
Di tempat Zhaoling berada.
Beberapa pengawal Ibu Suri berusaha menangkap pria dingin itu dengan berbagai cara. Mereka terus berusaha agar bisa membawa Zhaoling kembali ke Istana sesuai keinginan Sang Penguasa Istana, Yang Mulia Ibu Suri Lan Mei.
Sedangkan para prajurit kerajaan kini melawan kedua pengawal bayangan Zhaoling, Liu Wei dan Yu Xuan. Mereka pun berusaha untuk bisa membunuh kedua pria dingin tersebut dengan berbagai cara. Namun nyatanya, keduanya tak bisa ditaklukan semudah itu.
Trang ... trang ... sraaakkk
Pedang mereka berjatuhan setelah patah jadi dua, akibat tebasan keras Liu Wei dan Yu Xuan. Para prajurit saling menatap dengan panik, "bagaimana ini? Keduanya sangat kuat. Kita pasti kalah dengan mudah oleh mereka," cicit salah satunya.
"Benar. Apalagi mereka adalah pengawal bayangan Panglima. Sangat sulit membunuh keduanya," timpal yang lain.
Liu Wei dan Yu Xuan menatap dingin kearah beberapa prajurit di hadapannya itu. "Masih ingin mencoba?" pedang keduanya dilempar ke bawah dengan keras, kemudian mereka memasang kuda-kuda. "Kita bertarung tanpa pedang!" ucap keduanya sambil menggerakkan telapak tangan.
Para prajurit saling menatap, kemudian mengangguk dan mulai menyerang. "Hiyaaattt,"
Bak ... buk ... paaaakkk ... brukkk
Mereka berjatuhan terkena pukulan dari keduanya. Namun, Liu Wei dan Yu Xuan tak tinggal diam. Keduanya segera melompat dengan sedikit melayang di udara, kemudian satu kakinya diangkat lalu diturunkan dengan keras mengenai perut mereka. Keduanya mendarat di tanah dalam posisi miring, dengan bertumpu pada tangan.
Baaaaakkkk
"Akh," para prajurit itu memuntahkan darah dan tak lama kemudian mati karena pukulan kedua pengawal bayangan Zhaoling.
Setelah itu, keduanya membantu Tuannya yang sedang melawan beberapa pengawal Ibu Suri dan juga prajurit.
Pertarungan terus berlangsung selama satu jam lamanya. Mereka saling menyerang dan bertahan dari pukulan lawan. Tak sedikit prajurit yang terluka akibat pukulan ketiga pria dingin tersebut, begitupun dengan para pengawal khusus Ibu Suri. Mereka pun sama halnya dengan para prajurit, terluka akibat pukulan dan senjata yang digunakan Zhaoling dan kedua pengawal bayangannya.
Semua pengawal khusus dan para prajurit yang dibawa Ibu Suri sudah terkapar di tanah dengan berbagai luka. Mereka tak berani menyerang Zhaoling lagi, karena tenaganya sudah habis terkuras.
Melihat semua lawannya terkapar tak berdaya, ketiga pria dingin itu hanya menatapnya dengan tajam. Lalu, netra elang itu digiring kearah Ibu Suri yang sedari tadi menyaksikan pertarungan mereka.
"Sudah ku bilang, jangan pernah mencoba untuk melakukan apapun yang ku tak suka. Jika masih melakukannya, maka jangan salahkan aku kalau harus membangkang!" ucap Zhaoling tegas seraya berlalu dari hadapan Ibu Suri.
Wanita tua itu hanya mengepalkan tangan, kemudian tersenyum penuh arti. "Sampai kapan kau akan seperti ini, Zhaozu?" pria dingin itu menghentikan langkahnya mendengar pertanyaan Ibu Suri. Wanita tua itu melangkah mendekati cucunya sambil berkata lagi, "Demi wanita itu, kau mengabaikan semua hak dan kewajiban mu di Istana. Apa kau tidak tahu, seorang Penguasa harus mengesampingkan urusan pribadi termasuk wanita." lanjutnya.
Zhaoling tersenyum miring menanggapi ucapan neneknya sambil menggelengkan kepala. Sungguh, dirinya tak habis pikir. Bukankah Ibu Suri pun seorang wanita? Mengapa Beliau berkata seperti itu? Namun, Zhaoling tak memperdulikan lagi ucapan Ibu Suri. Dia bergegas meninggalkan neneknya yang sedang menahan kesal.
Tapi, tak kehabisan akal. Untuk membuat cucunya mengikuti segala perintahnya, Ibu Suri rela melakukan berbagai cara. "Tunggu! Apa kau tak ingin mengetahui bagaimana keadaan istrimu sekarang?" Pria dingin itu kembali menghentikan langkahnya seraya mengarahkan wajah menghadap Ibu Suri. "Mungkin saja, dia terluka atau bahkan ... mati!" cetusnya membuat Zhaoling mengeram.
Ingin sekali Beliau tertawa saat melihat ekspresi terkejut cucunya. Tapi, demi mendapatkan apa yang diinginkan, Ibu Suri segera berkata lagi. "Ikuti perintahku maka istrimu selamat,"
Zhaoling mengedarkan pandang menyapu sekitaran. Yoona tak berada diantara mereka dan itu membuat dirinya sangat panik. "Dimana dia?" bertanya dengan nada datar.
Namun, Ibu Suri tak menjawab pertanyaan Zhaoling. Beliau menyeringai sambil berkata, "pulang! Maka nyawanya akan ku ampuni,"
Tangan pria dingin itu terkepal dengan rahang yang mengeras. "Jangan pernah menyentuh istriku lagi!" tegasnya. Bahkan, wajahnya memerah menahan amarah. Tapi, Ibu Suri tak menghiraukan amarah cucunya. Beliau berdecak seraya memalingkan wajah, membuat Zhaoling semakin marah. "Dimana dia?" bentaknya.
Ini kali pertama Zhaoling membentak neneknya begitu keras, sampai wanita tua itu terlonjak kaget dibuatnya. Tubuhnya gemetaran dengan keringat bercucuran. Aura dingin dengan tatapan tajam itu mengingatkan Ibu Suri akan seseorang yang pernah ia kenali. Seketika, wanita tua itu menundukkan wajah guna memutus kontak untuk tidak bersitatap dengan pria dingin yang menjadi cucunya tersebut.
"Ming He," gumam Zhaoling kemudian berlari diikuti kedua pengawal bayangannya. Mereka harus segera menemukan keberadaan Yoona, agar wanita bernama Ming He itu tak melukainya. Ibu Suri mengatur rencana agar Ming He membawa Yoona menjauh dari mereka supaya bisa menjalankan rencananya. Wanita tua itu sangat percaya dan yakin bahwa Ming He akan mengalahkan Yoona dengan mudah, hanya karena wanita itu adalah murid dari sebuah perguruan silat.
Ketiga pria itu berlarian kesana kemari sambil memanggil nama Yoona. "Xin'er, kau dimana?" teriak Zhaoling dengan perasaan gelisah. Rasa takut kini menguasai hati dan pikirannya.
Netra elang itu membola ketika melihat wanita yang dicintainya tak bergerak sedikitpun. "Xin'er!" Zhaoling berlari secepat kilat mendahului Liu Wei yang sudah hampir sampai. "Ada apa denganmu, Xin'er?" Terlihat guratan kecemasan terlukis di wajah tampan itu, ketika tak mendapat respon sama sekali dari istrinya. Dengan tangan bergetar, ia segera meraih tubuh istrinya kedalam dekapannya. "Jangan tinggalkan aku lagi, Xin'er. Ku mohon," lirihnya .
Kedua pengawal Zhaoling segera memeriksa keadaan Ming He, yang ternyata sudah tak bernyawa. "Dia sudah mati, Tuan."
Zhaoling tak memperdulikan ucapan kedua pengawalnya, bahkan tak sedikitpun mengalihkan pandangan kearah mereka.
Beberapa detik kemudian, Yoona memberontak dari pelukan Zhaoling karena merasa sesak. "Lepaskan aku, bodoh! Aku tak bisa bernafas," umpatnya kesal.
Mendengar suara umpatan dari Yoona, Zhaoling pun segera mengurai pelukannya. Ia menatap tajam kearah istrinya, "kau masih hidup?" pertanyaan bodoh yang terlontar itu seketika memancing terbentuknya tinju Yoona.
Bugh
"Ugh," ringis Zhaoling.
"Kau menginginkan aku mati, heh!" hardik Yoona kesal. Wanita itu terus meluapkan amarah dengan mencebik serta memukul dada Zhaoling, tapi tidak menggunakan tenaga dalamnya. "Sfgfukhmkkokrjluohdklj,"
Zhaoling hanya tersenyum mendengar istrinya berceloteh mengumpat dirinya. Dia melambaikan tangan menyuruh kedua pengawal bayangannya untuk segera pergi membawa jasad Ming He. Liu Wei dan Yu Xuan pun mengerti hanya melihat gerakkan tangan Tuannya, dan segera pergi meninggalkan keduanya.
Cukup lama wanita itu terus mengoceh, dan Zhaoling hanya menggaruk tengkuknya dengan memutar bola matanya. "Masih belum puas ngomelnya?" seketika Yoona terdiam dengan mata melotot.
"Apa?"
"Jika kau masih ingin mendumel, aku akan sediakan alas untuk kita duduk." cetusnya dengan santai.
"Kau pikir kita sedang piknik, harus pakai alas duduk segala! Aku ini sedang marah," decaknya sebal. Namun, Zhaoling membuang muka ke sembarang arah sebagai tanda tak ingin mendengar ocehan istrinya.
"Kau tak ingin mendengar ocehanku?" Zhaoling menguap berkali-kali seperti sedang menonton film membosankan. "Dasar, suami menyebalkan!"
Hark
"Argh," teriak Zhaoling karena telinganya di gigit Yoona. "Apa kau ini seekor Anjing? Beraninya kau menggigit telingaku?" hardiknya kesal seraya mengusap telinganya.
"Salahmu sendiri, yang tak peka terhadap istri." sahut Yoona membela diri.
Zhaoling mendongakkan wajah sedikit sambil melengos, menatap Yoona tak percaya. "Hoh, ternyata sekarang kau mengakui bahwa dirimu itu adalah seorang istri. Hemh, jika begitu, maka kau bersiap menerima hukuman dari suamimu ini!" ancamnya sambil menarik tangan Yoona untuk berdiri.
"Eeeh, mau apa?" Yoona terkejut karena Zhaoling mengeluarkan belati kecil yang selalu terselip di pergelangan tangannya.
"Untuk menghukummu," sahutnya dengan mengarahkan belati itu ke telinga istrinya. "Kau menggigit telingaku dan aku akan memotong telingamu. Impas bukan," ucapan Zhaoling hanya berpura-pura mengancam.
Namun, tangannya tetap menarik telinga Yoona supaya terlihat meyakinkan. Tentu saja itu membuat Yoona panik dan merengek seketika. "Aling, maafkan aku! Aku tidak akan menggigit telingamu lagi, aku janji! Tapi, tolong jangan potong telingaku!" rengeknya seraya menggoyangkan tangan Zhaoling.
Tapi, pria dingin itu tak mudah dibujuk. Dia terlihat cuek dan tetap mengarahkan belati itu ke telinga istrinya, membuat Yoona tak punya pilihan selain mengeluarkan jurusnya.
Karena tubuh Zhaoling lebih tinggi darinya, Yoona pun harus berjinjit untuk melancarkan aksinya.
Cup
Bibirnya mendarat di bibir tebal suaminya. Kecupan sekilas itu membuat Zhaoling mematung seketika, dengan debaran jantung tak karuan. Ini kesempatan Yoona untuk kabur setelah melihat Zhaoling terdiam. Dia berlari menjauh dari Zhaoling sambil menjulurkan lidahnya, "wleeekkk!"
Bersambung ...