginginkannya. Mereka memaksa Xin'er untuk membeli anak itu karena terpikat oleh ketampanan dan juga kepandaiannya. Tentu saja Xin'er menolak.


Di pikir anaknya itu barang, seenaknya saja mereka ingin membelinya! Walaupun para orang kaya itu menawarnya dengan harga yang tinggi, Xin'er tetap mempertahankan putranya tersebut.


Sampai suatu hari, penyusup mendatangi rumah Xin'er dan berusaha menculik Bayi tampan itu. Dia tidak tahu, bahwa ibu si Bayi pandai berkelahi. Alhasil, bukan Bayi yang dibawa pulang, tapi sekujur tubuhnya luka lebam akibat pukulan-pukulan yang Xin'er berikan.


Kapok? Tidak!


Mereka datang kembali ke rumah kecil itu, berharap bisa mengambil si tampan dari ibunya. Namun, selalu berakhir tragis bahkan sampai kehilangan nyawanya.


Hal ini membuat Liu Wei dan Yu Xuan berpikir keras. Haruskah mereka kembali ke Xili sesuai permintaan Xin'er? Bagaimana pun, jika dibiarkan terus-menerus, mereka bisa celaka. Walaupun keduanya bisa melindungi Xin'er dan putra kecilnya, tapi tak menutup kemungkinan para penculik itu akan berhenti untuk tidak mengganggu lagi.


Liu Wei dan Yu Xuan juga membicarakan ini kepada istri mereka, dan langsung disetujui keduanya. Mereka pun berpikir hal yang sama, karena mengingat banyaknya orang yang datang untuk terus mengusik kehidupan mereka disana.


Setelah berunding satu sama lain, mereka bergegas berangkat meninggalkan Desa Monthong untuk kembali ke Xili saat pagi menjelang. Mengapa mereka memilih di waktu tersebut, karena itu adalah waktu yang tepat di saat semua orang masih terlelap dalam mimpi. Ditambah cuaca yang semakin dingin, membuat mereka bermalas-malasan untuk beranjak dari tempat tidur dan lebih memilih berselimut yang tebal.


Dengan memakai kereta kuda, mereka memilih jalan berputar yang membutuhkan waktu lebih dari dua minggu lamanya. Itupun dengan pemikiran matang sebelumnya, karena jika memakai kuda maka bisa membahayakan putra kecil mereka.


Tanpa lelah, mereka terus melakukan perjalanan sampai ke perbatasan Kota. Namun, saat akan melewati gerbang Kota, mereka di persulit oleh para penjaga gerbang karena identitas mereka yang tak jelas. Mereka dianggap penyusup dan kemudian di giring ke Pusat Kota. Akhirnya, mereka di tahan di sana dengan berbagai alasan yang tak jelas.


Walaupun sudah dijelaskan bahwa mereka hanya ingin melewati wilayah ini saja, tetap saja Walikota setempat tak percaya dan bersikeras menahan mereka di penjara Ibu Kota.


"Bagaimana ini, Wei, Xuan? Kita tidak bisa pergi dari sini? Bagaimana kalau ...?" perkataan Xin'er segera di pungkas Liu Wei dan Yu Xuan.


"Nona, tidak usah khawatir! Kami akan mencari cara untuk bisa bebas dari tempat ini,"


Xin'er mengangguk seraya tersenyum. Walaupun hatinya resah dan gelisah, tapi tak ada yang bisa mereka lakukan saat ini selain bersabar dan berusaha mencari jalan keluarnya. Dia hanya bisa pasrah menunggu keajaiban yang akan datang menghampiri.


Semoga Zhaoling kembali dan segera menemukan mereka di tempat ini, agar mereka bisa berkumpul lagi.




Sementara di tempat lain, seorang wanita dengan pakaian mewahnya sedang duduk sambil tersenyum. Dia menikmati makanan serta minuman yang tersedia di meja depannya. "Apa mereka masih membantah?"


"Tidak, Nona! Mereka menuruti penjaga dengan patuh, walaupun sebelumnya memberontak tak ingin ditahan." sahut orang tersebut menjawab pertanyaan Nona-nya.


Nona itu tersenyum penuh kemenangan. Seringai wajahnya menandakan jika dirinya sangat puas akan kinerja para penjaga gerbang Kota. Dengan seperti itu, maka orang-orang itu akan tinggal di sini dan tak ada yang bisa menemukannya.


Xia Lan beranjak dari duduknya, melangkahkan kaki menuju ke jendela dengan menengadahkan wajah keatas. Nampak bibirnya melengkungkan senyum membayangkan hal yang menurutnya menyenangkan. "Aku tidak bisa merebut cinta dan perhatiannya, karena dia memiliki keluarga. Tapi, bagaimana jadinya jika dia tahu bahwa keluarganya sudah tidak ada? Mungkinkah dia akan melupakan istri dan juga anaknya? Hahaha, membayangkan hal itu saja membuatku bersemangat." gumamnya seraya menepuk-nepuk kusen jendela.


Bahkan, dia tertawa terbahak karena membayangkan hal yang bum tentu terjadi di kemudian hari. Xia Lan juga membayangkan Zhaoling menerima cintanya ketika tahu istri dan anaknya mati. Bagaimana pun juga, seorang pria normal pasti akan merasakan kesepian jika ditinggalkan wanitanya. Dengan begitu, dirinya bisa mendekati Zhaoling pada saat pria itu bersedih.


Xia Lan tak bisa berhenti tertawa. Jika terlihat orang lain, mungkin tingkah wanita ini seperti orang gila. Tapi untungnya, tak ada orang lain lagi di ruangannya ini, sehingga dirinya bebas untuk bertingkah seperti apapun.


Tok ... tok ... tok


"Nona, ada yang ingin bertemu dengan Anda!" ujar salah seorang penjaga setelah mengetuk pintu ruangannya.


Xia Lan terperanjat ketika ada yang mengetuk pintu ruangannya. Dia berdehem guna menetralkan suaranya akibat kebanyakan tertawa tadi. "Siapa?" tanya-nya dengan suara seperti biasa.


Tak ada sahutan dari penjaga yang mengetuk pintu ruangannya tadi. Di luar nampak hening tanpa seorang pun, membuat Xia Lan penasaran. Bergegas ia membuka pintu dengan kesal sambil menggerutu. "Kau ini tuli atau bisu? Bukan kah tadi bilang ada orang yang ingin menemui ku? Giliran di tanya malah tidak ja ... Pangeran Zhaohan?"


"Lama tidak bertemu, Xia Lan!"


Bersambung ...