Panglima Perang Kerajaan Xili

Panglima Perang Kerajaan Xili
Keadilan Kaisar Zhihu


Di Istana.


Kaisar Zhihu duduk tak tenang. Beliau terus mondar-mandir kesana kemari karena saat ini pikirannya sedang kacau. Putra ketiganya-Zhaozu, telah dinyatakan sebagai pemberontak oleh para Dewan Istana karena melindungi perampok bertopeng yang sering membuat onar di wilayah Ibu Kota.


Sekarang, Ibu Suri dan Permaisuri pun tak ada di kediamannya, dan pengawalnya mengatakan bahwa kedua wanita penguasa Istana itu ternyata pergi ke luar Istana dengan waktu yang berbeda. Ibu Suri telah pergi tiga hari yang lalu, dan Permaisuri dua hari yang lalu.


Menurut informasi yang disampaikan pengawalnya tersebut, kedua wanita berbeda generasi itu pergi ke perbatasan bagian Selatan. Kaisar sendiri sudah menebak bahwa tujuan keduanya pasti ingin menemui putra ketiganya.


"Apa yang harus aku lakukan jika seandainya Zhaozu pulang bersama mereka? Haruskah aku menghukumnya karena keputusan Dewan Istana?" gumam Kaisar kemudian berpikir lagi. "Tidak ... tidak! Aku tidak boleh gegabah dalam bertindak. Zhaozu pasti memiliki alasan dibalik perlindungannya itu. Ya, pasti dia telah mengetahui sesuatu sehingga berani mengambil langkah besar seperti ini." ucapnya kemudian. "Tapi, kenapa dia tak mau merundingkannya denganku dan memilih menyelesaikannya sendiri?"


Kaisar kembali memikirkan alasan Pangeran Ketiganya melakukan perlindungan terhadap penjahat. Beliau mengenal betul sifat putranya yang selalu bersikap bijak terhadap sesama. Kemungkinan ada hal besar yang sedang disembunyikan putranya itu, namun tak ingin membebani Kaisar dengan masalah tersebut.


Zhaozu memang tak seperti Pangeran lainnya. Dia selalu menyelesaikan masalah sampai tuntas ke akarnya. Putra Ketiganya itu tak pernah mengeluh untuk hal apapun dan selalu memilih bekerja di luar Istana, seperti menjadi Panglima Perang.


Berbeda dengan Pangeran Zhaohan, Zhaoyan, Zhaokang, ataupun Zhaobu. Mereka cenderung bermalas-malasan di dalam Istana dan bersenang-senang dengan para Selirnya. Putra Ketiganya tersebut memilih medan perang untuk meluapkan segala emosi yang ada dalam hati.


Saat Kaisar tengah memikirkan masalah besar ini, datanglah seorang Selir menghampirinya. Tanpa pemberitahuan, Selir tersebut langsung masuk ke kediaman Kaisar dan merangkul lengannya begitu lembut.


Ya. Selir mana lagi yang selalu berani bersikap seperti itu jika bukan Selir Wang Xiumeng, ibu dari Pangeran Zhaohan dan Zhaoyan. Wanita itu menganggap dirinya adalah selir kesayangan Kaisar, karena pria Penguasa tersebut tak pernah marah kepada dirinya. Apapun keinginan atau keputusan Selir Wang, selalu dikabulkan oleh Kaisar. Sehingga semua orang beranggapan bahwa Selir Wang adalah selir kesayangan Kaisar.


"Yang Mulia. Kenapa Anda terlihat resah? Apa ada yang mengganggu pikiran Anda?" bertanya seraya menyandarkan kepala di bahu Kaisar. Dengan bersikap manja, maka aku bisa mengendalikan Kaisar, pikir Selir Wang.


Kaisar mengusap kepala Selir Wang, kemudian berdiri dan berjalan menuju jendela. Wajahnya menengadah menatap keatas langit, dengan pikiran berkelana entah kemana. Rasanya, dirinya enggan untuk bercerita, apalagi tentang Permaisuri dan Putranya. Walaupun Kaisar mempunyai empat orang istri, tapi tak pernah sekalipun Beliau menjelek-jelekan mereka dibelakang, terlebih kepada istrinya yang lain.


Kaisar berusaha bersikap adil kepada Permaisuri dan ketiga selirnya. Beliau tak membeda-bedakan kasih sayang kepada keempat istrinya, begitupun kepada anak-anaknya juga. Para Pangeran mendapat hak yang sama, namun sesuai peraturan hukum Kerajaan yang berlaku.


Seharusnya, Zhaohan sebagai Pangeran Pertama yang menyandang gelar Putra Mahkota. Namun, karena dia hanya putra dari seorang selir, maka gelar itu di dapatkan Zhaozu sebagai putra dari Permaisuri walaupun dirinya Pangeran Ketiga. Bagi Permaisuri dan Putranya diberikan kedudukan lebih tinggi dan berhak mendapatkan tahta Kekaisaran tanpa mengikuti sayembara. Itulah yang membuat Zhaohan selama ini membencinya, walaupun sejujurnya Zhaozu tak menginginkan tahta tersebut.


Jika Zhaozu tidak mampu dalam menjalankan kewajibannya, atau pun meninggal, barulah kedudukannya otomatis berpindah ke tangan Zhaohan sebagai Pangeran Pertama. Walaupun dari pihak selir protes akan kebijakan tersebut, namun Kaisar Zhihu tidak bisa berbuat apa-apa karena itu adalah peraturan yang dibuat turun-temurun dari Kaisar terdahulu.


"Aku adalah Ayah yang buruk bagi kelima Putraku. Tak bisa mendidik dan juga membagi kasih sayang dengan adil, serta tak mengetahui apa yang menjadi keinginan mereka semua." cetus Kaisar dengan wajah sendu.


Selir Wang mendekati Kaisar lagi sambil tersenyum ramah. "Siapa bilang Anda adalah Ayah yang buruk? Bagiku dan juga kedua Putra kita, Anda adalah panutan yang patut dicontoh. Selalu adil dan ..."


"Tapi bagiku tidak," tiba-tiba saja suara Permaisuri terdengar di sana membuat keduanya menoleh.


Permaisuri melirik sekilas tanpa tersenyum ramah. Beliau seolah enggan untuk menyapa wanita yang sedang berdiri di samping suaminya itu. "Jika kau Ayah yang baik, tolong bawa Putraku kembali ke Istana. Aku mohon, Yang Mulia!" pinta Permaisuri dengan nada bergetar. Dadanya terasa sesak ketika mengingat penolakan dari putranya yang tak mau kembali pulang.


"Xia. Apa yang terjadi? Mengapa kau berbicara seperti itu?" tanya Kaisar langsung memeluk tubuh Permaisuri saat melihat air mata yang jatuh di pipinya.


Panggilan mesra Kaisar kepada Permaisuri membuat hati Selir Wang sedikit terluka. Tak pernah Beliau memanggil dengan nama kecilnya, walau dalam keadaan apapun. Bibirnya bergetar, kemudian ia menundukkan kepala sebelum pergi. Berharap Kaisar menghentikan langkahnya, namun ternyata hanya angan belaka. Kaisar tak memperdulikan kepergian Selir Wang dari kamarnya, dan Beliau hanya mendekap tubuh Permaisuri Jian yang sedang menangis terisak.


Mungkin, Selir Wang terlalu memandang tinggi kedudukannya dihati Kaisar. Bagaimana pun dulu ia sangat mengingatnya, kegigihan Kaisar ketika menolak untuk memilih selir. Namun karena Ibu Suri dan Dewan Kerajaan memaksanya untuk menikah lagi, maka Beliau pun dengan terpaksa menerima Putri dari Bangsawan yang menjadi pengikut Ibu Suri. Walaupun seperti itu, Kaisar selalu bersikap adil terhadap para selirnya.


Dan itu juga yang diterapkan Ibu Suri kepada para Pangerannya, yang memaksa mereka untuk memiliki lebih dari satu istri. Hanya Zhaozu yang menentang aturan yang dibuat Ibu Suri, dan memiliki satu istri yaitu Yun Xin'er.


Pangeran Ketiga itu tak mau membagi cinta apalagi tubuhnya kepada wanita lain selain Xin'er. Bagi Zhaozu, cukup Xin'er wanita yang akan mendampingi sampai akhir hayatnya. Walaupun itu harus menentang Ibu Suri dan Dewan Kerajaan, tapi ia tak perduli asalkan bisa hidup hanya dengan istrinya, Yun Xin'er.



Kaisar terdiam sejenak setelah mendengar cerita yang disampaikan Permaisuri Jian kepadanya tentang Putra ketiga mereka. Dahinya mengerut saat mendengar bahwa menantunya Xin'er masih hidup dan kini mereka sedang bersama.


Bagaimana pun, kabar kematian Xin'er telah menyebar di seluruh daratan Jhajhanan, serta jasadnya pun sudah dimakamkan. Bagaimana mungkin dia bisa hidup lagi? Hal yang mustahil itu ada dalam pikiran Kaisar saat ini.


Perlahan Permaisuri menceritakan tentang Xin'er sesuai dengan yang didapat oleh pengawalnya, bahwa menantunya itu di tolong oleh sekelompok orang yang mengaku dirinya sebagai Perampok Bertopeng.


Para perampok tersebut merawat luka Xin'er dan membawa dia bergabung bersama kelompoknya untuk melakukan kebaikan sekaligus kejahatan. Kejahatan mereka seperti yang sedang dibicarakan Dewan Kerajaan, yaitu merampok para Bangsawan. Dan kebaikannya ialah membagikan hasil rampokan mereka kepada rakyat kecil yang membutuhkan.


Kaisar sekarang menjadi paham alasan dibalik sikap Zhaozu yang rela melindungi para perampok bertopeng tersebut. Selain karena sikap dermawan mereka, alasan lainnya yaitu bahwa Xin'er bergabung bersama kelompok penjahat tersebut.


Namun, perampokan tetaplah kejahatan besar walaupun hasilnya diberikan kepada rakyat kecil, karena mereka membunuh para Bangsawan yang menjadi target perampokan mereka. Oleh karena itu, Kaisar Zhihu memutuskan untuk segera menangkap semua anggota perampok bertopeng dan membawa kembali putra sekaligus menantunya.


"Segera siapkan pasukan elit kita. Ada misi penting yang harus segera dilaksanakan saat ini. Arahkan mereka menuju perbatasan Kota Dorokdok, dan aku sendiri yang akan memimpinnya!" titah Kaisar kepada pengawal pribadinya.


"Yang Mulia. Jangan hukum Putraku!" lirih Permaisuri memohon ketika Kaisar berlalu dari hadapannya.


Kaisar Zhihu menatap tanpa ekspresi, kemudian mengambil pedang dan baju zirah besinya. Setelah itu, Beliau pergi dari hadapan Permaisuri tanpa mengatakan sepatah katapun. Walaupun Permaisuri berteriak memanggil namanya, namun Kaisar tetap mengabaikan dan segera pergi bersama pasukannya menuju perbatasan Kota Dorokdok.


Bersambung ...