Panglima Perang Kerajaan Xili

Panglima Perang Kerajaan Xili
Kematian Ming He


Seluruh Prajurit bawaan Ibu Suri tengah bersiap untuk menyerang dan masih menunggu perintahnya. Mereka mengarahkan pedang kepada keempat orang yang tengah dikelilingi itu untuk menghadang supaya tak bisa melarikan diri dari tempat ini.


Zhaoling, Yoona, dan kedua pengawal bayangannya pun segera mengangkat senjata mereka untuk melindungi diri dari serangan prajurit. Mata elang ketiga pria dingin itu menatap tajam satu persatu para prajurit sambil mengarahkan pedang di depan sebagai perlindungan.


"Berhenti!" suara seseorang terdengar dari arah dalam rumah. Semuanya menoleh kepada orang tersebut, termasuk Ibu Suri.


Seorang pria paruh baya datang menghampiri sambil mengatupkan kedua tangan secara hormat. "Mohon Ibu Suri tak menyakiti mereka!" ucap Tuan Mo Len memohon pengampunan.


Ibu Suri menatap sinis pada Tuan Mo Len. "Mo. Ada apa denganmu? Sepertinya, kamu sangat melindungi mereka!" seru Ibu Suri tak terima.


"Yang Mulia. Mereka adalah tanggung jawab saya," sahut Tuan Mo Len.


Ibu Suri kembali bersuara. "Sejak kapan mereka adalah tanggung jawab mu? Apa kau tahu siapa mereka?" bertanya lagi dengan wajah tak suka.


"Gadis ini adalah keponakan saya, Putri dari Khong Guan. Sedangkan ketiga pria muda ini adalah murid dari Perguruan Naga Bayang, di bawah pimpinan Tuan saya, Pendekar Dewa Naga." sahut Mo Len menjelaskan.


Ibu Suri kembali menautkan alisnya. "Maksudmu, si tua Lon Thong!" meminta jawaban seraya melihat kearah cucunya.


"Betul, Yang Mulia."


Wanita tua itu berdecak sambil memalingkan wajahnya, dengan tangan mencengkram gaunnya. Beliau duduk kembali di kursi sambil menghela nafas. "Sejak kapan cucuku bertemu dengan si tua Lon? Bahkan, dia menjadi muridnya! Aku harus segera membawanya pergi dari sini sebelum Lon Thong datang kemari," gumamnya dalam hati.


Ibu Suri berdiri dan memberi perintah kepada para prajurit untuk menangkap Zhaoling. Nenek tua itu tak mau jika cucunya kembali kepada Xin'er, wanita yang dibencinya selama bertahun-tahun itu. Dan ada alasan lain untuk segera membawa pergi Zhaoling dari tempat ini.


Semua prajurit yang berada di ruangan itu mengepung keempatnya, walaupun Tuan Mo sudah memperingatkan Ibu Suri untuk tidak menyakiti mereka. Tapi, teguran Mo tidak digubris oleh nenek tua itu dan prajurit tetap ingin meringkus keempatnya.


Pertarungan pun terjadi. Mereka segera berpindah tempat keluar supaya leluasa bergerak.


Trang ... trang ... slash ...


Para prajurit dengan mudah dikalahkan oleh keempatnya. Walaupun Yoona masih sedikit kesulitan akibat nyeri di bagian intinya, namun dengan lincahnya ia menggerakkan pedang untuk menebas senjata para prajurit.


Zhaoling yang melihat istrinya kerepotan pun segera mendekat. Tapi, sebelum ia mendekati Yoona, seseorang telah menghadang dan memaksanya untuk melawan orang tersebut.


Ibu Suri memberikan kode kepada Ming He untuk melawan Yoona. Wanita tua itu memanfaatkan situasi dengan menggiring Yoona menjauh dari Zhaoling. Tentu saja, rencananya berhasil ketika beberapa pengawalnya mengecoh dan membuat Zhaoling sibuk.


Ming He memancing Yoona memasuki hutan belakang rumah Paman Mo, dan mulai menjalankan siasatnya. Ming He yakin bahwa kemampuan bertarung Yoona sangat lemah.


Trang ... trang ... slash


Wanita itu tersenyum percaya diri ketika tangan Yoona tergores pedangnya. Dengan bangganya, Ming He berkata. "Murid Perguruan Bangau Putih tidak mudah terkalahkan, apalagi melawan wanita lemah sepertimu!" cibirnya dengan ekspresi mengejek. "Zhaoling adalah pria hebat, dia pun penerus tahta kerajaan. Sepatutnya yang mendampingi dirinya itu adalah wanita kuat sepertiku." lanjutnya kemudian.


Yoona hanya tersenyum miring mendengar ejekan wanita dihadapannya. Dia mengayunkan pedangnya lagi yang dengan mudah ditangkis oleh Ming He. "Percaya dirimu sungguh tinggi, Ming He!"


Ming He kembali mencibir Yoona. "Ckk .. ckk, Xin'er ... Xin'er. Haish, sungguh menyedihkan. Untuk apa kau bertahan dengan Zhaoling? Bukankah dia telah bersikap kejam padamu?" Yoona hanya diam menatap tajam kearahnya. Ming He pun kembali berucap, "ku beri tahu padamu. Selama tiga tahun kau menghilang, dia telah bersamaku. Selalu membawaku kemanapun dia pergi, bahkan ... tidur denganku!" ucapnya sengaja memancing amarah Yoona.


Benar-benar bagai disambar petir. Ming He yang berharap Yoona marah karena dirinya mengatakan sudah tidur dengan Zhaoling, namun diluar dugaan malah dibalas dengan cara menyakitkan. Ya, walaupun tak masalah baginya mendapatkan pria yang sudah meniduri wanita lain, tapi tetap saja hati kecil Ming He terasa nyeri saat Yoona mengatakan bahwa mereka telah melakukan malam pertama. Keperjakaan Zhaoling telah diberikan pada Yoona dan itu membuat Ming He marah.


Melihat rivalnya kalah telak, Yoona pun melanjutkan ucapannya. "Jika dia sering bermain denganmu, pastinya sudah sangat mahir dong! Namun yang aku rasakan, dia sangat payah dalam melakukannya." pancing Yoona mengejek lagi.


Tangan Ming He terkepal. Dengan gerakan cepat, dia langsung mengayungkan pedang ke depan guna menebas Yoona. Tapi, kali ini Yoona sudah bersiap. Dia melompat mundur dengan pedang di depan sebagai pertahanan diri.


Trang


Senyumnya semakin melebar karena tahu jika Ming He sedang berbohong. Yoona hanya berucap asal agar wanita itu marah, dan tentunya dia sangat yakin jika Zhaoling tak pernah tidur dengan wanita manapun.


Pria dingin seperti Zhaoling tak mudah disentuh oleh sembarang wanita. Selama setahun hidup bersama pria itu, Yoona sangat mengenal pribadi Zhaoling maupun Zhaozu. Walaupun mempunyai dua karakter berbeda, tapi Yoona tahu bahwa suaminya tetap sama saat menjadi Pangeran Ketiga maupun Panglima Perang, yaitu dingin kepada wanita lain.


Ming He yang sudah terbakar api cemburu, seketika berubah menjadi tak terkendali. Dia terus bergerak cepat agar bisa melumpuhkan Yoina, bahkan membunuhnya.


Kata orang, jika kita sedang emosi, apapun yang dilakukan tidak akan berhasil. Seperti itulah Ming He sekarang. Walaupun ia sangat mahir dalam menggunakan pedang, serta lincah dalam pergerakan, namun hatinya yang sudah tak tenang membuat gerakannya menjadi asal. Tebasannya bisa dihindari dengan mudah oleh Yoona, bahkan punggungnya pun tergores pedang lawannya tersebut.


Srek


"Akh," ringis Ming He. Ia menatap tajamkearah Yoona, kemudian bergerak lagi mengayunkan pedang tanpa memperdulikan lukanya. Gerakan pedangnya sangat cepat, bahkan pedang Yoona pun terlempar saat menghadangnya.


Ming He tertawa puas ketika pedang lawannya terlempar cukup jauh dari pemiliknya. "Kau begitu sombong karena sudah memiliki Zhaoling seutuhnya. Tapi, itu tak kan berlangsung lama, karena mulai besok dia akan kembali padaku." ucapnya dengan kepercayaan tinggi. Setelah itu, ia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi dan mengayunkannya kearah Yoona dengan kekuatan penuh. "Matilah kau, Xin'er!" teriaknya.


Namun, tanpa di duga, Yoona yang tak memiliki pedang ditangannya, bergerak cepat dengan menghindari tebasan pedang wanita itu kesamping. Setelah itu, ia mengangkat sebelah kakinya untuk menendang Ming He.


Bak


Tubuh Ming He mundur beberapa langkah ke belakang, dan itu menjadi kesempatan Yoona untuk memberikan pukulan terakhirnya. Tangannya terkepal membentuk tinju. Dengan kekuatan penuh, Yoona memukul dada wanita sombong itu dengan keras.


Bugh


"Ugh," Ming He terdorong ke belakang dan punggungnya menabrak pohon dengan keras akibat pukulan Yoona. Darah segar keluar sangat banyak dari mulutnya. Tubuhnya luruh ke tanah dengan tangan memegangi bagian dadanya. "Ukhuk ... ukhuk!"


Rasanya seperti terhantam batu besar, membuat Ming He tak mampu menggerakan tubuhnya lagi. Nafasnya memburu dan dadanya semakin terasa sesak. Ming He menengadahkan wajah menatap Yoona yang berjalan menghampirinya.


"Kkauu ...!"


Yoona tersenyum mengejek sambil menekan tubuh Ming He menggunakan kakinya. "Kau begitu sombong hanya karena kau seorang ahli pedang. Tapi kau tak tahu, jika aku sudah menguasai pukulan tenaga dalam." cibir Yoona dengan tersenyum miring.


Ming He tersenyum pahit dengan keterkejutannya, yang mengetahui keahlian Yoona diakhir hidupnya. "Kau memang pantas mendampingi pria sehebat Zhaoling," pujinya.


Setelah itu, tak lama kemudian Ming He menutup mata untuk selamanya. Dia mati di tangan Yoona dengan luka dalam.


Bersambung ...