Panglima Perang Kerajaan Xili

Panglima Perang Kerajaan Xili
Kesedihan Xin'er


"Oooeeee .... ooeeeee," suara tangis Bayi memecah ketegangan diraut semua orang, yang saat ini sedang menantikannya dengan harap-harap cemas.


Bahkan,sang penolong tengah gemetaran saat memegangi tubuh mungil sang Bayi di tangannya. Dia bahkan terlihat akan menangis ketika mata kecil itu menatap kearah dirinya. Xin'er masih syok, tak menyangka jika dirinya yang membantu proses persalinan Mengshu dengan lancar.


Setelah Bayinya keluar sepenuhnya, dengan segera ia memutus tali ari-ari menggunakan belati kecil yang sudah disterilkan sebelumnya. Tubuh mungil itu dibungkus menggunakan kain bersih khusus pembungkus Bayi. Tak lupa, ia membersihkan darah yang keluar dari jalan lahir Mengshu dengan menggunakan lap serta air hangat yang tadi Zhaoling siapkan.


Sementara, Liu Wei tak henti-hentinya mengecup wajah Mengshu dengan sayang. Dia terus mengucapkan kata terima kasih kepada istrinya tersebut, karena telah berhasil melahirkan Putra pertama mereka.


Ya. Anak pertama Liu Wei dan Mengshu adalah Bayi laki-laki yang memiliki wajah tampan seperti ayahnya, namun memiliki mata bulat seperti ibunya. Perpaduan yang sangat serasi, melambangkan cinta dan kasih keduanya.


Xin'er begitu terharu ketika melihat Bayi tampan itu berada dalam gendongannya. Dia melirik kearah Zhaoling dengan mata berkaca. Rasanya, ingin sekali Xin'er mengatakan bahwa dirinya pun ingin sekali mempunyai Bayi tampan seperti ini. Namun, apalah daya, dirinya yang sudah mengalami keguguran sebanyak dua kali, sangat sulit untuk bisa hamil lagi.


Setelah Tabib menyatakan bahwa dirinya sudah tak bisa hamil karena kandungannya yang lemah, Xin'er hanya bisa pasrah atas kehendak Dewa. Dia tak ingin terpuruk dalam kesedihan serta membuat Zhaoling merasa bersalah.


Kejadian setahun lalu seakan tekanan besar bagi Xin'er dan Zhaoling. Disaat Xin'er dinyatakan hamil muda, serangan dadakan terjadi setelah mereka tiba di Perbatasan Kota Bak Kwan. Saat itu, mereka tiba-tiba mendapat serangan dari prajurit Kerajaan Awugh, karena dianggap sebagai penyusup.


Trang ... trang ...


Mereka mencoba melindungi diri dari serangan pasukan Kerajaan Awugh tersebut, dan berhasil melumpuhkan Jendral besar mereka. Namun, konsekuensinya adalah Xin'er mengalami pendarahan ketika melawan beberapa prajurit seorang diri, untuk melindungi Mengshu dan Yuelie. Sedangkan Liu Wei dan Yu Xuan terus melawan pasukan yang berdatangan lebih banyak lagi.


Tubuh Xin'er ambruk seiring tangan yang terus memegangi perutnya. Darah segar keluar dari sela kaki, membanjiri ke tanah yang didudukinya. Ia meringis menahan sakit yang teramat sangat diarea perutnya. "Aakh,"


Mengshu dan Yuelie segera menghampiri dengan wajah yang cemas juga panik. "Nona," teriaknya bersamaan. "Ya Dewa, ini darah!" seru keduanya lagi ketika melihat noda merah di pakaian Xin'er.


"Tuang Zhaoling!" teriakan Mengshu mengundang si pemilik nama untuk menoleh kearahnya. Dia menghentikan gerakannya tepat saat akan menebas leher Jendral musuh.


Melihat Xin'er yang terduduk dengan kesakitan, bergegas ia menghampiri dengan perasaan cemas. "Xin'er ... Xin'er, kau kenapa?"


Kedua pengawal bayangan Zhaoling segera mendekat untuk melindungi mereka yang sedang membantu Xin'er. Keduanya harus meningkatkan kewaspadaan akan serangan musuh yang bisa datang kapan saja. Beruntung, pasukan Kerajaan Awugh hanya tersisa sedikit lagi, hingga Liu Wei dan Yu Xuan bisa mengatasinya berdua saja.


Zhaoling sangat panik ketika melihat darah yang terus keluar semakin banyak, dengan diiringi jerit kesakitan Xin'er. Tanpa memperdulikan yang lainnya, ia segera menggendong tubuh istrinya untuk meminta pertolongan seorang Tabib di Kota Bak Kwan tersebut dan diikuti Mengshu dan Yuelie dibelakang.


Mereka mencari pertolongan ke rumah-rumah penduduk, namun tak ada yang mau membantunya, dengan alasan karena mereka adalah penyusup. Melakukan kekerasan kepada penduduk lemah bukan sifat Zhaoling. Dia memilih pergi dan tetap menggendong tubuh Xin'er dalam dekapannya untuk mencari bantuan Tabib Desa.


Saat akan pergi, seorang wanita paruh baya datang menghampiri. Dia mengatakan bisa menolong Xin'er, tapi dengan syarat harus diberikan imbalan. Tanpa bertanya imbalan apa yang diminta wanita itu, Zhaoling langsung mengiyakannya asalkan wanita itu menyelamatkan istrinya.


Sejujurnya, Zhaoling sangat kebingungan dengan permintaan wanita itu untuk membebaskan putranya dari penjara Istana Awugh. Terlebih, dirinya telah membantai pasukan Awugh yang menyerang mereka tadi. Pasti wajah Zhaoling diingat oleh mereka dan juga meyakinkan mereka bahwa pria itu adalah penyusup yang akan berbuat onar di Wilayah Kerajaan Awugh.


Namun, Zhaoling segera menyetujui permintaan wanita itu tanpa berpikir lagi, karena hutang budi telah menyelamatkan Xin'er. Dengan berbekal petunjuk dari wanita tersebut tentang ciri-ciri anaknya, Zhaoling dan kedua pengawal bayangannya bergerak menuju Istana Awugh pada malam hari.


Bukan perkara muda untuk memasuki wilayah seseorang terutama untuk membebaskan tahanan. Namun begitu, mereka harus melakukannya dan segera menemukan serta membawa pulang putra wanita itu agar bisa melunasi hutang budinya


Dengan cara menyamar, ketiganya akhirnya menemukan dan membawa pulang putra wanita itu. Tentunya setelah mereka melawan beberapa prajurit yang melihat mereka menyusup kesana. Beruntung, wajah mereka tertutupi topeng sehingga membuatnya sulit untuk dikenali.


Setelah tugas selesai, mereka segera pergi dan berpindah tempat agar orang-orang terutama pasukan kerajaan tidak menemukan mereka.


Bukan hanya itu, setelah mereka berpindah tempat dan Xin'er hamil lagi, kejadian naas menimpanya kembali saat dirinya berada di sungai untuk mandi bersama Mengshu dan Yuelie. Ada sekelompok perampok yang tak sengaja melihat mereka disana. Perampok itu berusaha melecehkan mereka, namun Xin'er dengan berani melawan mereka serta menghabisi semuanya.


Tapi ternyata, ada satu orang yang lolos dan dia melukai Xin'er dengan cara menusuk bagian perutnya. Dapat dipastikan bahwa luka tusuk itu mengakibatkan nyawa Xin'er dan janin dalam kandungannya terancam. Setelah melukai Xin'er, orang itu kabur begitu saja meninggalkannya dengan luka cukup parah.


Lagi dan lagi, nyawa Xin'er dapat tertolong dengan bantuan seseorang. Untungnya, orang itu adalah seorang Tabib yang tak menginginkan imbalan apapun selain uang sebagai bayaran jasanya.


Setelah kejadian itu, Xin'er menjadi sangat sedih. Pasalnya, anak yang diidamkan ternyata tak bisa kunjung ia dapatkan. Hatinya hancur setelah mengetahui kondisi rahimnya yang rusak akibat luka yang disebabkan tusukan perampok itu.


Tak ada senyum diwajah cantik Xin'er setiap harinya, sehingga membuat Zhaoling dan yang lainnya harus berjuang lebih keras agar mengembalikan senyum manis Xin'er lagi.


'Andai saja aku lebih berhati-hati, pasti saat ini kami sedang berbahagia dengan buah hati kami yang lucu dan menggemaskan!'


Sebuah tepukan pelan di bahu membuat Xin'er menoleh. Tangannya mengusap lembut air mata yang sudah membanjiri pipi mulus wanita itu. Dengan tersenyum Zhaoling berkata, "jangan mengingat hal yang membuatmu sedih lagi! Lihat, Bayi tampan itu menangis karena kau bersedih!" ujar Zhaoling menyadarkan Xin'er bahwa dirinya masih menggendong putra Liu Wei dan Mengshu.


Secepatnya wajah Xin'er menunduk. "Astaga. Maafkan aku, Ashu!" ucapnya tak enak seraya memberikan Bayi kecil itu pada ibunya agar diberikan ASI.


"Tidak. Kau tidak perlu meminta maaf seperti itu! Putraku adalah putramu juga, dan kita akan membesarkannya bersama, bukan!" kata Mengshu dengan tersenyum, membuat tangis Xin'er pecah.


Zhaoling segera menarik tubuh istrinya dalam dekapannya, serta memberikan kecupan hanya sebagai penyemangat agar Xin'er tak bersedih lagi. Namun, wanita itu semakin menangis tersedu, membuat semuanya ikut menangis merasakan kesedihannya.


'Bersabarlah, Xin'er. Kau pasti bisa melalu semua cobaan ini. Dewa pasti memberikan mukjizat nya suatu saat nanti'


Bersambung ....