
Ketiga pemuda itu sangat senang dengan keputusan yang diberikan kakek Lon Thong. Mereka memang tak ingin berpisah satu sama lain karena merasa sudah sangat cocok. Dengan perasaan gembira, mereka pulang mengikuti Zhaoling ke rumahnya.
Saat ini, mereka pulang dengan bergerak cepat seperti angin yang berhembus, gesit seperti seorang ninja.
Tap ... tap ... wuuuusshhh ...
Pergerakannya sangat cepat sampai orang lain pun tak akan menyadari pergerakan mereka. Ilmu seperti ini hanya dimiliki oleh para ahli tingkat tinggi. Walaupun Liu Wei dan Yu Xuan hanya belajar selama tiga tahun, tapi keduanya bisa menguasai ilmu meringankan tubuh dan bergerak cepat seperti angin. Ciri khas murid dari Perguruan Naga Bayang.
Sesampainya di tempat tujuan, baik Liu Wei maupun Yu Xuan saat ini langsung terdiam. Kening keduanya mengkerut menatap ke sekeliling bangunan megah di hadapannya. Beruntung saat ini mereka diatas atap bangunan megah itu dan tak bisa dilihat seorang pun.
Zhaoling yang merasa jika kedua temannya tak mengikuti langkahnya segera berbalik. "Ada apa?" tanya Zhaoling.
Liu Wei menoleh kearah Yu Xuan, kemudian menatap Zhaoling dengan lekat. "Apa yang akan kita lakukan di Istana? Merampok? Aku sudah tobat!" ujarnya serius.
Yu Xuan pun mengangguk dengan perkataan Liu Wei. Keduanya tak mengerti kenapa Zhaoling mengajaknya ke Istana. Apa mereka akan menjarah harta benda Kerajaan untuk bertahan hidup? Ataukah, Zhaoling akan membalas dendam pada musuhnya yang ternyata anggota kerajaan?
"Tidak! Ayo, ikuti aku!" Kata Zhaoling datar. Walaupun ingin sekali bertanya, tapi mereka tetap diam tak bersuara.
Sesampainya di depan sebuah pintu, Zhaoling mengetuk pintu itu sambil memperhatikan keadaan sekitaran. Tak lama kemudian, pintu itu terbuka menampakkan seorang wanita paruh baya yang masih cantik dan awet muda. Ketiganya bergegas masuk setelah pintu dibuka dan langsung menutup pintu itu kembali.
Zhaoling berlutut dihadapan wanita paruh baya tersebut dengan penuh rasa hormat. "Hamba telah kembali, Permaisuri!"
Mendengar itu, Liu Wei dan Yu Xuan ikut berlutut dan memberi hormat.
Raut wajah Permaisuri seketika berubah dengan mata berkaca, menatap lekat pemuda dihadapannya yang sedang berlutut. Tangannya terulur untuk membantunya berdiri. Sambil terus memandang haru, Permaisuri segera memeluk dan menumpahkan rasa rindu yang selama sepuluh tahun ini ia tahan. "Putraku!"
Netra Kedua sahabat Zhaoling membelalak sempurna mendengar panggilan Permaisuri kepada Zhaoling. Apa tadi? Putraku? Ya Tuhan! Jadi, Zhaoling adalah Pangeran Kerajaan besar ini? keduanya saling pandang dengan perasaan campur aduk.
"Bagaimana kabar kamu, nak? Apa kamu tidak merindukan ibumu ini?" tanya Permaisuri disela tangisannya. "Selama kamu di sana, ibu kesepian. Ibu tidak tahu harus bertanya pada siapa tentang keadaanmu! Rasanya, dada ibu sesak seperti ada sebongkah batu besar yang menghimpit. Tanpamu, ibu tidak bisa hidup!" tutur Permaisuri lagi.
Zhaoling mengelus punggung ibunya dengan sayang, juga rindu yang mendalam. "Jangan berbicara seperti itu, bu! Aku juga sangat merindukan ibu. Tapi, ibu tahu kan alasannya?" ucapnya menenangkan. "Ibu tahu, aku sudah menguasai semua ilmu yang kakek ajarkan padaku. Jadi, aku bisa melindungi Ibu dan Ayah sekarang!" jelasnya lagi.
Permaisuri tersenyum dan semakin mempererat pelukannya. Tanpa mereka sadari, kedua pemuda yang sedang berlutut itu semakin menunduk tak enak. Keduanya sudah bersikap tak sopan pada Zhaoling dengan menganggap teman. Mereka juga tak hormat pada Zhaoling selayaknya kepada seorang Pangeran Kerajaan. Tapi, itu alasan Zhaoling tidak memberitahu identitasnya pada yang lain agar mereka bersikap biasa tanpa ada embel-embel Pangeran.
"Kenapa kalian terus berlutut? Ayo, ku perkenalkan pada ibuku!" ujar Zhaoling membuyarkan lamunan keduanya.
"Maaf, Pangeran! Kami tak pantas untuk itu!" sahut keduanya bersamaan.
Helaan napas terdengar dari mulut Zhaoling. Dia segera menghampiri kedua temannya yang berlutut, lalu membantunya berdiri dan segera merangkul pundak mereka. "Apa yang kalian katakan? Aku ini tetap Aling sahabat kalian. Bagaimana kalian mengatakan tak pantas?"
Keduanya saling pandang, lalu tersenyum senang. Ternyata, semua Pangeran kerajaan itu tak jahat ataupun sombong. Buktinya, Zhaoling tetap mau menganggap mereka sahabat. "Terima kasih, Pangeran!"
"Ckk. Sebut aku seperti biasa kalian memanggilku!" ketus Zhaoling kesal.
"Tapi, kau kan memang Pangeran!" desis keduanya tak enak.
"Tapi, aku tak suka!" ungkap Zhaoling jujur. "Walaupun aku ini Pangeran, tapi kalian sahabatku. Jadi, kalian harus memanggilku seperti yang biasa kalian ucapkan!" tegas Zhaoling.
Keduanya mengangguk mengiyakan permintaan Zhaoling. Walaupun ragu, tapi tetap saja sesekali mereka memanggil dengan sebutan Tuan atau Pangeran. Zhaoling juga menjelaskan alasan dirinya menyembunyikan identitas pada dunia. Agar ia dapat menangkap dalang dibalik kematian kakaknya dan juga insiden mengerikan yang hampir merenggut nyawanya.
Zhaoling mempunyai rencana agar mereka bisa leluasa bergerak bebas di dalam Istana. Selain ingin mencari penjahat asli, ini juga upayanya untuk melindungi ayah dan juga ibunya. Semua orang tak bisa dipercaya. Baik itu keluarga, saudara, bahkan pengikut setia. Mereka pasti bisa saja berkhianat demi sebuah tahta yang diidamkan.
Zhaoling dan kedua sahabatnya itu masuk ke Istana mulai dari kemiliteran. Dengan menjadi seorang prajurit perang, Zhaoling dan kedua temannya membuktikan kelayakan yang harus dimiliki seorang prajurit siap tempur.
Semenjak dia sering memenangkan pertempuran, akhirnya Kaisar mengeluarkan mandat berisi pengangkatan jabatan Zhaoling dari seorang Jendral menjadi Panglima besar. Di usia dua puluh dua tahun, Zhaoling resmi menjadi Panglima besar termuda di seluruh Kerajaan di wilayah daratan Benua Jhajanan.
Semua orang tunduk dan hormat kepadanya. Pantas jika dia menjadi penguasa seluruh Benua Jhajanan. Jika suatu saat nanti dirinya yang naik tahta, pasti banyak yang akan mendukungnya menjadi Kaisar. Selain ahli berperang, dia pun bijak dalam mengambil sikap untuk menyelesaikan setiap masalah. Hanya, sikapnya dingin bagaikan es di kutub utara jika berhadapan dengan orang lain.
Untuk identitas Pangeran Ketiga masih disembunyikan. Walaupun Zhaoling berada di Istana sebagai Panglima, akan ada Pangeran Ketiga yang wajahnya tetap disembunyikan. Padahal, dia adalah Liu Wei atau Yu Xuan yang menyamar menjadi Pangeran Zhaozu jika mereka diharuskan berada ditempat yang sama.
Zhaoling juga tidak mengekspos seluruh wajahnya didepan semua orang. Dia memakai topeng disebelah wajah kirinya, serta beralasan bahwa wajahnya terkena luka bakar. Sehingga, dia tak bisa membuka topeng tersebut. Itu hanya untuk mengelabui para musuh yang bersembunyi, dan jika suatu saat nanti dirinya harus membuka wajahnya sebagai Pangeran Ketiga lagi.
•
•
Pertempuran terjadi diperbatasan kota Jeongna. Para bandit berulah kembali dengan membantai rakyat yang lemah dan merampok rakyat yang kaya. Mereka tak segan membunuh rakyat jelata yang berani melawan mereka.
Prajurit dari kamp langsung dikerahkan untuk menghentikan aksi kejam para bandit yang berulah tersebut. Mereka bertempur siang dan malam selama tiga hari berturut-turut. Tak ada perkembangan hasil dari pertempuran itu, karena para bandit berbuat licik. Mereka memancing semua prajurit ke area pegunungan Juoji yang terkenal dengan tebing curam.
Sesampainya di sana, para bandit melempari batu besar kearah semua prajurit yang mengejar mereka. Alhasil, semua prajurit yang mengejar itu tewas dengan tertimpa batu.
Tak ada jalan lain. Zhaoling harus turun tangan. Melihat semua prajurit yang gugur di medan perang, darah Zhaoling mendidih. Ia ingin sekali membumi hanguskan para bandit dengan cara menyerang markasnya.
Zhaoling, Liu Wei dan Yu Xuan pergi untuk menumpas para bandit. Tapi, mereka tak membawa satupun prajurit dari kamp. Mereka bertindak secara diam-diam. Tapi, yang mereka tak ketahui adalah satu hal. Ternyata, para bandit dipimpin oleh seorang yang ia kenali. Yaitu, pria tua yang pernah menjadi Guru Besarnya di Perguruan Naga Bayang.
"Guru Luo?" Ketiganya terkejut dengan fakta ini. Bagaimana bisa seorang Guru besar Perguruan silat menjadi pemimpin bandit pengacau desa? Ini masih menjadi pemikiran besar yang mengganggu ketiganya.
Mereka mencuri dengar sedikit saat diam-diam menyelinap. Ternyata, Guru Luo diusir oleh Guru Tertinggi karena dia melakukan kesalahan fatal. Kesalahannya tak bisa dimaafkan dan Kakek Lon Thong mengusirnya dengan tidak hormat.
Dendam membara di hati Guru Luo. Dia berubah menunjukan sifat aslinya dan membantai rakyat jelata sebagai bentuk aksi kemarahannya.
"Jadi, kita akan melawan Guru Luo?" tanya Liu Wei serius.
"Ya. Penjahat harus dibasmi dari muka bumi ini!" jelas Zhaoling tanpa ragu.
"Kalau begitu, bersiaplah!" ujar Yu Xuan memberi aba-aba.
"Ayo, serang!" Ketiganya bergerak menebas leher para bandit yang berjaga di markas mereka.
Slash ... slash ...
Satu persatu tewas ditempat tanpa ada jeritan dari mulut mereka, sehingga tak mengundang yang lain untuk datang menghampiri.
Ketiganya bersembunyi kembali saat mendengar langkah kaki mendekat kearah mereka. Salah satu bandit itu berteriak memanggil kawanan mereka, setelah melihat kawan lain tewas dengan sayatan pedang dilehernya.
"Ada penyusup!" teriakannya mengundang semua bandit yang berkumpul didalam markas segera keluar.
"Gawat! Kita akan kewalahan." bisik Liu Wei lirih kepada Zhaoling dan Yu Xuan.
...Bab selanjutnya diperkirakan update tiga hari lagi. Mohon sabar menunggu!😁...
...Like, koment, vote, dan gift. Serta favoritkan dan juga follow authornya!☺️...