
"Ayo cepat, kita cari mereka sebelah sana!" teriakan beberapa orang terdengar dari kejauhan.
Seseorang berlari kearah Gua tempat persembunyian para perampok bertopeng saat ini. "Tuan. Ada banyak pasukan bersenjata menuju kearah sini," ujar orang tersebut.
Sontak semua orang segera terkejut dibuatnya. Mereka bergegas melihat keluar untuk memastikan apa kabar tersebut benar atau tidak? Ataukah, orang ini salah melihat!
Tidak mungkin!
Semuanya segera bersiap pergi setelah melihat ratusan pasukan Kerajaan bersenjata lengkap menuju kearah tempat mereka saat ini. Sepertinya, pasukan itu memang sedang mencari mereka.
"Ayah, kita harus segera pergi!" ajak keempat anaknya.
Tuan Khong mengangguk dan segera bersiap pergi dari tempat itu. Tak disangka para prajurit itu menemukan tempat persembunyian mereka dengan mudah. Apa Zhaoling membocorkan rahasia mereka dan membawa pasukannya kemari untuk menangkap semuanya?
Tidak ... tidak! Dia bukan orang seperti itu. Jihu yakin bahwa Zhaoling adalah pria baik-baik dan semua perkataannya dapat dipercaya.
Semenjak mereka berbicara tiga hari yang lalu, Jihu merasa sudah cukup dekat dengan pria dingin itu. Terlebih, dia adalah suami dari adik angkatnya. Walaupun kini mereka tengah berseteru karena kesalahpahaman Yoona padanya, namun Jihu yakin jika Zhaoling akan bisa melindungi semua orang yang disayanginya. Apalagi untuk Yoona, orang yang dicintainya, Zhaoling pasti akan berbuat apapun demi menyelamatkan istrinya tersebut.
"Kita akan pergi ke sebelah Barat! Di sana ada kelompok kita yang menyamar jadi Pendeta. Maka dari itu, kita harus bergegas sebelum malam tiba." ujar Jihu menginstruksi. Semua yang tersisa ikut bersamanya untuk menyelamatkan diri ke tempat yang dikatakan Jihu barusan.
Zhaoling bersama kedua pengawal bayangannya baru tiba di Goa tempat perampok bertopeng bersembunyi. Namun, ketiganya terkejut karena mereka sudah tak berada di sana. Hanya kayu bekas pembakaran yang tersisa berserakan di tanah Goa.
"Kemana perginya mereka?" kebingungan ketiganya segera terjawab setelah mendengar teriakan beberapa orang yang berjalan masuk ke Goa tersebut. Bukan hanya sepuluh atau dua puluh, tapi seratus orang prajurit berjalan mengikuti langkah pemimpin mereka yang sudah berada di mulut Goa.
"Ayo, kita cari mereka di dalam!" teriak pemimpin mereka dan diikuti langsung oleh pasukannya.
Drap ... drap ... drap ...
Langkah kaki para prajurit bersenjata lengkap memasuki Goa tempat mereka berdiri saat ini. Dengan segera, ketiga pria itu bersembunyi di balik dinding yang ada di area Goa tersebut.
Mereka segera memeriksa seluruh Goa tersebut dengan seksama, namun tetap tak menemukan keberadaan para perampok bertopeng. Begitupun dengan keberadaan Zhaoling dan Liu Wei, serta Yu Xuan. Ketiganya tak terlihat di sana.
"Pangeran, tempat ini kosong. Sepertinya mereka sudah tahu kalau kita akan kemari," cetus seorang prajurit melapor.
Zhaohan mengeram kesal. Pergerakannya kalah cepat dengan para perampok itu, sehingga memberikan celah mereka untuk melarikan diri. "Kurang ajar! Mereka sudah mengetahui rencana kita, sebelum kita bisa menangkapnya. Jendral Jun, segera kirim pasukan ke jalur-jalur alternatif yang biasa dilalui. Mereka pasti berniat kabur dari daerah ini," titah Zhaohan pada Jendral nya.
Jendral Jun pun mengangguk, kemudian membagi pasukannya menjadi beberapa bagian dan mengirim mereka ke jalur-jalur alternatif sesuai perintah Zhaohan.
"Mereka harus kita basmi, supaya Kaisar percaya bahwa Zhaoling dibalik semua ini." lanjut Zhaohan. Dia tak tahu bahwa orang yang di kambing hitamkan olehnya kini sedang mengawasi mereka di sudut Goa tanpa terlihat olehnya.
Sedangkan Zhaoling hanya bisa mengepalkan tangannya, karena menurutnya ini belum waktunya ia beraksi. "Kau harus mendapatkan hukuman yang sesuai dengan perbuatan mu, Zhaohan. Akan ku pastikan kau mati di tanganku," tekadnya dalam hati.
Zhaoling sangat marah saat mengetahui dari Liu Wei bahwa Jendral Hui, pengikut setianya mati di tangan Zhaohan. Pria itu juga menyamar menjadi perampok bertopeng dan memfitnah dirinya agar kedudukan Zhaoling segera di cabut.
Karena tak menemukan keberadaan para perampok bertopeng serta petunjuk di Goa tersebut, Zhaohan pun bergegas pergi mengejar ke jalur utama tempat keluar masuknya semua orang ke Kota terdekat. Dia yakin bahwa mereka belum pergi lama.
Begitupun dengan Zhaoling dan kedua pengawal bayangannya. Ketiga pria itu mempercepat pergerakannya supaya segera menemukan kelompok Tuan Khong Guan.
•
Di gerbang belakang Kota Sharimie.
Terlihat beberapa perahu besar berjajar di Dermaga. Perahu-perahu itu akan menyebrangi Lautan menuju ke perbatasan Daratan Shotokoyah. Diantara perahu besar itu terdapat beberapa penumpang dengan pakaian tertutup seperti layaknya pedagang obat herbal.
Keadaan Dermaga saat ini sangat ramai karena banyak orang yang akan pergi ke perbatasan. Seorang pekerja ataupun pedang, juga ada pelajar yang akan pergi ke Akademi di sana. Mereka berebut supaya bisa menaiki perahu yang akan berangkat sebentar lagi.
Walaupun banyak perahu yang berjajar di Dermaga ini, namun hanya setiap satu jam sekali satu perahu itu akan berangkat. Atau, jika penumpang sudah memenuhi semua perahu itu, maka mereka akan mulai berlayar.
Satu perahu bisa memuat hingga dua puluh lima orang dan itu termasuk orang yang menggerakkannya. Sedangkan kelompok Tuan Khong yang tersisa lumayan banyak, sekitar enam puluh tiga orang. Jika menaiki perahu itu, mereka harus membagi menjadi tiga kelompok untuk tiga perahu. Jadi, mereka segera bergerak cepat supaya kebagian tempat duduk di perahu tersebut.
"Hei, jangan saling dorong! Kita semua akan pergi ke perbatasan. Jadi, bersabarlah dan tertib saat menaiki perahu. Jika tidak, maka aku tidak akan menjalankan perahu ini." kata si pengemudi perahu itu.
Satu jam menunggu bukan waktu yang sebentar jika kita terburu-buru harus pergi. Tapi, mereka semua harus bersabar untuk bisa menaiki perahu agar cepat berangkat ke perbatasan.
Satu persatu perahu langsung berangkat karena jumlah penumpang sudah memenuhi batas maksimum. Kelompok perampok bertopeng sebagian sudah berangkat dengan perahu pertama, kini giliran perahu kedua pun berangkat. Tinggal lah perahu ketiga, karena jumlah penumpang masih kurang.
Kelompok perampok bertopeng yang berada di perahu ketiga diantaranya ada Jihu dan Yoona. Karena Tuan Khong adalah pemimpin mereka dan yang mengenali Pendeta di Kuil, maka Beliau berangkat di perahu pertama.
Mereka akan segera menyambut sisa kelompoknya dan menyamarkan mereka kedalam Kuil supaya tak terdeteksi oleh pasukan Kerajaan.
Hati mereka sudah sangat lega karena bisa segera pergi meninggalkan tempat ini sebelum prajurit mengejarnya kemari. Tapi, apa yang terjadi saat ini?
"Hentikan perahunya!" sebuah teriakan terdengar dari arah daratan.
Terlihat, sebuah pasukan Kerajaan dengan di komandoi Pangeran Pertama yang membawa lencana berwarna kuning keemasan. Dia berdiri dengan memperlihatkan token dari Kaisar, untuk menjalankan tugasnya.
"Ada apa ini?" semua orang yang berada di perahu menjadi ribut dan bertanya-tanya alasan penghentian keberangkatan mereka.
Pasukan bersenjata lekas menghampiri dan menyuruh si pengemudi perahu itu untuk memundurkan kembali perahunya, agar mereka bisa segera memeriksa. Karena takut, dia pun mengikuti perkataan pasukan Kerajaan tanpa banyak bertanya.
Melihat pasukan Kerajaan menuju kearahnya, Jihu dan Yoona serta yang lainnya menjadi lebih waspada, jikalau mereka ketahuan. Dengan mata saling menatap, mereka mengangguk sambil memegang senjata di balik baju masing-masing.
...Bersambung, gaess ......